Friday, December 18, 2015

Ibu Tiri dan Jambu Biji

Jika ada yang bertanya padaku, sebesar apakah cinta seorang ibu tiri? Maka jawabku, sebesar jambu biji.

Hah? Segitu saja, kah? Pantas, ya. Tak ada yang betah dengan ibu tiri. Ibu tiri itu hanya cinta pada si ayah saja! Huh!

Eit, tunggu dulu... Baiknya kuceritakan dulu, kisah yang melatar belakangi jawabanku. Kisah tentang aku dan ibu tiriku.

Suatu ketika, aku jatuh sakit. Saat itu, aku sedang di Bandarlampung. Kuliah. Jadi anak kost. Jauh dari ibu. Jauh dari kampung halaman.

Sakitku cukup parah. Kepala sakit luar biasa. Sampai tak mampu membuka mata. Perut mual. Muntah-muntah. Sudah dibawa ke klinik, tapi tak sembuh juga. Dalam kondisi seperti itu, yang kuingat hanya satu. Pelukan ibu. Kurasa hanya itu yang bisa menyembuhkanku.

Di kostan aku sendiri. Tak ada teman yang mau begadang untukku sampai pagi. Tak ada yang bisa memasakkan bubur seenak buatan ibu. Tak ada yang mengusap rambutku. Tak ada yang mengompres keningku. Semua itu, kuyakin hanya bisa dilakukan oleh ibu. Aku pun menangis. Aku ingin ibu. Aku mau bertemu ibu.

Aku pun memutuskan untuk memaksakan diri pulang. Meminta seorang teman untuk mengantarku ke terminal. Berbekal beberapa kantong kresek untuk persiapan kalau-kalau aku muntah di jalan.

Sepanjang perjalanan aku terpejam. Pusing dan mual sungguh tak tertahankan. Tapi ingatan bahwa aku akan bertemu ibu menyemangatiku. Kuat, kuat, kuat. Sebentar lagi bertemu ibu.

Tiba di Kotabumi, sebuah kota yang berjarak sekitar satu jam dari rumahku, ayahku telah menantiku. Dipapahnya aku yang terhuyung dengan mata terpejam. Menuju kuda roda dua kesayangannya. Dipeganginya tanganku yang memeluk pinggang di sepanjang perjalanan.

Ibu menyambutku begitu aku tiba di rumah. Getar suaranya terdengar cemas. Gegas dimintanya ayahku memanggil mantri. Sosok yang biasa mengobati orang sakit di kampungku.

Mantri pun datang memeriksaku. Memberikan sejumlah obat untuk kuminum.

Malamnya, aku susah tidur. Begitu pun ibu. Ia bahkan tak tidur sama sekali. Sebentar-sebentar memegang keningku, mengganti air pengompres keningku, mengambilkan air minum, atau menyiapkan tempat untukku membuang isi perut. Lalu aku pun tidur. Sedang ibu tidak. Bersiap siaga kalau-kalau aku terjaga. Sepanjang malam, itulah yang dilakukannya.

Keesokan harinya, muncul ruam-ruam merah di sekujur tubuhku. Aku panik. Terbayang wabah DBD yang sedang marak kala itu.

"Jangan-jangan aku kena DBD!" Ujarku.

Kuingat betapa piasnya wajah ibu waktu itu.

"Kata orang makan jambu biji biar trombosit naik," lanjutku.

"Ya Allah, Nak... Jambu biji sedang tidak musim berbuah... "

Ibu terlihat cemas. Sangat cemas. Bahkan terlihat ketakutan. Takut kehilangan. Sebab konon, DBD dekat dengan aroma kematian.

Tiba-tiba ibu berlalu. Ke luar rumah. Tergesa-gesa. Tanpa kata. Lalu tak lama kemudian, ibu kembali datang. Terengah-engah. Mungkin ibu baru saja berlari. Wajahnya berbinar. Cerah bagai purnama.

"Jambu bijinya dapat, Nak! Makanlah."

Kumakan jambu biji itu dengan lahap. Sambil sesekali kulirik wajah ibu yang menatapku penuh harap.

"Nanti sembuh, kok. Kan udah makan jambu biji," kataku, menghibur ibu.

Entah sugesti atau apa. Esoknya aku seolah sembuh seketika. Pusing hilang mual pun reda. Meski masih lemas tapi aku dan ibu sudah bisa berbincang sambil tertawa. Lalu tanpa sengaja, tampak olehku betis ibu yang bertoreh luka. Panjang hingga nyaris ke paha.

"Ibu, itu luka apa?"

**0**

Tahukah kau, luka itu dari mana asalnya?

Mari kuajak kau membayangkan kejadiannya.

Seorang ibu berlari menuju pohon jambu biji di tepi kolam. Pohonnya rapuh. Ada dahan yang patah. Sebuah jambu biji kecil nyaris kisut oleh musim kemarau melambai di ujung dahan yang tinggi. Lalu, sosok ibu yang berusia hampir tujuh puluh tahun itu perlahan menaiki pohon itu. Berpijak pada dahan patah. Berusaha menggapai jambu biji yang ia harapkan bisa menyembuhkan anaknya. Tangan kiri menggenggam pokok pohon. Tangan kanan menggapai-gapai. Tak sampai. Ibu itu mencoba berjinjit. Dapat! Tapi dahan yang dipijak tak kuat. Ujungnya terlalu kering dan rapuh. Sang ibu jatuh. Kakinya tergores ujung dahan itu.

Sreeeeet....

Luka itu berdarah. Membentuk goresan bengkak memanjang. Tapi tak ia hiraukan. Ia berlari. Kembali. Menemui sang anak dan mengulurkan jambu biji. Tak ada keluh kesakitan. Yang ada hanya doa dan harapan. Bahwa dengan jambu biji itu sang anak bisa disembuhkan.

Nah, sekarang, bisakah kau remehkan, cinta ibu tiri yang hanya sebesar jambu biji?

Aku dan Mak Woh, ibu tiriku yang berhati ibu kandung.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Sejuta Kisah Ibu"
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


27 comments:

  1. Replies
    1. Mataku sampai bengkak gara2 nulis ini, Uni. Inget kejadian itu. Inget Mak Woh :'(

      Delete
  2. Salam hormat untuk ibu mba ya.. terharu membacanya. Walau sempat terkecoh awalnya membaca judulnya heheh

    ReplyDelete
  3. Spechless T.T

    Sosoknya teduh mb ;) macam nyanyik saya (nenek,red) jadi kangen beliau T.T

    ReplyDelete
  4. itu foto dirimu umur brp mbk? salam takzim utk makwoh...

    ReplyDelete
  5. sosok ibu tiri selalu dekat dengan kekejaman...dan kecerewetan..
    tapi ibu tiri yg mba miliki..sungguh mulia..
    tuhan telah mengirimkan ibu yang baik..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak, alhamdulillah.... Bersyukur banget menjadi anak tiri beliau...

      Delete
  6. cerita ini sekaligus membuka mata kita bahwa tidak semua ibu tiri kejam yah Mbak :)
    bahwa ibu tiri pun bisa sangat baik layaknya ibu kandung :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Alhamdulillah. Beliau ibu tiri yang sangaaat baik. Sangking baiknya saya bahkan suka nggak tega nyebutnya ibu tiri. Serasa ibu kandung.

      Delete
  7. banyak orang sudah termakan pendapat mainstream, ibu tiri itu kejam, tidak adil, danb la..bla. padahal, ibu kandung di kekninian pun tak sedikti yang bertidak kejam. ibunya baik banget ya, saya sampai terharu bacanya

    ReplyDelete
  8. Iya, Mbak. Sepertinya minded ini harus diubah. Alhamdulillah sejak kecil saya tidak terpengaruh sama anggapan buruk tentang ibu tiri. Karena ibu tiri saya serasa ibu sendiri. Bahkan saya nangis kalo inget saya cuma anak tiri. Nggak tau. Sedih aja gitu. Nggak tega. Kalo ditanya saya anak ibu yang mana, saya jawab aja anak Mamah (ibu kandung) dan Mak Woh (ibu tiri).

    ReplyDelete
  9. Terharu membaca kisahnya, mba. Kisah cinta yang luar biasaa ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, Mbak Rach Alida. Makasih sudah membaca :)

      Delete
  10. Masya Allah, ini nyata, barokallah memiliki ibu yang berhati muliah :)

    ReplyDelete
  11. ukhti....kau kejam. kau telah membuat airmata ini tak terbendung. sungguh aq juga sangat rindu ibu q. sampai tak satu huruf pun mau kutulis untuk hari ibu ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cup, cup, cup... Kan bisa pulang kampung.... Oh, iya, Yun. Inget nggak, ada kamu sama Tina behind the scene kisah ini. Kalian bantuin ngelaundryin pakaianku waktu aku sakit. Makasih banget, ya.... Aku nggak akan pernah lupa :)

      Delete
  12. subhanallahu kisahnya mencerahkan. Tak menyangka ibu tiri yang selalu disebut jahat ternyata ada yang baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah... Makasih Mbak Lilys, sudah berkunjung :)

      Delete
  13. Bukti bahwa tak selamanya ibu tiri itu spt mitos2 ibu tiri yaa

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)