Thursday, October 27, 2016

Sepinggan Kenangan dalam Masakan Pindang

Hai, Sobat Jejak. Assalamualaikum. Kali ini saya mau curhat aja. Soalnya saya lagi sedih.

Hari ini, saya mengupload gambar masakan pindang di instagram. Jarang-jarang saya upload foto masakan. Bukan apa-apa, di rumah, saya tidak punya amunisi untuk moto cantik makanan. Piring mangkok banyak, sih... Hanya saja warnanya membuat masakan tidak tampak fotogenik saat difoto. Khawatirnya bukannya membuat selera, sebaliknya, yang meliat jadi gimanaaa gitu :D

Pindang Ikan (kolpri)


Tapi berhubung postingan saya kali ini ada hubungannya dengan masakan, yang dalam hal ini masakan pindang, maka saya pun memotretnya. Pindangnya saya taruh di piring putih bunga-bunga yang pernah saya pakai juga untuk memotret Sambal Ikan Terancam dan Tumis Pedas Jantung Pisang. Jadi judulnya, ini piring sejuta (umat) masakan, hehehe... 

Oke, lanjut. Ini soal sedih-sedih yang saya sebut di awal tadi. Apakah penyebabnya? Penyebabnya tak lain adalah tentang sepinggan kenangan dalam masakan pindang.

Sobat Jejak. Pindang adalah masakan kesukaan Bak (panggilan untuk ayah saya). Dulu semasa kuliah, kalau Bak menjenguk saya di kostan, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari masakan pindang di warung makan. Untuk menjamu Bak. 

Begitu sukanya Bak pada masakan pindang. Tak pernah bosan. Kalau di kampung, pasar terdekat cuma buka hari Ahad. Di saat itu barulah ibu saya bisa membeli ikan untuk dipindang. Tapi bila Bak ingin pindang dan tidak sabar menunggu Ahad, biasanya beliau menjala di kolam ikan samping rumah. Lucu juga sih, kalau dipikir-pikir, memelihara banyak ikan mulai dari mujair, nila, gurami, emas, dan sebagainya, tapi kalau mau makan ikan, seringnya beli. Tapi saya tidak pernah protes. Bak punya alasan.

Kolam ikan Bak ada tiga. Satu khusus ikan lele, satu campur-campur, satunya lagi isinya ikan liar. Dalam artian bukan ikan peliharaan seperti gabus, seluang, sepat, dan ikan betok. Di kolam yang satu itu, semua orang boleh memancing. Dua kolam yang berisi ikan peliharaan, memang sengaja disayang-sayang. Untuk dikuras ketika moment-moment tertentu. Misal saat masuk bulan puasa, menjelang lebaran, atau ketika masa panen ikan tiba. Asyiknya, semua tetangga boleh mencebur ke kolam untuk mengambil ikan. Panen ramai-ramai. Hasilnya dibawa pulang. Gratis. Karena itulah bentuk sedekah Bak untuk sanak saudara dan para tetangga.

Masakan pindang ikan bisa membuat Bak makan dengan sangat lahap. Jadi, kalau Bak kurang selera makan, masakkan saja pindang ikan, pasti kembali lahap makannya. Bahkan jika melihat Bak makan pindang, orang yang tidak lapar pun bisa tiba-tiba merasa lapar. Cara beliau menghirup kuah pindang, mencecapnya, mengunyahnya, benar-benar bikin orang ingin ikutan makan.

Kesukaan Bak akan masakan pindang bahkan terlihat ketika beliau menjelang tutup usia. Waktu itu, tersengal-sengal di rumah sakit, Bak bilang pada mamah, ibu saya, bahwa beliau ingin makan pindang. Pontang-panting ibu saya meninggalkan Bak untuk mencari pindang, dengan hati was-was kalau-kalau Bak keburu meninggal sebelum sempat makan pindang. Alhamdulillah, Bak masih sempat makan dengan masakan kesukaannya itu.

Sampai hari ini, setiap kali memasak pindang, pikiran saya jauh melayang. Pada kenangan-kenangan bersama Bak, saat membawakan ember untuknya yang sedang menjala ikan untuk dipindang, saat berlomba dengannya menyesap kepala ikan pindang, saat melihatnya lahap makan di kostan dengan lauk ikan pindang...

Tak terasa air menitik di sudut mata ketika saya menunggui masakan pindang di panci masak. Terharu luar biasa, melihat suami yang tak begitu suka pindang ternyata bisa tambah nasi berkali-kali dan bilang pindang buatan saya enak. Rasanya seperti melihat Bak makan. Andai dulu saya sudah bisa masak pindang untuk Bak seenak yang saya buat sekarang.... :(

Oh, iya, bila Sobat Jejak yang ingin masak pindang juga, ini saya bagi resepnya:
Bahan:
1. 1 ekor ikan patin
2. 1 jeruk nipis
3. 7 siung bawang merah, iris
4. 5 siung bawang putih, iris
5.  3 buku kunyit, iris
6. 3 lengkoas (agak banyak tidak apa2 untuk menyamarkan bau amis ikan), iris.
7. 2 batang serai, geprek
8. 1 tomat
9. 15 Cabe rawit utuh
10. 5 batang kemangi, ambil daunnya
11. Garam secukupnya
12. Gula secukupnya
13. Air

Cara membuat pindang patin:
1. Potong-potong ikan, bersihkan, buang insangnya, lumuri dengan air perasan jeruk nipis.
2. Didihkan air
3. Masukkan bumbu iris (bawang merah, bawang putih, lengkoas, kunyit).
4. Masukkan ikan.
5. Masukkan kemangi dan tomat.
6. Beli gula garam.
7. Cicip apakah rasa sudah pas.
8. Tunggu hingga masak, angkat, hidangkan panas-panas.

Kalau di kampung, ada kala ibu saya memasak pindang dengan diberi campuran tempoyak, terasi, atau potongan nanas. Tapi saya tidak memakai bahan itu saat memasak tadi. Saya juga tidak memakai irisan cabe merah, karena anak saya, Syahid, tidak suka masakan pedas. Makanya, cabe rawitnya dibiarkan utuh. Oh, iya, jangan lupa hidangkan pindangnya dengan sambal terasi/sambal nanas dan lalapan, ya. Biar lebih lezat.

Oke, Sobat Jejak, selamat memasak pindang ikan patin, ya. Alhamdulillah. Setelah memosting ini, saya tidak seberapa sedih lagi. Sekadarnya saja. Karena yang seharusnya saya lakukan untuk Bak yang sudah meninggal bukanlah menangis, melainkan melantunkan doa-doa. Mohon doa untuk Bak, ya.
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


6 comments:

  1. hmm, jadi teringat almarhum ayah. T_T
    semenjak beliau divonis tidak boleh mengkonsumsi sayuran hijau akibat asam urat, ikan adalah menu favoritnya, hampir tiada hari tanpa menu ikan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga Allah mengampuni dosa2 almarhum ayah kita dan menempatkan beliau di tempat yang baik ya, Mbak...

      Delete
  2. Resep pindangnya sama dengan yang dibuat di rumah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti enak pindangnya ya, Bang Yopie :D

      Delete
  3. Asik ya mbak punya kolam ikan, kalau pingin pindang tinggal tangkap aja.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)