Thursday, August 9, 2012

Eksis Berbuka dengan Rebusan

Gambar diunduh dari google dan dimodifikasi
Moment puasa di bulan Ramadhan sejatinya adalah saat yang tepat untuk mengendalikan hawa nafsu. Tapi tak jarang orang-orang justru mengumbar nafsunya dengan berlebih-lebihan dalam menyiapkan takjil dan menu makanan berbuka. Pengeluaran pun membengkak. Berlipat-lipat dibandingkan bulan-bulan lainnya. Hal ini tidak jauh berbeda dengan yang kualami pada saat aku belum menikah dan masih tinggal bersama orangtuaku. Hampir semua jenis makanan dihidangkan saat berbuka puasa. Mulai dari aneka buah-buahan, hingga lauk pauk yang beraneka ragam.  Sayangnya, perut sudah terasa kenyang ketika segelas air melewati kerongkongan.

Mubazir? Sudah pasti. Bukan sekali dua kali menu berbuka tersisa cukup banyak, tidak termakan, dan akhirnya basi terbuang.  Astaghfirullah… Alih-alih mendapat pahala, kok ya jadi malah mengundang dosa karena telah melakukan perbuatan boros dan mubazir yang tidak disukai Allah.

“ Dan Janganlah kamu sekalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-An’am: 141)

Kini, sudah hampir lima tahun aku menikah. Dan ini adalah Ramadhan ke lima yang kujalani bersama keluarga kecilku. Alhamdulillah, puasa kami berjalan lancar walau terkadang kami berbuka dan sahur hanya dengan menu sederhana. Bagi kami, kenikmatan makan itu tergantung suasana hati. Walau makanannya sederhana, tapai kalau hati senang, tentu akan terasa nikmat rasanya. Sebaliknya jika hati gundah, maka makanan enak melimpah sekali pun akan hilang daya tariknya.

Ada pengalaman yang cukup berkesan kualami saat minggu pertama puasa. Suatu sore, aku bersiap untuk memasak menu berbuka puasa. Tapi aku terkejut ketika menyadari bahwa persediaan minyak goreng di dapur habis dan aku lupa membelinya. Haduh... Aku pun galau seketika (^0^). Mau membeli sendiri minyaknya, badanku lelah luar biasa. Mau meminta bantuan suamiku, kasihan. Kami tidak punya kendaraan. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, di saat sedang berpuasa dan di sore hari pula, wah, terbayang deh sempoyongannya. Mengingat warung dekat rumah lebih sering tutup ketimbang bukanya. Dan satu-satunya toko yang paling dekat adalah minimarket yang jaraknya hampir satu kilometer dari rumah, fyuuuh…. v_v'

Tapi beruntung sebuah ide cemerlang terlintas di benakku. Alhamdulillah, pengalaman hampir lima tahun berumah tangga membuat kemampuan berpikir cepat di saat kepepetku cukup terasah, hehe… Kemudian, dengan sigap aku membuka pintu kulkas. Mencoba mengidentifikasi bahan-bahan memasak yang ada di dalamnya. Pilihanku pun jatuh pada telur, tauge, sawi, cabe dan tomat.  Yup! Aku akan membuat menu rebusan untuk berbuka puasa. Cukup ringkas dan sehat, bukan?

Setelah dicuci dan dipisah-pisahkan pertangkai, sawi kemudian kurebus bersama-sama dengan dua butir telur. Sementara tauge hanya kurendam dengan air panas. Sambil menunggu rebusan matang, aku membakar terasi lalu menumbuknya bersama cabe dan tomat. Huuum, semriwing baunya (^0^) Kuliner khas negeri tercinta ;) Tak menunggu waktu lama, rebusan sawi, tauge, dan telur serta sambal terasi sudah siap terhidang. Sebagai takjil, sebelumnya aku sudah membuat es kolang-kaling campur cendol yang sudah kudinginkan di kulkas. Alhamdulillah, sore itu kami pun berbuka puasa dengan rasa nikmat dan syukur tak terhingga.

Selepas maghrib, dengan tenaga baru hasil charge menu rebusan, hehe, suamiku berangkat ke minimarket untuk membeli minyak goreng dan beberapa keperluan lainnya. Dengan minyak goreng itu, keesokan paginya kami pun bisa sahur dengan menu yang berbeda.  Alhamdulillah… :)

Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku)
untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih.
(QS. lbrahim: 7


Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


6 comments:

  1. Wiii keren tulisannya. Bisa juga mbak berpikir buat rebusan ya. Kalo saya mungkin makan mi rebus instan doang karena terbiasa gorengan
    *Gak sehat ya? :D*

    ReplyDelete
  2. Kreatifitas selalu muncul kala kepepet ya...hehe.. Berasa lagi buka puasa di tengah sawah tuh, makan lalap dan sambal.. Mantap..sehat pula..

    ReplyDelete
  3. rebusan lebih sehat tentunya... kalau sedia bumbu pecel, bisa juga rebusan ya..

    @ka niar, mie rebusnya pake sayuran juga :)

    ReplyDelete
  4. Hihi, soalnya itu yang paling gampang dibuat, Mbak Mugniar :D

    ReplyDelete
  5. Wah, pecel favorit saya tuh, Mbak Vina ^^

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)