Wednesday, September 14, 2011

Senja yang Memerah dan Hujan yang Tak Curah

"Senja yang merah dan hujan yang tak curah".

Hari ini dapat ilmu baru dari rekan guru di sekolah. Awalnya saat istirahat pertama, kami para guru kumpul-kumpul di kantor. Aktivitas pertama yang kami lakukan biasanya sama: sholat dhuha. Karena di kantor kamar mandi cuma satu, maka kami harus antre berwudhu. Sambil nunggu antrean, aku ngobrol dengan teman guru lainnya. 

"Alhamdulillah mendung, mudah-mudahan hujan ya Allah...", tiba-tiba bu Yesi, salah seorang guru berkata sambil memandangi langit di luar jendela. Kalimatnya menurutku lebih mirip sebuah doa. Maklum, sudah tiga bulan lebih di daerahku tidak turun hujan. Di beberapa tempat bahkan sudah mulai kritis air; untuk minum susah, mandi susah, apalagi mencuci. Ah, andai cukup hanya dengan tayammum, hehe ;) 

"Sepertinya gak bakalan hujan, Bu", celetuk bu Devi dengan nada yakin. Aku sedikit kaget mendengarnya. "Masak iya? Tau dari mana?", pikirku. "Kenapa gitu, Bu?", akhirnya aku bertanya padanya. "Soalnya menurut mbahku, kalau sore kemarin langit senja merah menyala, itu artinya hari ini (insya Allah) tidak akan turun hujan. Kebetulan kemarin sore aku liat langit begitu merah di ufuk barat, makanya aku cukup yakin kalau hari ini gak akan hujan."

"Ilmu dari mana tuh?" tanya guru lainnya.
Allahua'lam sich, Bu... Mbahku itu petani, beliau biasa membaca cuaca, musim dan sebagainya dari alam. Mengenai kebenarannya secara ilmiah, aku gak bisa menjamin dan memastikan. Tapi secara pengalamanku dengan beliau, banyak benarnya. 

"Ngeramal dung, Bu?", celetuk guru lainnya lagi (:p)
"Menurutku bukan, soalnya mbahku memprediksinya berdasarkan pengamatan dan pengalaman".

Hmm... gitu ya? Aku jadi teringat para nelayan yang konon bisa menentukan arah dan memprediksi cuaca hanya dengan melihat gugusan bintang. Memang benar, hal itu lebih tepat disebut sebagai ilmu astronomi yang dipelajari secara alami berdasarkan pengalaman dan pengamatan ketimbang astrologi yang menggunakan gugusan bintang untuk meramal nasib seseorang.

Entahlah, untuk hal ini aku bukan ahlinya. Yang pasti, aku melihat langit begitu merah senja ini. Akankah besok hari hujan belum akan menyapa kami? Allahua'lam...
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


4 comments:

  1. keren Bunda, dijadikan cerpen aja ide ini:) BTW, rumah mayamu kereeeeeeen, aku naksir berat:)

    ReplyDelete
  2. Good idea tuh. Ah, masak sissschhh.... ^0^
    Blog jarang di update gini :p

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)