Sunday, March 19, 2017

Serunya Mengikuti Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi di Hotel Amaroossa Grande Bekasi Bag. 1

Hai, Sobat Jejak. Assalamualaikum. 

Sobat, kali ini, saya mau menceritakan pengalaman saya mengikuti workshop menulis dari Kemdikbud selama tiga hari di Bekasi. Nama workshopnya, Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi. Hihi, iya, sih, dari judulnya kesannya kayak penataran gitu, yak. Tapi asli seru dan menyenangkan lho, workshopnya. Penasaran? Begini, ceritanya. 

Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya dan Tradisi

"Alhamdulillah, makasih infonya, Mbak Ranny!" Pekik saya gembira, ketika Mbak Ranny, panitia seleksi dan pelaksanaan Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi menelpon dan memberitahu bahwa saya lolos seleksi.

Info dan seleksi awal peserta pembekalan ini mulanya diadakan di Forum Penulis Bacaan Anak atau yang oleh anggotanya akrab disebut dengan Paberland. Paberland yang pertama kali digawangi oleh Kang Ali Muakhir ini kini telah beranggotakan lebih dari 20.000 orang. Di Paberland, terpilihlah nama-nama nominator pesertanya, yang di tahap selanjutnya ditugaskan untuk membuat konsep buku cerita anak berlatar budaya dan mengirimkannya ke panitia Kemdikbud. Nah, di tahap lanjut ini peserta pembekalan terpilih ditentukan langsung oleh pihak Kemdikbud.

Saya merasa sangat beruntung, Sobat. Karena saya menjadi salah satu dari 18 penulis yang berhak untuk mengikuti Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi, yang diselenggarakan oleh Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan yang Maha Esa dan Tradisi Kemdikbud, dari tanggal 6 - 8 Maret 2017, di Hotel Amaroossa Grande Bekasi, yang beralamat di Jl. Jend. Ahmad Yani No. 88 Bekasi Barat.


Hotel Amaroossa Grande Bekasi (foto: www.pegipegi.com)

Adapun 18 penulis yang terpilih semuanya berasal dari Sumatera, karena memang fokus penulisan Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi tahun 2017 ini adalah mengenai budaya di beberapa provinsi di Sumatera, seperti Aceh, Bangka Belitung, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, dan Lampung. Ada Mbak Beby, Omacan Syamsiah, Bang Azhari, Uni Novia, Uni Eci, Uni Maya, Mbak Agnes, Mbak Yulita, Kak Citra, Kak Ruziana, Kak Sri Murni, Kak Desri, Kak Viska, Bang Elvi, Kak Suhendra, Mbak Fitri, Kak Suwanda, dan saya sendiri.

Nah, penulisan Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi sendiri dimaksudkan untuk memberikan bahan bacaan kepada siswa siswi kelas 4 - 6 SD mengenai keragaman budaya bangsa Indonesia, Sobat. Hal ini bertujuan untuk memperkenalkan dan meningkatkan pemahaman tentang keragaman budaya bangsa Indonesia kepada generasi muda, melestarikan warisan budaya bangsa dan memperkukuh kebudayaan Indonesia, menumbuhkan budi pekerti luhur melalui kecintaan terhadap budaya bangsa dan nilai-nilai moral yang diwariskan dalam keragaman tradisi bangsa, serta meningkatkan minat membaca siswa melalui bahan bacaan yang berkwalitas baik.

Jarum jam menunjukkan pukul 11.45 WIB, ketika pesawat yang membawa saya dan dua rekan penulis dari Lampung, mendarat mulus di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Setelah beberapa kali berpose dengan berbagai gaya di depan kamera handphone, kami pun berjalan menuju halte bus bandara. Di sana, kami bertemu dengan tiga peserta dari Padang, yaitu Uni Maya, Uni Novia, dan Uni Eci. Onde mandeeee, senangnya! Bisa kopdar dengan cerpenis dan novelis yang kece bana-bana. ^_^


Berpose dulu sesaat setelah tiba di Terminal 3 Bandara Soeta

Cukup lama kami menunggu, namun bus tujuan Bekasi Barat tak kunjung lewat. Sempat sih, lewat sekali, tapi busnya sudah penuh. Hanya bisa memuat dua penumpang. Karena kami berjumlah enam orang dan terlalu setia sehingga tidak mau meninggalkan satu sama lain (cieee),  kami pun memutuskan untuk menunggu bus berikutnya saja.

Ketika rasa bosan mulai menghinggapi dan perut mulai berkeruyukan minta diisi, seorang petugas bandara datang menghampiri kami. Mungkin ia merasa iba melihat wajah-wajah lelah dan kelaparan kami. Atau jangan-jangan, ia bisa mendengar kata hati kami yang seolah menyuarakan kalimat, "OM, TELOLET OM!" :P

"Ada bus ke Bekasi Barat setelah ini. Tapi tarifnya lebih mahal, yaitu Rp. 60 ribu," kata pak petugas.

Saya menjawil seorang teman.

"Emang, biasanya berapa?"

"Kata bapak itu 45 ribu," jawabnya.

Ah, hanya beda sedikit, ternyata. Karenanya, tak perlu berunding lama, kami pun sepakat naik bus yang direkomendasikan oleh petugas tersebut. Sesaat kemudian, punggung lelah kami telah bersandar di kursi bus Royal Class yang empuk dan nyaman. Alhamdulillah....

Mulanya, saya berencana untuk tidur di dalam bus. Tidur selama perjalanan yang konon menghabiskan waktu kurang lebih tiga jam dari bandara menuju Bekasi, tentu lumayan untuk menabung energi, agar fresh saat mengikuti materi yang dimulai malam nanti. Namun, pemandangan di sepanjang perjalanan, ditambah nuansa sendu-sendu romantis (uhuk!) lantaran langit yang mendung disertai gerimis, rasanya terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Sambil menatap gedung-gedung pencakar langit, iseng saya mengirim pesan di grup penulis Kemdikbud.

"Di Jakarta banyak gedung tingginya!" #AnakSingkong 

Kurang lebih pukul 15.00 WIB, bus yang kami naiki tiba di terminal Bekasi Barat. Sebelumnya, kami sempat heboh saat bus terus melaju dan berbelok ke sebelah kiri, sementara gedung Hotel Amaroossa berada di belokan sebelah kanan.

"Kok busnya nggak berenti?!"
"Lho, nanti kita nyasar gimana?"
"Hotelnya tambah jauh!"
"Waduuuh, gimana ini?!"

Untunglah, terminalnya ternyata tidak jauh. Kami pun bernapas lega.

Fyuuuh....

Dari terminal, kami melanjutkan perjalanan menuju hotel menaiki taksi, dengan tarif Rp. 10.000,-/orang. Alhamdulillah, perjalanan menuju hotel bisa dibilang cukup lancar, tidak macet. Tepat pukul 15.15 WIB, kami tiba di Hotel Amaroossa Grande Bekasi. Lagi-lagi alhamdulillah....


Lobi Hotel Amaroossa Grande Bekasi (foto: www.amaroossa.com)

Dua orang doorman menyambut ramah kedatangan kami di hotel. Kami pun dipersilakan memasuki lobi hotel yang terlihat luas dan nyaman. Mbak-mbak resepsionis yang cantik mengatakan bahwa kami harus menunggu beberapa saat, karena kamar sedang disiapkan. Sementara itu, fasilitas makan siang terpaksa kami lewatkan, karena sesi makan siang di hotel sudah clossing sejak pukul 15.00 WIB. Ah, sayang sekali.

Setelah menunggu cukup lama dengan kondisi lelah dan kelaparan, kami akhirnya diberitahu bahwa kamar sudah siap. Bergegas, saya dan Mbak Fitri, roomate saya, naik ke lantai 11, tempat di mana kamar kami berada. Alhamdulillah, akhirnya bisa mandi dan istirahat.

Bertemu sahabat lama dan guru menulis

Suasana kamar yang temaram serta kasur hotel yang empuk dan nyaman, membuat saya tak sabar ingin merebahkan badan. Namun, belum sempat angan menjadi kenyataan, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar. 

Tok...
Tok...
Tok...

Ketika pintu dibuka, suasana mendadak berubah suram, lampu di lorong hotel meredup, dan lolongan serigala di kejauhan terdengar sayup-sayup....

Auuuuuuuuu....

Hihihi, nggak, diiiing... :D

Begitu pintu dibuka, sahabat lama saya, Keni, langsung mengeluarkan omelan khasnya yang entah kenapa tak kunjung lekang dimakan usia.

"Assalamualaikum.... Eluuuu nih, yaaaaa.... Lama amat bukain pintunyaaaa!"

Saya hanya bisa terkekeh mendengar omelannya.

"Hehehe... Walaikumussalam... Masuk, Ken!"

Oh, iya. Keni ini sahabat saya sejak SMA-kuliah. Anaknya rame bangeeet.... Dulu zaman kuliah, kami sering saling mengunjungi dan menginap di kostan masing-masing.

Kadang saya yang menginap di kostan Keni....

"Ken, gua nginep tempat Lu, ya?"
"Iya."
"Jangan lupa, ya!"
"Apaan?"
"Sediain makan."

Kadang Keni yang menginap di kostan saya...

"Ijah, gua nginep di kostan Lu, ya?"
"Okeeey... Btw jangan lupa mampir di warung ya, Ken."
"Ngapain?"
"Beli nasi bungkus buat kita bedua."
"Elu tuh, yaaaaaa!"

Wkwkwk....

Kini, Keni menetap di Bekasi bersama suaminya. Ketika saya beritahu bahwa saya ada workshop di Bekasi, dia dan suaminya datang jauh-jauh (jarak kurang lebih 1 jam) menemui saya di hotel. Waaah, makasih ya, Ken. Sebagai tanda mata, saya memberikan dua buku karya saya yang berjudul 25 Kisah Sebab Turunnya Ayat Alquran dan 30 Kisah Teladan Rasulullah kepada Keni. Mudah-mudahan suka bukunya ya, Ken. ^_^


Saya dan Keni

Oh, iya, info aja. Harga buku saya tersebut masing-masing Rp. 69.000,- dan Rp. 41.000,-. Yaaa, siapa tau aja Sobat Jejak pingin beli, hehehe... :D

Selang beberapa waktu kemudian, pesan masuk via WA di HP saya. Dari Mbak Nurhayati Pujiastuti, founder sekaligus guru menulis saya, di Kelas Penulis Tangguh.

"Aku udah di lobi, ya."

Maka, saya, Keni, dan Mbak Fitri, turun ke lobi. Ternyata, di sana juga sudah ada Uni Novia dan Uni Eci. Saya dan Uni  Novia adalah murid menulis Mbak Nur di Kelas Penulis Tangguh, sementara Uni Eci murid beliau di Kelas Merah Jambu.

Mbak Nur tinggal di Bekasi. Karenanya, sebelum berangkat, saya mengabari Mbak Nur bahwa saya akan ke Bekasi. Saya yang tadinya belum ngeh kalau perjalanan dari Bandara ke Bekasi memakan waktu berjam-jam, berjanji akan menyambangi Mbak Nur di rumah sebelum workshop. Namun, karena waktunya ternyata tidak memungkinkan, saya terpaksa memberitahu Mbak Nur bahwa saya tidak jadi main ke rumah. Tidak disangka, ternyata Mbak Nur lah yang menyempatkan diri ke hotel, menemui murid-muridnya di Kelas Penulis Tangguh dan juga Kelas Merah Jambu. Hiksss, jadi terharu...

"Ini, aku bawain kue buatanku," kata Mbak Nur, yang mendadak membuat saya ingin bikin pantun.

Jalan-jalan ke Kalimantan
Pulau Derawan wajib dikunjungi
Orang kelaparan disodori makanan
Apa gerangan yang akan terjadi?

"Huaaaah, Mbak Nuuuuur... Bikin terharu, niiiiih...." Kata saya, seraya mencomot satu kue dan memakannya dengan lahap. Nyam, nyam, nyam... Enyaaaak.... :D :D

Maghrib menjelang. Belum puas mengobrol dan foto-foto, grab pesanan Mbak Nur  datang. Setelah cipika cipiki, Mbak Nur pun pamit pulang. Saya mengantar Mbak Nur sampai di depan teras hotel. Daaah, Mbak Nur. Sampai ketemu lagi, yaaaa.... ^__^


Bersama Mbak Nurhayati Pujiastuti

Tepat ketika saya akan masuk kembali ke lobi hotel, tampak sebuah taksi berhenti dan sesosok ibu cantik yang sangat familiar ke luar dari dalamnya.

"Bunda Sofie!" Pekik saya, seraya berlari menyambut beliau.

Bunda Sofie adalah mentor saya selama workshop Room to Read di Lembang dulu. Beruntung saya bisa bertemu dan menimba ilmu kembali dari beliau, yang di kesempatan kali ini merupakan pengisi materi pertama pada pembekalan Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi.

Sementara Bunda Sofie check ini ditemani Mbak Ranny dan Bu Retno (salah satu pemateri juga), saya dan teman-teman lain kembali ke kamar masing-masing, untuk shalat dan bersiap-siap makan malam.

1: Menulis Cerita Anak Berlatar Budaya 

Usai makan malam, kami langsung memasuki ruang pembekalan/workshop, yang letaknya bersebelahan dengan restoran hotel. Setelah pembukaan, materi pertama yang diisi oleh Bunda Sofie Dewayanie pun dimulai.

Materi diawali dengan peran cerita anak. Bunda Sofie menampilkan slide berupa gambar jendela, cermin, dan pintu. Peserta lalu diminta untuk menarasikan peran cerita anak berdasarkan gambar jendela, cermin, dan pintu tersebut. Dari sini didapat kesimpulan, bahwa peran cerita anak adalah sebagai jendela bagi anak untuk melihat dunia luar, cermin yang menggambarkan tentang dirinya sehingga membuatnya merasa, "Ini gue banget!", serta pintu tempat ia ke luar dengan imajinasinya, menjelajah apa-apa yang dilihatnya di dalam buku.


Mendengarkan materi sambil ngemil :D

Di dalam materinya, Bunda Sofie juga menyampaikan tentang penjenjangan buku anak, elemen cerita seperti tema, tokoh cerita, struktur cerita (tentang ini bisa dibaca di postingan saya selama mengikuti workshop Room to Read), alur emosi, dan Deus Ex Machina atau faktor kebetulan yang harus dihindari dalam membuat cerita.

Mengenai Deus Ex Machina, Bunda Sofie menyontohkan seperti ini:

Ada anak, ingin beli sesuatu, tapi nggak punya duit. Saat berjalan, dia nemu dompet. Ada KTP, ada alamat. Dompet dikembalikan, si anak dapat imbalan uang, bisa beli apa yang diinginkan. TAMAT. Dan ia pun hidup bahagia untuk selama-lamanya... :D

Kira-kira seperti itu.

Bunda Sofie juga menjelaskan tentang bagaimana membuat tokoh yang menarik, membuat karakter tiga dimensi, membuat alur cerita yang baik, membuat set up yang efektif, dan masiiih banyak lagi. Penasaran? Sebagian besar materi ini juga ada di postingan saya tentang workshop Room to Read ;)

Terakhir, Bunda Sofie meminta kami untuk mempresentasikan konsep buku seri budaya yang sudah kami buat. Beliau tak sungkan memberi masukan untuk konsep-konsep kami.


Peserta Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi berpose bersama Bunda Sofie(foto: Fitri Restiana)

Begitu serunya materi pertama ini, sampai-sampai waktu yang tadinya dijadwalkan selesai pukul 21.30 jadi molor sampai hampir pukul 23.00 WIB! Sebagai peserta, tentu saja kami tidak keberatan dan justru memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Jarang-jarang kan, bisa mencecap ilmu langsung dari seorang pakar di bidang buku anak?

Nah, Sobat. Itulah tadi cerita saya mengenai Serunya Mengikuti Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi di Hotel Amaroossa Grande Bekasi Bag. 1. Bagaimana cerita seru selanjutnya? Tunggu di postingan saya berikutnya, ya! ^_^


Baca juga
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


19 comments:

  1. Asyeeeek...Ada foto saya ikutan narsis haha...Bagian dua pasti ada cerita tentang tersesat..Padahal hotelnya di samping mall tp hebohnya lumayan hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, iyaaaaa, Kak. Insya Allah pasti ditulis tentang itu. Peristiwa seru yang bikin kita kayak anak ilang di bawah hujan, huhuhu... Moga lain kali bisa ngebolang bareng kita, yaaa... ^_^

      Delete
  2. Wah... Keren nih, budaya Lampung akan diperkenalkan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah, Mas Ary. Doakan, yaaa... ^_^

      Delete
  3. Weih jadi kangen deh moment selfie hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaaa, hihihi... Btw kok pas di emol kita ga selfie2 ya, Kak. Buru2 pulang aja kitanya, ya :D

      Delete
  4. Asyikkkkk ditunggu laporan berikutnya....

    ReplyDelete
  5. Aih, namaku disebut. Ga ada adegan ketok pintu, neng?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi... Itu kan malam besoknya, Uni. Insya Allah nanti postingan berikutnya, ya ^_^

      Delete
  6. Izzaaaah, kerennya ngikuti banyak pelatihan yang berkualitas. Moga makin sukses ya jeng, barakallah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... Makasih ya, Mbakkuuuu... ^_^

      Delete
    2. Aamiin... Makasih ya, Mbakkuuuu... ^_^

      Delete
  7. Replies
    1. Iyeeeesss, Kang Ali. Nuhun dah mampir ^_^

      Delete
  8. proud bisa kenal sama mba :) saya baca ini khusyu saking pengen tau ilmunya hahaha iri bgt ama mb yg produktif, kreatif keren pisan 😍😍 sukses trus y mba diantos kegiatan selanjutnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... Moga bisa keren kayak Mbak Bela Herva yang bolak balik menang lomba nulis blog, sampr bisa ke luar negeri segala. Perlu belajar banyak sayanya ^_^

      Delete
  9. Wow keren mbak, aku gak tau ada kegiatan itu.Semoga setelah pelatihan makin banyak buku2 cerita anak yg temanya adat dan budaya ya mbak :)
    Salam kenal :)

    ReplyDelete
  10. Aku nunggu bukunya jadi aja deh ya mbak :)

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)