Thursday, April 26, 2018

Beragam Pilihan Model dan Harga Drone Murah Phantom 3

Hai, Sobat Jejak, assalamualaikum.

Belakangan ini saya sangat tertarik sama yang namanya drone. Melihat foto dan video di IG teman-teman yang punya drone, kok seru, ya. Canggih. Jadi, saya pun mencoba mencari-cari informasi dulu mengenai drone, di antaranya tentang Beragam Pilihan Model dan Harga Drone Murah Phantom 3.

Drone Phantom 3 Professional (sumber: Bukalapak.com)

Drone merupakan peralatan canggih yang banyak digunakan untuk berbagai kebutuhan. Tidak hanya digunakan untuk mengambil foto dari udara sehingga menghasilkan gambar dengan sudut pandang yang berbeda, tetapi juga digunakan untuk membantu paramedik, pencarian tim penyelamat, dan juga berbagai hal yang berguna lainnya. Oleh karena itu, tidak heran apabila alat ini sangat bermanfaat untuk masyarakat.

Harga dari drone sendiri sangat beraneka ragam dan bisa dipilih dari spesifikasi dan merek, Sobat. Misalnya salah satu merek yang dapat dipilih adalah drone Phantom yang mempunyai banyak pilihan produk yang ada di pasaran. Untuk harga drone murah ini juga beragam tergantung dari tipe dan spesifikasinya. Misalnya, salah satu produk yang ditawarkan adalah Drone Phantom 3 yang mempunyai beberapa jenis dan spesifikasi seperti berikut ini:

1. Drone Phantom 3 Profesional
Pilihan produk pertama dari Drone Phantom 3 adalah yang biasanya digunakan oleh profesional. Jenis ini mempunyai harga yang cukup mahal yaitu sekitar 13,2 jutaan rupiah. Tetapi, tentu saja sebanding dengan spesifikasi yang ditawarkannya. Produk yang satu ini mempunyai dua buah gold stripe yang ada pada lengannya dan juga sudah menggunakan kamera yang menghasilkan gambar yang berkualitas dan video yang stabil.

Dengan harga Drone Phantom 3 profesional yang lumayan mahal tersebut, spesifikasi yang akan didapatkan adalah:

• Drone ini mempunyai berat 1280 gram yang termasuk dengan baterai dan juga baling-balingnya.
• Drone ini mempunyai kecepatan maksimal ketika diterbangkan sekitar 16 m/s ketika kondisi tidak berangin.
• Drone ini dapat untuk terbang dengan ketinggian maksimal 120 meter.
• Drone ini mempunyai jarak kontrol maksimalnya sekitar 5 km tanpa ada halangan.
• Drone ini dapat untuk beroperasi dan terbang sekitar 23 menit di udara sehingga cukup lama.
• Drone ini mempunyai suhu pengoperasian 0 hingga 40 derajat celcius dengan ukuran diagonal 350 mm.
• Drone ini mempunyai sensor 12,4 mp dengan rentang ISO 100-320 untuk video dan 100-1600 untuk fotonya.

2. Drone Phantom 3 Advanced
Jenis drone selanjutnya dari Phantom adalah Drone Phantom 3 Advanced yang mempunyai resolusi video 2,5 K dan cukup menawarkan hasil gambar yang bagus. Karena kualitas gambar dan hasil video yang didapatkan tidak sebaik produk sebelumnya, harga dari jenis ini juga lebih murah. Dimana untuk harganya bisa didapatkan dengan harga 12 jutaan rupiah saja.

Spesifikasi yang ditawarkan oleh Drone Phantom 3 Advanced ini adalah:

• Drone ini mempunyai berat 1280 gram dan bisa terbang hingga kecepatan maksimal 16 m/s.
• Ketinggian maksimal dari drone ini adalah 120 meter dengan jarak kontrolnya hanya 5 km.
• Durasi penerbangannya sekitar 23 menit dan mempunyai sensor 12,4 mp.
• Drone ini mempunyai rentang ISO 100-3200 untuk video dan 100-1600 untuk foto.

3. Drone Phantom 3 Standard
Jenis ke tiga yang ada di pasaran dan bisa dibeli di toko online ataupun toko penjualan offline adalah Drone Phantom 3 standard, Sobat. Jenis ini mempunyai harga sekitar 7 jutaan saja. Sehingga dapat dipastikan bahwa kualitasnya juga tidak lebih baik daripada jenis sebelumnya.

Spesifikasi lengkap dari drone ini adalah:
• Drone ini mempunyai berat 1216 gram dengan kecepatan maksimal 16 m/s.
• Drone ini dapat terbang hingga 120 m dengan jarak kontrol 1 km.
• Drone ini dapat terbang selama 23 menit saja dan mempunyai sensor kamera 12,4 mp.

Nah, Sobat, itulah tadi Beragam Pilihan Model dan Harga Drone Murah Phantom 3. Semoga informasi ini bermanfaat, ya.

Tuesday, April 24, 2018

Serunya Lomba Mengunduh Damar di Pekon Rawas Pesisir Barat

Udara terasa segar pagi itu, Selasa, 17 April 2018. Hujan yang turun hampir semalaman, menyisakan titik-titik air di halaman Krui Mutun Walur Surf Camp Sumatra yang dipenuhi hamparan rerumputan hijau. Matahari yang cerah, mengintip dari celah-celah daun pohon kelapa, yang banyak tumbuh di sekitar cottage.

Rombongan saya yang terdiri dari Bang Zack, Mbak Roma, Robby, Putri, dan saya sendiri, berkumpul di resto cottage lebih pagi. Jika sebelumnya menu yang terhidang hanya banana pancake, kali ini menunya adalah nasi. Nasi Goreng Cilukba, demikian saya menamainya. Sebab nasinya ditutupi dengan kerupuk yang luar biasa besarnya. Ketika kerupuk diangkat, maka, cilukba! Terlihatlah nasi gorengnya.

Usai sarapan, gegas kami memasuki mobil, yang segera meluncur meninggalkan cottage untuk menjemput Bang Aries yang menunggu di sebuah swalayan. Kali ini tujuan utama kami adalah Repong Damar (kebun damar) yang terletak di Pekon Rawas, Pesisir Barat, untuk menyaksikan lomba mengunduh getah damar. Lomba ini masih merupakan rangkaian dari event tahunan yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Pesisir Barat, yaitu  Festival Teluk Stabas 2018.

Sebagaimana telah jamak diketahui, damar merupakan salah satu sumber perekonomian terbesar di Pesisir Barat. Pesisir Barat sendiri merupakan penghasil jenis getah damar terbaik di dunia, yaitu Damar Mata Kucing atau Shorea javanica, yang berasal dari suku meranti-merantian. Terdapat beberapa titik lokasi repong damar di Pesisir Barat, salah satunya di Pekon Rawas, yang menjadi tempat berlangsungnya lomba ngunduh damar nanti.

Peserta Lomba Mengunduh Damar

Seumur hidup saya belum pernah melihat pohon damar secara langsung, begitu pula proses mengunduh getahnya, yang konon dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti membuat vernis, plester, serta pelapis kayu korek api agar tidak terlalu cepat terbakar. Karenanya, saya begitu penasaran dan tidak sabar ingin segera menyaksikan Serunya Lomba Mengunduh Damar di Pekon Rawas Pesisir Barat ini.

Pohon-pohon damar sudah terlihat di sisi kanan dan kiri jalan, ketika Bang Aries meminta Bang Zack untuk menepikan mobil. Ternyata, kami sudah sampai.

Suasana masih sepi. Hanya ada rombongan kami, serta satu dua orang yang datang beberapa waktu kemudian. Kesempatan itu pun kami gunakan untuk berfoto-foto, ngevlog, atau sekadar mengamati keadaan di repong damar.

Oh, ini rupanya pohon damar, batin saya, seraya memandang takjub pada sosoknya yang tinggi menjulang, lurus, dengan cabang-cabang yang hanya terdapat pada bagian atasnya. Mendekati pohon, saya melihat adanya lubang-lubang berbentuk segitiga. Dari tiap sisi lubang-lubang itulah, getah damar yang berwarna bening atau kekuning-kuningan keluar dan membeku. Lubang-lubang ini juga berfungsi sebagai pijakan bagi pengunduh damar.

Saya menengadahkan kepala, menyusuri lubang-lubang di pohon damar, lalu menatap daunnya yang lebat dan hijau. Menurut informasi dari seorang petani damar, banyaknya lubang menunjukkan usia damar. Makin banyak lubangnya, makin tua usia damarnya. Begitu pula kelebatan daunnya, yang menurut beliau menunjukkan kuantitas getahnya. Makin lebat dan hijau daunnya, makin banyak pula getah yang dihasilkannya.

Tak lama kemudian, ada peserta lomba ngunduh damar yang datang, berjenis kelamin wanita. Satu paruh baya, satu lagi lebih muda, membawa lengkap peralatan mengunduh damarnya. Bagaikan semut menemukan gula, kami pun langsung serentak merubungi mereka. Memotret, bertanya-tanya, bak wartawan atau reporter yang sedang melakukan wawancara.

Ibu namanya siapa?
Ini namanya apa?
Gunanya untuk apa?
Cara memakainya gimana?

Adalah Bu Hermi dan Bu Salma, nama dua ibu ramah yang berasal dari Pekon Lay, Kecamatan Karya Penggawa. Sudah berbelas tahun keduanya menjalani profesi sebagai pengunduh damar. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah dilakukan, sebab risiko menaiki pohon dengan ketinggian puluhan meter pastilah besar. Apalagi jika habis hujan seperti sekarang. Pohonnya licin dan membahayakan. Namun, mereka tetap ikhlas menjalaninya. Tak apa mengais rezeki di sunyinya belantara, asalkan bisa mengukir secercah senyum di wajah orang-orang tercinta.

Penuh kesabaran, Bu Hermi dan Bu Salma menjelaskan kepada kami nama-nama peralatan yang digunakan untuk mengunduh damar.

"Ini apa, Bu?" Tanya saya, seraya menunjuk wadah berbentuk kerucut, terbuat dari pelepah pinang yang dijahit dengan rotan.
"Ini namanya tembilung, gunanya untuk menampung getah damar yang diambil dari lubang."
"Ooo... Kalau keranjang tinggi dari anyaman rotan ini?"
"Ini namanya bebalang. Kalau tembilung sudah mulai penuh, damarnya dipindahkan ke dalam bebalang."

Selain tembilung dan bebalang, ada juga alat berupa tali yang terbuat dari anyaman rotan. Namanya ambon. Fungsinya adalah untuk pengaman dan membantu pengunduh damar menaiki pohon. Sementara itu, alat yang digunakan untuk mengunduh atau mencongkel getah damar dari lubang adalah kapak patil. Bentuknya seperti huruf "T" dengan bagian gagang yang disebut perdah.

Saya sempat mencoba mengunduh damar dengan kapak patil tersebut. Namun, ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Perlu tenaga dan teknik yang benar agar getah damar beku yang dicongkel tetap utuh dan berukuran besar saat masuk ke tembilung.

Bu Hermi dan Bu Salma tertawa melihat cara saya mengambil getah damar.

Bu Salma mengambil alih kapak patil di tangan saya.

"Begini caranya," ujarnya, seraya mempraktikkan cara mengunduh damar kepada saya, dengan kelihaian yang tidak perlu lagi ditanya.

Panitia dan peserta lomba sudah berdatangan. Begitu pula para penonton dan awak media yang hendak menyaksikan keseruan lomba mengunduh damar. Tak disangka, hanya Bu Hermi dan Bu Salma peserta lomba yang berjenis kelamin wanita. Meskipun demikian, hal itu sama sekali tidak membuat senyum dan ketenangan sirna dari wajah mereka. Wah, salut saya. Standing applause deh, untuk percaya diri mereka yang luar biasa.



Sebelum lomba dimulai, terlebih dahulu peserta melakukan pemanasan berupa goyang damar, eh, goyang dumang. Panitia memimpin. Musik dihidupkan, mereka pun bergoyang. Saya yang tadinya asyik memotret, berinisiatif menjauhkan diri. Mengamankan jempol kaki, khawatir ia tidak tahan ingin ikutan goyang juga, hahaha....

Usai pemanasan dan lain sebagainya, tibalah waktunya lomba ngunduh damar dimulai. Pohon damar yang diunduh adalah yang yang telah diberi tanda silang. Kriteria penilaiannya bukan hanya dari banyaknya damar yang diunduh, melainkan juga teknik pengunduhan yang benar, serta perilaku menjaga kelestarian damar yang ditunjukkan oleh peserta.

Megaphone diacungkan, sirine panjang diperdengarkan. Sorak sorai bersahutan. Para peserta lomba mengunduh damar pun berlarian, menuju pohon incaran yang diharapkan dapat memberikan hasil memuaskan. Saya dan teman-teman tidak mau ketinggalan. Kami memburu para pengunduh untuk mengabadikan aktivitas memanen damar yang mereka lakukan.

Sigap, para pengunduh melingkarkan ambon ke pohon damar, lalu mengikatnya, kemudian melingkarkannya pula ke tubuh mereka. Setelah itu, satu persatu, lubang di pohon damar mereka congkel dan keruk isinya. Habis isi lubang bagian bawah, mereka geser ambon ke atas, seraya menjadikan lubang yang sudah kosong sebagai tangga untuk memanjat lebih tinggi.

Jika tembilung sudah mulai penuh atau terasa berat, para pengunduh damar turun untuk memindahkan isinya ke bebalang. Setelah itu, mereka naik lagi untuk kembali mengisi tembilung dengan getah damar. Begitu seterusnya. Semua itu mereka lakukan dengan kelihaian dan kecepatan yang menakjubkan.

Tak terasa, waktu perlombaan sudah hampir habis. Beberapa peserta lomba pun sudah ada yang menyetorkan hasil unduhannya untuk ditimbang. Ada rasa haru saat melihat cucuran keringat dan raut lelah di wajah mereka, yang mengingatkan saya pada jasa dan perjuangan kedua orangtua, terutama ayah yang telah tiada.

Hari sudah siang. Azan dzuhur tak lama lagi berkumandang. Entah siapa di antara para pengunduh damar itu yang menang. Sebab, kami sudah berlalu meninggalkan repong damar. Meskipun demikian, saya yakin benar, bahwa semua pengunduh damar itu adalah pemenang. Pemenang kehidupan, yang terus tersenyum dan berjuang sekalipun berada dalam himpitan kesulitan.

Tujuan kami berikutnya adalah Pantai Mandiri dan Pantai Tanjung Setia yang ombaknya menjadi idola bagi para peselancar. Seperti apa keseruan kami di sana? Tunggu di postingan selanjutnya.

Sunday, April 22, 2018

Menyaksikan Kemeriahan Parade Budaya di Festival Teluk Stabas Pesisir Barat 2018

Cukup lama saya memendam keinginan untuk menginjakkan kaki di kabupaten termuda di Lampung berjuluk Negeri Para Sai Batin dan Ulama, yaitu Pesisir Barat. Kabupaten hasil pemekaran dari Lampung Barat ini seolah memiliki magnet yang begitu kuat menarik saya untuk datang ke sana. Tak bosan-bosan rasanya saya berselancar di dunia maya, membaca segala tulisan tentangnya, membayangkan deretan nyiur di tepi pantainya, debur ombaknya, kuliner khasnya, budayanya, semuanya, seraya melambungkan harap dan doa, semoga kelak Allah mengizinkan saya menjejaknya.

Lalu, bagai pucuk dicinta ulam pun tiba. Kesempatan untuk menjelajah di Pesisir  Barat akhirnya datang juga,  melalui lomba yang diadakan oleh GenPi Lampung untuk para anggotanya. Saya dan salah seorang teman blogger yang sudah saya kenal, Mbak Roma Pakpahan, keluar sebagai pemenang. Hadiahnya berupa perjalanan ke Pesisir Barat selama 3 hari 2 malam untuk Menyaksikan Kemeriahan Parade Budaya di Festival Teluk Stabas Pesisir Barat 2018 dan eksplore keindahan alamnya. Alhamdulillah.

"Jangan berhenti berharap, karena Allah lebih tahu saat yang tepat  untuk mengabulkan permintaanmu." 
(Anonymous)


A post shared by GenPILampung (@genpi_lampung) on

Sekilas tentang Pesisir Barat dan Festival Teluk Stabas bisa dibaca di sini


Perjalanan Menuju Pesisir Barat

Ahad siang, 15 April 2018, usai menunaikan shalat dzuhur sekaligus menjamaknya dengan ashar, saya meluncur menuju meeting point, yang terletak di pelataran sebuah minimarket dekat perumahan Bumi Kemiling Permai (BKP). Tim kami tadinya terdiri dari 6 orang, yaitu Bang Zack, Bang Fajrin, Putri, Robby, Mbak Roma, dan saya.  Namun, Bang Fajrin tidak bisa ikut, karena bertepatan dengan acara blogger di Hotel Sheraton.

Tiba di lokasi meeting point, saya melihat sosok Mbak Roma dan Kak Ewok, yang sudah menunggu. Kak Ewok anak GenPi juga, namun, ia berangkat terpisah dari kami. Setelah menunggu cukup lama, Robby datang, menyusul Bang Zack beberapa saat kemudian. Masih ada satu anggota tim yang belum muncul, yaitu Putri. Rupanya, gadis cantik yang pandai bergaya di depan kamera ini menunggu kami di Pringsewu. Itu artinya, tim sudah lengkap dan kami pun berangkat menuju Pesisir Barat.

Perjalanan darat dari Bandarlampung ke Pesisir Barat melewati Pringsewu, Tanggamus, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), memakan waktu kurang lebih 7 jam. Sebenarnya, waktu tempuh ini bisa lebih singkat melewati jalur udara ke Bandara Taufik Kiemas di Krui, ibukota Pesisir Barat. Sayangnya, keterbatasan jumlah penumpang, ditambah dengan berakhirnya kontrak dengan satu-satunya maskapai yang beroperasi, membuat aktivitas penerbangan di Bandara ini akhirnya terhenti.

Bagi saya pribadi, waktu tempuh yang lama itu bukanlah masalah. Justru, ia menjadi moment perjalanan yang seru dan tidak terlupakan. Apalagi, saya melaluinya bersama teman-teman yang sangat menyenangkan. Putri yang tak henti berceloteh, Bang Zack yang celetukannya selalu bikin ngakak minimal senyum simpul, Mbak Roma yang aktif menimpali celetukan Bang Zack, serta Robby yang suara tawanya cetar membahana, hingga sukses membuat rasa kantuk dan bosan menguap entah ke mana.

Senja mulai merayap ketika kami memasuki kawasan TNBBS. Taman seluas kurang lebih 356.800 hektar ini merupakan rumah nyaman satwa langka seperti gajah, badak, dan harimau Sumatera, serta beragam flora dan fauna lainnya. Seraya memandangi dan mengagumi pepohonan di hutan konservasi ini, saya mengukir doa di dalam hati, semoga ia senantiasa lestari, agar tetap dapat dinikmati oleh anak cucu di kemudian hari.

Bang Zack melajukan mobil dengan cukup kencang, membuat saya sedikit deg-degan setiap kali kami menyalib mobil di depan. Sesekali kami juga berteriak lebay, ketika mobil kami berpapasan dengan mobil lain di belokan tajam. Benar-benar heboh!

OH MY GOOD! WOOOO.... WOAAAAA....

(Doain Hayati selamat di perjalanan ya, Bang... Biar bisa balik lagi ke rumah.)

Saat mengisi bensin di Krui, Putri memberitahu bahwa Bang Aries sudah menunggu di Pasar Krui, untuk makan malam. Bang Aries ini dari Dinas Pariwisata Pesisir Barat. Saya mengenal beliau saat eksplore budaya dan wisata Lampung Barat untuk riset penulisan komik Aura Publishing, di Festival Sekala Brak bulan Agustus tahun 2017 yang lalu. Waktu itu sih, saya tahunya beliau adalah kuncen Pulau Pisang, bukan sebagai pegawai DisPar.

Kurang lebih pukul 20.30, kami tiba di Pasar Krui. Bang Aries, Mas Rino (kenal di LamBar juga), dan beberapa temannya menyambut kami di sana. Setelah sejenak saling sapa, kami pun duduk di kursi-kursi salah satu warung tenda. Suasana tidak begitu ramai. Hanya meja kami saja yang penuh terisi. Lainnya hanya ada satu dua orang, yang tampak sedang asyik bercengkrama.

Tadinya, saya sudah membayangkan menyantap makanan khas Pesisir Barat. Sate iwa tuhuk (blue marlin), misalnya. Sayangnya, yang ada hanya nasi goreng dan sate ayam. Tapi tak mengapa. Menu itu pun boleh juga. Kami pun kompak memesan nasi goreng, kecuali Bang Aries, yang memilih memesan sate.

"Ini sate tuhuk," kata Bang Aries, setelah menu pesanannya datang.
"Hah! Beneran?" Saya excited.
"Beneran. Mau?"
"Mau! Mau!"
Saya mencomot setusuk sate. Bersiap menyantapnya, sambil membayangkan kira-kira seperti apa rasanya.
"Itu sate iwa tuhuk berkaki," kata Bang Aries kemudian.

Hiiikssss.... 


Makan Malam di Pasar Krui

Menginap di Krui Mutun Walur Surf Camp Sumatra

Malam semakin larut. Usai menuntaskan urusan perut, Bang Aris dan Mas Rino menuntun kami menuju cottage. Krui Mutun Walur Surf Camp Sumatra, demikian nama cottage tempat kami menginap selama tiga hari di Pesisir Barat.

Berdasarkan informasi yang saya baca, Pesisir Barat masih sangat minim pasokan listriknya. Jadi, saya tidak heran, jika kegelapan masih sangat mendominasi sepanjang jalan yang kami lalui. Kegelapan pun semakin purna, ketika kendaraan kami memasuki lokasi cottage. Deretan pohon kelapa di kiri dan kanan jalan, rasanya lebih mirip memasuki perkebunan ketimbang kompleks penginapan.

Namun, kesan itu langsung sirna, ketika kendaraan kami melewati gerbang cottage. Masya Allah, suasananya nyaman sekali. Cottage-cottage berdinding anyaman bambu, berpadu asri dengan tanaman yang tumbuh di sekitarnya. Rumput hijau terhampar apik di halamannya, dengan bunga-bunga kecil berwarna kuning sebagai penyemaraknya. Debur ombak yang begitu jelas terdengar, membuat saya yakin bahwa cottage ini berada tepat di tepi pantai.

Cottage di Krui Mutun Walur Surf Camp Sumatra 

"Ladies first. Mau pilih cottage yang mana. Ini atau yang itu?" Tanya Bang Aries, menawarkan pilihan.

Cottages yang dimaksud Bang Aries adalah yang berdinding bambu dan yang berdinding papan bercat kuning dengan bentuk bertingkat. Finally, saya, Putri, dan Mbak Roma tidur di cottage berdinding anyaman bambu. Bersebelahan dengan kamar yang ditempati oleh Bang Zack dan Robby.

Memasuki kamar cottage, saya melihat desain interior yang cukup unik. Kamar ini adalah jenis twin room, dengan satu ekstra bed. terdapat satu kursi dengan meja dari lempengan pohon, serta kelambu yang tergantung di atas langit-langit tempat tidur. Sudah tersedia fasilitas dasar seperti lemari, kipas angin, dan peralatan mandi. Kamar mandinya sendiri didesain sedemikian rupa sehingga membuat penggunanya bagai menyatu dengan alam, mulai dari lantai yang terbuat dari batu alam, wooden hook, wastafel batu, pancuran air dari bambu, hingga tanaman air yang menghiasi dindingnya.

Setelah bersih-bersih dan menunaikan jamak shalat maghrib dan isya, tidur pun menjadi pilihan terbaik saya. Demikian pula dengan Putri yang sedang kedatangan tamu bulanan, juga Mbak Roma yang memang berbeda keyakinan. Tak lama kemudian, perpaduan suara ombak yang berdeburan, tubuh yang kelelahan, serta kantuk yang sudah tak tertahankan, sukses mengantarkan kami lelap dalam buaian malam.

Selama menginap di Krui Mutun Walur Surf Camp Sumatra, hanya dua kali kami mengalami listrik padam. Itu pun hanya sebentar. Tak sampai satu helaan napas dalam. Alhamdulillah. Jadi, bagi teman-teman yang ingin menjelajah Krui, Pesisir Barat, cottage yang beralamat di Jalan Pantai Wisata Walur, Krui Selatan ini sangat saya rekomendasikan. Selain asri dan nyaman, lokasi cottage ini sangat dekat dengan beberapa tempat wisata di Krui, seperti Pantai Labuan Jukung, Pantai Mandiri, dan Pantai Tanjung Setia.

Menyaksikan Kemeriahan Parade Budaya Bebay Ngantak Uyan Sasuduk di Kawasan Wisata Labuan Jukung

Pagi yang cerah. Puas menikmati dan mengabadikan debur ombak di dekat cottage, kami pun menuju resto untuk sarapan. Restonya cukup unik, dengan dominasi kayu dan anyaman bambu, serta pernak pernik bernuansa vintage. Sebuah jendela lebar berbentuk persegi panjang, menyajikan pemandangan asri berupa deretan pohon kelapa. Toples berisi gula dan bubuk kopi, sudah disediakan di meja. Juga teh celup dan gelas-gelas lawas berukuran kecil bercorak bunga. Tinggal seduh sendiri saja. Sebab dispenser air panas sudah disediakan pula di sana.

Resto di Krui Mutun Walur Surf Camp Sumatra

Sarapan telah terhidang. Masing-masing berupa selembar pancake pisang. Membuat mata-mata penuh selidik pun seketika saling pandang.

"Sarapannya cuma ini?"
"Kayaknya sih, iya."
"Aaaah, baru appetizer, kaliii..."
"Beneran. Kata ibunya cuma ini."
"Haaa?! Mana kenyaaang..."

HA, HA, HA....

Tak ada waktu untuk request sarapan tambahan. Jadi, lupakan rasa kenyang. Nikmati saja apa yang sudah dihidangkan. Anggap saja itu sarapan ajaib. Sedikit di luar, mengembang dan banyak jika sudah di dalam.

Sarapan minimalis :D

Tak ingin membuang waktu, selepas sarapan pagi yang cukup mengesankan, kami pun segera meluncur menuju lokasi Parade Budaya Festival Teluk Stabas, yang dipusatkan di kawasan wisata Labuhan Jukung Krui.

Memasuki lokasi festival, tampak panggung besar di sisi kiri, serta stand-stand di sisi kanan. Sejumlah panitia terlihat sibuk melakukan persiapan, di antaranya menata bahan-bahan yang akan digunakan untuk lomba nyelimpok gelamay, di atas karpet merah yang terhampar memanjang.

Selimpok gelamay adalah salah satu kuliner khas Pesisir Barat. Terbuat dari adonan gula merah yang dicairkan, jahe, santan, vanili, dan tepung beras. Bagian khas dari selimpok gelamay adalah daun pembungkusnya, yaitu daun khilik. Setelah dibungkus daun, selimpok pun kemudian dimasak dengan cara dikukus.



Menurut informasi dari panitia, lomba nyelimpok gelamay ini nantinya akan dilakukan serentak dengan lomba menyulam tapis (napis). Lomba diikuti oleh perwakilan 118 pekon dari 11 kecamatan yang ada di Pesisir Barat. Masing-masing pekon mengirimkan 15 orang utusan, dengan 14 orang mengikuti lomba nyelimpok gelamay, dan 1 orang mengikuti lomba napis.

Lomba akan dimulai setelah berlangsungnya pawai budaya, yang dijadwalkan pada pukul 13.00 WIB. Adanya lomba nyelimpok gelamay, napis, dan pawai budaya ini diharapkan dapat menjaga kelestarian heritage cultural, agar tidak punah dari kehidupan masyarakat Pesisir Barat.

Dikarenakan jadwal pawai dan lomba masih cukup lama, kami pun memutuskan untuk melipir menuju landmark Labuhan Jukung Krui dan berfoto-foto di sana. Berhubung Putri telah mengingatkan jadwal untuk menaikkan Festival Teluk Stabas dan menjadikannya trending topic di Twitter, kami pun bergegas ke luar lokasi. Mencari sinyal, sekaligus lapak sarapan pagi ke dua kami.



Kami sarapan di warung gerobak lapangan jukung, yang letaknya tepat di depan pintu masuk lokasi festival. Menunya berupa mie goreng dan es teh. Alhamdulillah, cukup mengenyangkan perut kami yang lapar. Saya membayangkan banana pancake yang kami santap di cottage pastilah bersorak riang. Kini, ia sudah punya teman, tak lagi merana sendirian.

Sarapan Mie Goreng di Lapangan Jukung

Kenyang sarapan, Bang Zack, Mbak Roma, Robby, dan Putri sibuk ngetweet. Saya? Manyun. Handphone berkartu CDMA milik saya sama sekali tidak kebagian sinyal selama di Pesisir Barat. Syukurlah, Mbak Roma kemudian berbaik hati berbagi hotspot. Jadi, saya bisa sedikit bantu-bantu meramaikan berita Festival Teluk Stabas di Twitter, yang kabarnya berhasil menjadi trending topic selama dua jam. Alhamdulillah.

Kenyang sarapan, kami kembali masuk ke kawasan festival. Motret-motret lagi, wawancara lagi, dan sebagainya, hingga datang ajakan Bang Aries untuk mencicipi bakso iwa tuhuk. Hurray!

Tempat makan bakso tuhuk itu ternyata tidak jauh dari Labuhan Jukung. Jalan kaki sebentar, sampai, deh. Tekstur baksonya lembut, ikan tuhuknya terasa, enak banget. Sayang, lambung saya yang sudah terisi pancake, mie goreng, dan es teh, tidak sanggup menghabiskan porsi baksonya, yang super duper mengenyangkan. Hmm, kecil juga ya, muatan lambung saya. Mungkinkah saya keturunan bule? Bule-lah dibilang dari Jerman, bule-lah dibilang dari Swedia... Hahaha, maksa.

Bakso Iwa Tuhuk

Akhirnya, moment yang dinanti-nanti datang juga. Berlari-lari kecil, kami menyongsong arak-arakan pawai budaya. Para bebay (ibu) berkostum kebaya dan sarung (sinjang) tapis, tampak berjalan beriringan. Mereka juga mengenakan selendang penutup kepala. Rata-rata membawa bakul haneling khas Pesisir Barat, yang terbuat dari anyaman bambu. Isi bakul haneling ini biasanya berupa beras, gula, kue, telur, dan sayur mayur. Dibawa sebagai hantaran saat mengunjungi acara pernikahan atau pun kematian. Inilah yang kemudian dinamakan ngantak uyan sasuduk.

Selain para bebay pembawa bakul haneling, ada juga bebay yang nyuncun atau membawa pahakh di kepala. Pahakh ini semacam talam berkaki yang berukuran cukup besar. Fungsinya adalah untuk wadah menu untuk menjamu para tamu agung, atau wadah hantaran dalam gelaran upacara adat.

Iring-iringan pawai juga dimeriahkan dengan pertunjukan tarian adat dari para lelaki dengan kostum berupa jas dan celana berwarna hitam, marching band oleh siwa siswi sekolah, peserta bertopeng kayu, serta sambutan cetar membahana dari MC kondang(an), Jeng Kelin KW 1. Hehehe... Keren euy, bisa mirip banget gitu, sama Nictagina. #applause

Luar biasa meriah suasana parade budaya siang itu. Wajah-wajah para peserta pawai tampak sumringah, meski sambil mengernyit, akibat sinar matahari yang amboiii garangnya. Benar-benar takjub saya melihat semangat mereka, yang bagaikan tak mengenal kata surut. Sebuah kekuatan yang saya yakin bersumber dari niat kuat untuk melestarikan budaya tercinta, agar tidak larung dimakan abrasi usia.

Peserta Parade Bebay Ngantak Uyan Sasuduk (sumber: www.genpi.co)

Setelah berlalunya iring-iringan pawai, acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan, hingga akhirnya tanda dimulainya lomba nyelimpok gelamay dan napis pun terdengar.

NGUIIING, NGUIIIING,  NGUIIIING....

Eh, nggak gitu ding, suaranya.

Lomba napis berlangsung seru. Lomba nyelimpok berjalan heboh. Maklum, yang ini lombanya berkelompok. Pesertanya ibuk-ibuk pula. Bayangkanlah ibuk-ibuk masak. Pasti ramenya mengalahkan pasar dadakan.

Bolak balik saya membelah kerumunan penonton, hanya untuk mencari posisi terbaik untuk mengabadikan jalannya lomba. Maklum saja, motretnya hanya dengan kamera HP. Jadi, harus  mendatangi objeknya langsung. Pantang dizoom, karena hasilnya pasti akan bokeh seobjek-objeknya, alias blur maksimal, Saudara-saudara.

Asyik memotret, saya bertemu Mas Rino dan Adien. Mereka berdua ini juga saya kenal saat festival di Lampung Barat. Sebetulnya, saya sudah melihat keberadaan keduanya sejak pawai budaya. Tapi, Adien sedang sibuk dengan drone-nya, sementara Mas Rino dan teman-teman photografer sedang riweh menata poto-poto untuk pameran. Hingga saat lomba-lah, kami baru sempat bertegur sapa.

Gerah, panas, lelah, akhirnya membuat saya terpaksa menggelosor di dekat peserta lomba napis. Di samping saya, sesekali Mas Rino memberi kode pada Adien agar sedikit memperlama terbangnya drone di atas kami. Lumayan, semriwing macam dikipasin.

Puas memotret, saya duduk berteduh di bawah pepohonan, bersama  Mas Rino dan seorang temannya. Tidak lama saya di sana, karena kemudian bangkit lagi untuk memotret selimpok gelamay yang sudah matang. Usai memotret, saya bertemu Bang Aries dan Robby.

"Ke mana aja? Dicariin dari tadi," Kata Bang Aries.
"Iya, Mbak. Ditelponin, lho, nggak nyambung-nyambung. Kirain ilang," sambung Robby.

(Jiaaah, jelas aja nggak nyambung. Kan, nggak ada sinyal...)

Saya nyengir.

"Hehe, abis keliling-keliling. Mana yang lain?"
"Di sana, di pondok-pondok seberang jembatan."
"Oke."

Kehausan, saya berjalan menuju deretan pondok kayu, di seberang jembatan, nun di belakang panggung festival. Tiba di sana, Bang Zack, Kak Ewok, Putri, dan Mbak Roma, tengah diam melepas pandang ke arah lautan. Tak ingin mengganggu, saya putuskan untuk membeli es dugan, lalu meminumnya sambil menyendiri.

"Naaaah, ini dia orangnya. Ke mana ajaaaa?!" Seru Bang Zack, yang akhirnya menyadari kehadiran saya.

Dua Rekor Muri untuk Pesisir Barat

Mendung menggelayut. Setelah rasa lelah berkurang, kami pun memutuskan untuk kembali ke lokasi festival, yang ternyata bertepatan dengan diumumkannya dua rekor muri yang diraih Pesisir Barat pada gelaran Festival Teluk Stabas 2018, yaitu rekor peserta terbanyak Bebay Ngantak Uyan Sasuduk (1100 orang) dan Lomba Nyelimpok Gelamay (1078 orang). Selamat untuk Pesisir Barat.

Penyerahan Piagam Muri (sumber: www.genpi.co)

Hujan semakin deras ketika saya dan rombongan kembali ke cottage. Setibanya di cottage, seorang bule berkebangsaan Australia datang menghampiri Bang Zack.

"Are you a travel? I need a travel to take me to the surfing competition."

Oh, rupanya, si Mas Bule itu mau minta diantar ke lokasi Krui Pro 2018 Surfing Competition di Pantai Tanjung Setia. Setelah deal soal harga, Bang Zack dan Robby pun mengantarkan bule tersebut ke sana. Sementara saya, Mbak Roma, dan Putri, memilih untuk tinggal di cottage saja. Bersih-bersih badan, jamak shalat, dan siap-siap makan malam.

Sepulangnya Bang Zack dan Robby ke cottage, kami pun meluncur ke tempat makan yang dipilih Bang Aries. Menunya berupa ayam dan ikan bakar. Lagi-lagi ada tahunya juga. Seingat saya, ini kali ke tiga makanan bernama tahu muncul dalam menu kami. Pertama saat makan mie goreng di lapangan jukung, lalu bakso tuhuk, dan di rumah makan bermenu ayam dan ikan yang kami santap sekarang.

Ayam bakarnya lezat. Tahunya juga. Sayangnya saya lagi-lagi tidak sanggup menghabiskannya, lantaran kembung akibat kekenyangan minum air dan es degan.

Hujan belum reda saat kami selesai makan. Begitu pula selama perjalanan menuju penginapan.

Tiba di cottage, mata super mengantuk dan badan sudah tidak sabar minta diistirahatkan. Akhirnya, tak lama kemudian....

Zzzzzzzzz.....


Note:
Lega. Akhirnya postingan pertama Festival Teluk Stabas selesai juga. Setelah sempat syok dikarenakan HP yang saya pakai untuk memotret selama di Pesisir Barat, tidak sengaja terduduk dan rusak. Semua foto terpaksa harus diikhlaskan, karena memang semua nempel di HP, yang tidak saya pakaikan micro SD. Beruntung, masih tersisa beberapa yang saya foto dan kirim ke teman dan orang di rumah via Whatsapp. Lumayan. Pelajarannya, jangan menunda memindahkan data di HP ke laptop setelah bepergian. Gunakan micro SD untuk jaga-jaga dari kemungkinan HP rusak dan data hilang.

Bagi yang berminat eksplore keindahan Pesisir Barat, hubungi Aries Pratama di 0821-8683-9738

Friday, April 13, 2018

Menapaki Jejak Wisata dan Budaya Pesisir Barat di Festival Teluk Stabas 2018

Jujur saja, sebagai seorang penulis buku anak yang lahir, besar, dan menetap di Lampung, saya merasa terlambat mengetahui tentang keberadaan Kabupaten Pesisir Barat (Pesibar), yang merupakan kabupaten termuda di Provinsi Lampung ini. Bagaimana tidak, meskipun kelahirannya baru diresmikan pada 22 April 2013, Kabupaten yang beribukota di Krui ini sudah menjadi Kabupaten yang cukup dikenal bahkan hingga mancanegara. Wah, kok bisa ya, saya yang warga Lampung ini malah belum tahu? Selama ini saya ke mana saja?

Perkenalan saya dengan Kabupaten Pesisir Barat bermula ketika saya hendak melakukan riset untuk serial buku anak bertema budaya Kemendikbud, yang akan saya tulis, pada akhir April 2017. Saat itu, saya diharuskan menulis mengenai salah satu upacara adat yang ada di Lampung. Penjelajahan saya di media daring akhirnya membawa saya kepada informasi mengenai Pesisir Barat. Termasuk di antaranya Festival Teluk Stabas, Labuhan Jukung, Pulau Pisang, Pekon Way Sindi, Damar Mata Kucing, Bandara Serai, Pelabuhan Kuala Stabas, hingga Pandap dan Kakicekhan. Sangat menarik. Saya begitu bersemangat untuk datang dan mengeksplorasi Pesisir Barat, kala itu.

Namun, ibarat asam di gunung dan garam di laut yang tidak serta-merta bertemu, begitupun saya dan Pesisir Barat ketika itu. Waktu riset yang singkat sudah semakin dekat, sementara perhelatan  upacara pernikahan adat di Pesisir Barat baru saja lewat. Begitu pula dengan event besar berupa Festival Teluk Stabas, di mana saya seharusnya bisa menyaksikan banyak sekali gelaran acara adat budaya Pesisir Barat. Ah, sayang sekali. 

Meskipun demikian, harapan untuk bisa datang dan menapaki jejak wisata dan budaya Kabupaten Pesisir Barat tidak pupus begitu saja. Saya bertekad di dalam hati, bahwa saya akan tetap membawa langkah kaki ini ke sana, suatu hari nanti. Saya pun merasa beruntung, dapat bergabung dan mengenal beberapa teman yang tergabung dalam Komunitas Generasi Pesona Indonesia Lampung, atau GenPi Lampung. Setidaknya, dari postingan-postingan di medsos dan blog pribadi mereka, saya bisa mendapatkan banyak informasi mengenai event dan pesona wisata di Lampung, termasuk Kabupaten Pesisir Barat, yang akan kembali mengadakan Festival Teluk Stabas dalam waktu dekat!

Festival Teluk Stabas Kabupaten Pesisir Barat 2018 (sumber: Instagram @kruitourism 

Festival Teluk Stabas merupakan event besar bertaraf internasional yang setiap tahun rutin yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Pesisir Barat. Festival ini bertujuan untuk memperkenalkan potensi wisata dan budaya yang ada di Pesisir Barat ke dunia luar. 

Penamaan Teluk Stabas sendiri konon berasal dari nama seorang nahkoda kapal dagang Belanda, yaitu Sebastian. Nama ini rupanya cukup sulit diucapkan oleh masyarakat setempat di Pesisir Barat, sehingga mereka lebih sering memanggilnya dengan panggilan "Stabas". Seiring berjalannya waktu, nama Stabas pun diabadikan untuk menamai teluk tempat berlabuhnya kapal Sebastian, yaitu Teluk Stabas. Menarik sekali, bukan?

Kali ini, Festival Teluk Stabas ke-V tahun 2018 yang dipusatkan di kawasan wisata Labuhan Jukung akan mengusung tema “Bebai Ngantak Uyah Sesuduk." Rencananya, akan ada 12 item kegiatan seru yang akan diperlombakan, yang tentunya sangat menarik dan sayang untuk dilewatkan begitu saja. 

12 Kegiatan yang Dilombakan di Festival Teluk Stabas 2018 (sumber: Instagram @kruitourism

Wah, rasanya saya sudah bisa membayangkan, betapa serunya event Festival Teluk Stabas ini nanti. Menyaksikan kemeriahan parade budaya, aneka lomba dan kesenian tradisional, atraksi panjat pohon damar... Agui... Helauni Kik Bakhong! Saya berharap bisa mengabadikan itu semua ke dalam salah satu buku karya saya kelak. Agar keindahan wisata dan budaya di Pesisir Barat tidak hanya dinikmati oleh para wisatawan yang datang ke sana, tetapi juga anak-anak yang membaca cerita tentangnya. Semoga.

Yuk, datang ke Festival Teluk Stabas 2018!

Wednesday, April 11, 2018

Seva.id, Mitra Layanan Online Terpercaya Otomotif Hingga Property

Hai, Sobat Jejak. Ada info menarik nih, bagi Sobat yang membutuhkan segala sesuatu yang berhubungan dengan otomotif dan property.

Kini, berbagai kebutuhan akan otomotif dan property dapat terpenuhi dengan mudah dan cepat, hanya melalui sistem pengaksesan online, Sobat. Seva.id merupakan satu-satunya situs online yang memungkinkan untuk dapat memperoleh layanan online terpercaya otomotif hingga property , yang dapat dijadikan mitra ketika kita membutuhkan berbagai informasi mengenai kedua hal tersebut. Selain memberikan kemudahan, sistem pengaksesan yang cepat pada layanan online ini juga memungkinkan penggunanya untuk meraih berbagai keuntungan di dalamnya.

Save.id sendiri memiliki sistem kerjasama dengan berbagai dealer mobil resmi berbagai merek, yang akan menyediakan berbagai jenis dan model mobil baru yang dapat Sobat pilih sesuai dengan kebutuhan dan budget yang dimiliki. Tidak hanya itu, situs online ini pun juga memiliki sistem kerjasama dengan berbagai lembaga finansial yang akan memungkinkan para pengakses situs tersebut dapat melakukan pembelian dengan budget yang terbatas, untuk berbagai jenis mobil yang diinginkan. Model mobil mulai dari city car, family car, sport car, hingga mobil niaga pun dapat Sobat temukan dengan mudah.

Untuk kebutuhan property, Sobat juga akan lebih dimudahkan oleh situs online yang satu ini, karena kerjasama yang mereka miliki dengan berbagai pengembang property yang ada di berbagai wilayah. Keuntungan lain yang mungkin dapat Sobat peroleh dari seva.id sebagai mitra penyedia kebutuhan property antara lain adalah:

1. Tersedianya paket promo dalam bentuk bundling bagi para pengunjung situs, yang melakukan pembelian berbagai property melalui situs online ini.
2. Akses dan cara pembelian yang mudah, serta tersedianya berbagai sistem transaksi yang akan lebih mempermudah para pengunjung situs save.id.
3. Situs dapat diakses kapan saja dan dari mana saja, tanpa adanya batasan waktu dan tempat, selama di sekitar Sobat terdapat koneksi internet yang terhubung.



Nah, hal yang lebih memberikan keuntungan bagi Sobat dalam mengakses situs ini adalah adanya menu khusus, yang memungkinkan Sobat untuk dapat mengakses berbagai artikel yang berisi tips-tips atau pun panduan khusus yang terkait dengan property ataupun otomotif di dalamnya. Artikel pada situs ini selalu memberikan solusi terbaru yang dapat Sobat aplikasikan dengan mudah dan tepat.

Layanan online terpercaya otomotif hingga property dari seva.id ini akan lebih menguntungkan bagi Sobat, karena berbagai promo menarik tidak hanya terbatas pada property namun juga pada otomotif pun akan dapat Sobat peroleh. Berbagai bonus transaksi pun akan sangat dimungkinkan untuk Sobat raih dengan mudah. Jadi, tunggu apalagi, jadikan seva.id sebagai mitra terpercaya dalam kebutuhan otomotif dan property.

Thursday, April 5, 2018

3 Tempat Wisata Romantis di Bekasi

Haii, Sobat Jejak. Apa kabar?

Kalau sudah ngomongin tempat wisata romantis, pastinya paling asyik kalau mengunjunginya bersama pasangan. Eee, tapi pasangannya kudu halal dong, ya. Wajib! :D

(sumber: ayobekasi.com)

Nah, bagi Sobat yang ingin mengajak pasangan mengunjungi tempat-tempat wisata romantis, cobalah untuk datang ke Bekasi. Sebab, kawasan industri ini ternyata memiliki sejumlah tempat wisata romantis yang bisa membuat Sobat dan pasangan makin lengket kayak lem besi. Penasaran kan, apa saja tempat wisata romantis di Bekasi? Nih dia, Sobat:

1. Jembatan Cinta Muara Tawar
Jembatan Cinta Muara Tawar adalah salah satu destinasi wisata romantis di Bekasi yang wajib dikunjungi. Bentuknya hampir mirip dengan Jembatan Cinta yang terdapat di Pulau Tidung. Uniknya, jembatan ini dicat warna-warni layaknya pelangi.

Jika ingin mendapatkan moment terbaik di Jembatan Cinta Muara Tawar, datanglah di pagi hari, agar bisa menikmati desau angin dan kicau burung yang merdu. Atau, bisa juga datang di sore hari, saat matahari hendak kembali ke peraduan. Rasakan suasana sunyinya yang syahdu dan jauh dari kebisingan layaknya di kota besar. Sobat dapat menyusuri jembatan ini sembari bergandengan tangan dan berfoto bersama pasangan.

Bila perut mulai terasa lapar, ajaklah pasangan untuk mencicipi hidangan laut yang lezat dengan harga yang sangat bersahabat. Hal itu dikarenakan lokasi Jembatan Cinta Muara Tawar ini dekat dengan tempat pelelangan ikan.

2. Danau Marakash
Destinasi wisata yang berada di dalam Perumahan Pesona Ungu ini menawarkan keindahan danau buatan. Meski tidak terbentuk secara alami, namun view di Danau Marakas ini tidak kalah cantik dengan danau alami. Danau yang dibangun sejak tahun ‘90-an ini telah memiliki fasilitas yang memadai.

Di Danau Marakash, Sobat dapat menikmati semilir angin yang bertiup sembari duduk santai di tepi danau. Hampir setiap sore hari, pengunjung selalu memadati kawasan tersebut untuk melihat keindahan matahari terbenam. Warna langit yang biru berubah jingga hingga tertutup sempurna oleh pekatnya langit malam. Suasana yang romantis sekaligus eksotis.

3. Pantai Muara Beting
Bosan dengan hiruk pikuk dan kemacetan kota? Datanglah ke Pantai Muara Beting yang terletak di Pantai Bahagia, Muara Gembong, Bekasi. Pemandangan alamnya begitu memukau hingga sesak yang memenuhi dada pun terasa hilang. Lelah pun sirna, tergantikan dengan perasaan lega dan rasa tenang.

Pantai Muara Beting memiliki pasir halus dengan warna cokelat kehitaman. Pantai ini cukup sepi, sehingga sangat cocok dijadikan tempat pelepas penat dan berduaan bersama pasangan. Meski begitu, pantai ini cukup populer. Tak sedikit orang yang menjadikan Pantau Muara Beting sebagai background untuk foto pranikah.

Di Pantai Muara Beting, Sobat bisa berjalan bersisian bersama pasangan sembari menikmati suara debur ombak yang bergulung, kicau burung, dan gemerisik daun. Sangat alami dan menenangkan. Sewalah sebuah perahu untuk melihat perbedaan mencolok antara air di pesisir dan tengah lautan. Warna yang sangat kontras, tetapi berpadu dengan apik. Membuat segalanya terasa sempurna.

Nah, itulah tadi sejumlah destinasi wisata romantis yang dapat Sobat kunjungi bersama pasangan selama bertandang ke Bekasi. Tentunya, tidak cukup waktu sehari untuk mendatangi tempat-tempat itu, Sobat. Oleh karena itu, Sobat bisa memutuskan untuk menginap di hotel, di antaranya Airy Rooms.

Menginap di Airy Rooms banyak keuntungannya, Sobat. Di sini, Sobat bisa merasakan berbagai fasilitas mulai dari kamar tidur yang bersih dan empuk, TV layar datar, shower air hangat, penyejuk udara, peralatan mandi, air minum, dan WiFi gratis, dengan harga yang sangaaat terjangkau alias murah.



Rasakan kemudahan dengan booking kamar melalui aplikasi yang dapat Sobat instal di smartphone Android dan iOS. Soal pembayaran pun praktis, cukup transfer melalui bank ataupun kartu kredit. Dengan begini, Sobat akan melalui waktu liburan dengan tenang, tanpa pusing memikirkan tempat menginap.

Bagaimana, Sobat? Sudah siap untuk berjalan-jalan ke Bekasi? Yuk, liburan!

Wednesday, April 4, 2018

Apa Saja Kegunaan Mesin Gerinda?

Haiii, Sobat Jejak. Apa kabar?

Sudah lama tidak posting. Jadi, malam ini, saya mau posting yang ringan-ringan saja.

Mengenang masa kecil nih, ceritanya. Jadi, dulu ayah saya punya alat yang namanya gerinda. Bentuknya unik. Satu sisi dipasang semacam roda yang terbuat dari semen (atau batu, saya agak lupa), teksturnya mirip batu asahan. Roda ini bisa diputar dengan putaran di sisi lain alat tersebut.

Waktu itu, ayah saya menggunakan gerinda untuk mengasah peralatan kebun seperti koret, cangkul, golok, juga linggis, dan pisau dapur. Saya sendiri sering menjadikan gerinda tersebut sebagai alat permainan. Caranya, ya, saya putar-putar roda gerinda dengan sekencang-kencangnya. Pernah juga saya gunakan gerindanya untuk menghaluskan pecahan genteng yang kemudian saya pakai untuk main engklek, hehehe...

Teringat nostalgia tersebut, saya jadi penasaran. Sebenarnya, manfaat gerinda itu apa saja, sih. Apakah benar hanya untuk mengasah? Akhirnya, saya iseng-iseng browsing, deh. Eh, rupanya sekarang gerinda sudah berupa mesin, tho. Ya Allah... Kerasa deh, umur makin tua. Secara di zaman saya, gerinda masih manual banget, huehehe...

Begini, nih, bentuk mesin gerinda, Sobat.

Mesin Gerinda (sumber foto; Bukalapak)


Ternyata, selain bisa dipakai untuk mengasah atau menajamkan peralatan seperti pisau dan sebagainya, mesin gerinda juga memiliki banyak kegunaan lain, Sobat. Hal ini dikarenakan mata gerinda bisa dicopot dan diganti-ganti sesuai tujuan penggunaannya. Nah. Apa saja kegunaan mesin gerinda? Nih, di antaranya:

1. Memotong benda keras
Mesin gerinda dapat digunakan untuk memotong benda-benda keras, Sobat. Misalnyapipa besi, alumunium, batu, keramik, dan lain-lain. Namun, untuk melakukannya tentu saja membutuhkan ketrampilan. Menekan mesin ke benda yang akan dipotong harus pas. Sebab,  jika terlalu kuat menekannya, maka akan merusak mata gerinda dan mesinnya. Sebaliknya, jika menekan mesinnya kurang kuat maka objek benda tidak akan terpotong. selain itu, jangan menggunakan mesin gerinda untuk memotong baja ya, Sobat. Kasihan. Bisa lelah Hayati memotongnya. :D

2. Menghaluskan permukaan benda
Gerinda juga dapat di gunakan untuk menghaluskan permukaan benda agar rata dan mulus, Sobat. Misalnya, menghaluskan sambungan besi yang dilas dan menghaluskan tembok sebelum dicat. Caranya adalah dengan mengganti mata gerinda khusus dengan mata gerinda yang dapat menghaluskan.

3. Memoles permukaan benda
Saya juga baru tahu nih, Sobat, bahwa ternyata mesin gerinda juga bisa digunakan untuk memoles permukaan benda agar lebih mulus dan kinclooong... Misalnya, memoles bodi mobil yang sudah didempul, dengan menggunakan mata gerinda polish pad. Wah, ternyata serba guna banget ya, mesin gerinda ini.

4. Menggosok batu
Naaah, ini, nih. Bagi Sobat yang suka ngoleksi batu-batu akik, ternyata, gerinda bisa digunakan untuk menggosok dan menghaluskan batu-batu tersebut, lho. Mesin gerinda sangat efektif dipakai untuk menghaluskan dan mengilapkan benda-benda seperti batu akik, marmer, dan batu granit.

Hmm... Ternyata banyak juga ya, kegunaan mesin gerinda.

Oke deh, Sobat. Sampai di sini dulu postingan saya. Semoga bermanfaat, ya.