Tuesday, August 13, 2013

Petani Jeruk dan Benalu

Tersebutlah seorang petani jeruk. Ia benar-benar mendalami ilmu bertani jeruk. Pegangannya satu: Kitab Lengkap Bertani Jeruk. Tak lupa ia juga membaca buku pendukung, yang dishahihkan oleh para ahli jeruk. Ini membuatnya semakin paham segala hal tentang jeruk.

Suatu hari, tampak olehnya satu tangkai yang berbeda. Menempel pada pohon jeruknya. Ia pun segera tahu, bahwa itu adalah benalu. Ia lalu mengambil pisau dan bersiap memangkas benalu itu. Tapi tiba-tiba, si benalu berteriak!

"Jangan pangkas aku! Aku dahan jeruk. Percayalah, aku bagian dari pohon jeruk.

Petani itu menggeleng. Sambil tersenyum ia berkata pada benalu.
"Jangan membodohiku. Aku tahu mana jeruk mana benalu."

"Tapi mengapa kau mau memangkasku? Aku kan tidak mengganggumu. Aku hanya menempel di dahan jerukmu. Jangan usik aku. Biar lah aku hidup di dahan jerukmu!"

Lagi-lagi petani tersenyum.
"Aku tidak akan mengusikmu, jika kau hidup sebagai dirimu. Bukan menempel dan mengaku sebagai jerukku."

"Ah, kau saja yang sentimen padaku. Buktinya, tetanggamu tak pernah mempermasalahkan saat aku menempel di dahan jeruknya."

Petani jeruk mendekatkan wajahnya pada benalu.
"Kemungkinannya hanya dua," bisiknya, "Tetanggaku tak bisa membedakanmu dan dahan jeruk, atau kau terlalu pintar menyamar." 
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


2 comments:

  1. suka mbak izzah, keren...!!!,

    sepintas mengingatkan saya pada jaringan syiah (benalu) di indonesia yang kian marak..., syiah beranggapan bahwa tidak menganggu umat islam, jadi kenapa harus keberaadaan mereka ditolak???, hm... memang seharusnya di pangkas ya.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)