Monday, February 1, 2016

5 Hal yang Harus Dilakukan Bila Naskah Ditolak

Naskah ditolak? Ugh, sakitnya tuh, di siniiih... Hehehe....

Sobat Jejak, mendapat email pemberitahuan bahwa naskah kita ditolak memang sangat tidak menyenangkan. Apalagi jika informasinya diterima di tanggal tua, saat dompet isinya cuma deretan Pattimura bawa golok di tangan, bonus beberapa lembar Pangeran Imam Bondjol pakai sorban. Olala, derita galaunya tuh, double to the max, Gan :D

Nah, biar galaunya nggak keterusan, berikut beberapa hal yang harus dilakukan ketika naskah ditolak:

1. Bersyukur

Sobat. Bersyukur, tak harus dilakukan saat kita mendapat nikmat saja. Saat dapat ujian pun, kita harus tetap bersyukur. Karena kata bijak mengatakan, ada hikmah di balik setiap ujian. Begitu pun saat naskah ditolak.

Tapi apanya yang harus disyukuri?

Redaksi memberi kita kabar. Itu salah satunya. Bayangkan, Sobat, jika redaksi tak memberi kabar atas naskah yang kita kirimkan. Tiga kali lebaran tiga kali puasa nggak ada kabar, ih, Bang Toyib banget, kan?

Dengan adanya kabar yang meski isinya adalah penolakan, paling tidak membuat kita jadi tahu nasib naskah kita, dan bisa menentukan tindakan apa yang akan dilakukan selanjutnya.


2. Instrospeksi

Nah, apa lagi ini? Sudahlah disuruh bersyukur, disuruh introspeksi pulak!

Hehe.... Begini, Sobat. Naskah kita ditolak, betul? Lalu kenapa? Kurang apa? Di mana salahnya naskah kita? Itu yang harus kita introspeksi.

Saya setuju jika naskah yang ditolak belum tentu tidak bagus. Tapi ditolaknya naskah tetap harus kita introspeksi. Apakah karena naskah kita tidak sesuai dengan visi misi redaksi, bahasa kurang pas dengan rubrik yang dituju, atau, masalah teknis -yang terkadang sepele - namun terkadang lupa terperhatikan. Seperti kelebihan halaman, kurang halaman, atau bahkan, cuma gara-gara surat pengantar yang bikin redaksi ilfil sama naskah kita.

(baca juga: Cara Membuat Surat Pengantar Naskah ke Media)

Untuk mengetahui alasan naskah kita ditolak, apakah harus bertanya langsung pada redaksi?

Tidak harus. Di jaman serba digital seperti sekarang ini, sebagian besar media sudah ada versi onlinenya. Yang harus kita lakukan adalah rajin-rajin membaca tulisan di media tersebut. Terutama rubrik yang kita tuju. Dengan begitu, dengan sendirinya, kita akan tahu alasan mengapa naskah kita ditolak.

3. Tahan diri, jangan umbar kegagalan

Saya suka heran, ketika mendapati status di medsos semisal, "Yeay! Dapet surat cinta (penolakan) dari media Anu tuh, sesuatu bangeeet... Gimana nggak. Media Anu kan, anu bangeeet..." *apa sih?*

Haha....

Sobat. Dipermanis seperti apapun pemberitahuan bahwa naskah kita ditolak, judulnya ya tetap ditolak. Gagal. Failed. Ngapain coba, mengumumkan kegagalan? Biar se-dunia tahu bahwa kita gagal? Big No. Kalau pun mau ngasih tahu bahwa kita gagal, ntar, setelah naskah kita dimuat di media itu.

"Alhamdulillah. Setelah seribu kali ditolak akhirnya naskahku dimuat di media Anu."

Status yang manis, bukan? Itu namanya share kemenangan. Bukan kegagalan :)

4. Revisi naskah, lempar ke media lainnya

Belum cocok dengan satu media, belum tentu di media lainnya. Revisi naskah kita. Perbaiki lagi. perganteng lagi (biar nggak kata cantik melulu yang dipakai :D). Endapkan beberapa waktu jika perlu. Lalu kirimkan ke media lain.

(baca juga: Mengendapkan Nasah, Perlukah?)

5. Terus menulis, jangan menyerah

Naskah ditolak? Tetap semangat. Tulis lagi, kirim lagi. Begitu terus, sampai dimuat. Belum dimuat juga? Tulis lagi, kirim lagi. Masih belum dimuat juga? Silakan kembali ke poin 2. Introspeksi. Sebab bisa jadi, penyebabnya adalah karena kita kurang instrospeksi. Kurang belajar dari kegagalan. Sehingga sudah beribu kali menulis dan ditolak, tapi kualitas menulis masih begitu-begitu juga.

Bagaimana, Sobat? Bisa melakukan 5 hal yang saya tulis di atas saat naskah ditolak? ;)
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


12 comments:

  1. wah nasehat yang bikin hati jesss, adem

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah, kalau bikin adem, Mbak @Tira Soekardi ^_^

    ReplyDelete
  3. Belom pernah ngirim naskah ke media. Masih bertahan di blog. ;-)

    ReplyDelete
  4. Yang penting tetap menulis ya, Mbak ^_^

    ReplyDelete
  5. Iya mba yang penting tetap menulis, revisi revisi revisi dan percaya suatu saat naskahku akan ketemu jodoh (penerbit) nya :) Kok aku banget ya, kalau gagal aku nggak pernah diumbar :D

    ReplyDelete
  6. Siiip... Insya Allah suatu hari ketemu dengan jodohnya (penerbit) ;)

    ReplyDelete
  7. Tipsnya cetar, asyik nih, yang susah nahan status kegalauan hahaha

    ReplyDelete
  8. Eaaaa.... Serba salah gitu, ya? Distatusin aib, nggak distatusin kayak ada yang kebelet2 gitu, wkwkwk....

    ReplyDelete
  9. Akan saya praktikkan ini... Makasih infonya...

    ReplyDelete
  10. Membawa pencerahan setelah baca ini. Beberapa bulan lalu naskah novel saya juga baru ditolak sama penerbit setelah kurang lebih 4 bulan menunggu. Memang masih harus diperbaiki sana sini, kalau dipikir2 lagi memang belum layak terbit 😁. Jadi semangat lagi nih setelah membaca postingan mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Moga novel berikutnya diACC ya, Mbak Kei Chan. Semangat! ^_^

      Delete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)