Friday, August 26, 2016

Pelajaran Membuat Tokoh Fiksi dari Sosok Pencipta Mukidi

Sudahkah Sobat Jejak terMukidi hari ini? Saya sudah, hehe...

Awalnya, salah seorang di grup watsapp keluarga memosting cerita tentang Mukidi dan istrinya. Ceritanya, Mukidi sedang menunggui istrinya yang hendak melahirkan anak pertama. Berulang-ulang sang istri mengatakan betapa sakitnya ia pada Mukidi. Mukidi pun berkata, bahwa karena ia tidak tega melihat istrinya kesakitan, maka anak ke dua sebaiknya dilahirkan oleh wanita lain saja.

Lumayan, batin saya. Cerita itu berhasil membuat saya tersenyum, tapi belum sukses membuat saya tertawa. Mungkin karena saya kurang suka humor dengan unsur cerita orang dewasa, yang terkadang terasa vulgar bagi saya. 

Tak cukup hanya menginfeksi media pesan Watsapp, Virus Mukidi juga merambat ke media sosial. Beberapa teman di friendlist membuat status tentang Mukidi. Saya juga bahkan menemukan meme dan gambar berisi humor tentang  Mukidi di kolom komentar. 

Gambar berisi humor ala Mukidi (gambar dari komentar status Mbak Dhani Pratiknyo)

Mukidi lagi, Mukidi lagi. Sebenernya siapa sih, Mukidi ini? 

Bakat kepo saya pun terusik. Maka ketika ada seorang teman menshare link tentang Mukidi, karena penasaran - setelah memastikan link itu bukan berasal dari penyebar SPAM -, saya pun mengkliknya. Daaaan... Tahulah saya, seperti apa cerita-cerita Mukidi yang sedang ramai dibicarakan itu.

Berdasarkan info yang saya baca di link tersebut, diketahui bahwa Mukidi hanyalah tokoh fiksi. Ia digambarkan sebagai seorang lelaki biasa yang mudah bergaul. Saya ngikik saat membaca deskripsi tentang keluarganya. Istrinya bernama Markonah. Anaknya dua, namanya Mukirin dan Mukiran. Punya sahabat namanya Wakijan. Hihihi... Bener-bener, deh. Muidi banget :D 

Saya lalu membaca cerita-cerita tentang Mukidi, sambil sesekali mengangguk-angguk, tersenyum, dan - kali ini - bahkan tertawa. Saya paling suka yang Mukidi dan Gajah. Saya mbayangin kalau jadi gurunya, saya pasti bakal ketawa jengkel sambil nangis, wkwkwk... Saya juga suka yang tentang lampu toilet. Hiiiiyy, deh, pokoknya. Bikin geregetan! :v 

Sambil senyam senyum kakak kikik membaca cerita-cerita Mukidi, saya membatin, Hebat juga ya, orang yang menciptakan tokoh Mukidi ini. Tokoh Mukidi sangat khas. Lucu, lugu, dan... sedikit ndableg, kalau bahasa Jawanya. Sosok Mukidi juga mengingatkan saya pada tokoh-tokoh cerita berkarakter lucu lainnya seperti Nasrudin Hodja, Abu Nawas, dan Kabayan.

Kuatnya karakter tokoh Mukidi membuat saya penasaran pada sosok yang telah menciptakannya. Dengan bantuan kemampuan jelajah Eyang Google, saya pun menelusuri siapakah gerangan orang tersebut.

Daaan... Inilah hasilnya. Pencipta tokoh Mukidi adalah Bapak Soetantyo Moechlas. Beliau adalah seorang product marketing. Bapak yang akrab dipanggil Yoyok ini menggunakan humor Mukidi  sebagai coffe breack saat presentasi.

Oooo...

Bapak Soetantyo Moechlas alias Yoyok, Pencipta Tokoh Mukidi (foto diambil dari citizen6.liputan6.com)

Nah, lantas, pelajaran membuat tokoh fiksi yang bagaimana yang saya pelajari dari sosok pencipta Mukidi ini? 

Pertama, beri nama yang mudah diingat pada tokoh. Mukidi, menurut Pak Yoyok, adalah nama yang menggambarkan rakyat kecil dan mudah diingat, seperti halnya Kabayan, Wakijan, Samijan, dan sebagainya.

Ke dua, ciptakan karakter yang khas. Karakter yang berbeda. Entah itu dari cara bicara ataupun penampilan. Inget almarhum Jojon kan, ya? Masih ingat kan, bagaimana penampilannya? Nah, kira-kira begitulah menciptakan kekhasan pada tokoh.

Hmm... Ternyata tak hanya bikin ketawa, tokoh Mukidi juga bisa dijadikan pelajaran membuat tokoh fiksi, ya :)

Baca juga :


Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


24 comments:

  1. Keren kontemplasi dan penelusurannya tentang Mukidi.

    ReplyDelete
  2. Mukidi oh...mukidi.
    Saya baru tau ternyata banyak versi.

    Saya pikir ini tokoh khas Jawa Timuran.
    karena guyonannya banyak mengeluarkan bahasa bon bin khas daerah asal saya, Surabaya.

    ReplyDelete
  3. Kemarin grup2 WA di hpku & juga hp suami jadi terMukidi deh hehe. Sampai di halaman pertama Tribun Lampung juga tentang Mukidi Mbak :D

    ReplyDelete
  4. Kepo memang salsh satu kunci ilmu he he

    ReplyDelete
  5. Hai, Mbak Rien DJ. Hehe, mencoba melihat sisi lain dari cerita Mukidi, Mbak ^_^

    ReplyDelete
  6. Hehe, iya, Mbak Lendy. Ternyata si Mukidi ini punya banyak versi. Kadang jadi orang Brebes, kadang jadi rang orang Madura dia, takye :D

    ReplyDelete
  7. Selamat terMukidi ya, Mbak Heni :D

    ReplyDelete
  8. Iya nih, Ummi Neny. Kekepoan bisa berbuah ilmu jika dimanfaatkan dengan baik. Alhamdulillah :)

    ReplyDelete
  9. Hahahaha Mukidi dimana2 dan terkenal sekali sekarang :))

    ReplyDelete
  10. Kalau saya baru tahu kemaren sih ttg si mukidi ini. Hihi... telat yak?

    ReplyDelete
  11. Bahkan mulai bermunculan produk2 terMukidi, Mbak April. Kemeja Mukidi, Kaos Mukidi... Bener2, deh... :D

    ReplyDelete
  12. Sama, Mbak Rita. Saya juga baru tahu kemaren. Padahal cerita2 Mukidi ini udah lama ternyata. Saya ingat, ternyata dulu pernah baca cerita yang Mukidi ke Jakarta :D

    ReplyDelete
  13. hihihi... saya tau cerita2 ttg mukidi baru hari ini tadi :) Ada yg bilang juga org purwokerto yg punya bisnis kopi dan merk kopinya diberi nama mukidi sesuai namanya. entahlah... :)

    ReplyDelete
  14. kasihan ya mukidi, jadi bahan bully an nusantara, walupun sebelumnya sempat jadi bulyan, si valak, si lala teletabies, dll.. ya semoga semua baik baik saja.. hikss

    ReplyDelete
  15. saya tahu baru beberapa hari ini..tapi leleucon yg ku dapat dikit... masih penasaran..

    ReplyDelete
  16. Hehe, soal asal Mukidi memang ada banyak versi, Mbak Santi Dewi ^_^

    ReplyDelete
  17. Hehe... Saya mencoba ambil sisi positifnya, Mas Wane. Tidak bermaksud membully. Ada pelajaran yang bisa diambil dari sosok Mukidi. Terimakasih sudah mampir :)

    ReplyDelete
  18. Sebenarnya memang cuma sedikit, Mbak Nova. Karena pencipta karakter Mukidi hanta menggunakannya sebagai selingan presentasi. Tapi belakangan, banyak yang membuat lelucon Mukidi dengan versinya masing2.

    ReplyDelete
  19. saya pikir Mukidi ini siapa? cuma seliweran humor orang iseng.
    Ternyata memang sengaja dibuat toh, jadi nambah pengetahuan ^_^

    Tapi belakangan banyak yang mlesetin cerita mukidi ini,
    ada yang Mukidi masuk pesantren, Mukidi jadi customer asuransi.... jadi makin banyak meninspirasi orang si Mukidi ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Aslinya cuma sedikit. Tapi kemudian banyak yang bikin dengan versinya masing2.

      Delete
  20. Mukidi oh Mukini. Kini dirimu menjadi viral di dunia maya. Efeknya cerita Mukidi tidak lagi terbendung. Bahkan ada yang sangat tidak pantas bila di baca anak-anak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Ambil hikmahnya aja. Becanda nggak boleh berlebihan.

      Delete
  21. jadi ingat tokoh fiksi 'Doyok' di koran jaman duluuuuu banget :) namanya unik, dan mudah diingat, tampilannya juga khas :) pake blangkon

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, berarti Doyok yang di TV itu ada versi kartunnya ya, Kak Usmar? Atau itu memang menggambarkan dia? Iya, unik, ya. Karakternya kuat. Gampang diingat.

      Delete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)