Thursday, August 25, 2016

Jelajah Pasar Seni di Pembukaan Lampung Krakatau Festival 2016

Assalamualaikum, Sobat Jejak. Alhamdulillah. Kemarin siang saya dan beberapa teman blogger berkesempatan hadir di acara pembukaan Lampung Krakatau Festival 2016. Lampung Krakatau Festival merupakan event tahunan yang menjadi ajang promosi potensi pariwisata yang ada di Lampung, baik dari segi seni budaya, maupun alam. Adapun tema yang diusung pada Festival Krakatau tahun 2016 ini adalah "Lampung The Treasure of Sumatera".


Rangkain Lampung Krakatau Festival di antaranya adalah Jelajah Pasar Seni, yang bertempat di pelataran lantai 3 Mal Bumi Kedaton.

Jarum pendek jam sudah merayap menuju angka 2 ketika saya dan teman saya, Ummi Naqi, tiba di Mal Bumi Kedaton. Di lokasi acara, saya melihat para undangan sudah banyak yang berdatangan. Di sekeliling sisi ruang utama juga sudah dipadati oleh para fotografer yang siap mengabadikan jalannya acara, yang kiranya akan dihadiri langsung oleh Ketua Penggerak PKK Lampung, Ibu Apriliani Yustin Ficardo.

Suasana Pembukaan Rangkaian Acara Lampung Krakatau Festival

Sesampainya di lantai tiga Mall Bumi Kedaton, saya dan Ummi Naqi disambut oleh barisan muli meghanai (sebutan bagi para gadis dan bujang Lampung) yang tinggi badannya membuat kami seketika merasa terintimidasi. Haduuh....

Tak cukup percaya diri melewati mereka, kami  melipir dari sisi kiri meja penerima tamu dan langsung menuju ke deretan kursi yang sudah disediakan di depan panggung. Penuh dengan rasa nyaman, kami pun duduk di salah satu kursi tersebut. Tapi....

"Mi, ini beneran kita nggak papa duduk di sini? Ini kayaknya kursi undangan, deh," bisik saya, pada Ummi Naqi.

"Udah, nggak papa, duduk aja..." Kata beliau dengan santai.

Saya berusaha duduk dengan santai. Tapi entah kenapa, hati tetap terasa waswas. Apalagi ketika melihat bahwa orang-orang yang duduk di kursi rata-rata mengenakan seragam.

"Pindah aja yuk, Mi..." Bujuk saya.

Bukannya pindah, Ummi Naqi malah menyodorkan HP pada saya. Minta difotoin! Gubrak... Salut banget saya sama emak satu ini. Percaya dirinya itu, lho...

Tak lama kemudian, seorang Bapak berseragam datang menghampiri. Sambil memasang mimik wajah ala debt collector, si Bapak berkata, "Maaf, Mbak, saya mau duduk di situ. Saya undangan."

Beuuu....

Sambil menggamit Ummi Naqi, disertai senyum yang dibuat semanis mungkin, saya manggut-manggut seraya mempersilakan si Bapak duduk.

"Iya, Pak. Ho oh, ini kursi undangan. Silakan, Pak..."

*****

Sehari sebelumnya, saya dan beberapa teman blogger lain janjian ketemuan di acara ini. Alhamdulillah, kami akhirnya benar-benar bertemu di sini. Seru sekali. Teman-teman blogger sangat ramah dan menyenangkan. Termasuk dua blogger yang baru saya kenal, yaitu Bang Yopie dan Mbak Heni.

Blogger Lampung. Dari kiri ke kanan: Bang Yopie, Mbak Fitri, Ummi Naqi, saya, Mbak Heni, Eyang (jurnalis Tribun Lampung)

Tak lama setelah kedatangan Ibu Yustin Ficardo beserta rombongan, pembukaan acara Lampung Festival Krakatau pun dimulai. Ibu Yustin memukul Gamolan, alat musik khas Lampung berbentuk menyerupai gamelan yang terbuat dari bambu, sebagai tanda bahwa Festival telah resmi dibuka.

Pemukulan Gamolan oleh ibu Yustin menandai dibukanya Lampung Krakatau Festival (foto diambil dari instagram Bu Yustin)

Beragam kesenian Lampung ditampilkan untuk memeriahkan acara Jelajah Pasar Seni ini. Mulai dari pembacaan puisi bertajuk Ketika Kata Menjadi Warna yang menggambarkan kekayaan alam Lampung, tarian kontemporer, fashion show busana tapis, seni lukis, serta workshop di akhir acara. Tak ketinggalan, para pengusaha kerajinan khas Lampung pun turut menggelar aneka produk mereka di stand-stand pameran.

Saya sempat merinding dan terdiam ketika puisi Ketika Kata Menjadi Warna dibacakan. Sejenak ingatan saya melayang ke masa kecil di kampung halaman. Masa ketika saya begitu senang diajak ibu ke kebun di musim panen. Menyesap aroma bunga kopi yang wangi, memetik lada dan merasa gembira ketika melihat bercak merah kulitnya menodai telapak tangan. Ah, indah sekali.

Pembacaan Puisi Ketika Kata Menjadi Warna

Keindahan tapis Lampung disuguhkan melalui peragaan busana. Para model Lampung berlenggak lenggok di panggung utama, lalu turun menuju stage-stage yang telah disiapkan panitia. Haduh, ya. Jujur saja. Sungguh sesi ini membuat saya terpana sekaligus kembali merasa terintimidasi. Itu model kenapa bisa sangat sangat langsing dan tinggi begituuuu, hu huhu...

"Aaaah, itu mah sepatunya yang bikin tinggi," komentar salah seorang teman, yang lumayan membuat saya lega, hehehe...

Para model yang memeragakan aneka kreasi busana Lampung.

Selama acara berlangsung, sekali-sekali (berkali-kali sih, sebenarnya) saya berkeliling untuk menjelajah stand-stand pameran kesenian Lampung. Seraya mengagumi aneka kerajinan tapis yang dipajang, mulai dari yang masih asli berbentuk kain, tempat tisu, wadah air mineral, juga clutch bag, diam-diam saya meratapi kondisi kantong yang sunyi sepi tanpa penghuni. Ah, sayang sekali. Tak satu pun dari benda-benda itu mampu saya beli, hiiiksss....

"Waaah, keren-keren banget ya, Bu, kerajinan tapisnya."
"Iya, Dek..."
"Tas kecil ini berapaan, Bu?"
"Tiga ratus lima puluh ribu, Dek..."
"Ooo... Mantap-mantap..."
"Kalo kain tapis ini, Bu?"
"Yang itu, satu juta dua ratus, Dek..."
"Ummm... *manggut2* Cakep banget ya, Buu..."
"Iya, Dek..."
"Tingkatan harga tapis ditentukan oleh apa, Bu?"
"Itu, Dek, benang masnya. Makin rapet dan rumit, makin mahal..."
"Oooo... Dulu waktu SMP saya ada pelajaran njahit tapis lho, Bu." *nggak tanya, batin si ibu. buktinya beliau cuma senyum -_-*
"Ini sulam usus ya, Bu?"
"Iya, Dek..."
"Keliatan rumit ya, Bu."
"Iya, rumit, Dek."
"Wah, kalo saya yang nyulam mungkin ususnya nggak bakal jadi baju, Bu."
"Terus jadi apa, Dek?"
"Jadi usus buntu."

Krik, krik, krik...

Stand Tapis dan Batik Lampung
Dan saya hanya bisa nahan iler melihat tapis-tapis syantik ini T_T
Baju Sulam Usus
Tas tapisnya syantik syantiiiik...
"Mbak, Mbak, beli dong. Jangan cuma liat-liat..."

*****

Ada satu bentuk kesenian yang cukup menyita perhatian saya di acara ini, yaitu seni lukis. Seni lukis ini diparadekan oleh para seniman lukis Lampung yang terhimpun dalam Dewan Kesenian Lampung (DKL). Lukisan dibuat berdasarkan imajinasi mereka dari puisi bertajuk Ketika Kata Menjadi Warna, yang telah dibacakan di awal acara.

Huaaah... Seandainya dulu hobi melukis saya tekuni, mungkin saya sudah menjadi pelukis hebat seperti mereka ini, batin saya.

Eleh... Gimana mau bisa nyamain mereka. Lha wong lukisanmu objeknya melulu gunung dua, matahari di tengah, sama bentangan sawah, jawab sebuah suara misterius yang entah dari mana datangnya.

Hhhh... Lupakan soal saya yang dulunya hobi melukis. Mari kita kembali saja ke para pelukis yang sedang unjuk kebolehan mereka di acara ini.

Perhatian saya tertuju pada seorang Bapak pelukis, yang menurut saya berbeda dari para pelukis lainnya. Apa saja yang membuatnya berbeda?

Pertama, saat para pelukis lain sudah mulai urek-urek kanvas, si Bapak masih semedi cari inspirasi. Saya jadi gupek sendiri dibuatnya. Oh, common, Pak, melukislah! Nanti lukisan Bapak nggak selesai, lho...

Si Bapak di ujung masih semedi...
Masih semedi...

Alhamdulillah... Akhirnya si Bapak ngelukis juga :D
Ke dua, jika pelukis lain rata-rata memakai topi painter kupluk di kepala, si Bapak pakai blangkon kayu yang dicat merah.

Ke tiga, jika pelukis lain duduknya di kursi yang disediakan panitia, si Bapak membawa sendiri kursinya yang berbentuk khas berkaki tiga, dengan dudukan terbuat dari kulit. Belum lagi wadah peralatan lukisnya yang berupa anyaman barunang dari bambu.

Ke tiga, lukisannya. Jika pelukis lain melukis pemandandangan alam dengan warna relatif sama, sawah hijau kekuningan, gunung, langit biru, si Bapak malah membubuhkan warna dominan merah. Tadinya saya juga sempat bertanya-tanya, itu bulatan mataharinya kok ada tiga? Apakah si Bapak mau menggambarkan betapa Lampung memiliki potensi besar untuk bercahaya di kancah kepariwisataan Indonesia? Atau... 
Saya baru tahu jawabannya ketika si Bapak sibuk mengambil semacam tempurung kelapa dari barunangnya. Tempurung itu kemudian digantung menggunakan paku, di sisi atas bulatan besar. 

Lihat! Si Bapak menggambar sebentuk wajah mirip Cepot di tempurung tersebut :)

Lukisan ini juga cakep :)

Daaan.... Akhirnya selesailah acara pembukaan Lampung Festival Krakatau. Di akhir acara, saya dan teman-teman blogger sempat berfoto bersama Ibu Yustin Ficardo yang syantiknya kebangetan ngalah-ngalahin Inces Syahrini. Sayang fotonya belum dirilis sama Bang Yopie. Jadi saya nggak bisa ngopy, hiks hiks...

Masih banyak rangkaian kegiatan Lampung Festival Krakatau yang pastinya seru untuk dilewatkan. Jelajah Pasar Seni ini sendiri dijadwalkan buka mulai tanggal 24 kemarin hingga 28 Agustus 2016. Nah, hari ini, insya Allah akan dimulai juga rangkaian kegiatan lainnya, yaitu Jelajah Layang-layang, yang akan dilaksanakan di PKOR Way Halim. Yuk, datang dan saksikan kemeriahannya! :) [Izzah Annisa]

Baca juga liputan blogger Lampung lainnya:


Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


10 comments:

  1. Kereeen. Tapi itu namanya Mas Teguh, bukan Eyaaaaang.... ����

    ReplyDelete
  2. Kata Bang Yopie, Panggilan Mas Teguh itu Eyang, Kakak Fifiii... ^_^

    ReplyDelete
  3. Wah, sayang banget ya aku nggak bisa berpartisipasi di Jelajah Pasar Seni hehehe...

    ReplyDelete
  4. Ummi Naqi memang pede banget ya :D
    Sangat senang bisa bertemu dan berkenalan. Selama ini kemana aja ya kita? :D

    ReplyDelete
  5. Iya, Ka. Padahql aku berharap banget kamu bisa datang ke rangkaian acaranya. Kemaren pas liat parade melukis, aku inget kamu. Pasti keren banget kalo Ika ikut, pikirku.

    ReplyDelete
  6. Iya, ke mana aja ya kita, Bang Yopie? Keliling Lampung pastinya, ya? :D Kapan2, blogger Lampung ketemu lagi, yuk! :)

    ReplyDelete
  7. Ternyata di sebelah kanan panggung juga ada beberapa pelukis lain, kita nggak ngider sampai sana ya he he.

    ReplyDelete
  8. Iya, Mbak. Aku baru nyadar pas moto dari atas, sembari ngitungin jumlah mereka. Pelukis di sisi kanan rata2 nggambar sawah dengan padi menguning sama gunung. Aku heran, kok nggak ada yang ngelukis pemutil lada atau kopi, ya? Padahal puisinya banyak tentang lada.

    ReplyDelete
  9. aku kapan yaa abisa ketemu mbaa Izzah..hehehe... salam kenal mbaaa...

    ReplyDelete
  10. Salam kenaaal... Yuk, Blogger Lampung pada ketemuan :)

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)