Sunday, April 22, 2018

Menyaksikan Kemeriahan Parade Budaya di Festival Teluk Stabas Pesisir Barat 2018

Cukup lama saya memendam keinginan untuk menginjakkan kaki di kabupaten termuda di Lampung berjuluk Negeri Para Sai Batin dan Ulama, yaitu Pesisir Barat. Kabupaten hasil pemekaran dari Lampung Barat ini seolah memiliki magnet yang begitu kuat menarik saya untuk datang ke sana. Tak bosan-bosan rasanya saya berselancar di dunia maya, membaca segala tulisan tentangnya, membayangkan deretan nyiur di tepi pantainya, debur ombaknya, kuliner khasnya, budayanya, semuanya, seraya melambungkan harap dan doa, semoga kelak Allah mengizinkan saya menjejaknya.

Lalu, bagai pucuk dicinta ulam pun tiba. Kesempatan untuk menjelajah di Pesisir  Barat akhirnya datang juga,  melalui lomba yang diadakan oleh GenPi Lampung untuk para anggotanya. Saya dan salah seorang teman blogger yang sudah saya kenal, Mbak Roma Pakpahan, keluar sebagai pemenang. Hadiahnya berupa perjalanan ke Pesisir Barat selama 3 hari 2 malam untuk Menyaksikan Kemeriahan Parade Budaya di Festival Teluk Stabas Pesisir Barat 2018 dan eksplore keindahan alamnya. Alhamdulillah.

"Jangan berhenti berharap, karena Allah lebih tahu saat yang tepat  untuk mengabulkan permintaanmu." 
(Anonymous)


A post shared by GenPILampung (@genpi_lampung) on

Sekilas tentang Pesisir Barat dan Festival Teluk Stabas bisa dibaca di sini


Perjalanan Menuju Pesisir Barat

Ahad siang, 15 April 2018, usai menunaikan shalat dzuhur sekaligus menjamaknya dengan ashar, saya meluncur menuju meeting point, yang terletak di pelataran sebuah minimarket dekat perumahan Bumi Kemiling Permai (BKP). Tim kami tadinya terdiri dari 6 orang, yaitu Bang Zack, Bang Fajrin, Putri, Robby, Mbak Roma, dan saya.  Namun, Bang Fajrin tidak bisa ikut, karena bertepatan dengan acara blogger di Hotel Sheraton.

Tiba di lokasi meeting point, saya melihat sosok Mbak Roma dan Kak Ewok, yang sudah menunggu. Kak Ewok anak GenPi juga, namun, ia berangkat terpisah dari kami. Setelah menunggu cukup lama, Robby datang, menyusul Bang Zack beberapa saat kemudian. Masih ada satu anggota tim yang belum muncul, yaitu Putri. Rupanya, gadis cantik yang pandai bergaya di depan kamera ini menunggu kami di Pringsewu. Itu artinya, tim sudah lengkap dan kami pun berangkat menuju Pesisir Barat.

Perjalanan darat dari Bandarlampung ke Pesisir Barat melewati Pringsewu, Tanggamus, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), memakan waktu kurang lebih 7 jam. Sebenarnya, waktu tempuh ini bisa lebih singkat melewati jalur udara ke Bandara Taufik Kiemas di Krui, ibukota Pesisir Barat. Sayangnya, keterbatasan jumlah penumpang, ditambah dengan berakhirnya kontrak dengan satu-satunya maskapai yang beroperasi, membuat aktivitas penerbangan di Bandara ini akhirnya terhenti.

Bagi saya pribadi, waktu tempuh yang lama itu bukanlah masalah. Justru, ia menjadi moment perjalanan yang seru dan tidak terlupakan. Apalagi, saya melaluinya bersama teman-teman yang sangat menyenangkan. Putri yang tak henti berceloteh, Bang Zack yang celetukannya selalu bikin ngakak minimal senyum simpul, Mbak Roma yang aktif menimpali celetukan Bang Zack, serta Robby yang suara tawanya cetar membahana, hingga sukses membuat rasa kantuk dan bosan menguap entah ke mana.

Senja mulai merayap ketika kami memasuki kawasan TNBBS. Taman seluas kurang lebih 356.800 hektar ini merupakan rumah nyaman satwa langka seperti gajah, badak, dan harimau Sumatera, serta beragam flora dan fauna lainnya. Seraya memandangi dan mengagumi pepohonan di hutan konservasi ini, saya mengukir doa di dalam hati, semoga ia senantiasa lestari, agar tetap dapat dinikmati oleh anak cucu di kemudian hari.

Bang Zack melajukan mobil dengan cukup kencang, membuat saya sedikit deg-degan setiap kali kami menyalib mobil di depan. Sesekali kami juga berteriak lebay, ketika mobil kami berpapasan dengan mobil lain di belokan tajam. Benar-benar heboh!

OH MY GOOD! WOOOO.... WOAAAAA....

(Doain Hayati selamat di perjalanan ya, Bang... Biar bisa balik lagi ke rumah.)

Saat mengisi bensin di Krui, Putri memberitahu bahwa Bang Aries sudah menunggu di Pasar Krui, untuk makan malam. Bang Aries ini dari Dinas Pariwisata Pesisir Barat. Saya mengenal beliau saat eksplore budaya dan wisata Lampung Barat untuk riset penulisan komik Aura Publishing, di Festival Sekala Brak bulan Agustus tahun 2017 yang lalu. Waktu itu sih, saya tahunya beliau adalah kuncen Pulau Pisang, bukan sebagai pegawai DisPar.

Kurang lebih pukul 20.30, kami tiba di Pasar Krui. Bang Aries, Mas Rino (kenal di LamBar juga), dan beberapa temannya menyambut kami di sana. Setelah sejenak saling sapa, kami pun duduk di kursi-kursi salah satu warung tenda. Suasana tidak begitu ramai. Hanya meja kami saja yang penuh terisi. Lainnya hanya ada satu dua orang, yang tampak sedang asyik bercengkrama.

Tadinya, saya sudah membayangkan menyantap makanan khas Pesisir Barat. Sate iwa tuhuk (blue marlin), misalnya. Sayangnya, yang ada hanya nasi goreng dan sate ayam. Tapi tak mengapa. Menu itu pun boleh juga. Kami pun kompak memesan nasi goreng, kecuali Bang Aries, yang memilih memesan sate.

"Ini sate tuhuk," kata Bang Aries, setelah menu pesanannya datang.
"Hah! Beneran?" Saya excited.
"Beneran. Mau?"
"Mau! Mau!"
Saya mencomot setusuk sate. Bersiap menyantapnya, sambil membayangkan kira-kira seperti apa rasanya.
"Itu sate iwa tuhuk berkaki," kata Bang Aries kemudian.

Hiiikssss.... 


Makan Malam di Pasar Krui

Menginap di Krui Mutun Walur Surf Camp Sumatra

Malam semakin larut. Usai menuntaskan urusan perut, Bang Aris dan Mas Rino menuntun kami menuju cottage. Krui Mutun Walur Surf Camp Sumatra, demikian nama cottage tempat kami menginap selama tiga hari di Pesisir Barat.

Berdasarkan informasi yang saya baca, Pesisir Barat masih sangat minim pasokan listriknya. Jadi, saya tidak heran, jika kegelapan masih sangat mendominasi sepanjang jalan yang kami lalui. Kegelapan pun semakin purna, ketika kendaraan kami memasuki lokasi cottage. Deretan pohon kelapa di kiri dan kanan jalan, rasanya lebih mirip memasuki perkebunan ketimbang kompleks penginapan.

Namun, kesan itu langsung sirna, ketika kendaraan kami melewati gerbang cottage. Masya Allah, suasananya nyaman sekali. Cottage-cottage berdinding anyaman bambu, berpadu asri dengan tanaman yang tumbuh di sekitarnya. Rumput hijau terhampar apik di halamannya, dengan bunga-bunga kecil berwarna kuning sebagai penyemaraknya. Debur ombak yang begitu jelas terdengar, membuat saya yakin bahwa cottage ini berada tepat di tepi pantai.

Cottage di Krui Mutun Walur Surf Camp Sumatra 

"Ladies first. Mau pilih cottage yang mana. Ini atau yang itu?" Tanya Bang Aries, menawarkan pilihan.

Cottages yang dimaksud Bang Aries adalah yang berdinding bambu dan yang berdinding papan bercat kuning dengan bentuk bertingkat. Finally, saya, Putri, dan Mbak Roma tidur di cottage berdinding anyaman bambu. Bersebelahan dengan kamar yang ditempati oleh Bang Zack dan Robby.

Memasuki kamar cottage, saya melihat desain interior yang cukup unik. Kamar ini adalah jenis twin room, dengan satu ekstra bed. terdapat satu kursi dengan meja dari lempengan pohon, serta kelambu yang tergantung di atas langit-langit tempat tidur. Sudah tersedia fasilitas dasar seperti lemari, kipas angin, dan peralatan mandi. Kamar mandinya sendiri didesain sedemikian rupa sehingga membuat penggunanya bagai menyatu dengan alam, mulai dari lantai yang terbuat dari batu alam, wooden hook, wastafel batu, pancuran air dari bambu, hingga tanaman air yang menghiasi dindingnya.

Setelah bersih-bersih dan menunaikan jamak shalat maghrib dan isya, tidur pun menjadi pilihan terbaik saya. Demikian pula dengan Putri yang sedang kedatangan tamu bulanan, juga Mbak Roma yang memang berbeda keyakinan. Tak lama kemudian, perpaduan suara ombak yang berdeburan, tubuh yang kelelahan, serta kantuk yang sudah tak tertahankan, sukses mengantarkan kami lelap dalam buaian malam.

Selama menginap di Krui Mutun Walur Surf Camp Sumatra, hanya dua kali kami mengalami listrik padam. Itu pun hanya sebentar. Tak sampai satu helaan napas dalam. Alhamdulillah. Jadi, bagi teman-teman yang ingin menjelajah Krui, Pesisir Barat, cottage yang beralamat di Jalan Pantai Wisata Walur, Krui Selatan ini sangat saya rekomendasikan. Selain asri dan nyaman, lokasi cottage ini sangat dekat dengan beberapa tempat wisata di Krui, seperti Pantai Labuan Jukung, Pantai Mandiri, dan Pantai Tanjung Setia.

Menyaksikan Kemeriahan Parade Budaya Bebay Ngantak Uyan Sasuduk di Kawasan Wisata Labuan Jukung

Pagi yang cerah. Puas menikmati dan mengabadikan debur ombak di dekat cottage, kami pun menuju resto untuk sarapan. Restonya cukup unik, dengan dominasi kayu dan anyaman bambu, serta pernak pernik bernuansa vintage. Sebuah jendela lebar berbentuk persegi panjang, menyajikan pemandangan asri berupa deretan pohon kelapa. Toples berisi gula dan bubuk kopi, sudah disediakan di meja. Juga teh celup dan gelas-gelas lawas berukuran kecil bercorak bunga. Tinggal seduh sendiri saja. Sebab dispenser air panas sudah disediakan pula di sana.

Resto di Krui Mutun Walur Surf Camp Sumatra

Sarapan telah terhidang. Masing-masing berupa selembar pancake pisang. Membuat mata-mata penuh selidik pun seketika saling pandang.

"Sarapannya cuma ini?"
"Kayaknya sih, iya."
"Aaaah, baru appetizer, kaliii..."
"Beneran. Kata ibunya cuma ini."
"Haaa?! Mana kenyaaang..."

HA, HA, HA....

Tak ada waktu untuk request sarapan tambahan. Jadi, lupakan rasa kenyang. Nikmati saja apa yang sudah dihidangkan. Anggap saja itu sarapan ajaib. Sedikit di luar, mengembang dan banyak jika sudah di dalam.

Sarapan minimalis :D

Tak ingin membuang waktu, selepas sarapan pagi yang cukup mengesankan, kami pun segera meluncur menuju lokasi Parade Budaya Festival Teluk Stabas, yang dipusatkan di kawasan wisata Labuhan Jukung Krui.

Memasuki lokasi festival, tampak panggung besar di sisi kiri, serta stand-stand di sisi kanan. Sejumlah panitia terlihat sibuk melakukan persiapan, di antaranya menata bahan-bahan yang akan digunakan untuk lomba nyelimpok gelamay, di atas karpet merah yang terhampar memanjang.

Selimpok gelamay adalah salah satu kuliner khas Pesisir Barat. Terbuat dari adonan gula merah yang dicairkan, jahe, santan, vanili, dtepung terigu, dan sagu. Bagian khas dari selimpok gelamay adalah daun pembungkusnya, yaitu daun khilik. Setelah dibungkus daun, selimpok pun kemudian dimasak dengan cara dikukus.



Menurut informasi dari panitia, lomba nyelimpok gelamay ini nantinya akan dilakukan serentak dengan lomba menyulam tapis (napis). Lomba diikuti oleh perwakilan 118 pekon dari 11 kecamatan yang ada di Pesisir Barat. Masing-masing pekon mengirimkan 15 orang utusan, dengan 14 orang mengikuti lomba nyelimpok gelamay, dan 1 orang mengikuti lomba napis.

Lomba akan dimulai setelah berlangsungnya pawai budaya, yang dijadwalkan pada pukul 13.00 WIB. Adanya lomba nyelimpok gelamay, napis, dan pawai budaya ini diharapkan dapat menjaga kelestarian heritage cultural, agar tidak punah dari kehidupan masyarakat Pesisir Barat.

Dikarenakan jadwal pawai dan lomba masih cukup lama, kami pun memutuskan untuk melipir menuju landmark Labuhan Jukung Krui dan berfoto-foto di sana. Berhubung Putri telah mengingatkan jadwal untuk menaikkan Festival Teluk Stabas dan menjadikannya trending topic di Twitter, kami pun bergegas ke luar lokasi. Mencari sinyal, sekaligus lapak sarapan pagi ke dua kami.



Kami sarapan di warung gerobak lapangan jukung, yang letaknya tepat di depan pintu masuk lokasi festival. Menunya berupa mie goreng dan es teh. Alhamdulillah, cukup mengenyangkan perut kami yang lapar. Saya membayangkan banana pancake yang kami santap di cottage pastilah bersorak riang. Kini, ia sudah punya teman, tak lagi merana sendirian.

Sarapan Mie Goreng di Lapangan Jukung

Kenyang sarapan, Bang Zack, Mbak Roma, Robby, dan Putri sibuk ngetweet. Saya? Manyun. Handphone berkartu CDMA milik saya sama sekali tidak kebagian sinyal selama di Pesisir Barat. Syukurlah, Mbak Roma kemudian berbaik hati berbagi hotspot. Jadi, saya bisa sedikit bantu-bantu meramaikan berita Festival Teluk Stabas di Twitter, yang kabarnya berhasil menjadi trending topic selama dua jam. Alhamdulillah.

Kenyang sarapan, kami kembali masuk ke kawasan festival. Motret-motret lagi, wawancara lagi, dan sebagainya, hingga datang ajakan Bang Aries untuk mencicipi bakso iwa tuhuk. Hurray!

Tempat makan bakso tuhuk itu ternyata tidak jauh dari Labuhan Jukung. Jalan kaki sebentar, sampai, deh. Tekstur baksonya lembut, ikan tuhuknya terasa, enak banget. Sayang, lambung saya yang sudah terisi pancake, mie goreng, dan es teh, tidak sanggup menghabiskan porsi baksonya, yang super duper mengenyangkan. Hmm, kecil juga ya, muatan lambung saya. Mungkinkah saya keturunan bule? Bule-lah dibilang dari Jerman, bule-lah dibilang dari Swedia... Hahaha, maksa.

Bakso Iwa Tuhuk

Akhirnya, moment yang dinanti-nanti datang juga. Berlari-lari kecil, kami menyongsong arak-arakan pawai budaya. Para bebay (ibu) berkostum kebaya dan sarung (sinjang) tapis, tampak berjalan beriringan. Mereka juga mengenakan selendang penutup kepala. Rata-rata membawa bakul haneling khas Pesisir Barat, yang terbuat dari anyaman bambu. Isi bakul haneling ini biasanya berupa beras, gula, kue, telur, dan sayur mayur. Dibawa sebagai hantaran saat mengunjungi acara pernikahan atau pun kematian. Inilah yang kemudian dinamakan ngantak uyan sasuduk.

Selain para bebay pembawa bakul haneling, ada juga bebay yang nyuncun atau membawa pahakh di kepala. Pahakh ini semacam talam berkaki yang berukuran cukup besar. Fungsinya adalah untuk wadah menu untuk menjamu para tamu agung, atau wadah hantaran dalam gelaran upacara adat.

Iring-iringan pawai juga dimeriahkan dengan pertunjukan tarian adat dari para lelaki dengan kostum berupa jas dan celana berwarna hitam, marching band oleh siwa siswi sekolah, peserta bertopeng kayu, serta sambutan cetar membahana dari MC kondang(an), Jeng Kelin KW 1. Hehehe... Keren euy, bisa mirip banget gitu, sama Nictagina. #applause

Luar biasa meriah suasana parade budaya siang itu. Wajah-wajah para peserta pawai tampak sumringah, meski sambil mengernyit, akibat sinar matahari yang amboiii garangnya. Benar-benar takjub saya melihat semangat mereka, yang bagaikan tak mengenal kata surut. Sebuah kekuatan yang saya yakin bersumber dari niat kuat untuk melestarikan budaya tercinta, agar tidak larung dimakan abrasi usia.

Peserta Parade Bebay Ngantak Uyan Sasuduk (sumber: www.genpi.co)

Setelah berlalunya iring-iringan pawai, acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan, hingga akhirnya tanda dimulainya lomba nyelimpok gelamay dan napis pun terdengar.

NGUIIING, NGUIIIING,  NGUIIIING....

Eh, nggak gitu ding, suaranya.

Lomba napis berlangsung seru. Lomba nyelimpok berjalan heboh. Maklum, yang ini lombanya berkelompok. Pesertanya ibuk-ibuk pula. Bayangkanlah ibuk-ibuk masak. Pasti ramenya mengalahkan pasar dadakan.

Bolak balik saya membelah kerumunan penonton, hanya untuk mencari posisi terbaik untuk mengabadikan jalannya lomba. Maklum saja, motretnya hanya dengan kamera HP. Jadi, harus  mendatangi objeknya langsung. Pantang dizoom, karena hasilnya pasti akan bokeh seobjek-objeknya, alias blur maksimal, Saudara-saudara.

Asyik memotret, saya bertemu Mas Rino dan Adien. Mereka berdua ini juga saya kenal saat festival di Lampung Barat. Sebetulnya, saya sudah melihat keberadaan keduanya sejak pawai budaya. Tapi, Adien sedang sibuk dengan drone-nya, sementara Mas Rino dan teman-teman photografer sedang riweh menata poto-poto untuk pameran. Hingga saat lomba-lah, kami baru sempat bertegur sapa.

Gerah, panas, lelah, akhirnya membuat saya terpaksa menggelosor di dekat peserta lomba napis. Di samping saya, sesekali Mas Rino memberi kode pada Adien agar sedikit memperlama terbangnya drone di atas kami. Lumayan, semriwing macam dikipasin.

Puas memotret, saya duduk berteduh di bawah pepohonan, bersama  Mas Rino dan seorang temannya. Tidak lama saya di sana, karena kemudian bangkit lagi untuk memotret selimpok gelamay yang sudah matang. Usai memotret, saya bertemu Bang Aries dan Robby.

"Ke mana aja? Dicariin dari tadi," Kata Bang Aries.
"Iya, Mbak. Ditelponin, lho, nggak nyambung-nyambung. Kirain ilang," sambung Robby.

(Jiaaah, jelas aja nggak nyambung. Kan, nggak ada sinyal...)

Saya nyengir.

"Hehe, abis keliling-keliling. Mana yang lain?"
"Di sana, di pondok-pondok seberang jembatan."
"Oke."

Kehausan, saya berjalan menuju deretan pondok kayu, di seberang jembatan, nun di belakang panggung festival. Tiba di sana, Bang Zack, Kak Ewok, Putri, dan Mbak Roma, tengah diam melepas pandang ke arah lautan. Tak ingin mengganggu, saya putuskan untuk membeli es dugan, lalu meminumnya sambil menyendiri.

"Naaaah, ini dia orangnya. Ke mana ajaaaa?!" Seru Bang Zack, yang akhirnya menyadari kehadiran saya.

Dua Rekor Muri untuk Pesisir Barat

Mendung menggelayut. Setelah rasa lelah berkurang, kami pun memutuskan untuk kembali ke lokasi festival, yang ternyata bertepatan dengan diumumkannya dua rekor muri yang diraih Pesisir Barat pada gelaran Festival Teluk Stabas 2018, yaitu rekor peserta terbanyak Bebay Ngantak Uyan Sasuduk (1100 orang) dan Lomba Nyelimpok Gelamay (1078 orang). Selamat untuk Pesisir Barat.

Penyerahan Piagam Muri (sumber: www.genpi.co)

Hujan semakin deras ketika saya dan rombongan kembali ke cottage. Setibanya di cottage, seorang bule berkebangsaan Australia datang menghampiri Bang Zack.

"Are you a travel? I need a travel to take me to the surfing competition."

Oh, rupanya, si Mas Bule itu mau minta diantar ke lokasi Krui Pro 2018 Surfing Competition di Pantai Tanjung Setia. Setelah deal soal harga, Bang Zack dan Robby pun mengantarkan bule tersebut ke sana. Sementara saya, Mbak Roma, dan Putri, memilih untuk tinggal di cottage saja. Bersih-bersih badan, jamak shalat, dan siap-siap makan malam.

Sepulangnya Bang Zack dan Robby ke cottage, kami pun meluncur ke tempat makan yang dipilih Bang Aries. Menunya berupa ayam dan ikan bakar. Lagi-lagi ada tahunya juga. Seingat saya, ini kali ke tiga makanan bernama tahu muncul dalam menu kami. Pertama saat makan mie goreng di lapangan jukung, lalu bakso tuhuk, dan di rumah makan bermenu ayam dan ikan yang kami santap sekarang.

Ayam bakarnya lezat. Tahunya juga. Sayangnya saya lagi-lagi tidak sanggup menghabiskannya, lantaran kembung akibat kekenyangan minum air dan es degan.

Hujan belum reda saat kami selesai makan. Begitu pula selama perjalanan menuju penginapan.

Tiba di cottage, mata super mengantuk dan badan sudah tidak sabar minta diistirahatkan. Akhirnya, tak lama kemudian....

Zzzzzzzzz.....


Note:
Lega. Akhirnya postingan pertama Festival Teluk Stabas selesai juga. Setelah sempat syok dikarenakan HP yang saya pakai untuk memotret selama di Pesisir Barat, tidak sengaja terduduk dan rusak. Semua foto terpaksa harus diikhlaskan, karena memang semua nempel di HP, yang tidak saya pakaikan micro SD. Beruntung, masih tersisa beberapa yang saya foto dan kirim ke teman dan orang di rumah via Whatsapp. Lumayan. Pelajarannya, jangan menunda memindahkan data di HP ke laptop setelah bepergian. Gunakan micro SD untuk jaga-jaga dari kemungkinan HP rusak dan data hilang.

Bagi yang berminat eksplore keindahan Pesisir Barat, hubungi Aries Pratama di 0821-8683-9738


Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: izzahannisa313@gmail.com.



6 comments:

  1. saya baru sadar bahwa suara saya yang paling besar mbak :)) hahahaha
    berarti kita sama ya mbak, baru pertama kali menginjakkan kaki di kabupaten pesisir barat :D
    Perjalanan yang menyenangkan ya mbak.
    Oiya ditunggu janji mau dibikin komiknya mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, baru sadar ya, By. Nggak papa, yang penting udah sadar, wkwkwk... Iya, seru dan menyenangkan banget. Siap, insya Allah komik kita jadi suatu hari nanti. Sabar nunggu prosesnya, yaaa... Doain lancar ^__^

      Delete
  2. Aku hanya team pemantau saja, Mbak. Makanya aku tidak ikutan ke Pesisir Barat.. Wah akhirnya ke Pesisir Barat juga ya, Mbak. Trus mencicipin kuliner Bakso Iwa Tuhuk dan Sate Tuhuk.. Keren dah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ooo, pantesan... Kirain ikut trus nggak jadi, hehehe... Iyaaa, Bang. Seneng dan seru banget di sana. Thanks berat buat GenPi Lampung yang udah kasih kesempatan ke Pesisir Barat, ya ^_^

      Delete
  3. Mbaaaa aku bahagiaaak loooh mbacanyaaaa apalagi kalo ikut ya entah gimana rasanya. Oh ya, pantesan ku bertanya2 pas masih baca soal cottage. Pengen tau gimana kamar mandi vintage ternyataaaaa fotonya emang ikut lenyap ya huhu.

    Gpp ya mba, Insyaallah ada gantinya ntah berupa kesempatan jalan lagii atau apa ajaaa yang penting kita makin bahagia hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Deeeeeeek... mbak juga seneeeeeeng di sana. Moga suatu hari bisa ke Pesisir Barat bareng kita, yaaaaa....

      Iya Dek, aamiin... Sedih banget lho, keilangan foto-foto selama di sana. Selain karena bagus2 dan pastinya moment yang sama nggak akan terulang lagi, bahan2 foto buat postingan di blog juga ilang, deh... Tapi nggak papa, semua pasti ada hikmahnya :)

      Delete

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)