Friday, April 28, 2017

5 Posisi Menulis Bagi Penderita Syaraf Kejepit

Rasanya seperti mimpi buruk ketika saya mendapat vonis dari dokter bahwa saya menderita syaraf kejepit pada tulang lumbal 2. Sebelumnya, saya memang sudah berkali-kali browsing di internet, mencocokkan keluhan yang saya derita, dengan gejala yang biasa dialami oleh para penderita syaraf kejepit, atau yang familiar disebut dengan Hernia Nucleus Pulposus (HNP). Ternyata hasilnya... positif.

JEGER!

Saya sempat down. Patah arang. Sedih. Kesal. Bagaimana tidak, penyakit syaraf kejepit ini sama sekali tidak terlihat dari luar, tapi sungguh menyakitkan di dalam. Orang-orang melihat saya segar bugar, maju mundur syantik, tapi dalamnya ringkih seperti ranting kering yang terinjak sedikit langsung patah.

KRAK!

Alhasil, jika orang tidak tahu dengan kondisi saya, akan merasa heran. Melihat saya yang kadang tidak banyak melakukan aktivitas, tapi sering sakit-sakitan.

Masak baru begitu saja sudah capek? 
Cuma duduk-duduk kok pegel? 
Cuma berdiri nggak ngapa-ngapain kok, ngilu?  Oh, sedihnya... Rasanya seperti tak berguna. Ingin energik seperti dulu, aktif seperti orang-orang, apalah daya kondisi tak mengijinkan. Jikalau pun dipaksakan, maka sudah bisa dipastikan hanya ada dua pilihan: guling-guling tak bisa tidur sepanjang malam dengan air mata bercucuran, atau meminum obat pereda nyeri yang efeknya membuat lambung perih kelebihan asam.

Selain itu, penyakit syaraf kejepit juga merupakan musuh utama bagi seorang penulis seperti saya. Sepuluh menit saja saya duduk di depan komputer, maka saya harus mengucapkan selamat datang kepada ngilu di punggung yang menjalar hingga panggul, hingga paha, hingga betis, hingga telapak kaki. Hal ini tentu menjadi hambatan sekaligus tantangan bagi saya untuk mencari cara agar bisa tetap penulis. Terutama soal bagaimana posisi menulis yang aman bagi penyakit saya.

Nah, berikut 5 Posisi Menulis Bagi Penderita Syaraf Kejepit yang sudah saya praktikkan dan dilakukan secara bergantian:

1. Duduk tegak di kursi dengan punggung diganjal bantal
Ketika duduk di kursi menulis, sulit sekali bagi saya untuk duduk tegak dalam waktu yang lama. Pungung dan panggul terasa nyeri dan pinginnya nggelosor terus. Kalo bahasa suami saya kelosotan apa gitu, ya? Hehe... Intinya bersandar dengan punggung membungkuk gitu, deh... Padahal, posisi itu dapat membuat nyeri di punggung semakin parah. Untuk mengatasi hal tersebut, biasanya bagian punggung saya ganjal bantal, atau bisa juga diberi bantal guling dengan posisi melintang. Akan lebih baik lagi jika di bawah lutut juga diberi bantal guling. Jadi, seolah duduk di kursi yang ada lubang pada dudukannya. Seperti kursinya Opa Roald Dahl, hehehe...

2. Duduk dengan posisi seperti tasyahud awal shalat (bedanya jari kaki tidak ditekuk)
Posisi ini biasanya saya lakukan jika menulis di meja pendek/lesehan. Intinya saya berusaha membuat tulang punggung tegak. Posisi ini, jika istikomah, biasanya bisa membuat saya bertahan menulis kurang lebih satu jam. Itu pun saya selingi dengan sekali-kali tidur lurus telentang di lantai, sambil menekuk kaki hingga lutut menyentuh dada beberapa kali. Setelah itu, baru lanjut lagi. Sayangnya, agak sulit untuk istikomah dengan posisi ini. Karena efeknya biasanya kesemutan pada kaki. Nggak tahan, bo... Hehehe...

3. Duduk bersandar di tempat tidur, dengan kaki selonjor
Jika menulis dengan posisi ini, biasanya saya juga menambahkan bantal di punggung. Yah, sampai terasa nyaman deh, pastinya. Setelah itu, laptop dipangku dengan dialasi buku tebal, atau diletakkan di meja kecil. Seperti pasien rumah sakit kalau sedang makan, hehehe...

4. Tengkurap/telengkup
Menulis dengan posisi ini, biasanya saya meletakkan bantal tidur atau bantal guling di bawah dada dan ketiak. Posisi ini nyaman untuk tulang belakang. Akan tetapi, ia juga dapat menyebabkan rasa pegal pada leher dan pundak.

5. Tidur telentang
Posisi menulis dengan tidur telentang memang sedikit aneh. Tapi ini menjadi salah satu solusi bagi saya agar bisa terus menulis. Cara melakukan posisi ini adalah tidur telentang dengan bantal di bawah kepala, kaki ditekuk (lutut menghadap ke atas), kaki kanan disilangkan ke kaki kiri, laptop ditaruh di atas perut yang sudah dialasi buku tebal, kemudian disandarkan ke paha dengan posisi miring.

Itulah tadi 5 Posisi Menulis Bagi Penderita Syaraf Kejepit yang saya lakukan. Mudah-mudahan dapat membantu teman-teman dengan penyakit yang sama seperti saya. Semoga kita semua diberi kekuatan dan kesembuhan serta selalu semangat berkarya.

SEMANGAT! ^___^
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


13 comments:

  1. Gejalanya seperti apa sih maak? Jadi takut akuuuh

    ReplyDelete
  2. Semangat mba, selagi ada kemauan pasti ada jalan. Pernah baca artikel tentang seorang yang tidak punya kaki bisa jadi atlet lari.

    ReplyDelete
  3. Gaya2nya sudah sering aku praktikan juga selama ini karena nggak bisa duduk lama satu posisi..

    Btw. Semangat ya Mba Izzah 😚

    ReplyDelete
  4. Semoga Allah lekas memberi jalan kesembuhan ya mbak.
    Agak bisa menulis buku lebih banyak lagi,
    Biar cepet terwujud mimpi keliling Eropa nya :)

    ReplyDelete
  5. Syafakiah ya semoga lekas membaik. Udah coba akupuntur?

    ReplyDelete
  6. Tetap semangat nulisnya mba..

    ReplyDelete
  7. lekas sembuh mba-yu syantiek semoga Alloh sll kasi kemudahan sll agar mba terus produktif aamiin 😘

    ReplyDelete
  8. Bunda penyebab syaraf kejepit itu apa ? Terima kasih ya tipsnya. Semoga bunda cepat sembuh 😃

    ReplyDelete
  9. Semoga tetap semangat bismillah ya, penulis unyuuu.. dan semoga selalu sehat. Aamiin

    ReplyDelete
  10. tetap strong mbak, berbagi dan senantiasa bermanfaat untuk orang lain

    ReplyDelete
  11. temenku juga baru aja operasi syaraf kejepit mbak..baru tahap pemulihan...tipsnya bisa kukasih ke dia

    ReplyDelete
  12. nggak bisa dianggap sepele ya kalo udh syaraf terjepit

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)