Tuesday, January 19, 2016

Murid-murid Istimewa

Hari ini saat Majelis Pagi di sekolah, aku berkata pada murid-muridku.
"Nak, kalian tahu tidak? Di kelas kita ini, ada murid-murid istimewa."

Aku dan murid-muridku di tahun pertama menjadi guru. Quote by Munif Chatib. (dokpri)

Suara riuh terdengar. Masing-masing anak menyebut nama teman di kelasnya.
"Pasti si ini!"
"Iya. Atau kalau enggak, pasti si itu," ujar mereka.

Aku diam. Menunggu hingga keriuhan itu mereda.

"Mengapa kalian menyebut nama teman?" Kataku.
"Mengapa tidak menyebut nama kalian sendiri?"

Murid-muridku terdiam.

"Nak. Jika kalian sendiri ragu menyebut diri kalian istimewa, maka bagaimana dengan orang lain?"
"Nak, yakinkan diri, bahwa kalian istimewa. Kalian murid-murid istimewa di kelas ini. Lakukan kebaikan-kebaikan yang menurut kalian istimewa. Maka orang-orang akan menganggap kalian istimewa."

Aku lalu bercerita pada murid-muridku. Sebuah cerita yang kudapat dari timeline di Facebook. Cerita itu mengisahkan tentang seorang guru yang menunjukkan uang seratus ribu pada murid-muridnya. Ketika murid-murid fokus menatap sang guru dan uang seratus ribu, sang guru bertanya,


"Anak-anak, siapa yang mau uang ini?"

Semua murid mengacungkan tangan.
"Saya!"

Sang guru lalu meremas uang seratus ribu itu.
"Kalau sekarang, siapa yang masih mau uang ini!"

Lagi-lagi, semua murid mengacungkan tangan.
"Saya!"

Sang guru lalu melemparkan gumpalan uang yang sudah diremas ke lantai. Ia kemudian menginjak-injak uang itu hingga kotor.
"Nah, kalau sekarang, siapa yang masih mau sama uang ini?"

Ternyata, lagi-lagi semua murid mengacungkan tangan.
"Saya mau, saya mau!"

Kemudian, guru itu memberikan pelajarannya pada murid-muridnya.
"Nak, kalian lihat? Bagaimana pun bentuk uang ini, ternyata sama sekali tidak mengubah nilainya. Ia masih tetap uang seratus ribu."

Murid-murid guru itu diam, memerhatikan.

"Nah, begitu juga kalian. Bagaimana pun orang meremehkan, merendahkan, atau menghinakan kalian, mengatakan bahwa kalian tidak istimewa, namun selama kalian percaya diri dan tidak tersentuh dengan semua itu, maka kalian tetap kokoh. Sebaliknya, jika kalian kehilangan percaya diri dan menganggap diri tidak istimewa, maka justru saat itulah kalian sudah kehilangan segala-galanya."

Aku mengakhiri cerita. Menghela napas, lalu mengedarkan pandangan pada murid-muridku.

"Sekarang, Bu Guru tanya, siapa murid istimewa di kelas ini?"

"Saya!" Jawab murid-muridku, yang seketika menghadirkan gemuruh dalam hatiku.


*Teruntuk murid-muridku: Percayalah, kalian istimewa.
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


7 comments:

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)