Wednesday, March 17, 2010

BAYI adalah MINIATUR orang DEWASA

Mulanya aku tidak mengerti arti dari kalimat ini, sampai akhirnya aku menemukan jawabannya. Selaku orang tua, terkadang kita memperlakukan bayi kita layaknya makhluk kecil yang sama sekali tidak mengerti apa-apa. Kita sering memaksakan sesuatu yang kita pikir bayi kita menginginkan dan membutuhkannya, tanpa peduli pada apa yang sebenarnya ia ingin dan butuhkan.

Kita menjejalkan makanan kasar ke mulutnya dengan maksud ingin memberikan yang terbaik padanya. Agar ia mendapatkan asupan gizi yang cukup. Padahal saat itu, belum waktunya ia mendapatkan makanan selain ASI/ susu. Dan kita terus menjejalkan makanan itu ke mulutnya, hingga ia pun menangis dan tersedak...

Saat bayi kita menangis, tak jarang kita menyuruhnya diam atau bahkan membentaknya. Padahal sebagai makhluk yang belum bisa bicara, hanya itulah bentuk komunikasinya dengan kita. Tapi mengapa kita tidak perduli?? Sebegitu beratkah bagi kita untuk sekedar bertanya padanya, "Kenapa Nak? Apa yang membuatmu tidak nyaman?".

Kita juga sering mencukur rambutnya semaunya, petak dimana-mana. Membedakinya seenaknya, celemongan, persis topeng monyet yang hendak melakukan aksinya. Pantaskah kita mengaku bahwa kita suka pada keindahan? Suka kerapian? Tidakkah kita berpikir bahwa bayi kita pun menyukainya?!

Ketahuilah.., bayi sama seperti kita. Suka diperhatikan, dimanjakan, ditanyai pendapatnya. Punya hak untuk memilih, menerima, menolak, dan sebagainya. Ia pun ingin terlihat indah, terlihat istimewa, seperti juga kita... Oleh karena itu, perlakukan bayi kita sebagaimana kita ingin diperlakukan. Karena bayi adalah miniatur orang dewasa...
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


0 comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)