Tuesday, October 20, 2015

Mengendapkan Naskah, Perlukah?

Guru di salah satu kelas menulis yang saya ikuti, sering berkata begini pada anggota kelas yang telah menyelesaikan tugas menulis, "Sudah bagus, tinggal diendapkan." Kurang lebih begitu kalimatnya.

Awalnya, saya sempat berpikir. Sudah bagus, kok disuruh mengendapkan lagi. Memangnya perlu? Untuk apa?

Seiring berjalannya waktu, saya pun menyadari. Bahwa mengendapkan naskah itu perlu. Bahkan sangat perlu. Sekalipun untuk naskah yang sudah dinilai bagus.

Saat kita mengendapkan naskah, maka akan ada yang namanya proses membaca ulang. Nah, pada proses membaca ulang itulah, biasanya kita akan menemukan bagian-bagian naskah yang tadinya - menurut kita - sudah bagus, ternyata masih ada saja yang belum pas. Entah itu EYDnya, logika bercerita, pilihan kata, dan sebagainya.

Untuk alasan itulah, maka mengendapkan naskah adalah hal yang sangat perlu dilakukan oleh seorang penulis.

Tapi saya mah udah lihai nulisnya. Yakinlah naskah saya udah bagus beneran.

Bisa jadi. Tapi itu tidak menjamin naskah 100% bebas dari kesalahan. Minimal ada salah pengetikan. Misal yang seharusnya tertulis "teh" lha kok bisa-bisanya yang nongol "the". Atau mengetik "bisa" tapi yang tertulis malah "bias".

So, yakinlah. Naskah yang sudah diendapkan hasilnya akan jauh lebih bagus dan manis dibanding yang tidak. Tidak percaya? Coba saja! ;)
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


19 comments:

  1. Betul sekali. Walau sudah self edting tetap sj ada yg salah.
    Dengan mengendapkan mungkin bisa nambah atau ngurangi kata atau kalimat,
    Salam hangat dari Jombang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggih, Pakde. Mengendapkan naskah bisa jadi salah satu ikhtiar untuk bikin naskah pancen oye :)

      Salam dari kami di Bandarlampung untuk Pakde dan keluarga.

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. saya juga pernah diberi saran sama teman, biasanya tulisan pertama sangking semangatnya dan menggebu - gebu, tetapi setelah beberapa hari berasa ada aja yang kurang, entah EYD atau ada hal yang kurang sreg :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, iyaaaa.... Perasaan adaaa aja nemu bagian yang kurang sreg. Kebayang deh, kalo langsung dikirim :)

      Delete
  4. iya kadang komputer suka mlh bikin typo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bangeeet.... Gereget kadang. Yang ditulis apa yang nongol apa :D

      Delete
  5. iya benar sekali. semacam intropeksi yang berkelanjutan.

    salam kenal dari Surabaya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup. Introspeksi. Salam kenal kembali dari Bandarlampung :)

      Delete
  6. Hehe. Kalau baru kelar memang merasa baguuus banget. Pas baca ulang, eh, ada kutunya :)

    ReplyDelete
  7. Bukan cuma kopi yang mesti diendapkan meski hanya sebentar. Rupanya naskah juga. Dalem banget ini makna artikelnya. Keren. dari kurir ganteng ini Izzah, pakai email redaksi regu tempur jejamo.com. hehehehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi... Selain selain profesional jadi kurir, ternyata pemred jejamo pinter menyamar juga. Makasih udah mampir, Bang :D

      Delete
  8. Benar Mbak. Karena setelah dibaca kembali, masih ada saja bagian yang kurang, rupanya :D

    ReplyDelete
  9. Yup, bener banget. Jadi, jangan bosan membaca ulang naskah kembali :)

    ReplyDelete
  10. Kalau mengendapnya bertahun-tahun bisa jadi kita akan tertawa geli membacanya lagi sekarang.
    Sambil berpikir, "kok bisa ya saya menulis begitu dulu"
    hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi... Bener banget, Mbak Keichan. Jangankan naskah bertahun2 lalu. Naskah dibuat kemaren pun, kadang aneh aja gitu setelah dibaca lagi :D

      Delete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)