Wednesday, October 14, 2015

Cara Membuat Surat Pengantar Naskah Ke Media

Hai, Sobat Jejak. Selamat tahun baru Hijriyah, ya. Semoga kita senantiasa menjadi hamba Allah yang semangat dalam berhijrah menuju yang lebih baik :)

Sobat Jejak, adakah di antara Sobat yang berencana mengirim naskah ke media tapi bingung bagaimana menulis surat pengantarnya? Jangan khawatir, Sobat. Sebab kali ini, saya akan berbagi pada Sobat Jejak mengenai cara membuat surat pengantar naskah ke media.

Sobat. Pada dasarnya, membuat surat pengantar naskah tidaklah sulit. Intinya memberitahu pada redaksi bahwa kita mengirim naskah, misal, berjudul "Dongeng Anak". Hanya saja, sebaiknya kita tetap memerhatikan adab adabnya, Sobat.

Apa saja adab adab dalam membuat surat pengantar nasakah?


Pertama, ucapkan salam.
Cara memberi salamnya bisa dengan "Assalamualaikum" atau lainnya. Kalo saya sendiri, salamnya tergantung media tujuan. Untuk media umum biasanya saya menggunakan kata "Salam" saja.

Kedua, sapa redakturnya.
Sobat Jejak. Redaktur adalah manusia, bukan robot. Sebagai manusia seperti halnya kita, redaktur juga senang disapa. Sekadar kalimat, "Redaksi/redaktur yang baik, apa kabar?" mungkin tampak tak berarti. Tapi bagi redaktur yang lelah membaca naskah atau email seharian, apalagi yang isinya ngancem2 minta dimuat, sapaan kita bisa saja bernilai segelas jus di padang sahara. *Tsaaah, bahasanya.... :D

Ketiga, Beritahu maksud tujuan kita. Ya itu tadi, beritahu bahwa kita mengirim naskah berjudul "Dongeng Anak".

Keempat, ucapkan terimakasih.
Lho, belum dimuat kok sudah bilang terimakasih?
Sobat, dalam sehari, redaktur barangkali menerima puluhan bahkan ratusan email dengan maksud yang sama. So, email kita dibuka dan dibaca aja itu sudah alhamdulillah banget.

Ke Lima, jangan lebay. Tunjukkan bahwa kita adalah penulis beradab yang berwibawa. Maksudnya, nggak usahlah merayu2 redaktur agar memuat naskah kita, apalagi kalau sampai maksa dan mengancam segala.

Misalnya begini:
Penulis : "Tolong ya, Pak Redaktur... Naskah saya ini dimuat... Please yah, soalnya lagi butuh duit...."
Redaktur: Hadeeh.... Drama banget sih, lu. Gue juga belum gajian kali!

Atau

Penulis: "Tolong ya, muat naskah saya! Kalo nggak, saya tarik sekarang juga!"
Redaktur: Ya tarik aja keleuuuss... Emang gue pikirin!

Heuheu.... Terbayang ya, Sobat, bagaimana geregetannya redaktur membaca surat pengantar yang begitu. Nah, supaya Sobat Jejak tidak ikut ikutan bikin geregetan, berikut saya beri contoh surat pengantar naskah ke media:

Yth. Redaksi Koran

Salam,

Redaksi Koran yang baik, apa kabar? Semoga senantiasa sehat dan semangat menjalani rutinitas pekerjaan.

Perkenalkan, saya Izzah Annisa, penulis asal Bandarlampung. Saya mengirim naskah dongeng/cerita anak berjudul "Dongeng Anak". Naskah ini benar benar karya saya. Bukan plagiat ataupun saduran. Semoga berkenan, terimakasih.

Salam hangat,
Izzah Annisa

*****

Bagaimana, Sobat Jejak? Sangat mudah, bukan, menulis surat pengantar naskah ke media? Selamat menulis dan mengirim karya ke media, ya. Semangat! :)

Baca juga
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


24 comments:

  1. makasih yah sudah dikasih tau cara buat surat pengantarnya....

    ReplyDelete
  2. hihihihi contoh nomor lima itu loh :D

    ReplyDelete
  3. Izin save ya mas, penting nih hihi

    ReplyDelete
  4. Nice post, Mbak Izzah. Jadi, ikutan belajar nih. Terima kasih, ya, Mbak ^_^

    ReplyDelete
  5. gampang banget ternyata ya :D pasti bermanfaat untuk yang ingin jadi penulis nih!

    ReplyDelete
  6. Wah ilmu baru..biasanya sapaan saya lebih informal dari contoh di atas:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, tergantung medianya kok, Mbak. Intinya fleksibel aja, menyesuaikan. Yang penting tetap sopan ;)

      Delete
  7. Mudah bikin pengantarnya. Tapi yang diantar itu bikinnya lumayan yah? Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu masalahnya. Masalah utama itu :D

      Delete
  8. nah adab-adab yang seperti ini memang perlu ya mbak, gak cuma untuk kirim naskah aja sebenernya, tapi semua hal..

    sering kesel kalo ada mahasiswa yang kirim email minta kerjasama tapi pake bahasa alay, dan kirim emailnya tengah malam, udah itu nelpon nanya emailnya udah dibaca apa belum.. hadeuuuh..

    #eh kok jadi curhat ya T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener bangeeet, Bang Rangga. Dalam hal apapun unggang ungguh atau sopan santun harus diterapkan :)

      Delete
  9. membawa pencerahan nih mba contohnya.
    Kalau dipikir-pikir iya juga ya memang harus menyapa dulu, gak ujug-ujug kirim naskah hehehehe

    terima kasih mba share nya ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, iya, Mbak. Ibarat mau masuk rumah orang, ya ada adab-adabnya. Ketuk pintu, salam dulu, bilang keperluannya apa, dll. Begitupun mengirim naskaj :)

      Delete
  10. Salam kenal, Bu..

    Maaf mau tanya, nih.. jika kita mau mengirim naskah cerpen/novel ke media lewat email, penempatan surat pengantarnya di badan email atau di lampiran, ya?

    Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Mbak Maaza. Surat pengantar cukup di badan email, ya.

      Delete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)