Tuesday, November 14, 2017

Seminar Nasional HIMPSI Lampung - Bullying dan Penanganannya

Hai, Sobat Jejak. Assalamualaikum.

Sabtu, 11 Nopember 2017, alhamdulillah saya dan dua teman dari Tapis Blogger berkesempatan menghadiri Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh HIMPSI Lampung, dengan tajuk Bullying dan Penanganannya. Hadir sebagai pemateri dalam seminar yang diadakan di Aula Fakultas Pertanian ini, Ibu Dr. Dipl. Psych. Ratna Djuwita, Psi. Beliau adalah dosen di Universitas Indonesia yang meraih gelar Doktor Psikologi dengan disertasi berjudul Dilema Saksi Perundungan: Membela Korban atau Mendukung Pelaku? Peranan Orientasi Nilai, Kebahagiaan Psikologis, dan Keyakinan Efikasi dalam perilaku Menolong Saksi Perundungan.



Seminar yang sukses mendatangkan kurang lebih 230an peserta yang berasal dari berbagai profesi seperti dosen, guru, ibu rumah tangga, dan aktivis masyarakat ini juga dihadiri oleh Drs. Sulpakar, MM., selaku Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung. Di dalam sambutannya, Bp. Sulpakar memberikan apresiasinya terhadap HIMPSI Lampung, khususnya atas terselenggaranya Seminar Nasional Bullying dan Penanganannya, mengingat maraknya kasus bullying baik di lingkungan rumah maupun sekolah. Beliau juga menyarankan agar melakukan sosialisi tentang bullying di masa pengenalan lingkungan sekolah (MOS), serta meminta HIMPSI untuk jangan ragu menghubungi diknas dalam rangka kerjasama memberikan edukasi mengenai bullying di sekolah-sekolah.

Sekilas Tentang HIMPSI Lampung
HIMPSI adalah singkatan dari Himputan Psikologi Indonesia. HIMPSI merupakan organisasi profesi psikologi Indonesia, yang didirikan pada 11 Juli 1959 dengan nama Ikatan Sarjana Psikologi (ISPsi). Nama ini kemudian diubah menjadi HIMPSI pada tahun 1998.

Kini, organisasi yang memiliki misi utama melakukan pengembangan keilmuan dan profesi psikologi di Indonesia ini telah tersebar dalam 25 wilayah provinsi di Indonesia, salah satunya di Lampung.



Di dalam sambutannya saat Seminar Nasional Bullying dan Penanganannya, Ketua HIMPSI Lampung, Ibu Renyep Proborini, M. Ed. Psi. mengatakan, bahwa HIMPSI Lampung terbentuk pada bulan Desember 2016. Walau usianya masih muda, namun, HIMPSI Lampung telah cukup banyak melakukan kegiatan sosial, di antaranya bakti sosial rehabilitasi narkoba dan pelatihan konseling untuk para polisi di Lampung. Terbentuknya HIMPSI Lampung didasari oleh rasa terpanggil untuk turut serta membantu kesehatan jiwa dan mengatasi berbagai permasalahan di Lampung.

Apa yang Dimaksud dengan Bullying?
Melalui slidenya, Bu Ratna Djuwita menuliskan bahwa bullying atau disebut juga dengan perundungan adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap seseorang atau sekelompok orang yang merasa tidak berdaya secara sengaja, dengan maksud untuk menyakiti secara fisik/verbal/psikologis.

Bullying sebenarnya merupakan gejala "alamiah" yang sudah nampak pada anak-anak sejak usia batita. Bullying yang terjadi pada anak-anak usia batita biasanya diintervensi langsung oleh orangtua dengan cara dicegah, dihentikan, dan dinasihati. Selain kemungkinan besar dapat menghentikan bullying pada saat itu juga, hal ini juga akan menginternalisasi nilai kepada anak bahwa yang namanya kekerasan bukanlah hal yang positif.

Sebaliknya, apabila pelaku bullying dibiarkan, maka si anak akan mengnternalisasikan nilai bahwa yang namanya kekerasan adalah hal yang wajar untuk dilakukan. Inilah yang menyebabkan kemungkinan berulangnya tindak bullying oleh pelaku yang sama di kemudian hari.



Bullying bisa terjadi di mana saja. Di rumah, di sekolah, di arena bermain, di jalan, di lapangan, bahkan di laman media sosial. Bullying pun bisa terjadi pada siapa saja dan ironisnya pelakunya terkadang tidak melulu mereka yang memiliki pandangan positif terhadap kekerasan. Bahkan, orang yang ngakunya benci kekerasan dan bullying pun bisa menjadi pelaku bullying. Termasuk orangtua dan juga guru.

"Aduh Nak, kamu kok kurus banget, kayak ranting pohon..."

Bullying.

"Hayo, nulisnya yang bagus, dong. Jangan kayak cakar ayam."

Bullying.

"Masak gitu aja nggak bisa!"

Bullying.

Hikssss.... :(

Penyebab Terjadinya Bullying
Menurut Bu Djuwita, penyebab terjadinya bullying di antaranya dikarenakan adanya kebutuhan anak yang tinggi untuk merasa eksis. Anak ingin diakui, dianggap punya power, hebat, wow, dan keren. Apabila kebutuhan ini tidak mendapatkan penyaluran melalui hal-hal yang positif, maka akan cenderung disalurkan pada hal-hal yang negatif. Merasa hebat jika bisa mempermalukan teman, merasa keren kalau mengejek orang, dan sebagainya.

Selain itu, kebutuhan anak akan berkelompok juga sangat tinggi. Anak cenderung melakukan sesuatu yang membuatnya bisa diterima dalam sebuah kelompok. Karenanya, peranan orangtua dan sekolah sangat penting dalam hal membimbing anak-untuk untuk mencari kelompok serta kegiatan yang akan mengarahkannya kepada hal-hal positif.

Karakteristik Pelaku Bullying
Sebagaimana penyakit yang rata-rata memiliki gejala yang bisa dikenali, demikian pula dengan pelaku bullying. Berikut karakteristik pelaku yang perlu diketahui untuk membantu kita mencegah terjadinya bullying:
1. Suka mendominasi orang lain
2. Mudah marah dan cenderung impulsif
3. Menganggap kekerasan adalah hal yang wajar
4. Empati rendah
5. Toleransi rendah / sulit menerima perbedaan
6. Seringkali pelaku pernah atau masih menjadi korban bullying
7. Seringkali pelaku merupakan orang bermasalah di sekolah, namun, kadang pula merupakan siswa yang pandai dan mudah bergaul.



Karakteristik Korban Bullying
Karakteristik korban bullying terbagi menjadi:
1. Tipe klasik, ciri-cirinya antara lain: pencemas, mudah menyerah, minder atau tidak percaya diri, dan kadang-kadang juga memiliki fisik yang lemah.
2. Tipe provokatif, yang seringkali juga merupakan korban bullying (bully victim). Ciri-cirinya antara lain: agresif, sering sengaja menyakiti orang lain, pemberontak, perilakunya sering dianggap menyebalkan oleh guru dan teman-teman, sehingga apabila ada siswa lain yang membalasnya, maka ia pun menjadi korban bullying tanpa ada yang membela.

Tanda-tanda Anak Mengalami Bullying
Anak yang mengalami bullying biasanya akan menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:
1. Enggan ke sekolah atau tempat di mana ia sering dibully
2. Sering mengalami luka/memar/sakit pada bagian tubuh/baju robek/kehilangan barang atau uang dan tidak dapat menjelaskan penyebabnya
3. Perilaku berubah menjadi pendiam, murung, cemas, dan mudah tersinggung
4. Tidak mau bercerita tentang kejadian-kejadian di sekolah
5. Prestasi menurun
6. Kadang sulit tidur
7. Mengatakan bahwa tidak punya teman.

Sobat Jejak. Kita tidak bisa mengawasi anak-anak kita selama 24 jam. Apalagi jika ia sudah memasuki usia sekolah. Saat ia luput dari pengawasan kita, bisa jadi ia mengalami bullying di luar sana. Meskipun kita semua tentunya tidak pernah berharap hal itu akan terjadi, namun, tidak ada salahnya jika bersikap "aware" terhadap anak-anak kita ya, Sobat. Apabila anak menunjukkan gejala-gejala di atas yang di luar kebiasaannya, jangan cuek, cek dan ricek barangkali ia telah mengalami tindakan bullying, sehingga hal tersebut dapat segera ditindak lanjuti.




Bagaimana Membantu Korban Bullying Secara Umum?
Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membantu korban bullying secara umum:
1. Jadilah tempat curhat bagi sanak yang menjadi korban.
Biasanya, anak yang menjadi korban bullying cenderung tertutup dan malu untuk menceritakan permasalahan yang sedang dialaminya kepada orang dewasa. Oleh karena itu, dorong ia untuk mau membuka diri. Katakan padanya bahwa ia menjadi korban bukan karena kesalahannya dan bahwa bercerita adalah langkah penting untuk membantunya keluar dari lingkaran korban.
2. Motivasi anak untuk memiliki minimal satu orang sahabat.
3. Biarkan anak mengembangkan minat dan bakatnya di luar lingkungan sekolah, untuk membangun rasa percaya dirinya.
4. Laporkan pada pihak yang bisa dipercaya dapat menyelesaikan masalah secara bijak
5. Diskusikan strategi untuk mencegah anak menjadi korban bullying dan dorong ia untuk mencoba strategi yang paling sesuai dengan kondisi yang dihadapinya.

Bagaimana Membantu Korban Bullying Usia TK-SD?
Di usia TK-SD, pelaku bullying biasanya hanya satu atau kelompok yang sangat kecil. Motivasi pelaku umumnya adalah untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, atau justru karena ingin berteman. Nah, untuk membantu anak yang menjadi korban bullying di usia ini, berikut hal yang bisa dilakukan:
1. Langsung hentikan ketika melihat kejadian berlangsung
2. Katakan pada pelaku bahwa apa yang ia lakukan tidak baik dan ajak ia berpikir tentang apa yang ia rasakan apabila anak yang dibully itu adalah dirinya.
3. Yakinkan korban untuk berani speak up atau melapor, misalnya kepada guru, satpam, dan orangtua.
4. Bimbing anak yang berkonflik untuk bernegoisasi dan menyelesaikan permasalahannya.
5. Perkuat budaya saling menghormati, saling menyayangi, saling menolong, serca cinta damai baik di lingkungan rumah maupun sekolah.
6. Diskusikan dengan teman-teman si pelaku dan korban, tentang apa yang harus mereka lakukan apabila melihat tindakan bullying. Misalnya melerai, melapor kepada guru, dan sebagainya.



Bagaimana Membantu Korban Bullying Usia SMP-SMA?
Di usia ini, biasanya kelompok pelaku bullying semakin besar. Di kota-kota besar, misalnya, bullying terjadi karena adanya senioritas, di mana kakak kelas menindas adik kelas, terutama yang baru masuk sekolah. Adapun tindakan yang dapat dilakukan untuk membantu korban bullying di usia ini adalah sebagai berikut:
1. Prevensi bullying dengan sosialisasi pada orangtua, siswa, dan pihak sekolah (kepala sekolah, guru, karyawan, petugas)
2. Yakinkan para saksi bullying untuk melaporkan kejadian dan yakinkan mereka bahwa itu bukanlah tindakan berkhianat kepada teman, sebaliknya, untuk menyelamatkan teman.
3. Perkuat rasa persaudaraan antar siswa, guru, dan orangtua siswa
4. Perkuat budaya saling menghormati, saling menyayangi, saling menolong, serca cinta damai baik di lingkungan rumah maupun sekolah.
5. Berikan tindakan konseling baik kepada pelaku maupun korban bullying.

Bagaimana Membantu Korban Bullying Usia Mahasiswa?
Di usia mahasiswa, pelaku bullying adalah kelompok kecil dan intensitasnya relatif kecil. Tindakan yang dapat dilakukan untuk membantu korban bullying pada usia ini adalah:
1. Yakinkan anak bahwa yang bermasalah adalah pelaku
2. Ajak anak untuk mengeksplore tentang apa dan bagaimana cara menghadapi bullying
3. Berikan kepercayaan kepada si anak untuk mengatasi permasalahannya dengan strategi yang telah didiskusikan.
4. Jika anak merasa tidak mampu menyelesaikan, dorong dia untuk tidak ragu melapor kepada pihak kampus.

Strategi Melindungi Diri Agar Tidak Menjadi Korban Bullying
Bu Ratna Djuwita mengatakan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk melindungi diri agar tidak menjadi korban bullying, yaitu:
1. Diamkan, tidak usah ditanggapi, lalu tinggalkan lokasi/pelaku
2. Jangan sendirian, baik di sekolah, arena bermain, dalam perjalan pergi dan pulang. Usahakan untuk selalu berada di antara kelompok. Ingat, domba yang sendirian adalah sasaran empuk bagi para serigala.
3. Hilangkan apa yang dicari pelaku
4. Tanggapi dengan humor

"Bulet amat badan lo kayak bola sepak."
"Yoi, Bro. Makanya gue nyampe sekolah paling pagi. Soalnya tinggal nggelinding."

5. Lapor. Namun, akan lebih baik jika hal ini dilakukan oleh saksi atau orang yang melihat kejadian (bystander), untuk menghindari kemungkinan pelaku semakin mengintimidasi korban karena tidak terima korban melapor.

Nah, Sobat Jejak. Itulah tadi beberapa informasi yang saya dapatkan saat mengikuti Seminar Nasional HIMPSI Lampung mengenai Bullying dan Penanganannya. Semoga bermanfaat.
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: celoteh.bunda03@gmail.com.


8 comments:

  1. Strategi melindungi diri dari bullying pada anak gimana ya mbak? Soalnya bullying dikalangan anak usia sekolah dasar saat ini lebih marak

    ReplyDelete
  2. Lengka banget terima kasih sudah sharing ya. Insya Allah sangat bermanfaat

    ReplyDelete
  3. Lengkap banget resumenya mbak. Jadi berasa ikut seminarnya :) makasih sharingnya, bermanfaat banget khususnya buat yang punya anak usia sekolah.

    ReplyDelete
  4. Jadi tanpa disadari sering ya melakukan bullying dong ya kalau tak terbiasa berbicara positif.

    ReplyDelete
  5. Terimakasih infonya Mbak. Lengkap dan bermanfaat sekali :)

    ReplyDelete
  6. udah lama aku ga ikutan kegiatan yg HIMPSI selenggarain :p bullying tanpa disadari pernah bahkan mungkin ga sadar sering kita lakukan dirumah y mba agak ngeri makanya bener2 ortu itu mesti upgrade ilmu, upgrade diri biar ga kaku dalam mendidik :p
    Menyikapi bullying dengan humor emang paling ampuh

    ReplyDelete
  7. Lengkap banget Mbak. Daku izin share juga ke grup parents yaaa. Muwaah.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)