Thursday, October 29, 2015

Cerita Anak: Rahasia Tari

Cerita anak berjudul Rahasia Tari ini dimuat di koran Lampung Post. Ini adalah cerita anak pertama saya yang dimuat di media masa. Masa tunggunya yang singkat membuat saya merasa yakin bahwa selalu ada tempat bagi seorang penulis pemula. 

Rahasia Tari
Oleh: Izzah Annisa



Aku punya seorang teman. Tari, namanya. Rambutnya keriting, kulitnya hitam kecoklatan. Ia anak yang tertib di kelas. Meski prestasinya biasa, ia rajin mencatat pelajaran, dan tulisannya rapi. Aku sering meminjam bukunya, untuk menyalin pelajaran yang tertinggal.
Selama bertemandenganTari, tepatnya sejak awal kami bertemu di kelas satu, ada satu hal pada diri Tari yang menyita perhatianku..Aku sering melihat Tari memasukkan jari tengah dan telunjuk ke dalam mulutnya. Atau dengan kata lain, Tari mengulum kedua jari tersebut.
Kebiasaan itu dilakukan Tari ketika jam istirahat sekolah. Yaitu ketika teman sekelasku sudah berhamburan menyerbu kantin sekolah. Tari juga sering melakukannya saat sedang melamun, atau sedang menulis di buku pelajarannya. Bedanya, kalau jam istirahat dan saat melamun Tari mengulum jari kanannya, sementara saat sedang menulis ia mengulum tangankirinya karena tangan kanan digunakan untuk menulis.
Jika sudah mengulum kedua jarinya,Tari seolah tidak perduli dengan keadaan di sekitarnya. Ia akan terus mengulum kedua jari tersebut dalam waktu yang lama. Sangking lamanya, sampai-sampai jari-jari itu mengerut dan pucat warnanya. Persis seperti kulit orang yang berendam di air terlalu lama. Meski penasaran, aku tidak berani bertanya. Aku khawatir pertanyaanku akan menyinggung perasaannya.
Saat jam pelajaaran olahraga, aku, Tari, dan beberapa teman lainnya duduk di bawah pohon akasia. Kami mengobrol banyak hal dan juga bercanda. Tari mendengarkan saja. Ia sedang asik dengan kedua jarinya.
"Kenapa sih, Tar, kok kamu ngemut jari terus?" Tanya Tika.
"Memangnyakenapa?” Sahut Tari setelah mengeluarkan jari dari mulutnya.
"Ya, heran aja, sih. Sudah sebesar gajah, tapi masih suka ngemut jari seperti bayi. Bayi gajah, boo, hahaha!"Ujar Tika, disambut gelak tawa teman lainnya. Hampir saja aku ikut tertawa. Tapi cepat kutahan, begitu aku beradu tatap denganTari. Ada air mata berlinang di sana.
Keesokanharinya, Tari menghampiriku yang sedang asik membaca buku. Saat itu sedang jam istirahat.
“Kamu enggak jajan?"
Aku tersenyum dan menggeleng, lalu melanjutkan bacaanku.
“Aku sebel lho, samaTika kemarin," ujar Tari, sambilduduk di bangku sebelahku. Aku menghentikan bacaanku. Kuubah posisi dudukku menghadap Tari.
"Udah, biarin aja, enggak usah dipikirin," aku mencoba menghiburnya. Untuk beberapa saat, aku dan Tari sama-sama diam.
"Sebenarnya, aku melakukan semua itu karena aku lapar!”
 Aku mengerutkan kening. Berusaha mengerti kata-kata yang baru saja diucapkan Tari.
“Maksudmu?”
"Iya. Sejak kecil, mamakku selalu menyuruhku ngemut jari tiap kali aku ngerasa lapar. Sampai sekarang, aku terbiasa ngemut jari tiap kali aku lapar. Kalian enak, kalo istirahat bisa jajansemaunya. Beli bakwan, lontong, atau bakso sampai kenyang. Lha aku? Jajan pake apa? Bapakku udah gak ada, mamakku kerjanya cuma mulung sampah sama nyuci baju orang. Mana bisa ngasih aku uang jajan. Bisa sekolah aja udah untung, itu pun di bantu sama pak likku," Tari menjelaskan dengan air mata berderai.
Dadaku sesak. Bisa kubayangkan betapa sulitnya kehidupan Tari dan keluarganya. Tanpa terasa, air mataku menitik. Tak kusangka, cerita di balik kedua jarinya sangat menyedihkan
“Tari, maafin aku ya. Sebagai teman, aku mungkin kurang peka pada apa yang selama ini kamu alami.”
"Enggak apa-apa, kok... Aku malah senang, kemarin kamu enggak ikut-ikutan menertawaiku seperti yang lain. "
Sejak saat itu, aku selalu berusaha untuk tidak melupakan Tari ketika jajan di kantin sekolah. Tari telah mengajariku banyakhal, terutama tentang rasa syukur, dan indahnya.saling berbagi. Dan dengan Tari, aku ingin berbagi, walau pun hanya dengan sebungkus kuaci.
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


2 comments:

  1. sedih ya, orang lain menertawakan padahal ada kesedihan di balik semua nya, betapa bersyukurnya ya bagi kita semua yang hidupnya berkecukupan

    ReplyDelete
  2. Iya, Mbak, sedih banget.... Nggak kebayang dia yang ngelakuin itu karena kelaperan malah ditertawakan.... :'(

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)