Monday, September 12, 2016

5 Rahasia Agar Tulisan Dimuat di Media

Hai, Sobat Jejak. Assalamualaikum. Selamat hari raya Idul Adha, ya. Semoga kita semua bisa meneladani ketaatan dan ketakwaan Nabi Ibrahim as. beserta anaknya, Nabi Ismail as.

Sobat Jejak. Cukup lama saya tidak lagi fokus mengirimkan naskah ke media. Tepatnya sejak akhir tahun 2014. Ketika itu, beberapa judul naskah buku saya diACC penerbit. Saya akhirnya memutuskan untuk mencoba fokus saja pada penulisan buku. Walau kenyataannya, saya tetap harus lebih fokus pada amanah saya sebagai guru di sekolah dasar ketika itu.

Sobat. Tulisan dimuat di media, tentu memberikan kepuasan tersendiri bagi seorang penulis. Ia seolah menjadi sebentuk parameter keberhasilan bahwa tulisan yang dibuat telah diakui. Sudah lulus sensor editor, lho. Sudah dianggap layak untuk dikonsumsi oleh para pembaca.

Saya ingat sekali, euforia ketika pertama kali cerpen saya dimuat di media. Bolak balik saya menatap nama saya di koran, beserta tulisan berupa cerpen yang saya hasilkan. Hati luar biasa bungah, jantung pun terasa membuncah. Rasanya bagai mimpi di siang hari. Apalagi jika mengingat bahwa masa tunggu dimuatnya cerpen itu tak sampai satu minggu. Wah, rasa percaya diri saya langsung terbang ke angkasa, menembus cakrawala, turunnya nebeng NASA :p

Jika dihitung dari banyaknya berkarya,  sebetulnya saya tergolong sangat kurang produktif, Sobat. Bayangkan, dalam sebulan kadang saya hanya menghasilkan satu cerpen saja. Bahkan saat sedang futur berkarya, tak satupun cerpen yang saya buat dan kirimkan ke media. Akan tetapi, saya punya rahasia yang membuat sebagian besar cerpen saya diterima dan diterbitkan di media. Rahasia ini saya dapat dari hasil mengamati dan wewejang para guru di kelas menulis yang saya ikuti.

Nah, Sobat, berikut 5 rahasia agar tulisan dimuat di media:

Pertama, kirim tulisannya ke media
Hahaha... Jangan manyun gitu dong, Sobat Jejak. Walau kesannya bercanda, tapi rahasia ini betul, adanya. Karena sebagus apapun tulisan yang Sobat buat, jika tidak dikirimkan ke media, tentu tidak akan dimuat, bukan?

Ke dua, angkat tema yang membangun karakter anak
Misalnya, tentang menyayangi teman, pantang menyerah, peduli sesama, dan lain sebagainya.

Putri Jagung, dimuat di Radar Bojonegoro. Mengangkat tema pantang menyerah dan menyayangi teman.

Ke tiga, angkat tema tentang isu global
Go green, misalnya. Ada banyak ide cerita yang bisa digali dari isu go green, yang jika kita pandai mengemasnya, insya Allah sangat berpeluang untuk dimuat di media.

Tersenyumlah, Emon! Dimuat di Majalah SoCa. Tentang reboisasi hutan, terutama di daerah gunung.

Ke empat, manfaatkan moment penting
Ada banyak tanggal penting di kalender. Hari Pahlawan, Hari Kemerdekaan, Hari Ibu, Hari Kartini, Hari Raya. Jadikan tulisan. Tulis dan kirimkan jauh sebelum tanggal tersebut. Insya Allah, naskah kita lebih berpeluang untuk dilirik dan diterbitkan oleh media pada moment tanggal yang dimaksud.

Kambing Kurban Lutfan. Dimuat di Lampost Minggu. Ditulis untuk moment Idul Adha.

Ke lima, beri sesuatu yang unik pada naskah tulisan kita.
Misalnya ada sisipan humor, pengetahuan, atau bisa juga keunikan dalam pemilihan kata-kata. Dibuat berima, misalnya.

Nyanyian Api Naganini. Dumuat di Majalah Bobo. Setiap kalimatnya berakhiran huruf "i".

Itulah 5 rahasia tulisan dimuat di media yang selama ini saya amalkan, Sobat. Tentu saja, hal-hal lain seperti EYD, alur, dan konflik, juga menjadi bagian dari faktor diterbitkan tidaknya tulisan kita di media.

Ok. Sobat. Selamat menulis, ya! :)

Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


27 comments:

  1. Kok bisa sih nulis sebagus ini. Ringan, praktis, dan punya daya efek yang bagus untuk membangun tradisi menulis. Keren, keren.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduuuh... Kalau pemimpin redaksi Jejamo yang muji, entah kenapa saya jadi GR, hehe... Makasih sudah mampir, Bang Adian ^__^

      Delete
  2. Terima kasih mba sudah berbagi rahasianya,
    tinggal praktek nih ^_^

    ReplyDelete
  3. Mba tolong mentoring aku dong ajarin hahaha. Selain makan nasi makan apa mb?biar kreatif gni *serius nanya* :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sukanya makan sayur pare, Mbak Herva, hihihi...

      Delete
  4. Wajib dicatet nih :) siapa tau nanti mbak Izzah juga mau bagi rahasia agar tulisan dimuat di media online terkenal, semisal Viva atau Liputan6 :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, saya belum pernah coba ke media online, Mas Usmar. Boleh dunk, kapan2 saya dibagi tipsnya ^_^

      Delete
  5. Wihh keren bgt mba...saya hrs rajin upgrade ilmu nih biar bisa nulis kayak mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga masih belajar, Mbak Lia Djabir ^_^

      Delete
  6. Seru banget rahasianya. Mau praktek ah, makasih sharing ilmunya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat praktik, Ummi Naqi. Ummi mah keren. Cerpennya udah sering dimuat ^_^

      Delete
  7. Yang paling berat itu poin pertama, tulis dan kirim ke media :)
    Seringnya meski sudah nulis sekalipun, untuk mengirimnya itu yang agak gimana gitu. Suka ga pede.
    Harus dicoba nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo kirim, Bang Yopie. Tulisan perjalanan Bang Yopie mah udah lebih dari layak. Apalagi didukung dengan foto2 yang luar biasa.

      Delete
  8. Belajar nulis cerpen dulu ah dari Mbak Izzah he he. Tulisan sayamah kebanyakan curcolan hi hi hi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya malah salut sama Mbak Heni yang konsisten posting di blog ^_^

      Delete
  9. boleh ya saya tiru supaya ketularan pintar nulis :)

    salam kenal mbak

    ReplyDelete
  10. Mba Heni keren!
    Saya penggemar majalah Bobo sampe sekarang loh. LOL
    Suka mikir, "ini yang nulis cerpen hebat banget. Ceritanya ringan tapi nilainya ada dan ngena."

    Mau belajar nih, terutama urusan EYD itu biar lolos editor. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok Mbak Heni... Saya Izzah, Mbak... Hehe... Silakan, moga lolos, ya ;)

      Delete
  11. Kiatnya semua tokcer nih. Kadang praktikny saja yang malas, hehe. Hebatlah Mbak Izzah ini karyanya banyak yang diterbitkan. Oiya, sekadar usul, agar penulisan ke dua hinga ke lima digabung saja, Mbak. Biar makin mantab.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru sedikit kok, Mas. Masih sering males-malesan juga :D Terimakasih usulnya, Mas ;)

      Delete
  12. Bikin sisipan humarnya agak susah, ya Mbak..buat saya sih saya orangnay lucu tapi gak humoris, he he he

    Naskah saya belum pernah tayang di media sih...kecuali media blog, he he he
    Makasih tips-tipsnya....saya ada cita-cita bikin buku dongeng :D ketinggian ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak ketinggian kok, Mbak... Ayo, segera dibikin. Insya Allah pasti bisa ^__^

      Delete
  13. Sip, thanks tips nya... Lagi pengen nulis cernak nih...☺

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)