Wednesday, September 26, 2012

Anak Itu Memanggilku: Mama!

Aneh, sungguh aneh. Saya katakan aneh karena dua kejadian –dalam rentang waktu yang berbeda- yang saya alami memang sangat aneh. Ini tentang pertemuan tak terduga saya dengan anak kecil yang berbeda di supermarket. Dan, kedua anak itu sama-sama menyangka (atau menganggap?) saya adalah mamanya.

Yang pertama, terjadi saat saya masih PPL di sebuah SMP Negeri di Bandar Lampung. Akhir tahun 2008 kalau tidak salah, saat saya baru sekitar tujuh bulan menikah. Waktu itu, pulang dari mengajar, saya dan teman-teman mampir di Mall Kartini untuk keperluan refreshing. Plis deh, ah, jangan tanya kenapa kami nggak belanja *narik kantong bolong :p Nah, saat sedang asyik melihat-lihat baju, tiba-tiba seorang anak laki-laki berusia sekitar dua setengah tahun menarik-narik gamis saya. Spontan saya tersenyum dan menawil pipinya, “Kenapa, Sayang?” Saya pun duduk bertumpukan kedua lutut saya di hadapannya. Anak tersebut tersenyum dan  berkata, “Mama…,” sambil memeluk saya kemudian memandang saya dengan binar mata layaknya seorang batita yang baru saja menemukan mamanya.

Seorang ibu paruh baya menghampiri. Rupanya itu neneknya. “Maaf ya, Mbak,” Ibu itu tersenyum seraya meraih tangan cucunya. Aku balas tersenyum dan hendak melangkah pergi. Tapi tak disangka, si anak melepaskan pegangan neneknya dan mengejarku sambil berteriak, “Mama!”. Tak lama datang seorang wanita muda tak berjilbab bersama seorang lelaki yang ternyata orang tua si anak. Ibunya langsung menggendong anak tersebut. Dalam gendongan ibunya, anak itu terus saja menatapku. Tiba-tiba saja, anak itu menangis. Tangannya terulur ke arahku dan mulutnya tak henti meneriakkan kata “Mama” ke arahku.  Tampak sang ayah dan nenek saling berpandangan kemudian sama-sama menatapku dengan tatapan heran. Sementara aku hanya bisa senyam senyum, kemudian menegakan diri untuk berlalu meninggalkan si anak yang masih terus memanggilku  “Mama”.

Kejadian kedua yang nyaris serupa baru saja kualami, hari ini, di Ramayana. Hari ini aku memang izin tidak mengajar di sekolah. Dua hari yang lalu, ibuku yang sudah lama tidak bertemu denganku datang dari kampung halaman. Beliau berencana pulang lagi ke kampung halaman siang ini (tadi).  Ibuku minta dibelikan Quran terjemah dengan huruf-huruf berukuran besar. Sekitar pukul delapan lebih sedikit, aku pun pergi ke Balai Buku, sebuah took buku yang banyak menyediakan buku-buku Islami di Bandar Lampung. Sayangnya, Balai Buku belum buka ketika aku tiba di sana. Aku lalu untuk memutuskan ke Candra Supermarket terlebih dahulu. Kali ini aku betul-betul belanja. Oleh-oleh ibuku, dan beberapa keperluan rumah tangga. Selesai berbelanja, aku kembali ke Balai Buku. Tapi ternyata Balai Buku masih belum buka. Tak mau bengong, aku pun menyambangi Ramayana yang berada tak jauh dari Balai Buku. Setelah menitipkan barang belanjaan, aku mulai berkeliling ke setiap sudut Ramayana. Cuci mata.

Saat hendak keluar dari Ramayana, terbersit keinginanku untuk membeli sepatu. Saat sedang asyik melihat-lihat sepatu, tiba-tiba seorang anak perempuan berusia sekitar tiga tahunan berlari ragu-ragu ke arahku. Sesaat dia berhenti, lalu menoleh kepada seorang lelaki -yang menurutku adalah ayahnya- di belakangnya. Lamat-lamat kudengar ayahnya berkata, “Ayo, kejar kalo yakin itu mama…” Ekor mataku tidak menangkap seorang wanita pun di dekat ayah anak itu. Waduh, jangan-jangan ni duda nyari istri, batinku dalam hati. Aku lalu berbelok ke arah lain, berpura-pura tidak melihat anak tersebut, juga ayahnya. Sepintas kulihat sang ayah berjongkok menghibur anak tersebut. “Mama…,” kata anak itu. Lagi-lagi aku menegakan diri untuk tidak peduli. Meski belakangan hal itu sungguh aku sesali. Apa salahnya menghibur anak kecil?

Anak itu kembali hendak mengejarku ketika aku melangkahkan kakiku ke arah penitipan barang di dekat tangga. Sang ayah dengan sigap menangkap tubuh anaknya yang mulai menangis dan meneriakkan kata  “Mama” ke arahku. Sang ayah tampak  berdiri sambil menggendong anaknya ketika aku menjejakkan kakiku di tangga lift.  Posisi mereka berada lurus di hadapanku, di belakang pagar yang mengelilingi lokasi lift. Lift pun membawaku menjauhi mereka; anak kecil yang menangis sambil melambaikan tangan dan memanggilku mama, dan sang ayah yang berwajah duka.

Begitulah. Kejadian aneh yang kualami. Entah apa sebab sehingga kedua anak itu memanggilku mama.

Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


2 comments:

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)