Sunday, August 9, 2015

Nyanyian Api Naganini

Menulis cerita berima memberikan sensasi berbeda bagi saya. Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil membuatnya. Sebagian cerita yang berhasil dibuat saya kumpulkan untuk dibukukan, beberapa saya kirim ke media. Nyanyian Api Naganini ini, salah satunya. Dimuat di Majalah Bobo bulan Juni yang lalu. Berikut saya posting naskah versi aslinya. Selamat membaca :)

*****
Nyanyian Api Naganini


Di sebuah negeri, hiduplah seekor naga bernama Naganini. Ia baik hati dan suka menyanyi. Sayangnya, mulut Naganini selalu menyemburkan api setiap kali ia menyanyi. Seringkali, hal ini mendatangkan masalah bagi Naganini.

Suatu hari, Naganini diundang ke acara ulangtahun Oli. Naganini pun datang untuk ikut menyanyi. Tapi, api dari mulut Naganini malah menghanguskan kue ulang tahun Oli.

Whuuss….

“Oh, maafkan aku, Oli…” sesal Naganini. Ia merasa bersalah karena telah mengacaukan pesta ulang tahun Oli.

“Aku tahu kau tidak sengaja, Naganini. Tapi sebaiknya, kau tidak lagi menyanyi,” jawab Oli.

Naganini sedih sekali. Tak ada lagi yang mau mendengarnya menyanyi. Ia lalu mengurung diri di rumahnya yang sepi dan sunyi.

Hari-hari pun berganti. Saat musim salju menyelimuti bumi, Naganini keluar rumah untuk menghibur diri. Kali ini, ia sudah memutuskan untuk tidak lagi menyanyi. Tapi udara yang dingin menggoda Naganini.

“Mungkin udara akan terasa lebih hangat jika aku menyanyi,” gumam Naganini.

Naganini lalu mulai menyanyi. Mulutnya seketika menyemburkan lidah api. Api itu meliuk-liuk, ke sana ke mari.

Whuuss, whuuss….

Ketika sedang asik menyanyi, sekelompok tupai datang menghampiri Naganini.

“Terimakasih, Naganini. Nyanyianmu menghangatkan sarang kami,” ujar mereka, mencengangkan Naganini.

“Aha! Sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan!” Sorak Naganini.

Pertama-tama, Naganini mendatangi rumah Oli.

 “Apa kabar, Naganini? Kuharap kau datang bukan untuk menyanyi,” kata Oli.
“Mungkin tidak,” jawab Naganini. “Tapi kulihat, kau butuh bantuan seekor naga untuk menyalakan api.”

Naganini mendekati tungku api Oli dan mulai menyanyi.

Whuuss, whuuss…

Api menyambar kayu bakar dan menghidupkan tungku penghangat milik Oli.

“Terimakasih, Naganini! Mulai hari ini, aku tidak akan keberatan mendengarmu menyanyi,” kata Oli.

Maka, sepanjang hari, para kurcaci bergantian meminta Naganini menyanyi. Tentu saja, Naginini menyanggupinya dengan senang hati.  Ia menyanyi untuk memanggang ikan-ikan Lori, melelehkan salju yang menutupi jalan di Negeri Kurcaci… Dan memanaskan air mandi Nyonya Dori…

Para kurcaci tak lagi mengeluhkan nyanyian Naganini. Mereka bahkan tertawa dan menari, sambil menonton Naganini melakukan atraksi.

Baca juga cerita lainnya:
1. Iri Pada Zeta
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


8 comments:

  1. Makasih, Mbak Lia. Tadi buru2 postingnya. Barusan saya baca2 lagi kok ya bisa ada paragraf yang terbalik :p

    ReplyDelete
  2. wah bagus buat dongeng sebelum bobok ini hehehhe

    ReplyDelete
  3. Makasih, Mbak Gustyanita Pratiwi. Moga bermanfaat :)

    ReplyDelete
  4. Hai naganini.... Akhirnya bisa menyanyi dengan senang hati :*

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)