Tuesday, April 25, 2017

[Cerita Hikmah] Pelajaran dari Tukang Sol Sepatu

Siang itu, saya bersiap-siap keluar rumah untuk berangkat ke tempat kursus. Melangkah ke teras, sesaat saya memandangi sepatu yang sedang saya pakai.

"Bapak, apa bunda beli sepatu baru, ya? Sepatu bunda udah lama, nih. Udah minta diganti," ujar saya pada suami.

Suami melirik sepatu saya.

"Iya, Sayang. Belilah," jawabnya.

Meski tak serius dengan keinginan membeli sepatu, saya merasa senang dengan jawaban suami. Dengan senyum terkembang, saya pun berpamitan.


Sumber: kaskus.co.id


Matahari bersinar garang ketika saya melangkahkan kaki menyusuri gang perumahan, menuju jalan utama kompleks. Saya pun berjalan tergesa, seraya menundukkan kepala, menghindari sengatan cahaya matahari yang panas membara.

Saat sejenak mengangkat wajah, tampak sosok seorang bapak tua yang berprofesi sebagai tukang sol sepatu, berjalan tak jauh di depan saya. Ia terseok terseok, terbungkuk-bungkuk, memikul kotak kayu tempat menyimpan alat sol di pundaknya.  Setiap kali melangkah, ia meninggalkan jejak suara yang cukup jelas terdengar.

SREK...
SREK...
SREK...

Spontan tatapan saya beralih ke sepatu bapak tersebut. Sepatu kanvas yang mestinya berwarna hitam, namun lusuh berbalut debu sehingga membuatnya terlihat berwarna keabuan. Bagian tumitnya sudah sangat menipis dan bisa jadi bawahnya sudah berlubang. 

Kasihannya...

Saya melambatkan kaki. Bapak tukang sol di depan saya berhenti. Terengah-engah, ia menepi. Panas dan lelah membuatnya memutuskan untuk berteduh. Dilepasnya topi hitam yang bertengger di kepalanya, menyeka keringat di dahi, lalu mengipas-ngipaskan topi itu ke wajahnya. Mungkin hidungnya tak sanggup lagi menyuplai udara ke rongga dada, bapak itu bernapas pula dengan mulutnya.

Eeeeh pfuuuh...
Eeeeh pfuuuh...

"Mari, Pak..." Saya tersenyum menyapanya, seraya menganggukkan kepala.
"Mari, Neng, mari..." Jawabnya.

Saya kembali melanjutkan perjalanan, dengan kepala tertunduk. Menekuri sepasang sepatu di kaki yang sempat saya mintakan izin pada suami untuk diganti yang baru. Tak disangka, pertemuan saya dengan bapak tukang sol sepatu itu membuat perubahan di dalam diri saya. Saya yang tadinya sempat mengeluh dengan kondisi sepatu saya, akhirnya malah bersyukur dan lapang menerima. Betapa saya masih jauh lebih beruntung dibanding bapak tukang sol sepatu itu. Saya memiliki sepatu yang mengilap dan masih terlihat baru. Ia juga nyaman dipakai dan tentu saja tumitnya tidak berlubang. Alhamdulillah.
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


1 comment:

  1. begitulah cara Alloh memberikan sign y mba dipertemukan untuk mengubah keinginan kita dan menjadikan kita bersyukur. aku jg suka pny hasrat pgn something tp lalu Alloh pny jalan bwtku yg akhirnya mikir lalu niatnya urung.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)