Monday, October 10, 2016

Workshop Penulisan Buku Cerita untuk Pembaca Pemula (Day 3)

Haiiii, Sobat Jejak. Assalamualaikum.

Akhirnya bisa update lagi tentang workshop Room to Read. Mudah-mudahan Sobat Jejak tidak bosan membaca postingan saya tentang workshop Room to Read ini .. ^_^

Oke, langsung kita mulai, ya.

Di hari ke dua workshop, seperti yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya, peserta menerima cukup banyak materi. Materinya berupa Flowcharts, Narative Devices, dan beberapa tips tentang penulisan pictbook. Peserta juga diminta untuk mematangkan PR hari pertama, menjadikannya naskah utuh, lalu mengirimkannya ke email panitia. Selain itu, peserta diminta untuk melakukan revisi dan brain strorming naskah yang lolos audisi workshop, bersama teman sekelompok. Benar-benar, deh, kepala saya serasa kena storm hari itu. Ya storm ilmu, storm revisi, dan juga storm ide. Alhamdulillah yah, sesuatu.

Ada Apa di Balik Pintu?


Udara terasa dingin dan basah ketika saya dan Mbak Bening, room mate saya, kembali ke kamar. Selama workshop, dalam sehari, hujan bisa beberapa kali mengguyur Lembang. Entah, apakah karena sedang musim hujan, atau Lembang memang demikian adanya.

Kepala yang terasa pusing, capek, dan juga ngantuk, membuat saya ingin segera leyeh-leyeh dan istirahat. Bahkan saya sempat berpikir untuk tidak usah makan malam.

Saya baru ke luar dari kamar mandi, ketika Mbak Bening berkata, "Mbak, kamar sebelah kanan kita ini ada penghuninya nggak, ya?"

Seketika bulu kuduk saya yang penakut dan tukang menghayal ini meremang. Ngapain Mbak Bening nanya-nanya begitu? Batin saya.

Seingat saya, sejak pertama kali datang ke hotel, lampu kamar itu tidak pernah terlihat hidup.

"Kayaknya, nggak ada deh, Mbak," jawab saya.

"Lah, tapi perasaan handle pintu ini bunyik-bunyi kayak ada yang mau buka, lho," kata Mbak Bening.

"Hah!? Yang bener, Mbak?"

Spontan saya melompat naik ke tempat tidur.

"Iya, bener, lho."

Iiiih, Mbak Bening nakut-nakutin aja...

Jadi, di dinding kamar kami, tepatnya di samping tempat tidur Mbak Bening, ada pintu yang menghubungkan kamar kami dengan kamar sebelah kanan. Waktu baru datang, saya sudah mencoba membuka pintu itu, tapi terkunci. Saya heran juga, sih. Kenapa ada pintu di situ? Apa itu gudang? Lemari? Aatau... Semacam Enchanted Door yang bisa membawa siapapun yang membukanya ke dunia lain, gitu?

Saya kemudian menyimpulkan bahwa mungkin kamar kami dan kamar itu sejatinya diperuntukkan bagi keluarga yang menginap. Sengaja diberi pintu agar akses antara anggota keluarga mudah. Yah, sengaja berpikiran begitu agar hati dan pikiran tenang.

Tapi, untuk saya dan Mbak Bening yang tidak ada hubungannya dengan kamar sebelah, keberadaan pintu itu jadi menimbulkan kesan  horror. Membayangkan ada yang masuk lewat pintu itu pas kami tidur, kan serem, ya... Itu juga yang kemudian menjadi alasan saya memilih tidur di dekat jendela, hahaha... Walau saya juga sempat mikir macam-macam juga, sih, soal jendela. Sekali lagi, saya yang penakut dan penghayal ini suka membayangkan macam-macam kalau dekat jendela. Apalagi di malam hari... Saat kabut  dan kegelapan purna menyelimuti bumi... Hiyyy... (kasih backsound lolongan srigala)

"Telpon ke lobi aja, Mbak...." Usul saya.

"Ngomong apa?"

"Nanyain kamar sebelah kanan ada orang apa nggak..."

"Ah, kayaknya aku cuma salah denger, deh."

"Beneran?"

"Iya. Kayaknya, sih..."

Aaarrrghhh, Mbak Bening....

Akhirnya, demi kedamaian dan ketenangan hati, saya dan Mbak Bening pun memutuskan untuk melupakan soal pintu tadi. Bahkan setelah makan malam, kami  sudah bisa asyik nonton acara di chanel TV Korea, sebelum akhirnya lelap dalam mimpi masing-masing.

Pintu yang saya maksud ada di kanan tempat tidur Mbak Bening (kolpri)

Workshop Penulisan Buku Cerita untuk Pembaca Pemula (Day 3)

Setelah sarapan, saya dan Mbak Bening bergegas menuju ruang workshop. Ruang workshopnya pindah. Bukan lagi di gedung yang kemarin, melainkan aula yang terletak di gedung seberangnya, yang tak jauh dari kapel kecil berbentuk segitiga. Maaf, agak belibet menjelaskannya. Saya lupa nama ruangnya apa dan lupa moto tampak depannya :D

Di hari ke-3 ini, Alfredo memberi materi tentang Genres dan Formats Book.

Berdasarkan materi yang diberikan Al, genre buku anak terbagi menjadi:

1. Simple concept books
Simple concept books atau buku berkonsep sederhana, biasanya diperuntukkan bagi pembaca usia balita. Contoh dari dari buku berkonsep sederhana ini di antaranya adalah alphabet books, counting books, dan lain-lain.

2. Folktales
Folktales atau cerita rakyat dijadikan genre tersendiri mengingat banyaknya ragam cerita rakyat yang ada.

3. Realistic Fiction
Tokoh realistic fiction biasanya manusia khususnya anak-anak, dengan cerita yang memang biasa ditemui dalam keseharian. Begitupula konflik atau permasalahan yang menjadi pembahasan di dalam cerita. Kurang lebih kita menyebutnya dengan cernak atau cerita anak.

4. Fantasy
Tokoh dalam buku fantasi biasanya lebih bervariasi. Misalnya hewan, tanaman, peri, raksasa, kurcaci, dan sebagainya.

5. Non Fiction
Buku-buku non fiksi dibagi lagi menjadi 2, yaitu:
a. Informational/Fact books atau yang sifatnya memberikan informasi/fakta, contohnya: How to Books, Questions Book, dan Activity Books.
b. Biography

Kolam renang yang adem. Sangking ademnya, saya nggak pernah melihat ada yang berenang :D (kolpri)

Adapun format buku diklasifikasikan berdasarkan size dan content, menjadi:

1. Pictorial books
Pictorial books atau biasa kita sebut picture book menempatkan gambar sebagai bagian penting dan dominan. Perbandingan gambar dan teks pada picture book adalah 80 : 20. Cerita di dalam picture books masih sangat sederhana.

2. Illustrated story books
Cerita di dalam illustrated story books sudah lebih kompleks dan porsi gambar juga lebih sedikit.

3. Big books
Big books atau buku dengan ukuran besar ini biasanya digunakan untuk kegiatan membaca bersama atau story telling.

4. Chapter books
Ilustrasi chapter book sangat sedikit dan perannya hanya sebagai pelengkap dalam cerita. Pembaca sasaran chapter book biasanya anak-anak yang dalam masa transisi ke usia remaja.

Dikarenakan di hari ke empat para peserta diminta untuk mengadaptasi cerita rakyat, maka di hari ke tiga, materi lebih dititikberatkan kepada folktales atau cerita rakyat.

Materi folktales disampaikan oleh Mbak Dina Amalia Susanto dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud. Mbak Dina menjelaskan tentang ragam folktales di Indonesia. Mbak Dina juga memberikan tips mengadaptasi folktales tanpa meninggalkan kisah aslinya.

Folktales ini sendiri  merupakan cerita dari mulut ke telinga (bukan dari mulut ke mulut), yang diceritakan secara turun menurun. Tak jarang antara satu daerah dengan daerah lainnya memiliki folktales dengan alur yang hampir sama. Hanya tempat dan nama tokohnya saja yang berbeda. Bahkan, cerita si kancil ternyata juga ada di negara-negara lain selain Indonesia, lho.

Kapelnya cantik, ya. Selama workshop, dua pesta pernikahan dihelat di sini. (kolpri)

Setelah jeda shalat dan makan siang, workshop hari ke-3 kembali dilanjutkan. Sebelumnya, warming up dulu, di mana peserta diminta untuk berhitung dari 1-4, kemudian membentuk kelompok berdasarkan angka yang didapat. Angka 1 berkelompok dengan angka 1, begitu seterusnya. Setiap kelompok diminta untuk melakukan role play cerita rakyat. Kelompok saya sepakat mengambil cerita rakyat bertajuk Roro Jongrang untuk diperagakan. Berhubung tidak cukup percaya diri menjadi Roro, saya pun harus berpuas hati menjadi batu yang dipahat menjadi arca, hahaha...

Setelah role play, peserta kembali duduk dengan kelompok semula.

Ada banyak ragam folktales yang terdapat di Indonesia, yaitu:

1. Mite atau Mitos, yang biasanya banyak menceritakan tentang kehidupan dewa dewi di kahyangan.
2. Legenda asal usul, misalnya Legenda Danau Toba dan Legenda Tangkuban Perahu.
3. Epos dan Sage, merupakan cerita rakyat yang mengandung unsur sejarah, misalnya Calon Arang, Si Pitung, dan Lutung Kasarung.
4. Dongeng Kerajaan dan Keajaiban, seperti Timun Mas, Putri Pandan Berduri, dan juga Ande-ande Lumut.
5. Cerita Binatang, biasanya mengisahkan tentang kecerdikan binatang dalam menghadapi musuh-musuhnya, misalnya pada cerita Si Kancil dan Buaya.
6. Cerita Jenaka, yaitu cerita rakyat yang mengandung humor, seperti Si Kabayan, Nasrudin Hodja, dan Mukidi *eh, nggak ding.

Menurut Mbak Dina, banyak content folktales yang terkadang kurang atau bahkan tidak layak untuk dikonsumsi anak-anak. Kebanyakan cerita rakyat terlalu menonjolkan sisi gelap dalam ceritanya. Seperti pembunuhan, perceraian, dan lain-lain. Hal ini, kata Mbak Dina, menjadi peluang tersendiri bagi para penulis, untuk mengadaptasi cerita rakyat sehingga layak menjadi bacaan anak-anak.

Dalam hal mengadaptasi, Mbak Dina memberi contoh cerita rakyat Malin Kundang. Di cerita Malin Kundang, selalu yang ditonjolkan adalah kedurhakaan Malin pada ibunya, yang kemudian membuat Malin dikutuk menjadi batu. Padahal, kata Mbak Dina, banyak hal baik yang bisa diangkat dari sosok si Malin. Misalnya, niat awal Malin merantau untuk memperbaiki nasib dan membahagiakan ibunya. Atau tentang perjuangan si Malin selama merantau sehingga akhirnya menjadi kaya raya.

Selanjutnya, setiap anggota kelompok diberi lembaran berisi cerita rakyat. Peserta diberi tugas untuk mengadaptasi cerita rakyat yang didapat tersebut dan mengumpulkannya di hari terakhir workshop. Gleks...

Sebelum mengadaptasi, terlebih dahulu setiap peserta menbacakan cerita rakyat yang didapat beserta rencana cerita adabtasinya di kelompok masing-masing. Nah, seperti apa cara mengadaptasi cerita rakyat dan bagaimana keseruan kami mengadaptasinya di hari ke-4? Tunggu di postingan selanjutnya, ya! ;)

Baca juga:


Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


6 comments:

  1. Replies
    1. Makasiiih udah mampir. Silakan masuk, monggo dicicipi sajiannya :D

      Delete
  2. suguhannya enakk.. makasih ya Izzah <3

    ReplyDelete
  3. Trus ada lanjutannya gak mbak ttg kamar sebelah itu...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, sementara nggak ada, Mbak Rita. Entah di postingan selanjutnya :D

      Delete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)