Tuesday, April 24, 2018

Serunya Lomba Mengunduh Damar di Pekon Rawas Pesisir Barat

Udara terasa segar pagi itu, Selasa, 17 April 2018. Hujan yang turun hampir semalaman, menyisakan titik-titik air di halaman Krui Mutun Walur Surf Camp Sumatra yang dipenuhi hamparan rerumputan hijau. Matahari yang cerah, mengintip dari celah-celah daun pohon kelapa, yang banyak tumbuh di sekitar cottage.

Rombongan saya yang terdiri dari Bang Zack, Mbak Roma, Robby, Putri, dan saya sendiri, berkumpul di resto cottage lebih pagi. Jika sebelumnya menu yang terhidang hanya banana pancake, kali ini menunya adalah nasi. Nasi Goreng Cilukba, demikian saya menamainya. Sebab nasinya ditutupi dengan kerupuk yang luar biasa besarnya. Ketika kerupuk diangkat, maka, cilukba! Terlihatlah nasi gorengnya.

Usai sarapan, gegas kami memasuki mobil, yang segera meluncur meninggalkan cottage untuk menjemput Bang Aries yang menunggu di sebuah swalayan. Kali ini tujuan utama kami adalah Repong Damar (kebun damar) yang terletak di Pekon Rawas, Pesisir Barat, untuk menyaksikan lomba mengunduh getah damar. Lomba ini masih merupakan rangkaian dari event tahunan yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Pesisir Barat, yaitu  Festival Teluk Stabas 2018.

Sebagaimana telah jamak diketahui, damar merupakan salah satu sumber perekonomian terbesar di Pesisir Barat. Pesisir Barat sendiri merupakan penghasil jenis getah damar terbaik di dunia, yaitu Damar Mata Kucing atau Shorea javanica, yang berasal dari suku meranti-merantian. Terdapat beberapa titik lokasi repong damar di Pesisir Barat, salah satunya di Pekon Rawas, yang menjadi tempat berlangsungnya lomba ngunduh damar nanti.

Peserta Lomba Mengunduh Damar

Seumur hidup saya belum pernah melihat pohon damar secara langsung, begitu pula proses mengunduh getahnya, yang konon dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti membuat vernis, plester, serta pelapis kayu korek api agar tidak terlalu cepat terbakar. Karenanya, saya begitu penasaran dan tidak sabar ingin segera menyaksikan Serunya Lomba Mengunduh Damar di Pekon Rawas Pesisir Barat ini.

Pohon-pohon damar sudah terlihat di sisi kanan dan kiri jalan, ketika Bang Aries meminta Bang Zack untuk menepikan mobil. Ternyata, kami sudah sampai.

Suasana masih sepi. Hanya ada rombongan kami, serta satu dua orang yang datang beberapa waktu kemudian. Kesempatan itu pun kami gunakan untuk berfoto-foto, ngevlog, atau sekadar mengamati keadaan di repong damar.

Oh, ini rupanya pohon damar, batin saya, seraya memandang takjub pada sosoknya yang tinggi menjulang, lurus, dengan cabang-cabang yang hanya terdapat pada bagian atasnya. Mendekati pohon, saya melihat adanya lubang-lubang berbentuk segitiga. Dari tiap sisi lubang-lubang itulah, getah damar yang berwarna bening atau kekuning-kuningan keluar dan membeku. Lubang-lubang ini juga berfungsi sebagai pijakan bagi pengunduh damar.

Saya menengadahkan kepala, menyusuri lubang-lubang di pohon damar, lalu menatap daunnya yang lebat dan hijau. Menurut informasi dari seorang petani damar, banyaknya lubang menunjukkan usia damar. Makin banyak lubangnya, makin tua usia damarnya. Begitu pula kelebatan daunnya, yang menurut beliau menunjukkan kuantitas getahnya. Makin lebat dan hijau daunnya, makin banyak pula getah yang dihasilkannya.

Tak lama kemudian, ada peserta lomba ngunduh damar yang datang, berjenis kelamin wanita. Satu paruh baya, satu lagi lebih muda, membawa lengkap peralatan mengunduh damarnya. Bagaikan semut menemukan gula, kami pun langsung serentak merubungi mereka. Memotret, bertanya-tanya, bak wartawan atau reporter yang sedang melakukan wawancara.

Ibu namanya siapa?
Ini namanya apa?
Gunanya untuk apa?
Cara memakainya gimana?

Adalah Bu Hermi dan Bu Salma, nama dua ibu ramah yang berasal dari Pekon Lay, Kecamatan Karya Penggawa. Sudah berbelas tahun keduanya menjalani profesi sebagai pengunduh damar. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah dilakukan, sebab risiko menaiki pohon dengan ketinggian puluhan meter pastilah besar. Apalagi jika habis hujan seperti sekarang. Pohonnya licin dan membahayakan. Namun, mereka tetap ikhlas menjalaninya. Tak apa mengais rezeki di sunyinya belantara, asalkan bisa mengukir secercah senyum di wajah orang-orang tercinta.

Penuh kesabaran, Bu Hermi dan Bu Salma menjelaskan kepada kami nama-nama peralatan yang digunakan untuk mengunduh damar.

"Ini apa, Bu?" Tanya saya, seraya menunjuk wadah berbentuk kerucut, terbuat dari pelepah pinang yang dijahit dengan rotan.
"Ini namanya tembilung, gunanya untuk menampung getah damar yang diambil dari lubang."
"Ooo... Kalau keranjang tinggi dari anyaman rotan ini?"
"Ini namanya bebalang. Kalau tembilung sudah mulai penuh, damarnya dipindahkan ke dalam bebalang."

Selain tembilung dan bebalang, ada juga alat berupa tali yang terbuat dari anyaman rotan. Namanya ambon. Fungsinya adalah untuk pengaman dan membantu pengunduh damar menaiki pohon. Sementara itu, alat yang digunakan untuk mengunduh atau mencongkel getah damar dari lubang adalah kapak patil. Bentuknya seperti huruf "T" dengan bagian gagang yang disebut perdah.

Saya sempat mencoba mengunduh damar dengan kapak patil tersebut. Namun, ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Perlu tenaga dan teknik yang benar agar getah damar beku yang dicongkel tetap utuh dan berukuran besar saat masuk ke tembilung.

Bu Hermi dan Bu Salma tertawa melihat cara saya mengambil getah damar.

Bu Salma mengambil alih kapak patil di tangan saya.

"Begini caranya," ujarnya, seraya mempraktikkan cara mengunduh damar kepada saya, dengan kelihaian yang tidak perlu lagi ditanya.

Panitia dan peserta lomba sudah berdatangan. Begitu pula para penonton dan awak media yang hendak menyaksikan keseruan lomba mengunduh damar. Tak disangka, hanya Bu Hermi dan Bu Salma peserta lomba yang berjenis kelamin wanita. Meskipun demikian, hal itu sama sekali tidak membuat senyum dan ketenangan sirna dari wajah mereka. Wah, salut saya. Standing applause deh, untuk percaya diri mereka yang luar biasa.



Sebelum lomba dimulai, terlebih dahulu peserta melakukan pemanasan berupa goyang damar, eh, goyang dumang. Panitia memimpin. Musik dihidupkan, mereka pun bergoyang. Saya yang tadinya asyik memotret, berinisiatif menjauhkan diri. Mengamankan jempol kaki, khawatir ia tidak tahan ingin ikutan goyang juga, hahaha....

Usai pemanasan dan lain sebagainya, tibalah waktunya lomba ngunduh damar dimulai. Pohon damar yang diunduh adalah yang yang telah diberi tanda silang. Kriteria penilaiannya bukan hanya dari banyaknya damar yang diunduh, melainkan juga teknik pengunduhan yang benar, serta perilaku menjaga kelestarian damar yang ditunjukkan oleh peserta.

Megaphone diacungkan, sirine panjang diperdengarkan. Sorak sorai bersahutan. Para peserta lomba mengunduh damar pun berlarian, menuju pohon incaran yang diharapkan dapat memberikan hasil memuaskan. Saya dan teman-teman tidak mau ketinggalan. Kami memburu para pengunduh untuk mengabadikan aktivitas memanen damar yang mereka lakukan.

Sigap, para pengunduh melingkarkan ambon ke pohon damar, lalu mengikatnya, kemudian melingkarkannya pula ke tubuh mereka. Setelah itu, satu persatu, lubang di pohon damar mereka congkel dan keruk isinya. Habis isi lubang bagian bawah, mereka geser ambon ke atas, seraya menjadikan lubang yang sudah kosong sebagai tangga untuk memanjat lebih tinggi.

Jika tembilung sudah mulai penuh atau terasa berat, para pengunduh damar turun untuk memindahkan isinya ke bebalang. Setelah itu, mereka naik lagi untuk kembali mengisi tembilung dengan getah damar. Begitu seterusnya. Semua itu mereka lakukan dengan kelihaian dan kecepatan yang menakjubkan.

Tak terasa, waktu perlombaan sudah hampir habis. Beberapa peserta lomba pun sudah ada yang menyetorkan hasil unduhannya untuk ditimbang. Ada rasa haru saat melihat cucuran keringat dan raut lelah di wajah mereka, yang mengingatkan saya pada jasa dan perjuangan kedua orangtua, terutama ayah yang telah tiada.

Hari sudah siang. Azan dzuhur tak lama lagi berkumandang. Entah siapa di antara para pengunduh damar itu yang menang. Sebab, kami sudah berlalu meninggalkan repong damar. Meskipun demikian, saya yakin benar, bahwa semua pengunduh damar itu adalah pemenang. Pemenang kehidupan, yang terus tersenyum dan berjuang sekalipun berada dalam himpitan kesulitan.

Tujuan kami berikutnya adalah Pantai Mandiri dan Pantai Tanjung Setia yang ombaknya menjadi idola bagi para peselancar. Seperti apa keseruan kami di sana? Tunggu di postingan selanjutnya.
Izzah Annisa
Berprofesi sebagai penulis buku bacaan anak. Hobi membaca, berbagi tips penulisan, memotret, jalan-jalan, mereview, dan menonton film petualangan. E-mail: izzahannisa313@gmail.com.



0 comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa isi buku tamu, ya... ;)