Tuesday, June 3, 2014

Akhirnya Saya Dibekam

Hampir dua pekan, saya merasakan tidak enak badan. Sendi terasa ngilu, perut kembung, tengkuk berat, punggung bagai ditusuk-tusuk. Memang, sedang musim penyakit akhir-akhir ini. Mayoritas keluhan adalah flu dan masuk angin.

Banyak yang menganjurkan saya untuk dibekam. Cara pengobatan ala Rasulullah itu konon bisa menyehatkan. Saya sendiri belum pernah mencoba. Beberapa kali berniat, tapi urung terlaksana. Selain karena saya tidak tahu harus bekam di mana, ngeri membayangkan kulit saya ditusuk jarum dan dikeluarkan darahnya juga menjadi salah satu alasannya.

Sekedar berbagi cerita. Dulu waktu kecil, moment disuntik adalah hal yang paling mengerikan buat saya. Saya selalu berusaha melarikan diri. Termasuk keluar dari jendela dan memannjat pohon jambu saat program imunisasi di sekolah. Benar-benar merepotkan para guru. Harap jangan ditiru.

Kembali ke soal bekam tadi. Hari ini, akhirnya saya membulatkan tekad saya untuk di bekam. Kebetulan saya mendapat informasi bahwa rekan sesama guru di sekolah biasa melakukan praktik bekam. Bu Desi, namanya. Ah, kemana saja saya selama ini. Sampai-sampai tidak tahu soal keahliannya  di bidang bekam.

Saya pun menyampaikan keinginan saya untuk dibekam pada Bu Desi. Sayangnya, ia punya agenda rapat.
"Tapi kalau sebelum ashar sudah selesai, saya ke rumah ibu," ujarnya memberi harapan.

Saya sedang menikmati petualangan saya di dunia mimpi, ketika di depan pintu pagar terdengar suara Bu Desi. Ah, akhirnya saya dibekam juga kali ini.

Di kamar, saya dan Bu Desi pun mempersiapkan diri untuk melaksanakan ritual bekam. Cukup banyak alat dan bahan yang digunakan. Cup bekam yang berjumlah sembilan, penyedot cup, jarum, sarung tangan, tisu untuk mengelap darah, kresek untuk menaruh tisu, koran untuk alas peralatan, jarum, minyak Bud-bud untuk mengurut, dan alkohol untuk keperluan steril alat-alat. Bu Desi tidak memakai masker saat melakukan ritual bekam.

Ritual bekam pun dimulai....
"Tidaaaaak!"
Hush! Belum dimulai!

Sebelum dibekam, terlebih dahulu saya diurut dengan minyak Bud-bud. Hmm, enaknya... Ingin rasanya diurut lama-lama (ngelunjak :p). Setelah di urut, Bu Desi mulai menempelkan cup bekam. Satu persatusecara bergantian. Mulai dari yang kecil, hingga yang besar. Tahap ini belum ditusuk jarum. Baru di cup saja, disedot, kemudian digeser-geser di permukaan punggung saya. Seperti dikerok. Hanya saja rasanya seperti ditarik atau dicubit.

"Masya Allah, Bu, merah banget kulitnya!" Komentar Bu Desi.
"Iya, Bu. Masuk angin berat saya," jawab saya sekenanya. Mencoba menanggapi walau sebetulnya perasaan saya sedang tegang. Detik-detik menunggu jarum ditusukkan mulai terasa mendebarkan (tsaah...).

Bu Desi sempat memperlihatkan cup yang baru saja ditempelkan di kulit punggung saya. Cup itu tampak seolah berembun. Konon embun itu adalah angin yang berhasil di sedot dari punggung saya.

Selanjutnya, tibalah kami pada ritual inti. Satu persatu cup ditempelkan kembali di kulit punggung saya. Bagai ditarik, rasanya. Setelah cup sudah menempel semua, Bu Desi pun mulai beraksi dengan jarum bekamnya. Hikkss....

Satu persatu cup di lepas, dan ditepelkan lagi setelah bekas tempelannya ditusuki jarum. Rasanya sih tidak begitu sakit. Tapi sensasinya cukup terasa.

Cekit, cekit, cekit....

Saat cup menghisap kulit saya yang sudah ditusuk jarum, darah kotor tampak merembes perlahan. Warnanya merah kehitaman dan sedikit kental. Hiiyy... Setelah menunggu beberapa saat, cup dicabut dan darah dibersihkan dengan tisu. Tadinya saya pikir selesai setelah dibersihkan. Ternyata lagi-lagi kulit saya ditusuk dan cup kembali ditempelkan. Huaaa... Ada ronde ke dua, rupanya :p

Setelah ritual bekam selesai, punggung saya kembali diurut dengan minyak Bud-bud. Subhanallah, benar ternyata. Badan saya terasa enteng setelahnya. Tapi memang, selang beberapa jam kemudian, punggung terasa senut-senut, seperti habis disuntik. Saya pikir mungkin akan terasa lebih enak kalau dikompres dengan air hangat. Seperti yang dulu biasa dilakukan ibu saya, tiap kali saya habis disuntik.

Jika ingin mengetahui lebih banyak tentang bekam, bisa dibaca di link-link berikut ini:
1. Tanya Jawab Bekam http://www.aimherbal.com/blog/tanya-jawab-tentang-bekam-berikut-permasalahannya-oleh-dr-abu-hana-elfirdan/

2. Panduan Singkat Bekam http://abusalma.wordpress.com/2007/03/01/panduan-singkat-tentang-bekam/

3. Dalil-dalil Tentang Bekam http://darus-syifablog.blogspot.com/p/dalil-dalil-hadits-rasulullah-saw.html

Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


2 comments:

  1. Saya pingin coba tapi koko takut terus yaaa

    ReplyDelete
  2. Enak kok, Mbak. Coba aja, nggak sakit. Cuma agak cekit2 :D

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)