Saturday, January 30, 2016

Puisi Pesimis

Ada yang tahu hubungan kepik dengan postingan ini? ^_^
"Bapak sudah membaca puisi-puisi kamu dalam buku ini. Kok, isinya pesimis semua?" Kata guru Bahasa Indonesiaku, guru favorit di sekolahku, seraya menyodorkan buku berisi kumpulan puisi karyaku. Waktu itu, aku duduk di SMP kelas satu.

Saat itu, aku tak paham arti kata pesimis. Bagi seorang bocah desa yang baru lulus SD, pesimis adalah kosakata baru bagiku. Tak terpikir olehku untuk bertanya. Ekspresi guruku sepertinya tak suka. Dan aku mengartikannya sebagai sebuah kegagalan.

"Oh, gitu ya, Pak... Terimakasih." Ujarku, seraya mengambil buku itu dan berlalu. Meninggalkan guruku dan berusaha tak mendengar kalimat terakhirnya.

"Jangan berhenti menulis, ya!"

Kumasukkan buku ke dalam tas. Sekuat tenaga kutahan agar air mata tak tumpah. Andai aku mengerti apa arti kata pesimis. Mungkin aku akan itrospeksi diri dan berusaha mengubahnya menjadi puisi optimis. Bukan sekadar kata indah yang berisi curhatan akan ketidak mampuan dan keputus asaan. Oh, mengapa aku tak bertanya?


Aku sendiri tak tahu mengapa aku menulis dengan nada pesimis. Entahlah. Mungkin karena kupikir puisi sedih akan lebih mendayu saat dibaca. Atau mungkin saat itu aku sedang bersedih setiap kali menulisnya.

Setelah kejadian itu, kuputuskan menulis hanya dalam diari yang kukonsumsi sendiri. Tentang aku, keseharianku, keluargaku, teman-temanku, mimpi-mimpiku.... Sesekali aku juga menulis puisi. Untukku sendiri.

Lalu belasan tahun berbilang. Tak pernah terbayang aku akan menjadi penulis seperti sekarang. Bukan penulis puisi. Melainkan cerpen dan buku anak. Dunia yang ternyata menjadi mimpi tak sampai guruku. Yang baru kutahu saat bertemu beliau beberapa waktu yang lalu.

"Eeeeh, ketemu di sini...." Sapa guruku. Beliau yang terlebih dahulu melihatku menghampiriku saat aku hadir di acara pernikahan temanku.

"Lho, kok Bapak masih ingat saya?"

"Memangnya siapa dulu yang paling semangat setiap ada pelajaran Bahasa Indonesia?"

Saya tersenyum.

"Hehehe... Iya, ya, Pak..."

Sejenak. terngiang kembali olehku kata-kata puisi pesimis yang beliau ucapkan.

"Pak, saya sekarang jadi penulis, lho."

"Oh, ya? Alhamdulillah... Rasanya tercapai cita-cita Bapak..."

"Memangnya Bapak bercita-cita jadi penulis?"

"Iya. Tapi tidak kesampaian."

"Kenapa Bapak bercita-cita jadi penulis?"

"Karena manfaat tulisan yang dibaca orang usianya lebih panjang dibanding usia kita."

Aku tercenung mendengar kalimat guruku. Ah, iya. Benar juga.

"Pak, dulu saya sedih waktu Bapak bilang puisi-puisi saya pesimis. Saya pikir Bapak ngejek puisi saya."

"Oh, ya? Terus sekarang?"

"Nggak lagi. Karena saya udah tau maksud Bapak."

Dan guruku tertawa.

"Tanpa sadar kamu memang suka pesimis."

Gantian aku yang tertawa.

Guruku benar. Tak jarang dalam kehidupan nyata, aku meragukan kemampuanku. Ragu bahwa aku bisa melakukan sesuatu melebihi apa yang ada dalam bayanganku. Mungkin, itulah yang memengaruhi puisi-puisi pesimisku dulu.

Doakan aku ya, Pak Guru. Semoga bisa kusingkirkan yang bernama pesimis itu dari hidupku. Kemudian menggantinya dengan OPTIMIS. Ya. Bismillah.


Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


0 comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)