Sunday, November 1, 2015

[Gado-Gado Femina] Nyamuk

Saya bisa mendadak insomnia jika mendengar suara nyamuk. Tak bisa tidur. Mata saya sibuk mencari-cari di mana gerangan si nyamuk berada.

"Hei, Nyamuk! Tunjukkan di mana dirimu! Ciaaaat...."

*lebay*

Pengalaman bersama nyamuk ini kemudian saya tulis dan kirim ke redaksi Gado-Gado Femina. Alhamdulillah dimuat. Judulnya yang tadinya "Nyamuk dan Kemiskinan" diganti menjadi "Nyamuk" oleh redaksi.


Nyamuk
Oleh: Izzah Annisa


Bagiku, nyamuk adalah makhluk kecil yang mengganggu dan menyebalkan. Tapi suamiku bilang, nyamuk adalah pahlawan yang mengentaskan kemiskinan.

Aku sering mengalami kesulitan tidur saat malam. Penyebabnya bukan karena kebanyakan minum kopi atau pun tidur siang, melainkan karena suara dengungan nyamuk. Mungkin karena berhadapan dengan kebun yang lebih mirip hutan, populasi nyamuk jadi begitu banyak di rumah kami.

Saat musim kemarau atau terang bulan, rumah seolah beralih fungsi menjadi sarang nyamuk. Dengungannya terdengar horror dan sangat mengganggu. Bagai pasukan prajurit perang yang mengintai dan siap menyerang. Ngang, ngung, ngang, ngung...

Saat aku mengeluh soal nyamuk, suamiku malah berkata, "Nyamuknya nggak banyak kok, Nda. Itu cuma perasaan bunda aja."

Tentu saja kuanggap itu hanya bercanda. Karena kami sama-sama melihat bagaimana nyamuk-nyamuk itu beterbangan di mana-mana. Terutama di sekeliling tubuhku.

Nyamuk-nyamuk itu memang mengherankan. Bayangkan. Penghuni rumah ini tiga orang. Aku, suamiku, dan anakku. Tapi anehnya,  nyamuk-nyamuk itu bertingkah seolah cuma aku penghuni rumah ini.

"Darah bunda manis, kali. Makanya nyamuk-nyamuk-nyamuknya senang," kata suamiku.

Benar juga. Buktinya, suamiku merasa cukup jika minum teh hanya dengan sedikit gula. Soalnya sudah terasa manis hanya dengan memandangku saja. Hehe.

Walau pun merasa terganggu, tapi aku senang juga, sih. Di tengah segala keterbatasanku menjadi istri dan ibu yang bekerja di luar, setidaknya aku bisa menjadi semacam perisai nyamuk yang membuat suami dan anakku bisa tidur dengan aman dan nyaman. Meski itu artinya aku harus tidur berkalang nyamuk sendirian.

Syukurlah, suamiku sangat perhatian. Ia tidak membiarkanku menjadi korban begitu saja tanpa ada perlawanan. Suatu hari, ia membelikanku sebuah raket sakti! Kusebut begitu, karena raket itu bisa membuat nyamuk-nyamuk berjatuhan hanya dengan beberapa kali kibasan. Bahkan banyak juga yang terbakar sampai hangus, menempel di kawat raket yang mengandung aliran listrik. Menyisakan bau khas daging bakar yang membuatku ngidam makan sate.

"Bunda tahu?" Kata suamiku.
"Tanpa adanya nyamuk, mungkin raket ini tidak pernah diciptakan."

Aku mengangguk-angguk.

"Terus?"

"Dengan adanya nyamuk, manusia jadi berpikir untuk menciptakan pabrik raket nyamuk. Lalu, puluhan orang kemudian mendapatkan pekerjaan di pabrik itu. Mereka jadi punya pemasukan, dan keluarganya tak lagi kelaparan. Secara tidak langsung, nyamuk telah membantu mengentaskan kemiskinan."

Aku tercenung. Dalam hati, aku membenarkan kata-kata suamiku. Walau kecil, kehadiran nyamuk membuat banyak orang terbebas dari pengangguran dan kemiskinan karenanya. Ah, walau bagiku kehadiran nyamuk tetap terasa menyebalkan, tapi aku menyadari kini, betapa Tuhan tak pernah salah menciptakan makhluk kecil ini.

Aku mengayunkan raket saktiku. Memburu beberapa ekor nyamuk yang sedang mengintaiku. Kupandangi raket di tanganku. Tak kusangka. Aku bisa berhutang budi pada sebuah raket nyamuk. Dan sampai hari ini, raket sakti itu masih setia menemani.

Ngang, ngung, ngang, ngung.
Suara-suara nyamuk kembali terdengar. Matahari sudah menggelinding ke barat. Kututup jendela rumah rapat-rapat. Kugenggam raket saktiku erat-erat. Mataku awas mengamati setiap sudut ruangan. Sebentar lagi pertempuran seru akan segera dimulai

"Tuh, Nda, ada nyamuk. Smash yang kuat!" kata suamiku.

Aku tertawa. Baru sadar, bahwa dengan raket nyamuk di tangan, aku memang mirip dengan pemain bulutangkis.

Baca juga tulisan lainnya, ya....
Cara Mengirim Naskah Gado-Gado Femina
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


4 comments:

  1. jadi ingat rumah di Lampung ya. Kalo Maghrib emang banyak banget nyamuk kan di depan kebun hehhe...selamat ya udah masuk Femina :)

    ReplyDelete
  2. Iya, bangeeet... Hehe... Makasih :)

    ReplyDelete
  3. dirumah saya setiap hari nyamuk banyak banget

    ReplyDelete
  4. Makhluk kecil ini memang eksis banget, ya :)

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)