Tuesday, April 18, 2017

Serunya Mengikuti Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi di Hotel Amaroossa Grande Bekasi Bag. 2

Hi, Sobat Jejak, assalamualaikum. Alhamdulillah. Akhirnya saya bisa melanjutkan kembali cerita seru ketika mengikuti workshop atau pembekalan teknis seri pengenalan budaya kepercayaan dan tradisi di Hotel Amaroossa Grande Bekasi, yang diselenggarakan oleh Kemdikbud.

Bagaimana ceritanya? Langsung saja, ya ;)

Malam telah larut ketika materi workshop hari pertama berakhir. Rasa senang, lelah, dan mengantuk, jadi satu saat saya dan roomate kembali ke kamar. Langkah kami gegas memasuki ruang lift, yang beberapa saat kemudian mulai bergerak naik.

"Huaah, ternyata udah jam sebelas lewat!" Pekik saya, sembari menghempaskan badan di tempat tidur.

Ingiiin rasanya saya segera memejamkan mata, ketika tubuh mendarat di kasur Amaroossa yang hangat dan empuk. Namun, rasanya tidak nyaman jika harus tidur tanpa terlebih dahulu mencuci tangan, kaki, dan membersihkan wajah. Karenanya, walau sedikit enggan, saya pun bangun dan berjalan gontai menuju kamar mandi. Bersih-bersih dan berwudhu. Lalu, tanpa harus menunggu lama, kasur empuk dan selimut hangat Hotel Amaroossa Grande Bekasi sukses membenamkan saya ke alam mimpi. ZzzzZzzzz....

Sudut kamar di Hotel Amaroossa Grande Bekasi

Misteri Dinding Bersiul

Keesokan paginya, saya bangun dengan tubuh segar dan hati riang penuh semangat. Memasuki kamar mandi hotel yang cukup luas, sesaat pandangan saya menyisir interiornya. Sebuah wastafel besar berada tepat di depan pintu, dengan cerminnya yang juga besar. Sepaket toiletries yang sayangnya entah kenapa tidak disiapkan untuk dua orang tamu (kecuali shampo dan handuk) diletakkan di sisi kanan wash basin.  Lalu ada closed di sebelah kanan, dan shower yang dibatasi dinding kaca di sebelah kiri.

Pandangan saya kemudian menyusuri dinding kamar mandi (jelalatan banget yah, di kamar mandi :D) yang dilapisi marmer berwarna hitam. Warna yang bagi saya cukup "menyeramkan" untuk sebuah dinding, karena memberi nuansa gelap dan suram. Memang sih, kalau saya perhatikan, Hotel Amaroossa Grande Bekasi ini konsepnya romantis, dengan pencahayaan yang dibuat syahdu remang-remang. Yah, romantis bagi pasangan yang hendak berbulan madu, tentunya. Namun, bagi saya yang penyuka ruangan terang benderang, suasana seperti ini malah memberi terkesan...seram.... *backsound lolongan srigala*

Saya baru akan memulai ritual mandi ketika dari arah dinding tiba-tiba terdengar suara siulan.

Hah! Siulan?

Iya. Siulan!

Siulan yang sangat jelas terdengar, membentuk semacam nada atau nyanyian.

Berbagai macam pertanyaan seketika bermunculan di kepala saya. Tentu saja ditambah dengan drama kuduk meremang dan tengkuk  yang siwer-siwer bagai terkena hempasan hawa dingin dari dalam kulkas yang baru dibuka.

Si-siapa itu ya, yang bersiul?
Dari mana asalnya?
Apakah dari dalam dinding?
Atau dari sebelah dinding?
Mengapa sampai terdengar dari kamar mandi?

Sesaat kemudian, suara siulan itu lenyap. Saya mencoba berpikir positif. Mungkin saja itu hanya suara siulan penghuni kamar sebelah. Mungkin kamar mandi ini dindingnya tidak kedap sehingga suara siulan itu terdengar.

"Mbak, tadi saya denger suara siulan lho, dari kamar mandi," ujar saya pada Mbak Fitri, roomate saya, usai shalat subuh dan dandan syantik.

"Oh, ya?" Sahut Mbak Fitri tanpa menoleh. Beliau sedang asyik ketak ketik di keypad HP.

Tak ingin mengganggu keasyikan Mbak Fitri, saya pun mencari kesibukan. Mengeluarkan kertas-kertas berisi materi workshop dan membacanya. Namun, tubuh saya mendadak menegang dan bulu kuduk pun meremang. Suara siulan misterius itu kembali terdengar. Bahkan, kali ini suara itu terdengar sangat jelas.... dan sangat dekat!

"Hah!? Jadi titu tadi suara siulan Mbak?"

"He em."

Aaaaaarghhhh.... >_<


Materi Sesi 2: 


Menyesap pagi di Hotel Amaroossa Grande Bekasi

Usai sarapan, para peserta pun masuk ke ruang workshop. Di kursi depan, tiga orang pemateri sudah bersiap-siap memberikan materi. Kali ini materinya adalah tentang:
1. Perilaku Membaca pada Anak-anak dari Sudut Pandang Psikologis
2. Teknik Penulisan Cerita Anak
3. Penulisan Buku Cerita Anak Terkait dengan Kurikulum dan Perbukuan

Weew, agak ngeri-ngeri sedap ya, membaca judul-judul materinya. Hehehe... Tapi tenang saja, materinya asyik-asyik. Apalagi disampaikan oleh para pemateri yang mumpuni dan berpengalaman di bidangnya.

Materi sesi 2 yang pertama, yaitu Perilaku Membaca pada Anak-anak dari Sudut Pandang Psikologis, disampaikan oleh Bu Dwi Retno Aryanti, S.Psi., yang syantik dan fashionable rapi jali-jali.

Gaya Bu Retno yang anggun, bahasa yang sangat tertata, intonasi suara yang enak didengar, serta penguasaan materi yang tidak diragukan, membuat saya merasa betah mendengarkan pemaparan beliau.

Kata Bu Retno, tantangan bagi penulis buku anak di antaranya adalah bagaimana membuat anak tertarik membaca buku yang ditulis. Secara bo, jaman sekarang penulis kudu saingan dengan yang namanya gadget, time zone, TV, dan lain-lain. Karenanya, penting bagi penulis untuk bisa menimbulkan semacam setrum atau kejutan di dalam tulisannya, sehingga dapat membuat anak-anak tertarik membaca.

Akan tetapi, tentu tidak semua anak enggan membaca buku. Karena, tak sedikit anak-anak yang sangat gemar bahkan gila membaca. Ironisnya, tak sedikit pula anak-anak yang gemar membaca namun sulit mendapatkan fasilitas buku untuk baca. Misalnya, anak-anak yang tinggal di pedesaan atau daerah-daerah terpencil. Hiks, saya jadi terharu melihat slide bergambar tiga anak yang membawa poster bertuliskan, "Please, save my/our library" dengan background rak buku yang kosong melompong.

Tunggu buku-buku hasil karya penulis Serial Budaya Kepercayaan dan Tradisi Kemdikbud ya, Dek adek... T_T

Selanjutnya, Bu Retno juga memaparkan tentang perilaku pembaca anak berdasarkan rentang usianya. Perilaku ini harus dipahami oleh penulis, agar dapat menentukan kesesuaian tulisan yang dibuat dengan target pembaca.

Peserta dan sebagian pemateri Workshop Kemdikbud

Selanjutnya kita ke materi sesi 2 yang ke dua, yaitu Teknik Penulisan Cerita Anak. Materi ini disampaikan oleh Mbak Tethy Permanasari, atau yang dalam penulisan buku anak lebih dikenal dengan nama Tethy Ezokanzo.

Di dalam materinya, Mbak Tethy menjelaskan mengenai bagaimana menulis buku anak yang bagus dan tepat sasaran.

Sebelum menulis buku anak, terlebih dahulu penulis harus menentukan beberapa poin penting agar buku tersebut tepat sasaran. Mulai dari menentukan siapa pembacanya, usia berapa, untuk kalangan apa, tujuan buku dibuat apa, hingga perkiraan harga buku di pasaran. Mbak Tethy juga memaparkan tentang perlunya menyesuaikan buku dengan usia pembaca. Misal wordless picture book untuk usia 0-3 tahun, pictbook untuk usia 4-6 tahun, dan seterusnya.

Nah, berikut beberapa tips untuk menulis buku anak yang bagus dari Mbak Tethy:
1. Buat wajah buku menarik, mulai dari kaver, tata letak, ilustrasi, serta blurb-nya.
2. Sajikan adegan atau kalimat menghentak dan enak dibaca.
3. Gunakan pemilihan kata yang menarik namun mudah dipahami, alur yang sistematis, serta menghindari adanya pengulangan yang dapat membuat pembaca bosan.
4. Beri efek, "Aha!" untuk memberikan kesan mendalam, sehingga pembaca merasa senang, antusias, dan puas membaca bukunya.

Pada materi ini, kami juga diberitahu tentang bagaimana membuat outline, story map, pentingnya ide/gagasan, cara mencari ide cerita, penokohan, membuat detail karakter, serta membuat setting cerita. Seru deh, pokoknya. ;)

Sampai sini, materi break dulu untuk memberi kesempatan kepada peserta menikmati camilan dan minuman yang telah disediakan oleh kakak-kakak pramusaji Hotel Amaroossa yang baik hati. Makacih eaaa, Kakaak... ^_^

Selanjutnya, materi sesi 2 yang ke tiga, yaitu Penulisan Buku Cerita Anak Terkait dengan Kurikulum dan Perbukuan. Materi ini disampaikan oleh Bp. Supriyatno, S.Pd., MA dari Puskurbuk.

(Sebentar, ya. Mau peregangan otot dulu...)

Oke, kita lajut.

Materi kali ini dibuka dengan Undang-undang No. 20 Tahun 2003, tentang pengertian kurikulum. Kemudian dilanjutkan dengan Permendikbud No. 8 Tahun 2016, tentang buku yang digunakan oleh satuan pendidikan, pengertian buku teks pelajaran, dan pengertian buku non teks pelajaran. *pijet kening*

Di dalam pemaparannya, Pak Supriyatno menjelaskan mengenai kriteria buku, baik dari segi konten atau isi, penyajian, bahasa, dan kegrafikaan. Beliau juga menjelaskan tentang grafik komposisi isi buku yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, di setiap jenjang pendidikan.

Meski materi kali ini sedikit bernuansa "penataran", huehehe, namun tetap asyik untuk diikuti. Apalagi ditambah dengan derasnya arus camilan, yang entah kenapa sebagian besarnya bermuara di meja saya. Alhamdulillah... :D Selain itu, di materi ini kami juga jadi tahu tentang kriteria buku-buku yang lolos dan tidak lolos seleksi puskurbuk. Materi yang disampaikan juga diselingi dengan diskusi atau pembahasan mengenai isu-isu kekinian, semisal buku-buku kurang layak baca namun bebas beredar di pasaran, sehingga membuat peserta tidak merasa bosan.

Terakhir... Masing-masing peserta diminta untuk mempresentasikan konsep buku seri pengenalan budaya kepercayaan dan tradisi yang sudah dibuat. Again...

Tak terasa, waktu shalat dzuhur dan makan siang pun tiba. Para peserta kembali ke kamar masing-masing untuk melaksanakan shalat, istirahat sebentar, lalu turun kembali untuk makan siang bersama.

Nyobain makan salad biar kayak orang-orang. :D

Materi Sesi 2:
Setelah menuntaskan hajat ruhaniyah dan jasadiyah, para peserta workshop kembali bersiap-siap mencecap nutrisi penuh gizi bagi fikriyah. Kali ini, materinya adalah tentang:
1. Metode Pengumpulan Data dalam Penulisan Upacara Adat dan Cerita Rakyat.
2. Rangkaian Proses Penerbitan Buku Cerita Anak.
3. Teknik Pengemasan Cerita dan Penyusunan Ilustrasi.

Sobat Jejak sudah siap menyimak materi sesi ini? Kalau sudah siap, markijut, mari kita lanjut. ;)

Materi sesi 3 yang pertama, yaitu Metode Pengumpulan Data dalam Penulisan Upacara Adat dan Cerita Rakyat, disampaikan oleh Bp. Dr. Semiarto Aji Purwanto. Beliau adalah dosen di Universitas Indonesia.

Jujur kacang ijo, awalnya saya agak mengkeret begitu membaca judul materi kali ini. Bagaimana tidak, kata "metode" itu entah kenapa mendadak saja mengingatkan saya pada mata kuliah metodologi penelitian yang amit-amit semasa kuliah, wkwkwk...

Tapiiii... Ternyata saya salah, sodara-sodara. Karena kenyataannya, materi kali ini pun tidak kalah menyenangkan. Meskipun mata agak kriyep-kriyep ya maklumlah malamnya saya kurang tidur, plus hari sudah siang, plus perut dalam kondisi kenyang. Tapi beneran, materi kali ini tetap saya perhatikan dan dengarkan dengan segenap kemampuan mata dan telinga. :D

Di awal kuliahnya, eh, materinya, Pak Semi meminta peserta untuk membedakan antara upacara sakral dan upacara profan. Apa itu upacara sakral dan upacara profan? Upacara sakral adalah upacara yang berkaitan dengan simbol dan perilaku keagamaan serta sistem kepercayaan semisal keyakinan mengenai adanya kekuatan supranatural, ajaran, dan lain sebagainya. Sementara upacara profan adalah upacara yang merupakan bagian dari keseharian, atau ikatan perilaku yang harus ditampilkan individu.

Ketika melakukan survei sebuah upacara, kata Pak Semi, ada beberapa hal penting yang sebaiknya dilist untuk digali secara mendalam oleh penyurvei, yaitu unsur-unsur upacara yang meliputi: gerakan dan kata-kata khusus, peafalan teks khusus, musik, lagu, tarian, prosesi atau arak-arakan, manipulasi obyek tertentu, pakaian khusus, makanan, minuman, dan lain-lain yang sifatnya khusus, atau hanya ada di upacara tersebut.

Adapun untuk mendapatkan informasi mengenai upacara tersebut, ada tiga informan yang sebaiknya diwawancarai oleh penyurvei, yaitu pemimpin upacaranya, peserta, serta penonton. Metode penelitian sendiri bisa dilakukan dengan cara wawancara mendalam, pengamatan, dan pengamatan terlibat, dimana penyurvei ikut serta di dalam jalannya upacara.

Dalam hal menganalisis simbol, Pak Semi mengatakan bahwa hal yang sebaiknya dilakukan adalah: pahami idiom, bahasa, dan konsep lokal; gunakan sudut pandang setempat untuk menerjemahkan simbol (emic), tanyakan arti atau makna upacara tersebut bagi mereka (informan), bukan makna dari sudut pandang penyurvei. Terakhir, tejemahkan simbol dengan temuan lain dan konteks lokal (etic) --> repeat please...

Ukeeyy... Selesai. Kita lanjut materi sesi 3 yang ke dua, yaitu Rangkaian Proses Penerbitan Buku Cerita Anak., yang disampaikan oleh editor penerbit yang akan menerbitkan buku seri pengenalan budaya kepercayaan dan tradisi, Mbak Pradikha Bestari yang lincah dan unyu-unyuuuu... Asli deh, tadinya saya kira emak-emak berumur, nggak taunya masih muda bangeeet... (entah kalo Mbak Dikha emang awet muda tapi, ya...)

Di materi ini, Mbak Dika menjelaskan tentang perjalanan sebuah naskah hingga ia menjadi buku, mulai dari penentuan tema, survei atau turun lapangan, penulisan, pemberian panduan ilustrasi, editing awal, lalu evaluasi, layout, cek akhir, lalu editing lagi jika ada yang perlu diedit, sampai akhirnyaaa, setelah si naskah mendaki gunung lewati lembah, jadilah ia Ninja Hatori, eh, buku yang layak terbit dan dibaca oleh anak-anak di seluruh nusantara.

Mbak Dikha juga menjelaskan mengenai karakteristik tokoh dan buku yang akan kami buat nanti, yang dalam hal ini tokoh utamanya adalah Panca, sementara bukunya adalah jenis faksi atau campuran fakta dan fiksi. Diharapkan buku ini nantinya akan menjadi bacaan bermutu yang menarik dan sesuai target, serta harmonis, enak dibaca, dan menghibur mata dengan visualisasinya yang indah surendah.

Ngomong-ngomong soal visualisasi naskah, panitia workshop mendatangkan seorang kakak ilustrator yang cetar membahana badai, yang karya-karyanya sudah banyaaak menghiasi buku-buku para penulis di Indonesia, siapa lagi kalau bukan Kak Dwi Prihartono dari Inner Child. Di sesi ini, Kak Dwi akan menyampaikan materi tentang Teknik Pengemasan Cerita dan Penyusunan Ilustrasi.

Di dalam materinya, Kak Dwi menjelaskan tentang apa itu istilah single dan spread, apa yang dimaksud dengan blok dan brush, juga perbedaan antara detail dan tekstur. Kak Dwi juga menyampaikan tentang hal yang perlu dihindari dalam menciptakan harmonisasi antara teks dan ilustrasi, di mana teks sebaiknya tidak menabrak ilustrasi. Intinya tentang ilustrasi buku gitu, deh... Hehehe... :D

Tak terasa, sudah waktunya shalat ashar dan materi workshop pun sudah selesai. Para peserta kemudian bubar jalan untuk shalat, istirahat, mandi, dan bersiap-siap makan malam. Agenda setelah makan malam adalah penutupan dan penandatanganan surat kontrak penulisan seri pengenalan budaya kepercayaan dan tradisi Kemdikbud.

Cukup ditandatangani ya, Dek Izzah. Nggak perlu digambar-gambar. :D

Oh, iya. Ada cerita lucu ketika saya, Mbak Fitri, Uni Novia, dan Uni Eci akan turun bersama ke ground floor untuk makan malam. Ketika itu, kami menunggu lift buka. Sambil menunggu, saya duduk di sofa yang disediakan di depan lift. Ngantuk sekali, rasanya. Sementara itu, Mbak Fitri iseng melihat-lihat ke arah ruangan sebelah kami, yang pintunya terbuka. Pintu ruangan itu letaknya di sisi kiri sofa yang saya duduki. Tanpa diduga, wajah Mbak Fitri mendadak terlihat syok seolah baru melihat sesuatu yang menyeramkan.

"Kenapa, Mbak Fit?" Tanya saya dengan jantung yang seperti kodok berlompatan.

Mbak Fitri tidak menjawab. Hanya menunjuk ke arah yang tadi dilihatnya, seraya berjalan ke arah sisi kanan saya.

Saya mulai tegang. Otak sudah mulai membayangkan yang tidak-tidak. Lalu ketika sedang tegang-tegangnya, tiba-tiba muncul sesosok yang sangat mengerikan!

"Aaaaaaaa.....!"

Saya spontan berteriak kencang seraya menaikkan kaki ke sofa. Ya Allah, hancur sudah reputasi saya sebagai wanita anggun tertata, uhuk!

Lalu, dengan santainya, sosok mengerikan yang ternyata seorang bell boy berjalan melewati saya dan berkata, "Gue kenapa ya, kok ini pada teriak-teriak?"

Dan, semua terpingkal-pingkal, terduduk-duduk, menertawakan saya.

OH, MY GOD! >_< Tolong terangin lampunyaaaah.... T_T

Keesokan harinya, para peserta sarapan bersama sebelum check out dan masing-masing melakukan perjalanan menuju bandara Soekarno Hatta, utnuk kemudian tebang menuju provinsi asalnya. Hikss, sedih, deh... Sampai ketemu lagi, yaaa.... Semoga dimudahkan proses survei dan penulisan naskahnya.

Akhirnya, terimakasih tak terhingga saya haturkan kepada Forum Penulis Bacaan Anak yang telah memilih kami sebagai kandidat peserta di seleksi awal; Kemdikbud yang telah memilih kami semua sebagai peserta, Mbak Ranny, Pak Gurito, para pemateri, dan teman-teman peserta workshop: Mbak Beby, Omacan Syamsiah, Bang Azhari, Uni Novia, Uni Eci, Uni Maya, Mbak Agnes, Mbak Yulita, Kak Citra, Kak Ruziana, Kak Sri Murni, Kak Desri, Kak Viska, Bang Elvi, Kak Suhendra, Mbak Fitri, Kak Suwanda; para pemateri atas ilmunya yang sangat bermanfaat, Hotel Amaroossa Bekasi atas servisnya yang menyenangkan, dan semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Beneran. Saya bahagia banget bisa ikut workshop seru ini. Dan syukur pada Allah yang telah membuat kebahagiaan saya semakin sempurna, dengan kabar gembira yang saya peroleh dari editor tepat disaat check in di Bandara Soekarno Hatta. Kabar gembira itu berupa...

Naik cetaknya buku saya berjudul Komik 10 Sahabat Dijamin Masuk Surga yang alhamdulillah sekarang sudah terbit. Nggak nyuruh beli, sih... Tapi kalau ada yang berminat, ya monggo banget ... Harganya Rp. 90.000,- bonus happy saat membacanya ^___^

Komik 10 Sahabat yang Dijamin Masuk Surga

Baca juga: 
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


5 comments:

  1. lalu aku mikirin yg bersiul itu sopo mb?hahaha
    barakallah mba semakin sukses n produktif karyanya terus cetar n bermanfaat aamiin kereen #proud

    ReplyDelete
  2. lalu suara siulan siapa itu, mbak?
    *malah fokus sama siulan ehehe

    Seru banget ya workshopnya.

    ReplyDelete
  3. Hahha aduuh kenapa sampai naik ke sofa kakinya? Membayangkan komiknya :D

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)