Friday, August 5, 2016

Sepatu Rusak

Cerita ini terjadi di pekan pertama Syahid sekolah. Kemarin saya tulis di media sosial. Tapi saya pikir-pikir, mungkin lebih baik cerita tentang sepatu rusak ini saya tuliskan di blog ini.

Saat itu, di hari ke empat sekolah, pada jam pulang, saya menunggu di pelataran masjid, tepat di depan kelas Syahid.

Tak berapa lama, bel berbunyi. Satu persatu, teman Syahid ke luar kelas. Lalu sosok yang ditunggu itu pun muncul. Tersenyum lebar, melambaikan tangan ke arah saya yang dadah-dadah lebay.

Syahid mengambil sepatu di rak khusus kelasnya. Saya belum beranjak. Sengaja menunggu hingga ia selesai memakai sepatunya.

Tapi...

Ada yang aneh. Saya lihat wajah Syahid tiba-tiba murung. Sedetik kemudian, ia melambaikan tangan ke arah saya.

"Bunda... Sini sebentar..." Panggilnya.

Saya pun segera menghampiri.

"Kenapa, Sayang?"

Sesaat Syahid diam. Mengamati sepatunya.

"Nda... Kok sepatu Ayik cepat rusak, ya... Padahal Ayik udah hati-hati makenya..."

Duh, saya terenyuh sekali mendengar suara dan kalimat yang diucapkannya. Sendu sekali.
Saya duduk berlutut di depan Syahid. Memandang sepatunya. Sepatu sebelah kanan terlihat menganga di bagian ujungnya.

"Ya Allah... Sabar ya, Sayang. Nanti kita betulin sepatunya," hibur saya.

Syahid mengangguk.

"Iya, Nda. Nanti lem yang kuat ya, Nda!"

"Iya, Sayang."

Ketika Syahid hendak memakai sepatu itu, tiba-tiba saya tersadar.

"Lho, Sayang, ini kan bukan sepatu Ayik."

Syahid terpaku. Memandangi sepatu itu. Lalu tertawa. Tersadar seperti halnya saya, bahwa itu bukan sepatunya.

Sepatu rusak itu memang mirip milik Syahid. Baik warna, maupun bentuknya. Hanya saja, sepatu Syahid ada hiasan talinya. Sementara sepatu itu tidak ada. Sepatu Syahid memang baru dibeli. Kalau tidak salah sehari sebelum masuk sekolah. Jadi maklumlah, Syahid dan Bundanya ini masih keliru mengenali, hehe...

"Rupanya bukan sepatu Ayik yang rusak, Nda. Rupanya Ayik salah ambil sepatu," ujarnya ceria, seraya mengembalikan sepatu itu, lalu mengambil sepatu miliknya.

"Alhamdulillah ya, Sayang. Berarti sepatu Ayik nggak jadi rusak."

"Iya, Nda. Tapi kasian juga ya, Nda, kawan Ayik yang sepatunya rusak itu. Pasti dia sedih."

Ah... Sejuk sekali hati saya mendengar kalimat yang diucapkan Syahid. Meski senang mendapati bahwa sepatunya tidak rusak, ia ternyata tidak kehilangan empati pada temannya. Alhamdulillah. Semoga Allah sematkan selalu rasa empati itu di hatimu, Sayang.
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


0 comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)