Sunday, June 1, 2014

Workshop Photography dan Rally Photo

Bermodal ingin dan isi kantong yang minim, Jumat tanggal 23 Mei lalu, saya mengikuti Workshop Photography dan Rally Photo yang diadakan oleh UKM Teknokra Unila. Untuk peserta umum seperti saya, dikenakan biaya Rp. 30.000 untuk workshop saja, dan Rp. 75.000 untuk workshop dan rally photo. Tak mau tanggung, saya pun mengikuti keduanya.

Bersama seorang rekan guru di sekolah, saya tiba di auditorium Perpusatakaan Unila - tempat akan dilaksanakannya acara - sekitar pukul 08.30. Terlambat 30 menit dari jadwal yang ditentukan panitia. Sebab kami mampir dulu di sekolah tempat kami mengajar. Sekedar berpamitan pada kepala sekolah. Ruang workshop sudah dipenuhi peserta saat kami masuk ke dalamnya. Tapi acara belum dimulai.

Saat registrasi, terlebih dahulu saya dan teman saya diminta untuk mengambil undian untuk tema rally photo. Kebetulan kami mendapat undian tema yang sama: architecture. Alhamdulillah. Kami juga diberi fasilitas snack dan totebag berisi blocknote, pena, nametag, dan kaos peserta oleh panitia. Di dalamnya juga terdapat brosur dari Mc donalds (yang sempat membuat saya bersorak karena saya pikir itu adalah kupon makan gratis :D).

09.00 Pembukaan

Acara Workshop dan Rally Photo dibuka dengan suguhan berupa tarian Sigekh Penguten oleh lima orang penari. Tari Sigekh Penguten adalah tarian khas dari daerah Lampung. Tarian ini biasa dipersembahkan untuk menyambut raja-raja dan tamu istimewa. Para penari membawakan tariannya dengan sangat apik dan gemulai. Senyuman tak pernah lepas dari wajah mereka. Mereka seperti boneka berpakaian adat yang sudah disetting dengan senyum yang sama dari awal hingga akhirnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan beberapa sambutan . Mulai dari Pembantu Rektor 3 Unila, perwakilan Gubernur Lampung, Pemimpin Umum Teknokra, dan juga ketua pelaksana Workshop Photography dan Rally Photo. Peresmian dibukanya acara sendiri dilakukan oleh Perwakilan Gubernur Lampung yang ditandai dengan pemukulan gong yang sudah disiapkan oleh panita.

Gong, gong, gong!

09.50 Waktunya workshop photography dimulai...

Eh, belum!

Masih ada lagi soasialisasi dari perwakilan Gerakan Masyarakat Sepak Bola. Inti yang bisa saya tangkap dari apa yang ia sampaikan adalah, bahwa kita, masyarakat Indonesia harus mendukung dan memperjuangkan Indonesia sebagai tuan rumah di piala dunia tahun 2022, yang kabarnya digeser oleh Qatar. Ini penting! Karena dengan begitu, akan mengokohkan eksistensi Indonesia di percaturan sepak bola dunia. Bayangkan! Andai Indonesia menjadi tuan rumah. Maka nama Indonesia akan disebut di mana-mana. Bayangkan!

Sayangnya, pikiran saya sudah tidak sabar menunggu workshop dimulai sehingga sangat sulit untuk membayangkan. Maafkan saya, Kawan. Andai ini tanggal muda, tentu lain lagi ceritanya. Tapi, di tanggal tua, dan di hari Jumat ini, sungguh pendek waktu yang tersedia untuk bisa menerima materi photography yang dengannya saya rela membiarkan Rp. 75.000 keluar dari kantong saya. Hks...

10.15 Workshop pun dimulai

Tak seperti yang saya bayangkan, workshop ini lebih kepada pengenalan photography saja ketimbang soal tehnik dan praktik memotret. Agak kecewa, sebenarnya. Apa lagi, materi yang disampaikan seolah tidak tuntas karena tepat pada pukul 11.07 laptop pemateri mati sehingga materi terpaksa diakhiri. Hkss... Sesi dilanjutkan dengan tanya jawab. Pertanyaan dibatasi hanya untuk tiga penanya, itu pun dengan durasi yang seolah-olah maling diburu massa.

Saat hati dan fikiran saya sudah fokus pada gelagat penutupan, tiba-tiba, masuklah dua orang bapak-bapak berpakaian seragam, yang langsung ambil tempat di depan ruangan. Siapa gerangan? Ternyata mereka adalah petugas dari jasa raharja angkutan, khususnya kereta api. Tapi tidak akan saya bahas di sini, bukan bidang saya. Khawatir dikira iklan juga. Intinya, kalau kita mengalami kecelakaan saat naik kereta api, akan ada asuransi kecelakaan dari jasa raharja. Eh, betul kan, ya? Ah, sudahlah. Kurang paham saya :D

11.15 Penutupan

Penutupan sekaligus dilakukan bersama pelepasan para peserta rally photo untuk melakukan hunting photo sesuai tema yang didapat masing-masing. Sebelum pergi, terlebih dahulu diberi pengarahan dan diminta untuk memotret jam dinding yang sudah disiapkan panitia - yang sedikit pun tak dilihat hasilnya hingga selesainya acara - Peserta diberi waktu hingga pukul 19.30 untuk mengumpulkan dua foto terbaiknya ke panitia rally photo di sekretariat UKM Teknokra.

Diam-diam, dari sejak penutupan, saya menunggu-nunggu "sesuatu" yang mungkin panitia lupakan. Sesuatu yang...., yaah, sekedar untuk menenangkan lambung saya yang sejak tadi merengek minta diisi makanan. Alhamdulillah, peserta pun akhirnya benar-benar bubar tanpa mendapatkan bekal makanan.

Karena sedang cuti bulanan, saya dan teman saya pun fokus mencari makanan. Penjual somay di belakang Fakultas Pertanian pun jadi pilihan. Ditambah segelas air mineral, cukup lah tenaga kami untuk memulai perjalanan di siang yang panas ini.

12.30 Hunting foto

Matahari bersinar garang siang itu. Bak dua puteri yang sudah terlatih di medan perang, saya dan teman saya pun memulai perjalanan. Aduhai, gagah nian. Meski tak tahu kemana arah tujuan. Maklum, belum  Tapi berpengalaman. Ditambah lagi memang orang rumahan. Tak biasa kelayapan. Sudah hampir separuh perjalanan mencari gedung yang elok dijadikan korban, tiba-tiba HP bergetar...

"Halo, Bu! Ibu dimana? Helmnya. Saya udah mau pulang," terdengar suara di seberang sana. Rekan sekolah yang saya pinjam helmnya.

Oh, tidaaaaaak!

Terpaksa kami putar arah. Kembali ke sekolah. Kasihan kalau helmnya tak dikembalikan. Nanti teman saya tak bisa pulang. Tapi ada hikmahnya juga. Saya bisa sekalian menaruh tas di rumah. Cukup membawa tas kamera saja. Lebih ringan dan mobile tentunya, kembang membawa tas jinjing yang membuat saya lebih mirip ibu-ibu yang mau kondangan.

Kami kembali memulai perjalanan. Melintas di depan Pascasarjana UBL, kami pun memutuskan untuk mampir. Izin pada satpam, untuk memotret sebentar. Yah, sekenanya. Karena kami benar-enar buta, gedung mana yang akan jadi sasaran kamera. Sempat browsing, sebenarnya. Tapi hasil browsing rupanya tidak seindah kenyataan. Beberapa kali kami tersasar saat mencari jalan. Alih-alih menemukan gedung yang dituju, malah ketemu gedung lainnya. Tak apalah, daripada tidak sama sekali.

Hari semakin petang. Baru kami sadari bahwa selama hunting tak setetes air pun melewati tenggorokan. Dehidrasi, sudah pasti. Tubuh lemas, rasanya. Maka sebelum pulang ke rumah saya, kami mampir dulu ke kios yang menual es kelapa muda. Ah, segarnya luar biasa. Separuh tenaga yang hilang seketika kembali, rasanya.

Tiba di rumah saya, dengan tergesa - karena ada pengajian di rumah teman saya - kami menyortir foto yang akan kami setorkaan ke panitia. Setelah diedit sedikit contrast dan exposurenya, tepat setelah adzan maghrib berkumandang, berangkatlah kami ke sekretariat UKM Teknokra. Sampai di sana, kami diminta untuk memotret jam dinding (lagi), baru lah mengumpulkan foto. Alhamdulillah. Selesai sudah. Lelah, tapi senang. Kami sadar, ini adalah awal kami mengenal photography. Hasil foto masih ancur-ancuran, itu sudah tentu. Tapi kami akan belajar lebih giat lagi, untuk hasil yang lebih memuaskan suatu hari nanti.

Contoh bangunan yang saya foto saat rally photo:

Jam dinding. Difoto sesaat sebelum meninggalkan gedung workshop

STBA Teknokrat Bandarlampung
Vihara Thay Hin Bio

Ruko di sebuah persimpangan jalan, Teluk Betung

Rumah pemilik STBA Teknokrat
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


0 comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)