Wednesday, September 23, 2015

Naskah Pemenang Lomba Flash Story Syaamil Quran

Sobat Jejak, masih berhubungan dengan postingan saya sebelumnya tentang menulis di HP, memang cukup sering saya melakukan ini. Entah itu menulis ide, cerita anak atau dongeng, sinopsis, bahkan naskah buku. Buku saya yang baru terbit, sebagian besar ceritanya saya tulis di HP. Saat sedang makan, di sela sela waktu mengajar, menjelang tidur, dan lain lain. Alhasil, naskah berisi 30 dongeng itu bisa saya selesaikan dalam waktu dua hari.

Menulis cerita di HP juga saya lakukan saat mengikuti lomba menulis flash story di blog yang diadakan penerbit Syaamil Quran. Menjelang deadline lomba, saya belum punya ide sama sekali. Mau buka laptop, mata sudah sangat mengantuk. Tak sanggup lagi, rasanya. Tapi saat hendak tidur, mata tak kunjung bisa terpejam. Akhirnya, saya pun membuka HP.


Saya membaca baca cerita yang sudah di submit peserta lomba lainnya di blog mereka. Tiba tiba.... Tring! Saya mendapat ide. Ide itu jelas sekali di kepala saya. Bahkan sudah berbentuk cerita. Dari awal hingga akhir. Dengan cepat saya membuka note di HP dan saya tuliskan cerita saya tersebut. Selanjutnya, dengan semangat saya hidupkan laptop. Saya pindahkan cerita yang sudah jadi ke blog, edit sebentar, posting, lalu saya daftarkan linknya. Cerita itu saya posting setengah jam sebelum deadline! Daaaan..... Saya menang! Juara satu, Sobat. Hadiahnya, Quran My Fa yang saya idamkan. Alhamdulillah....  :)

Postingan itu ada di blog saya yang satunya. Untuk Sobat Jejak yang baik, saya posting lagi deh, di sini ;)


Quran Terakhir

“Di sini, kita akan mengaji bersama sama setiap hari,” ujar Syamil. Beriringan, ia dan Karim meninggalkan Pondok Quran. Pondok itu merupakan hasil sumbangan para dermawan dari negeri nun jauh di sana. Syamil tidak tahu di mana tepatnya. Ia hanya tahu negeri itu bernama Indonesia.

Pondok Quran itu terdiri dari dua lantai. Sudah sepekan ia diresmikan. Di sana, Syamil dan anak anak Palestina lainnya bersama sama mengaji Alquran setiap harinya. Dengan ayat Alquran,  mereka berlomba lomba menguatkan ruhiyah. Gempuran Israel yang semakin gencar akhir akhir ini sedikit pun tak menyurutkan semangat mengaji mereka.

Belum jauh meninggalkan Pondok Quran, mendadak Syamil menghentikan langkahnya.

"Ada apa?"Karim memandang sahabatnya.
“Karim, Alquranku ketinggalan di Pondok!” Jawab Syamil.
“Jadi bagaimana?”
“Itu satu satunya Alquran yang kumiliki. Aku tak mungkin meninggalkannya. Tunggu, ya. Aku kembali ke Pondok sebentar.”

Syamil berlari menuju Pondok Quran. Karim pun mencari tempat berteduh. Menunggu Syamil.

Karim menajamkan telinganya. Di kejauhan, terdengar suara sirine bersahutan sahutan, disusul suara deruan yang amat ia kenal. Karim merapatkan tubuhnya di balik pohon. Suara deruan itu semakin mendekat.

“Pesawat tempur Israel!” Desis Karim. Perasaan cemas melingkupi hatinya. Berkali kali ia menoleh ke arah Pondok Quran.

Jantung Karim berdegup kencang, ketika tiba tiba, sebuah benda meluncur dari pesawat tempur Israel. Benda itu bergerak cepat, menuju Pondok Quran.

“Tidaaaak!” Pekikan Karim menggema, bersamaan dengan suara ledakan yang memekakkan telinga. Rudal dari pesawat tempur Israel mengenai sasarannya. Pondok Quran!

Asap hitam membumbung di angkasa. Debu debu berterbangan, menandai Pondok Quran yang dalam sekejap hancur berantakan.

Dada Karim terasa sesak. Tenggorokannya tercekat.  Air mata mengalir, merobek benteng kemarahannya terhadap kekejaman Israel.

Sekuat tenaga, Karim berlari menuju Pondok Quran.

Gemetar, tangan Karim mencoba menyingkirkan batu batu reruntuhan.
"Syamiiiil!" Teriaknya, berurai air mata.

Tak ada jawaban. Hanya tangan berlumuran darah, yang menyembul di antara celah. Menggenggam sebuah mushaf, bertuliskan Syaamil Quran.
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


0 comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)