Saturday, August 15, 2015

Rahasia Menulis Cerita Berima

Saya mulai suka menulis rima saat duduk di sekolah dasar. Tepatnya setelah mendapat materi tentang pantun dan puisi dari guru saya. Untuk pantun, kalimatnya kebanyakan diawali dengan buah duku buah kedondong. Contoh. Buah duku buah kedondong, saya cantik dong.... Ha, ha... Gariiiiing.... :p

Ketika saya mulai menggeluti dunia menulis, khususnya cerita anak, saya mencoba bermain dengan rima dalam cerita yang saya buat. Kadang judulnya saja yang berima, kadang satu dua paragraf, atau bahkan di keseluruhan cerita.

Membuat cerita dengan kalimat berima adalah hal yang sangat menantang sekaligus menyenangkan. Mulanya memang sedikit sulit. Namun akan terasa mudah setelah dicoba, apalagi  jika sudah tau rahasianya. Nah, seperti apa rahasia menulis cerita berima ala saya?

Khawatir jadi jerawat jika terus disimpan, berikut rahasianya saya bagikan ;)

Pertama, mulai dari judul cerita.

Yup. Langkah awal untuk melatih kemampuan membuat cerita berima adalah dimulai dengan membuat judul berima. Ibarat peribahasa: serima demi serima, lama-lama rima semuanya. Cieee.... Ini peribahasa buatan saya lho, ya.... Jangan dicari di buku Bahasa Indonesia :D

Oh, ya, judul cerita yang berima memiliki daya pikat yang cukup ampuh untuk memikat redaktur media, lho. Paling tidak, membuat mereka menjadi tertarik untuk membaca lebih lanjut cerita kita. Meski tentu saja, diterbitkan atau tidaknya, isi cerita kita tetap menjadi penentu utama .

Cerita anak dengan judul berima yang pernah saya buat dan dimuat di media di antaranya, adalah: Layang-layang Mang Odang, Flip dan Pensil Ajaib, Keinginan Tian, dan lain-lain.

Ke dua, otak atik kata dalam kalimat.

Yang saya maksud di sini adalah mengotak atik susunan kata dalam sebuah kalimat, atau menggantinya dengan pilihan kata yang lain, sehingga yang tadinya tidak berima menjadi berima. Misalnya kita ingin membuat sebuah paragraf cerita dengan rima "i" di setiap akhir kalimatnya. Contoh:

Tiba di sutu tempat, Piko menghentikan langkah. Di depan sana, ia melihat pohon bluberi. Buahnya sangat lebat.

Nah, kita sudah mendapatkan satu kalimat dengan rima "i" di akhirnya, yaitu : Di depan sana, ia melihat pohon bluberi.

Sekarang, coba kita otak atik susunan dan pilihan kata dalam kalimat lainnya agar berima "i" juga.

Tiba di suatu tempat, langkah Piko terhenti. Di depan sana, ia melihat pohon bluberi. Buahnya lebat sekali.

Bagaimana? Sudah berima "i" semua, bukan?

Ke tiga, perbanyak latihan.

Ala bisa karena biasa. Begitu, kata ibu saya. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan, akan terasa ringan dan mudah dikerjakan. Begitupun dengan menulis cerita berima.  Dengan banyak latihan, kita akan menjadi terbiasa membuatnya. Kalau sudah terbiasa, sudah pasti bisa dan mudah membuatnya. Tidak percaya? Coba saja, dan buktikan kata-kata saya ;)


Contoh cerita berima bisa dibaca di sini
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


8 comments:

  1. Saya juga suka nih bikin kalimat-kalimat berima, tapi belum ada yang jadi cerita. InsyaAllah di suatu ketika, cerita berima saya akan tercipta. (sudah cukup berrima? ;))

    ReplyDelete
  2. Iya ya... jika diniatkan dengan berlatih sebenarnya mudah.

    ReplyDelete
  3. Bener juga ya, aku paling ga jago otak atik kalimat

    ReplyDelete
  4. Sip, Mantaaap, Mbak Diah Utami. Udah keren kalimat berimanya ;)

    ReplyDelete
  5. Yup, Mbak Ade Anita. Bener banget. Rajin berlatih adalah kuncinya :)

    ReplyDelete
  6. Cemungudh, Mbak Gusyanita Pratiwi. Pasti bisa ;)

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)