Thursday, August 6, 2015

Iri Pada Zeta

Cerpen ini dimuat di Majalah Bobo, edisi 23 April 2015. Ditulis saat saya sedang merasa kecewa. Penyebabnya adalah kegagalan saya memperoleh apa yang saya inginkan. Alhamdulillah, kekecewaan itu akhirnya berakhir bahagia. Itulah sebabnya, saya semakin meyakini bahwa semua ada waktunya. Kuncinya jangan putus asa. Tetap semangat dan berusaha ;)

*****

Iri Pada Zeta



Reina iri pada Zeta. Zeta enak. Ibunya tidak cerewet seperti ibu Reina. Tak pernah mengomel, apalagi memarahi Zeta.

Reina iri pada Zeta. Jadi Zeta itu menyenangkan. Main sampai sore, tak perlu khawatir akan diomeli. Bahkan walau Zeta malas mandi, ibunya tak pernah memarahi.

“Ibumu baik sekali ya, Zeta?” Puji Reina.  Saat itu mereka sedang duduk berdua, di taman sekolah.
Zeta hanya tertawa. Tawa yang membuat Reina semakin iri pada Zeta.

Kenapa ya, ibu Reina tak sebaik ibunya Zeta? Reina jadi sering berhayal, andai ibu Zeta adalah ibunya. Pasti sangat menyenangkan.

“Kita bertukar ibu saja yuk, Zeta!” Usul Reina. Zeta tertawa. Mungkin, kalimat Reina terdengar lucu baginya.

“Ayolah. Sehari saja!” Bujuk Reina.
Zeta kembali tertawa.
Reina cemberut.

“Kau tak akan tertawa andai kau jadi aku!” Ujar Reina.
Zeta menghentikan tawa.

“Ibuku sangat cerewet. Apa pun yang kulakukan, selalu dianggap salah oleh ibuku.”
“Maafkan aku,” sesal Zeta.

“Ibu bahkan mengomeliku hanya karena aku keluar rumah tanpa alas kaki!” Keluh Reina.
Zeta memandang Reina dengan tatapan iba.

 “Apa ibumu juga mengomelimu dengan alasan yang sama, Zeta?”
Zeta menggeleng.

“Ibumu baik sekali. Andai ibuku seperti ibumu,” gumam Reina.

Sesaat, keduanya hanya diam.

“Ibuku memang ibu terbaik.”

Reina menatap Zeta. Menunggu Zeta melanjutkan semua cerita tentang ibunya. Pasti menyenangkan, pikirnya.

“Ibu bahkan tak pernah marah walau aku melakukan kesalahan.”
Wah, ibu Zeta benar-benar penyabar, batin Reina.

“Tapi, Reina. Aku sangat berharap ibuku memarahiku. Sekali saja!”
Reina terkejut.

“Ibu tak pernah membacakan buku cerita apalagi memelukku saat aku akan tidur.”
“Ibu tak pernah peduli pada apapun yang aku lakukan.”

Zeta terisak.

Reina mengerutkan keningnya. Bukan itu yang membuatnya iri pada Zeta.

“Mengapa bisa begitu, Zeta? Bukankah ibumu adalah ibu terbaik di dunia?” Tanya Reina.

“Ya. Itu memang benar. Tapi ibuku telah tiada. Bahkan sebelum aku sempat melihatnya,” jawab Zeta.

Reina terdiam. Haruskah ia tetap iri pada Zeta sekarang? Bagaimana menurutmu?


Tertarik mengirim naskah ke Majalah Bobo? Caranya bisa dibaca di sini, ya.... :)
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


2 comments:

  1. sederhana dan menyentuh kakak :) salam kenal...

    ReplyDelete
  2. Makasih, Zahra Diyzha. Salam kenal juga :)

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)