Sunday, August 2, 2015

Kegiatan Masa Orientasi Siswa, Bagaimana Sebaiknya?

Sebagai guru, saya merasa miris akhir akhir ini. Bagaimana tidak, kegalauan dan keprihatinan akan pelaksanaan kegiatan Masa Orientasi Siswa memenuhi beranda sosial media milik saya, juga sebagian besar konten berita.

Mengapa kegalauan dan keprihatinan ini sampai terjadi?

Sebab Masa Orientasi Siswa yang seharusnya syarat dengan aktivitas yang mengedukasi, justru menjadi ajang perpeloncoan yang tidak jelas tujuannya. Meresahkan dan mengkhawatirkan.

Orangtua mengeluhkan betapa repotnya mencari "Perlengkapan Alien" yang diminta panitia MOS. Saya sebut perlengkapan alien, karena yang diminta sangat aneh dan tidak masuk akal. Belum kewajiban dandan super aneh yang diberlakukan. Pakai topi tudung nasi, kaos kaki warna warni, coreng moreng di wajah, dan lain sebagainya.

Helooow, ini calon siswa/peserta didik lho, ya. Bukan makhluk luar angkasa.

Perpeloncoan dalam kegiatan MOS juga tak jarang memakan korban. Mulai dari rusaknya mental, pelecehan, luka fisik, hingga kematian. Betapa menyedihkan.

Sayangnya, MOS model begini seolah masih membudaya dan menjadi ritual kebanggaan di banyak sekolah.

Padahal selayaknya, kegiatan MOS dilakukan untuk menuju tujuan awal pendidikan. Yaitu mencerdaskan, serta mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Lantas, bisakah tujuan itu tercapai, jika di awal saja, siswa sudah disambut dengan kegiatan pembodohan yang merugikan dan memalukan, bahkan tidak sedikit memakan korban? *MenghelaNafas*

Jadi, pelaksanaan MOS seperti apa yang sebaiknya dilakukan?

Di dalam surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan terkait pelaksanaan Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPD), setidaknya ada dua poin yang harus diperhatikan dalam melaksanakan kegiatan MOS.

Yang pertama, tidak ada praktik dan atau menjurus pada praktik perpeloncoan, pelecehan, kekerasan terhadap peserta didik baru baik secara fisik, maupun psikologis yang dilakukan di dalam dan luar sekolah.

Yang ke dua, adanya proses pengenalan program sekolah, lingkungan sekolah, cara belajar, dan penanaman konsep pengenalan diri, kegiatan kepramukaan dan kegiatan lainnya.

Adapun kegiatan positif lainnya  yang bisa dilakukan pada kegiatan MOS, di antaranya adalah pemberian motivasi belajar, pembiasaan ibadah, bakti sosial, aksi tanam pohon sebagai bentuk kegiatan peduli lingkungan, dan lain sebagainya. [Izzah Annisa]
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


2 comments:

  1. benar mbk, MOS harus diawasi secara ketat, sebab di luar sekolah biasanya yang banyak aksi bully

    ReplyDelete
  2. Iya, Mbak. Sedih denger beritanya. Mudah2an ke depan hal2 seperti itu tidak terjadi lagi.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)