Friday, June 2, 2017

Pengalaman Seru Melihat Proses Mengunduh Madu

Sobat, selain rasanya yang manis dan lezat, madu juga memiliki banyak manfaat bagi orang yang mengonsumsinya. Ia mengandung obat yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan." 
(QS. An Nahl: 68 - 69)

Sayangnya, saat ini, sulit sekali ditemui madu yang benar-benar murni di pasaran. Sebagian besar telah diberi campuran air atau diberi tambahan gula merah. Nah, karenanya, saya beruntung sekali ketika mendapat kesempatan membeli madu langsung dari peternak lebah madu, yang berlokasi di Way Jepara, Lampung Timur. Selain itu, saya juga mendapatkan pengalaman seru melihat proses mengunduh madu dari sarangnya.  Seperti apa ceritanya? Yuk, kita simak! ;)

Peternak lebah madu yang saya datangi bernama Suherman. Pak Suherman telah memulai usaha ternak lebah madu ini sejak tahun 2005. 

"Tapi, waktu tahun 2005 itu masih belum banyak. Masih gelodokan," ungkap Pak Suherman.

Rupanya, Pak Suherman merasa bahwa beternak lebah madu sangat menguntungkan. Karenanya, sejak tahun 2009, Pak Suherman mulai lebih serius mengembangkan usaha ternak lebah madu ini.

Menurut Pak Suherman, keuntungan beternak lebah madu di antaranya para lebah ternak tersebut tidak memerlukan perlakuan khusus. Tidak perlu menyiapkan makan untuk mereka, karena lebah-lebah itu akan terbang sendiri, berkeliling mencari bunga untuk diambil nektarnya. 


Kotak berisi sarang-sarang lebah


Oleh Pak Suherman, madu-madu itu hanya dibuatkan rumah berupa kotak papan, dengan sebuah lubang kecil menyerupai pintu di salah satu sisi panjangnya. Antara dinding dan dasar kotak diberi sedikit celah, yang juga berfungsi untuk akses keluar masuknya lebah. Tutup bagian atas kotak dibuat bisa dilepas tutup. Dari bagian atas itulah nantinya akan dimasukkan satu demi satu sisiran-sisiran sarang lebah. Bagi lebah, sisiran -sisiran sarang ini berguna untuk tempat menggantungkan sarang-sarang yang mereka buat nanti.  Setelah semua sisiran sarang dimasukkan, barulah bagian atas kotak ditutup. Tutup kotak juga diberi potongan terpal, untuk melindungi lebah dan sarangnya dari rembesan air saat hujan.

Kata Pak Suherman, madu-madu dari lebah yang diternaknya dapat dipanen setiap satu bulan sekali. Sarang-sarang lebah akan penuh terisi madu setelah 30 hari sejak panen terakhir. Saat musim bunga, satu kotak sarang lebah dapat menghasilkan madu sebanyak 2 botol. Oleh Pak Suherman, satu botol madu dijual dengan harga Rp. 115.000,- . Pak Suherman tidak menjual sendiri madu-madu itu di pasar, melainkan kepada orang-orang yang datang membeli atau memesan.

Setelah berbincang-bincang sebentar dengan Pak Suherman, maka, tibalah waktunya untuk menyaksikan langsung proses mengunduh madu. Wah, saya deg-degan sekaligus tidak sabar ingin menyaksikan proses mengambil madunya. 

Setelah mengenakan "seragam" berupa jaring berlapis, baju tebal lengan panjang, dan sarung tangan kulit, Pak Suherman pun bersiap-siap mengunduh madu lebah. Saya yang juga ikut-ikutan memakai penutup jaring di kepala, langsung waspada dan menjaga jarak, ketika Pak Suherman membuka tutup kotak sarang lebah.

"Nggak usah takut. Nggak papa," kata Pak Suherman, berusaha meyakinkan.

Meskipun begitu, saya masih belum berani terlalu dekat. Apalagi lebah-lebah yang merasa terganggu mulai beterbangan dan berdengung dengan suara yang cukup keras.




AAAAWWW!

Saya berteriak, ketika seekor lebah hinggap di jaring yang saya pakai, tepat di depan wajah. Tangan saya mengibas-ngibas, bermaksud mengusir lebah itu pergi.

"Jangan dikibas-kibas!" Kata Pak Suherman.
"Biarin aja. Nanti dia terbang sendiri."

Weleeeh... 

Meski sempat takut dan deg-degan, lama-lama saya akhirnya terbiasa dengan lebah-lebah itu. Bahkan, saya malah merasa bahwa sangat menyenangkan dihinggapi lebah dan mendengar mereka berdengung-dengung. Rasanya seperti menjadi bagian dari mereka! Hihihi...

Saya memerhatikan proses mengunduh madu yang dilakukan oleh Pak Suherman sambil mengabadikan gambarnya dan sesekali merekamnya ke dalam video. Pak Suherman melakukan semuanya dengan perlahan dan sangat hati-hati. Tampak sekali beliau sangat menyayangi lebah-lebah tersebut. Beliau memperlakukan lebah-lebah itu layaknya hewan peliharaan seumpama kucing. Ck, ck, ck....

Satu demi satu sarang lebah yang menggantung di sisiran diiris atau dipotong dengan cutter oleh Pak Suherman. Setelah itu, Pak Suherman meletakkan sarang-sarang itu dengan hati-hati di saringan besar di atas baskom yang sudah disiapkan sebelumnya. Penasaran, saya mengambil sepotong sarang lebah berisi madu.. 

Sarang lebah berisi madu dan bee pollen


"Yang kuning seperti tepung itu namanya bee pollen," kata Pak Suherman, seraya tetap melanjutkan pekerjaannya.

Saya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Pak Suherman. Saya kemudian mencoba menyeruput madu dari sarang lebah yang saya pegang. Hmm, rasanya manis dan sedikit asam. Mirip dengan rasa madu Madurasa. Didorong rasa ingin tahu akan rasa bee pollen, saya pun mencicipinya. 

"Teksturnya juga kayak tepung ya, Pak," ujar saya.
"Iya, memang tepung. Itu untuk makanan anaknya lebah," jelas Pak Suherman.




Kata Pak Suherman, bee pollen sangat baik bagi anak-anak, terutama saat mereka masih dalam masa pertumbuhan. Mendengar penjelasan Pak Suherman, saya lagi-lagi mencicipi bee pollen di tangan saya. Yah, siapa tahu saja, pertumbuhan saya yang sudah terhenti ini bisa aktif kembali, hehehe... :D

Selanjutnya, Pak Suherman memeras sarang-sarang lebah yang berisi madu. Cairan madu yang berwarna coklat keemasan mengalir ke dalam baskom. Madu hasil perasan yang terkumpul di baskom kemudian disaring dan dimasukkan ke dalam botol. 

Madu lebah ternak


"Yaaa, nggak penuh ya Pak, botolnya."
"Iya. Soalnya ini belum 30 hari," kata Pak Suherman.

Hehe, iya juga, sih... Tadinya, saat kami bilang mau membeli madu, Pak Suherman memberikan madu yang sudah dikemas dalam botol. Tapi, karena saya dan teman-teman ingin melihat proses mengunduhnya, Pak Suherman yang baik hati pun akhirnya bersedia menunjukkannya kepada kami, meski sarang lebahnya belum berusia 30 hari dihitung dari panen terakhir. Duuh, makasih banyak ya, Paaak... ^_^

Saat ini, Pak Suherman sudah memiliki sebanyak 30 kotak lebah di pekarangan rumahnya dan 148 kotak lainnya di Pematang Pasir. Wah, terbayang kan, Sobat, hasil yang diperoleh Pak Suherman setiap kali panen? Kita doakan sukses selalu untuk Pak Suherman ya, Sobat.

Nah, bagi Sobat yang mungkin suatu hari berkesempatan datang ke Lampung Timur, jangan lupa berkunjung ke rumah Pak Suherman di Dusun Tirtosari RT 08 RW 02 No. 2 Desa Sriwangi, Way Jepara,  Lampung Timur. Selain bisa membeli madu asli untuk oleh-oleh, Sobat juga bisa memperoleh pengalaman seru melihat proses mengunduh madu, seperti yang saya abadikan di dalam video ini. :)



Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


12 comments:

  1. Seru kak.... aku jadi mupeng dan pengin bawa anak2 lihat yang beginian....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Kak, seru banget. Agak menegangkan tapi seneng ^_^

      Delete
  2. Sempet gagal fokus dengan judulnya.... Mengunduh madu, saya malah bacanya mengunduh mantu hahaha....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk... Biasanya ngundung mantu emang lebih familiar ya, Bang Okay. Tadinya mau bikin judul Download Madu, Bang, tapi ga jadi :D

      Delete
  3. Makasiih sharingnyaaaa mbaaak, jd pengen liaat langsung proses menggunduh madu. Hehehe harganya juga lebih murah drpada disini mbaak. Disini satu botolnya dibandrol dengan harga 150 ribu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-samaaaa, Mbak Lucky. Iya, madu asli emang cenderung lebih mahal. Tapi enak. Rasanya beda2 tergantung yang dimakan. Madu yang ini agak ada asem2nya gitu, tapi seger. Beberapa waktu lalu aku beli madu asli juga rasanya manis. Persis kayak madu dari pohon sialang bapakku waktu kecil. Pas kutanya, ternyata memang madu sialang.

      Delete
  4. Termasuk madu hutan gak sih? Prosesnya lumayan lama ya. Maksudnya gak langsung peras gitu ajah, kudu nunggu 30 hari untuk panen. Pantes kalau madu murni di priceza.co.id disebutkan harganya di atas 130 rb. Tapi seru banget proses panennya. Andai di dekat rumah ada peternak lebah madu juga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin agak beda kali, Mbak. Madu hutan lebih variatif makannya. Tapi, kurang tau juga, sih.... Hihihi... Iya, Mbak, wajar mahal. Ini mending, Mbak, ngambilnya jauuuh lebih gampang. Dulu waktu aku kecil, bapakku punya pohon sialang di kebon. Hampir tiap cabangnya ada beberapa sarang madu yang gedeeeee banget. Pohon sialangnya juga gedeeee banget. Akarnya menonjol ke luar dan bisa buat main petak umpet. Pohonnya ditancepin kayu untuk tangga. Ngambilnya manjat tinggi dan harus ekstra hati2, soalnya nggak bisa meluk pohon buat pegangan, secara diameter pohonnya luar biasa. Lima orang gandengan kurang buat ngelingkari pohonnya. Gede banget. Udah gitu sarang di atas ada belasan sampe puluhan. Kebayang kalo lebahnya ngamuk bareng2. Hiiyyy... Tapi madunya enaaaak banget. Waktu itu saya biasa nyeruput langsung dari sarangnya. ^_^

      Delete
  5. Memang di pasar sekarang banyak benar beredar madu palsu. Beruntung lah dirimu tinggal tak jauh dari peternakan madu Mbak hingga dapat dipastikan keaslian madunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, alhamdulillah, masih bisa nyicip madu asli. Ini juga jauh lokasinya, Mbak. Kebetulan pas saya ke Lamtim dan ada peternak lebah di sana.

      Delete
  6. Daridulu pengeeen bgt liat proses pengambilan madu itu seperti apa.. Walo sbnrnya aku jg takut sih ama lebahnya, dulu pernah disengat :p.

    Tp stlh tau kalo mau liat, jg kita pake baju pengaman, jd spertinya aku bakal berani. Kalo yg mirip sarangnya yg bentuk heksagon itu, bbrp cafe malah gunain utk tambahan minuman. Aku prnh coba di medan. Rasanya kenyal2 tapi maniiis. Dicampir k eskrim gt..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, iya, Mbak, sekarang peternak lebah rata2 pake pengaman dan lebih save ketimbang dulu. Iya, agak kenyal2 gimanaaaa gitu. Enak lagi kalo nyeruput madu langsung dari sarangnya. Kalo dah mau abis sarangnya diemut, diperes dimulut, trus dilepeh ampasnya, hehe...

      Delete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)