Sunday, February 21, 2016

Menjiplak Daun dengan Cat

Selain merangsang kecerdasan dan kreativitas, berkreasi dengan benda-benda sederhana di rumah juga sangat menyenangkan. Alat dan bahan yang diperlukan pun cenderung mudah didapatkan. Karena memanfaatkan segala sesuatu yang sudah ada di rumah. Entah itu bumbu dapur, perlengkapan makan, atau pun barang-barang bekas.

Nah, di hari Ahad ini, saya keidean untuk mengajak Syahid berkreasi menjiplak daun dengan cat. Saya membayangkan bahwa ini akan menjadi aktivitas yang seru dan menyenangkan untuk kami lakukan bersama.


Menjiplak daun dengan cat

“Kita menjiplak daun dengan cat yuk, Sayang!” Ujar saya padanya.

Mata Syahid pun langsung berbinar.

“Ayuk, Nda. Ayik siapin kuasnya, ya,” katanya.

Saya lalu menutup laptop dan bersiap-siap ke teras.

Untuk membuat jiplakan daun, alat dan bahan yang harus disiapkan adalah sebagai berikut:
1. Cat aneka warna
2. Kuas
3. Aneka daun
4. Segelas air
5. Kertas putih polos

Cara menjiplaknya :
1. Cat permukaan daun menggunakan kuas. Gunakan lebih dari satu macam warna agar hasilnya terlihat indah.
2. Jiplak bagian permukaan daun yang sduah dicat di atas kertas putih.
3. Tekan-tekan daun agar warna menempel secara merata. Jangan diusap, karena akan membuat cat tercampur dan tekstur daunnya menjadi tidak jelas.
4. Keringkan hasil jiplakan

“Kita bikinnya di teras aja, ya.”

Syahid mengiyakan denggan penuh semangat.

Saya kemudian memetik beberapa daun yang ada di halaman. Daun mangga, daun kelengkeng, daun rampai (tomat kecil), dan sekuntum bunga eforbia.

Jika ingin menjiplak daun, saran saya pakai daun yang keras dan berdaging tebal saja. Sebab pengalaman saat menjiplak tadi, daun rampai sulit sekali dijiplak. Nggeleot sana sini saat diwarnai. Begitu dijiplak, ngelinting, catnya meleber sana sini.

“Yang agak besar ya, Nda, daunnya. Biar nggak susah megangnya,” pesan Syahid, yang memilih menunggu di teras, alih-alih ikut memetik daun.

Tak lama kemudian, saya dan Syahid asyik mewarnai daun, sebelum dijiplak di atas kertas. Sambil mewarnai, berulang kali Syahid menyatakan rasa terimakasih pada saya, atas ide menjiplak daun bersama.

“Makasih ya, Nda, udah ngajakin Ayik menjiplak daun. Nanti kalau hari Minggu lagi terus Bunda ada waktu, kita main kayak gini lagi, ya.”

Hiks, hiks... Meleleh... Sungguh hati saya terenyuh mendengarnya :’(

Saya memang tak memiliki banyak waktu untuk bermain bersama Syahid. Senin sampai Jumat saya mengajar di sekolah. Full time. Mulai dari pukul 07.00 WIB – 14.30 WIB. Kadang kalau ekskul bisa sampai pukul 16.00 WIB baru sampai rumah. Sedikit sekali waktu yang tersisa untuk keluarga, sehingga saya harus pandai-pandai membaginya.

Alhamdulillah, meski terkendala waktu, kedekatan saya dengan anak dan suami tetap terbina dengan baik. Saya selalu berusaha menyisihkan waktu untuk membersamai mereka, walaupun hanya sebentar. Saya berharap suatu hari bisa memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga.

“Yuk, Nda, kita jiplak sekarang!”

Berbarengan, saya dan Syahid menjiplak daun yang sudah kami warnai ke atas kertas.

“Kok, hasil jiplakan Ayik nggak sesempurna punya Bunda?” Komentar Syahid dengan nada sedikit kecewa.

Memang, saya lihat hasil jiplakan daun Syahid masih menyisakan bagian yang kosong atau tidak terkena cat.

“Semua permukaan daunnya harus kena cat, Sayang. Terus, waktu jiplaknya sambil ditekan-tekan supaya cat di daunnya nempel semua.”

Syahid mengangguk-angguk, tanda mengerti. Ia pun kembali mengulang mengecat daunnya.

“Tolong bantuin, Nda. Tekanin daunnya,” pinta Syahid, saat ia kembali menjiplak.

Saya memegangi tangkai daun.

“Syahid aja yang nekan ya, Sayang,” ujar saya.

Syahid yang suka main cat tapi enggan tangannya belepotan cat, menekan daun perlahan, dengan ujung telunjuknya. Saat ditekan, catnya meleber ke samping dan mengenai telunjuknya.

“Wiw!” Pekik Syahid, seraya menarik tangan dan sibuk mencari sesuatu untuk membersihkannya.

Saya berdecak.

“Sayang, jangan takut kotor. Tekan daunnya. Biarin catnya kena tangan. Bisa dicuci. Nanti hilang,” kata saya, berusaha memotivasi.

Perlahan, Syahid mulai menekan kembali daunnya. Setiap sisi. Bahkan ia mulai terlihat tak peduli ketika cat itu mengenai jarinya.

“Seru juga ya, Nda, menjiplak daun!” Celotehnya. Saya tersenyum senang.

Syahid memilih menjiplak daun mangga saja. Sedang saya menjiplak daun rampai, serta bunga eforbia.

“Kalau daunnya kekecilan susah megangnya, Nda,” kilah Syahid, saat saya berikan daun rampai padanya. Hehehe, emang iya, sih.

Hasil menjiplak daun dengan cat

Usai menjiplak, Syahid memandang takjub pada hasil karya kami.

"Bagus sekali karya kita ya, Ndaaa," soraknya.

Kemudian, Syahid mengedarkan pandangan ke lantai di sekitar kami.

“Wow! Terlihat berantakan ya, Nda, lantai kita.”

“Iya, nanti Bunda bersihkan. Syahid mau bantu?”

Syahid buru-buru menjawab.

“Ayik mberesin kertasnya aja ya, Nda...” Ujarnya.

Saya tersenyum. Tanpa perlu dijelaskan, saya sudah tau alasannya: ogah kotor :p

Saat saya sedang membersihkan cat dan daun-daun, sayup saya mendengar Syahid mememarkan karya kami pada suami.

“Paaak.... Coba liat karya Ayik sama Bunda!”
“Kereeen! Bagus sekaaaliiii...”

Uhuk, uhuk! :D

“Capek nggak, Nda, mberesinnya?” Tanya Syahid sambil berdiri di ambang pintu, memerhatikan saya.

Saya tersenyum dan mengatakan padanya bahwa saya senang melakukannya. Apalagi ketika Bapak ikutan nongol dan bilang, “Biar Bapak aja yang ngepel lantainya.”

Wuh, tambah senang :D

Di dalam rumah, Syahid menjajarkan jiplakan daun karya kami. Saya pun sibuk memotretnya. Cekrik, cekrik... Maklum emak-emak narsis :p Eh, nggak juga, kok. Saya memang terbiasa mendokumentasikan setiap kegiatan. Untuk kenangan. Syukur-syukur bisa jadi tulisan atau postingan di blog.

“Nda, ini kalau digunting bisa jadi pembatas buku ya, Bunda,” celetuk Syahid.

Wah, betul juga.

“Ide bagus itu, Sayang. Coba, tolong ambilin gunting. Biar Bunda gunting jiplakan daunnya.”

Maka, jiplakan daun itu pun digunting mengikuti polanya. Hingga akhirnya... Tadaaaa.... Jadi deh, pembatas buku cantik dari jiplakan daun. ^___^

Pembatas buku dari jiplakan daun

Bagaimana? Terlihat cantik dan bermanfaat, bukan? ;)

Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


10 comments:

  1. Cantik banget ya hasilnya keren nih syahid

    ReplyDelete
  2. jadi inget pas ngajar PGTK,mainannya gini terus^^

    ReplyDelete
  3. wah..baru tau..., cantik banget..anak2 pasti senang..
    ntar kalo anaku udah gedean ntar diajakin beginian..he2

    ReplyDelete
  4. Hai kak yuk terbitin cerita-cerita kamu jadi sebuah buku di guepedia.com
    Guepedia.com adalah On-Publisher pertama di Indonesia. Tempat penulis berbakat yang ingin menerbitkan buku sebagai aktualisasi diri sekaligus mendapatkan uang dari hasil tulisannya tanpa harus menunggu lama.
    Guepedia membuka promosi untuk penulis yang ingin menerbitkan buku secara GRATIS tanpa dipungut biaya apapun.
    Info lebih lengkap kunjungi website www.guepedia.com

    ReplyDelete
  5. Hehe, iya, Mbak HM Zwan. Syahid waktu TK A juga pernah bikin yang kayak gini. Tapi beda teknik njiplaknya ^_^

    ReplyDelete
  6. Yuk, cobain, Mbak Nova. Asyik banget. Sembari nambahin koleksi pembatas buku cantik ^_^

    ReplyDelete
  7. Boleh ditiru nih idenya. Thanks for sharing Mbak :)

    ReplyDelete
  8. Sama-sama, Mbak Heni. Selamat mencoba :)

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)