Thursday, March 24, 2016

Si Kancil Tidak Nakal

Dongeng Si Kancil Tidak Nakal ini dimuat di Lampost Minggu, tahun 2013. Saya sengaja membuat cerita ini karena prihatin pada label nakal yang sering dilekatkan pada kancil. Selamat membaca.

Si Kancil Tidak Nakal
Oleh : Izzah Annisa


Kau masih ingat cerita Si Kancil Anak Nakal? Saat itu, kancil berhasil menipu sekelompok buaya yang hendak memakannya sehingga bisa menyeberang sungai dengan selamat.

Nah, suatu pagi, si kancil yang ada di dalam cerita tersebut tersebut tampak sedang berlari-lari dengan riang di tepi hutan. Sepanjang jalan, ia tak henti bersenandung.

“Du bidu bidam, du bidu bidam….”

Ketika tiba di tepian sungai, Kancil menghentikan langkahnya. Ia melihat ada sesuatu bergerak-gerak di dalam semak. Jantung kancil berdetak dengan cepat. 

Apa itu ya, yang ada di balik semak? Batin Kancil. Lalu, dengan perlahan dan waspada, Kancil mendekat ke semak-semak.

“Aduh… Tolong….” Terdengar suara lirih dari balik semak.

“Si, siapa itu?” Tanya Kancil dengan suara gemetar. 

Kancil memberanikan diri menyibakkan semak-semak. Ternyata, seekor hewan kecil menyerupai kadal sedang terjerat. Seutas tali mengikat kuat kaki belakang sebelah kanannya.

“Tolong aku, Pak Kancil. Tali ini menjeratku saat aku sedang berjalan-jalan. Bisakah kau membantu melepaskan kakiku?” Pinta makhluk menyerupai kadal itu pada Kancil.

Kancil mengangguk. “Baiklah, anak manis. Aku akan berusaha menolongmu,” ujar Kancil.

Meski sedikit kesulitan,  Kancil akhirnya berhasil melepaskan tali jerat itu.

“Terimakasih, Pak Kancil. Suatu hari, aku akan membalas budi baikmu!” Ujar makhluk menyerupai kadal itu sambil merayap pelan dan akhirnya menceburkan diri ke sungai.

Kancil mengerjap-ngerjapkan mata.

“Apa aku salah lihat? Rasa-rasanya, ia tidak seperti seekor kadal,” gumam Kancil saat menatap kepergian makhluk menyerupai kadal.

Ah, mungkin hanya perasaanku saja, batin Kancil. Ia lalu kembali melanjutkan  perjalanan.

Kancil telah melupakan  kejadian itu. Hingga beberapa hari kemudian, saat Kancil hendak minum di sungai, terdengar suara menggeram yang sangat menakutkan.

“Gggrrrrhhh, ini kancil yang menipu kita dulu! Kali ini, dia tidak akan lepas! Ayo teman-teman, kita makan kancil ini! Ggggrrrhh…..”

Kancil terlonjak. Seekor buaya yang sangat besar muncul dari dalam sungai, tepat di hadapannya. Kancil pun hendak lari menyelamatkan diri. Tapi terlambat, karena ternyata, sekelompok buaya sudah mengepung dan siap menyerangnya! Gawat! Kali ini, Kancil akan mati dimakan buaya!

“Oh, tidaaaak! Jangan makan akuuu…. Tolooong…!” Teriak Kancil ketakutan. Tapi buaya-buaya itu tidak peduli. Mereka terus mendekati kancil dengan mulut menganga dan gigi-gigi runcing di dalamnya. Kancil benar-benar terdesak! Tapi di saat-saat genting itu, tiba-tiba….

“Ayah, hentikan!” 

Sesosok makhluk kecil menyerupai kadal keluar dari dalam sungai. Ternyata, dia adalah anak buaya!

“Jangan makan Pak kancil, Ayah. Ia Kancil yang baik. Ia lah yang telah menolongku saat terjerat tali beberapa hari yang lalu,” kata anak buaya.

“Benarkah?” 

Sesaat, buaya paling besar yang dipanggil ayah oleh buaya kecil terlihat bimbang. Tapi kemudian ia kembali menggeram marah.

“Ggrrrrh…. Tapi ia telah menipu ayah, Nak! Kau ingat cerita ayah? Kancil ini yang telah menyuruh ayah dan teman-teman ayah berbaris di sungai agar ia bisa menyeberang dengan selamat. Padaha,l ia mengatakan ingin menghitung jumlah kami untuk memastikan kami semua kebagian dagingnya. Tapi ternyata ia bohong!” Teriak buaya dengan suara menggelegar.

“Maafkan Saya, Tuan Buaya,” terdengar Kancil bersuara.

“Sungguh, saya sama sekali tidak bermaksud menipu Tuan. Saat itu, saya pun sangat kelaparan. Saya sedang dalam perjalanan mencari tempat baru agar bisa mendapatkan makanan. Tapi saat saya kehausan dan hendak minum di sungai, Tuan dan teman-teman  Tuan tiba-tiba mengepung dan ingin memakan saya. Saya tentu tidak punya pilihan selain berbohong soal menghitung jumlah Tuan. Sebab jika itu tidak saya lakukan, saya tentu sudah mati dimakan.”

Buaya terdiam. Dalam hati ia membenarkan kata-kata Kancil.

“Tolong lah Ayah… Jangan makan Pak Kancil,” pinta anak buaya.

“Baiklah, Kancil. Engkau kumaafkan. Lagipula, sebenarnya aku juga malu. Masa makluk yang terkenal ganas dan kuat seperti kami, bisa-bisanya mengeroyok seekor kancil kecil sepertimu.”


Akhirnya, Kancil dan Buaya pun saling bermaafan dan bahkan bersahabat. Terkadang, kau bisa melihat Kancil itu bertandang ke tepi sungai. Tidak hanya untuk minum, tapi juga memenuhi undangan anak buaya yang memintanya untuk menceritakan suatu kisah. Kau tahu kisah apa yang dimintanya? Kisah itu berjudul, “Si Kancil Tidak Nakal.”
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


0 comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)