Saturday, May 20, 2017

Racikan Rindu dalam Jamu Buatan Ibu

Ada banyak hal yang membuat saya teringat akan sosok ibu. Satu di antaranya adalah jamu.

Sejujurnya, sejak kecil saya adalah sosok aktif yang gampang sakit. Main hujan-hujanan, flu. Main air di kolam, gatal-gatal. Makan rujak mangga bersama teman-teman, sakit perut. Kecapekan, kena tyvus. Telat makan, magh kumat. Haduh, dipikir-pikir kasihan ibu saya, yang jadi repot dikarenakan harus mengurus saya yang bolak balik sakit.

Untuk menjaga kesehatan tubuh saya, ibu rajin membuatkan jamu-jamu tradisional semisal beras kencur, kunyit asam, sari temulawak, rebusan jahe gula merah, dan telur ayam kampung campur madu. Ibu terkadang juga meminumkan minuman yang pahitnya super duper sampai terbawa mimpi, yaitu brotowali. Bahan-bahan untuk membuat minuman itu sendiri semuanya ditanam ibu di kebun atau pun pekarangan rumah. Ibu sangat tahu, bahan mana yang dibutuhkan untuk mengobati saya, ataupun  anggota keluarga lainnya.

Pernah suatu ketika, perut saya kembung luar biasa. Ulu hati sakit. Mual dan saya vomit berkali-kali tanpa bisa ditahan. Diberi minum, vomit lagi, minum, vomit lagi. Begitu seterusnya.

Melihat kondisi saya, bergegas ibu ke pekarangan samping rumah, mengambil daun pohon kayu putih serta menggali rimpang temulawak. Kemudian, dengan cekatan, ibu membalurkan daun kayu putih yang sudah diremas ke perut saya. Rasa hangat daun kayu putih pun terasa, memberi rasa nyaman di perut saya. Selanjutnya, ibu mencuci, mengupas, dan memarut temulawak yang baru diunduhnya, menyiramnya dengan air panas dan memerasnya. Setelah menambahkan sesendok madu, ibu kemudian meminumkan air perasan itu kepada saya. Alhamdulillah, mual dan nyeri di ulu hati berkurang dan vomit pun berhenti.

Setiap kali teringat racikan jamu ibu, hati saya selalu dipenuhi oleh perasaan rindu sekaligus haru. Haru pada ingatan akan betapa seorang ibu mau bersusah payah melakukan sesuatu untuk anaknya. Sayangnya, ketelatenan ibu dalam hal itu tidak menurun kepada saya. Tentu saja, ribet dan tidak praktis adalah alasan utamanya. Karenanya, saya lebih suka membeli jamu yang sudah jadi. Baik jamu gendong, maupun jamu sachet yang saya beli di toko atau mall.

Kini, setelah menjadi ibu rumah tangga dan berprofesi sebagai penulis, yang namanya penyakit kembung dan magh masih sering menghampiri. Apalagi kalau sedang ada deadline menulis. Begadang, telat makan, lupa minum, mengetik berjam-jam, langsung membuat tubuh saya ngedrop bagai HP yang berjam-jam dipakai tapi lupa dicas. Karenanya, saya selalu mengusahakan untuk stok obat-obatan atau jamu, di antaranya Herbadrink Sari Temulawak.

Herbadrink Sari Temulawak

Jamu yang diproduksi oleh PT. Konimex Pharmaceutical Laboratories ini biasanya saya beli di swalayan dalam bentuk kemasan kotak berisi 5 sachet. Rasanya persis air perasan temulawak yang dibuat ibu saya. Bahkan cenderung lebih segar sehingga terkadang saya jadikan minuman pengganti teh atau kopi, untuk menemani saya menulis. Banyak khasiat yang saya rasakan dari mengonsumsi jamu Sari Temulawak ini, termasuk ketika tubuh saya ngedrop sepulang dari survey penulisan buku cerita anak selama empat hari di Lampung Timur.

Waktu itu, saya pulang dari Lampung Timur dalam keadaan sakit dan lelah. Kepala pusing, perut kembung, dan badan tersa ngilu semua. Namun, belum sempat istirahat banyak, aktivitas masih harus berlanjut dengan ujian kursus Bahasa Inggris. Lalu saat pulang ujian, saya mendapat email dari editor. Berisi permintaan untuk segera mengirimkan data buku yang akan diikutsertakan dalam seleksi pameran buku di Beijing dan Frankfurt. Widiiih, langsung deh, berjuta rasanya. Antara senang bercampur jadi satu dengan mual dan keliyengan.

Malamnya, saya mengerjakan data yang diminta editor dengan ditemani jamu Herbadrink Sari Temulawak panas yang dibuatkan oleh suami. Alhamdulillah, rasa pusing dan mual perlahan hilang. Ngilu pada sendi-sendi pun mulai berkurang. Senang sekali akhirnya bisa menyelesaikan data buku dan mengirimkannya ke email editor pada waktu sesuai yang saya janjikan. Yah, sudah semestinya saya berterimakasih pada suami, atas seduhan jamu Sari Temulawak yang jelas sehat karena dibuat bebas gula.

Nikmat diminum panas maupun dingin

Kalau bicara soal khasiat, temulawak memang sudah tidak lagi diragukan. Temulawak mengandung katagoga yang terbukti dapat menjaga kesehatan fungsi hati. Selain itu, temulawak juga dapat meredakan sakit magh, mengurangi radang pada sendi, menurunkan kadar kolesterol, menyehatkan pencernaan, dan lain sebagainya. Karenanya, tak heran, jika temulawak jamak dijual baik dalam kemasan botolan maupun sachet seperti Herbadrink Sari Temulawak. Selain berkhasiat, temulawak juga nikmat diminum baik dengan campuran air panas maupun dingin.



Soal rasa, anak saya, Syahid, cukup mampu beradaptasi dengan rasa Herbadrink Sari Temulawak. Buktinya, ia yang tidak doyan minum jamu, ternyata mau minum Herbadrink.

"Enak juga ya, Nda, minum sari temulawak. Nggak terasa kayak jamu," komentar Syahid, anak saya, saat saya memberikan segelas Herbadrink Sari Temulawak padanya.

Alhamdulillah, semoga dapat menjadi satu bentuk ikhtiar untuk menjaga kesehatan saya dan keluarga, sehingga senantiasa dapat beraktivitas sebagaimana mestinya.
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


7 comments:

  1. Neyna jg suka mba kek abang Syahid krn emg rasanya ga kek jamu seger aplg klo aku bikin dr air dingin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ya, Mbak. Diminum dingin lebih nyes ^_^

      Delete
  2. Praktis yaa jamu zaman sekarang tinggal glep..

    ReplyDelete
  3. Aku juga suka minum jamu, dulu Ibu suka buatkan jamu untuk obat maag. Sukses ya lombanya.

    ReplyDelete
  4. aku suka minum jamu yang diseduh pake madu dan telor ayam kmpung

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)