Monday, February 8, 2016

Kisah Menggelikan di Hari Gong Xi Fa Chai

Terlalu banyak hal yang mengesankan di SMA. Mulai dari yang nggak jelas ala remaja labil, sampai yang touching ala muslimah yang sedang dalam masa pencarian jati diri (^_^)

Selepas isya tadi, saya membuka akun Facebook via laptop. Saat itulah, saya melihat gambar barongsai uget-uget di layar. Ah, ya! Hari ini Tahun baru China. Walau tak ikut merayakan, setiap kali libur hari Gong Xi Fa Chai, saya selalu teringat kisah menggelikan, saat masih berseragam putih abu, alias SMA.

"Masih inget nggak, Pak, kisah memalukan yang Bunda alami waktu Gong Xi Fa Chai jaman SMA?" Tanya saya pada suami. Saya memang pernah menceritakan kisah ini padanya.

"Yang salaman itu?"

"Iya. Hahahaha...."

Jadi, beginilah kisahnya....


Waktu itu, saya masih duduk di kelas satu. Masih imut dan unyu-unyu (info penting). 

Sebagian teman dekat saya waktu itu, adalah orang China. Kulit saya yang (lumayan) putih, tak jarang membuat saya juga disangka Chinese, setiap kali berkumpul dengan mereka. Ditambah lagi belum memakai kerudung, membuat tampilan saya hampir tak ada beda dengan mereka.

Saat Gong Xi Fa Chai, teman-teman Chinese itu mengundang saya dan teman-teman pribumi untuk silaturahmi ke rumah mereka. Pikir saya, sekadar silaturahmi apa salahnya. Maka saya dan beberapa teman pribumi pun memutuskan untuk silaturahmi. Polanya, setiap teman Chinese yang dikunjungi rumahnya, nanti ikut rombongan mengunjungi rumah teman Chinese lainnya.

Nah, saat mengunjungi rumah pertama, saya dengan PDnya langsung mendatangi orangtua si teman dan mengajak bersalaman (salim) layaknya ketika lebaran. Orangtua teman saya itu melongo. Saya sih, cuek aja. Nggak merasa berbuat salah, sih.

Kekeliruan baru saya sadari setelah teman-teman saya yang Chinese memberi selamat pada orangtua teman saya itu.

Lho, lho... Kok, caranya beda? Batin saya.

Teman-teman Chinese tidak bersalaman seperti saya, melainkan menggenggam kepalan tangan kanan dengan telapak kiri di dada.

Sempat terdengar di telinga, ketika orangtua teman saya itu berbisik pada anaknya, "Temenmu itu ternyata bukan orang China, ya?"

Olalaaa.... Gagal deh, nyamar jadi orang China, hahaha....

Kekonyolan yang saya alami ternyata tak berhenti di situ. Maklum, yah. Saya mah orang kampung. Belum pernah liat cara orang di kota, baru tahu Gong Xi Fat Chai sekali ini. Jadi maklumin aja :p

Selanjutnya, bersama-sama kami mengunjungi rumah teman Chinese lainnya. Ini rumah terakhir yang kami kunjungi. Lokasinya paling jauh. Horang Kayah... Rumahnya besaaar dan megah. 

Jika di rumah-rumah sebelumnya kami dihidangi kue dan minuman kemasan (saya cuma minum doang), kali ini ada tambahan. Apa itu? Amplop merah! Yeay! We got the angpao ;)

Tapiii... Waktu itu saya nggak ngerti apaan. Setelah dikasih tu angpao oleh mamanya temen saya, langsung aja saya buka. 

"Apaan ni, Te?" Tanya saya. Teman-teman lainnya langsung melotot ke arah saya.

"E, ee... Jangan dibuka dulu. Nanti jodohnya susah!"

Rupanya, kata temen saya, pamali kalau langsung dibuka di tempat.

O, ooowww... Salah lagi, deh... :p

Selama di rumah teman saya itu, hati saya tidak tenang. Teringaaaat terus sama amplop merah. Penasaran. Apa sih, isinya? Jimat, kah? Atau....

Karena tidak tahan, ketika yang lainnya sibuk ber wow wow melihat view sekitar rumah yang memang baru dibangun itu, saya malah intip-intip isi angpao. Oooo, isinya duiiiit.... Batin saya. Wkwkwkw, geli sekali setiap saya mengingatnya :D

Bagaimana? Menggelikan bukan, kisah saya? :p

Tapi setidaknya, Sobat bisa mengambil beberapa pelajaran berharga dari pengalaman saya ini:
1. Percaya diri itu boleh, tapi lihat sikon
2. Jangan sok tahu, biasakan bertanya dulu
3. Di tempat baru, budayakan perilaku mengamati terlebih dahulu.

Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


10 comments:

  1. waha syiknya dapat angpau walau harus malu dulu ya

    ReplyDelete
  2. Makasih sudah membaca kisah memalukan saya, Mbak @Tira Soekardi :D

    ReplyDelete
  3. malu-malu dikit ga apalah..yang penting angpaonya hahahah

    ReplyDelete
  4. Memang bagian paling menyenangkan dr imlek adalah angpao ya mbak

    ReplyDelete
  5. Tapi malu2innya itu lhoo, Mbak @Nova Violita... Kagak nahan :D

    ReplyDelete
  6. Asli menyenangkan banget waktu itu, @momtraveler ^_^

    ReplyDelete
  7. jangan dibuka mbak, jangaaannn.. hihihi

    ReplyDelete
  8. Hihihi. lucu banget ceritanya :D

    hm.. keknya angpao merahnya msh disimpen tuh? *eheheh*

    Makasih ya Mba, sdh ikut GA saya ^^

    ReplyDelete
  9. Sama2, Mbak Arina. Moga terkesan dengan kisah menge(nas)sankan ini :D

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)