Friday, April 30, 2010

Menyusui Anak Tanpa Digigit? Kenapa Tidak...?!

Waktu anakku hendak dan telah tumbuh gigi, banyak pertanyaan maupun peringatan senada yang kudapat baik dari orang tua, kerabat atau teman-teman,"Pasti suka nggigit ya?". "Hati-hati lho, mbak saya sampe berdarah-darah digigit anaknya waktu minum ASI!". "Udah pernah digigit belom?, dst...

Waduh.., kalau dipikir-pikir seram sekali ya... Kasihan nasib ibu-ibu yang sedang aktif menyusui karena harus menerima "serangan" tak terduga dan tak disengaja dari bayinya. Bahkan ada yang sampai memutuskan untuk berhenti menyusui ketika si bayi muilai menunjukkan tanda-tanda tumbuh gigi, hanya karena rasa was-was akan "gigitan maut" si buah hati. wah...wah... (alasannya: "Siapa suruh testimoni dari para ibu sekitar pada mengerikan, kita kan jadi takut! :p")

Tapi apa iya semua bayi pasti begitu?? Alhamdulillah, Ternyata tidak juga :)
Meski awalnya aku juga merasa cemas, tapi waktu akhirnya membuktikan bahwa aku bisa melewati masa-masa menyusui  anakku terutama dalam proses tumbuh giginya dengan aman dan terkendali :) Wow, mau nich rahasianya? Sederhana kok, rahasianya cuma: KOMUNIKASI.

Ya, baik aku maupun suamiku berusaha untuk senantiasa mengedepankan komunikasi. Tak terkecuali kepada buah hati kami yang masih bayi. Kami menganggapnya sebagai orang dewasa yang sudah layak kami ajak diskusi meski dalam bentuk fisiknya yang masih mini. Termasuk dalam hal pemberian ASI. Komunikasi menjadi hal yang biasa antara aku dan anakku.

Ketika anakku menunjukkan tanda-tanda tumbuh gigi, kutanya dan kuajak dia bicara "Mau tumbuh gigi ya, Sayang? Gusinya sakit ya? Sabar ya Nak, nanti juga sembuh..." Lantas ketika gigi-giginya mulai mengintip ke permukaan, aku berkata padanya,"Gigi anak bunda tajam ya..., jangan gigit Bunda ya sayang.., nanti Bunda sakit, terus ntar minum ASInya gimana kalo Bunda sakit..." Dan ini kulakukan berulang-ulang dengan kalimat yang berbeda. Aku berbicara padanya layaknya  dengan sosok dewasa yang sudah mengerti.

Alhamdulillah, ia merekam semua itu dan mengasumsikan dengan sendirinya bahwa menggigit adalah hal yang buruk dan menyakitkan, sementara tidak menggigit adalah sesuatu yang baik dan diharapkan. Maka setiap kali merasakan gusinya sakit ketika minum ASI, anakku akan segera meninggalkan ASInya. Biasanya, ia memukul-mukulkan tangannya ke mulut dengan kesal pertanda ia merasa kesakitan dan tidak nyaman. Lalu apa yang bisa kulakukan? Menghiburnya. Aku berusaha membuat anakku merasa senyaman mungkin sehingga ia melupakan rasa sakitnya dan kembali bersemangat menyantap ASInya... :)

Nach ibu-ibu, gimana nich, sudah pernah mencoba cara ini belum?
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


0 comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)