Friday, March 24, 2017

Cara Menjaga Kesehatan Tubuh Anak Menjelang Ujian Sekolah

Akhir-akhir ini, kondisi cuaca sedang tidak menentu. Kadang pagi cerah, eh, siangnya hujan. Siangnya terik, sorenya mendung, malam cerah, paginya hujan. Keadaan ini tak jarang mengakibatkan daya tahan tubuh menjadi menurun dan akhirnya jatuh sakit.

Di daerah tempat tinggal saya, virus penyakit yang sedang mewabah adalah flu. Hal ini membuat saya harus pandai mengantisipasi, agar jangan sampai keluarga saya jatuh sakit karena flu. Terutama Syahid, anak saya. Karena, tak lama lagi ia akan menjalani ujian sekolah.

Saya ingat saat Syahid ujian sekolah semester lalu. Dua hari terakhir ujian, Syahid sakit. Saya menawarkan padanya untuk tidak usah masuk sekolah. Toh, bisa ujian susulan. Tapi, Syahid tidak mau. Ia memaksakan dirinya untuk berangkat dan menjalani ujian sekolah. Duh, sedih banget. Di rumah, saya tidak tenang menunggunya pulang.

Secara akademik, Syahid bisa dibilang menonjol di kelasnya. Ia dapat menangkap pelajaran dengan cepat dan mudah. Walau tidak ditekankan untuk belajar di rumah, alhamdulillah, nilai-nilainya selalu memuaskan. Namun,  kondisi badan yang sakit tentu membuat potensi yang dimilikinya menjadi tidak maksimal. Karenanya, saya mencoba menerapkan Cara Menjaga Kesehatan Tubuh Anak Menjelang Ujian Sekolah. Syahid gak boleh sakit supaya bisa menjalani ujian sekolahnya dengan penuh keceriaan. Syukur alhamdulillah kalau nisa #sehat365hari alias sepanjang tahun 2017 dan tahun-tahun setelahnya, aamiin....

Nah, berikut Cara Menjaga Kesehatan Tubuh Anak Menjelang Ujian Sekolah yang coba saya terapkan:

1. Banyak minum air putih
Sebetulnya Syahid suka protes setiap kali saya bilang minum air putih. “Bukan air putih, Nda, tapi air bening,” begitu, katanya. Huehe, bener juga, sih.... :D

Syahid sangat suka minum susu. Tiap haus, pinginnya minum susu. Jarang minum air putih. Padahal, air putih memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Di samping penting dalam keseimbangan cairan di dalam tubuh, air putih juga bermanfaat untuk menjaga fungsi ginjal, mengeluarkan racun, memberi energi, melancarkan saluran pencernaan, dan meningkatkan kesegaran tubuh.

Karenanya, saya pun mencari cara agar Syahid senang minum air putih. Mulai dengan memberi penjelasan mengenai manfaat air putih, mengingatkannya untuk minum air putih, sampai menyiapkan teko air putih khusus untuknya. Saya juga memberi syarat padanya untuk minum air putih dulu sebelum minum susu. Alhamdulillah, Syahid mulai terbiasa minum air putih dan itu membuat tubuhnya lebih sehat dan bugar.

2. Menjaga pola tidur
Cukup sulit bagi saya untuk membuat Syahid tidur siang. Padahal saya yakin, aktivitas setengah harian di sekolah, tentu membuat tubuhnya lelah dan butuh istirahat. Tapi, yah, namanya anak-anak. Mumpung siang, kenapa nggak diisi dengan berbagai aktivitas menyenangkan. Begitu pun saya dulu, waktu kecil. Pulang sekolah bukannya istirahat, malah ngebolang manjat pohon, mandi sungai, dan sebagainya, hehehe...

Namun, menjaga pola tidur malam Syahid tetap saya lakukan. Intinya, Syahid harus tetap tidur cukup. Jadi, setelah isya, semua aktivitas stop. Waktunya Syahid tidur dan bangun kembali menjelang subuh. Dengan tidur cukup, saya berharap Syahid lebih sehat dan siap menjalani aktivitas keesokan harinya.

3. Menjaga pola makan
Nah, ini nih, yang menjadi tantangan besar buat saya. Syahid itu susaaaaah sekali yang namanya makan sayur. Padahal, vitamin dalam sayur serta protein ikan bagus untuk kesehatannya. Karenanya, saya coba mengakalinya dengan menyembunyikan rupa sayur dalam menunya. Misal, membuat bakwan sayur, dadar telur sayur, dan sebagainya. Alhamdulillah, walaupun sedikit-sedikit asupan sayur Syahid mulai terpenuhi. Untuk buah utuh, Syahid mulai suka pepaya dan pisang. Jadi, saya berusaha untuk selalu stok dua jenis  buah itu. Untuk jenis buah lainnya, Syahid maunya kalau sudah dijus.

4. Menjaga Kebersihan badan dan lingkungan
Hal yang perlu diperhatikan agar kesehatan tubuh anak tetap terjaga adalah dengan menjaga kebersihannya. Selain mandi dua kali sehari, saya juga membiasakan Syahid untuk selalu mencuci tangan dan kaki setelah beraktivitas di luar rumah, untuk menghilangkan berbagai macam kuman penyebab penyakit. Saya juga membiasakannya untuk memotong kuku setiap pekan, yaitu setiap hari Kamis atau Jumat.

5. Olahraga teratur
Olahraga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Dengan olahraga, tubuh jadi lebih segar dan tidak gampang sakit. Karenanya, di pagi hari setelah subuh, saya dan keluarga membiasakan untuk olahraga bersama. Olahraga yang kami lakukan sih, ringan-ringan saja. Terkadang cukup hanya dengan lari di tempat, sit up, back up, atau lari bolak-balik jalan di depan rumah. Kadang bersama-sama mempraktikkan gerakan karate yang Syahid pelajari Syahid di ekskul. Syahid di daulat menjadi senpai, yang mengajar orangtuanya melakukan gerakan bela diri. Hal ini membuat Syahid menjadi olahraga.

6. Mengonsumsi Stimuno

Produk-produk Stimuno (foto kolpri)

Selain lima tips di atas, saya juga memberikan Stimuno kepada Syahid. Menurut informasi yang saya dapat di di http://www.serbaherba.com/daya-tahan, Stimuno  sudah teruji klinis dapat bekerja langsung memperkuat sistem imun dengan cara memperbanyak antibodi di dalam tubuh sehingga dapat berfungsi sebagai imuno modulator atau benteng pertahanan bagi tubuh.  Imuno modulator ini didapat dari ekstrak tanaman meniran  yang terkandung di dalam Stimuno.

Produk Stimuno terdiri dari Stimuno Forte dan Stimuno Syrup. Stimuno syrup memiliki dua varian rasa yang disukai anak-anak, yaitu strawberry dan anggur. Untuk Syahid, saya memberikan Stimuno Syrup rasa anggur dengan dosis 1 sendok takar (5 ml) sebanyak 3x sehari.

Stimuno Syrup (foto kolpri)

Semoga, tips atau cara menjaga kesehatan tubuh anak menjelang ujian sekolah termasuk minum Stimuno setiap hari yang saya terapkan, dapat membuat  imunitas tubuh Syahid meningkat, sehingga tidak gampang sakit meski kondisi cuaca yang tidak menentu. Dengan demikian, saya tidak perlu khawatir lagi Syahid sakit saat ujian sekolah, seperti yang terjadi di semester lalu.

Sunday, March 19, 2017

Serunya Mengikuti Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi di Hotel Amaroossa Grande Bekasi Bag. 1

Hai, Sobat Jejak. Assalamualaikum. 

Sobat, kali ini, saya mau menceritakan pengalaman saya mengikuti workshop menulis dari Kemdikbud selama tiga hari di Bekasi. Nama workshopnya, Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi. Hihi, iya, sih, dari judulnya kesannya kayak penataran gitu, yak. Tapi asli seru dan menyenangkan lho, workshopnya. Penasaran? Begini, ceritanya. 

Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya dan Tradisi

"Alhamdulillah, makasih infonya, Mbak Ranny!" Pekik saya gembira, ketika Mbak Ranny, panitia seleksi dan pelaksanaan Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi menelpon dan memberitahu bahwa saya lolos seleksi.

Info dan seleksi awal peserta pembekalan ini mulanya diadakan di Forum Penulis Bacaan Anak atau yang oleh anggotanya akrab disebut dengan Paberland. Paberland yang pertama kali digawangi oleh Kang Ali Muakhir ini kini telah beranggotakan lebih dari 20.000 orang. Di Paberland, terpilihlah nama-nama nominator pesertanya, yang di tahap selanjutnya ditugaskan untuk membuat konsep buku cerita anak berlatar budaya dan mengirimkannya ke panitia Kemdikbud. Nah, di tahap lanjut ini peserta pembekalan terpilih ditentukan langsung oleh pihak Kemdikbud.

Saya merasa sangat beruntung, Sobat. Karena saya menjadi salah satu dari 18 penulis yang berhak untuk mengikuti Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi, yang diselenggarakan oleh Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan yang Maha Esa dan Tradisi Kemdikbud, dari tanggal 6 - 8 Maret 2017, di Hotel Amaroossa Grande Bekasi, yang beralamat di Jl. Jend. Ahmad Yani No. 88 Bekasi Barat.


Hotel Amaroossa Grande Bekasi (foto: www.pegipegi.com)

Adapun 18 penulis yang terpilih semuanya berasal dari Sumatera, karena memang fokus penulisan Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi tahun 2017 ini adalah mengenai budaya di beberapa provinsi di Sumatera, seperti Aceh, Bangka Belitung, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, dan Lampung. Ada Mbak Beby, Omacan Syamsiah, Bang Azhari, Uni Novia, Uni Eci, Uni Maya, Mbak Agnes, Mbak Yulita, Kak Citra, Kak Ruziana, Kak Sri Murni, Kak Desri, Kak Viska, Bang Elvi, Kak Suhendra, Mbak Fitri, Kak Suwanda, dan saya sendiri.

Nah, penulisan Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi sendiri dimaksudkan untuk memberikan bahan bacaan kepada siswa siswi kelas 4 - 6 SD mengenai keragaman budaya bangsa Indonesia, Sobat. Hal ini bertujuan untuk memperkenalkan dan meningkatkan pemahaman tentang keragaman budaya bangsa Indonesia kepada generasi muda, melestarikan warisan budaya bangsa dan memperkukuh kebudayaan Indonesia, menumbuhkan budi pekerti luhur melalui kecintaan terhadap budaya bangsa dan nilai-nilai moral yang diwariskan dalam keragaman tradisi bangsa, serta meningkatkan minat membaca siswa melalui bahan bacaan yang berkwalitas baik.

Tentunya, menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami, para penulis terpilih, yang mendapat kepercayaan dari kemdikbud untuk mengangkat kebudayaan daerah kami masing-masing ke dalam buku Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi ini. Akan tetapi, ini juga merupakan tantangan sekaligus amanah besar yang tidak boleh dilakukan sembarangan. Mengingat budaya adalah sesuatu yang harus dihormati dan informasi tentangnya harus dibuat seotentik mungkin. Karenanya, kami akan melewati serangkaian tahap pengumpulan data, di antaranya survey langsung ke lapangan, sebelum melakukan penulisan seri buku ini nanti. Huaaah... Doakan kami ya, Sobat. Semoga proses penulisan buku ini lancar, sehingga ia dapat segera menemui pembaca kecilnya di sekolah dasar, aamiin...

Perjalanan menuju Hotel Amaroossa Grande Bekasi

Jarum jam menunjukkan pukul 11.45 WIB, ketika pesawat yang membawa saya dan dua rekan penulis dari Lampung, mendarat mulus di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Setelah beberapa kali berpose dengan berbagai gaya di depan kamera handphone, kami pun berjalan menuju halte bus bandara. Di sana, kami bertemu dengan tiga peserta dari Padang, yaitu Uni Maya, Uni Novia, dan Uni Eci. Onde mandeeee, senangnya! Bisa kopdar dengan cerpenis dan novelis yang kece bana-bana. ^_^


Berpose dulu sesaat setelah tiba di Terminal 3 Bandara Soeta

Cukup lama kami menunggu, namun bus tujuan Bekasi Barat tak kunjung lewat. Sempat sih, lewat sekali, tapi busnya sudah penuh. Hanya bisa memuat dua penumpang. Karena kami berjumlah enam orang dan terlalu setia sehingga tidak mau meninggalkan satu sama lain (cieee),  kami pun memutuskan untuk menunggu bus berikutnya saja.

Ketika rasa bosan mulai menghinggapi dan perut mulai berkeruyukan minta diisi, seorang petugas bandara datang menghampiri kami. Mungkin ia merasa iba melihat wajah-wajah lelah dan kelaparan kami. Atau jangan-jangan, ia bisa mendengar kata hati kami yang seolah menyuarakan kalimat, "OM, TELOLET OM!" :P

"Ada bus ke Bekasi Barat setelah ini. Tapi tarifnya lebih mahal, yaitu Rp. 60 ribu," kata pak petugas.

Saya menjawil seorang teman.

"Emang, biasanya berapa?"

"Kata bapak itu 45 ribu," jawabnya.

Ah, hanya beda sedikit, ternyata. Karenanya, tak perlu berunding lama, kami pun sepakat naik bus yang direkomendasikan oleh petugas tersebut. Sesaat kemudian, punggung lelah kami telah bersandar di kursi bus Royal Class yang empuk dan nyaman. Alhamdulillah....

Mulanya, saya berencana untuk tidur di dalam bus. Tidur selama perjalanan yang konon menghabiskan waktu kurang lebih tiga jam dari bandara menuju Bekasi, tentu lumayan untuk menabung energi, agar fresh saat mengikuti materi yang dimulai malam nanti. Namun, pemandangan di sepanjang perjalanan, ditambah nuansa sendu-sendu romantis (uhuk!) lantaran langit yang mendung disertai gerimis, rasanya terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Sambil menatap gedung-gedung pencakar langit, iseng saya mengirim pesan di grup penulis Kemdikbud.

"Di Jakarta banyak gedung tingginya!" #AnakSingkong 

Kurang lebih pukul 15.00 WIB, bus yang kami naiki tiba di terminal Bekasi Barat. Sebelumnya, kami sempat heboh saat bus terus melaju dan berbelok ke sebelah kiri, sementara gedung Hotel Amaroossa berada di belokan sebelah kanan.

"Kok busnya nggak berenti?!"
"Lho, nanti kita nyasar gimana?"
"Hotelnya tambah jauh!"
"Waduuuh, gimana ini?!"

Untunglah, terminalnya ternyata tidak jauh. Kami pun bernapas lega.

Fyuuuh....

Dari terminal, kami melanjutkan perjalanan menuju hotel menaiki taksi, dengan tarif Rp. 10.000,-/orang. Alhamdulillah, perjalanan menuju hotel bisa dibilang cukup lancar, tidak macet. Tepat pukul 15.15 WIB, kami tiba di Hotel Amaroossa Grande Bekasi. Lagi-lagi alhamdulillah....


Lobi Hotel Amaroossa Grande Bekasi (foto: www.amaroossa.com)

Dua orang doorman menyambut ramah kedatangan kami di hotel. Kami pun dipersilakan memasuki lobi hotel yang terlihat luas dan nyaman. Mbak-mbak resepsionis yang cantik mengatakan bahwa kami harus menunggu beberapa saat, karena kamar sedang disiapkan. Sementara itu, fasilitas makan siang terpaksa kami lewatkan, karena sesi makan siang di hotel sudah clossing sejak pukul 15.00 WIB. Ah, sayang sekali.

Setelah menunggu cukup lama dengan kondisi lelah dan kelaparan, kami akhirnya diberitahu bahwa kamar sudah siap. Bergegas, saya dan Mbak Fitri, roomate saya, naik ke lantai 11, tempat di mana kamar kami berada. Alhamdulillah, akhirnya bisa mandi dan istirahat.

Bertemu sahabat lama dan guru menulis

Suasana kamar yang temaram serta kasur hotel yang empuk dan nyaman, membuat saya tak sabar ingin merebahkan badan. Namun, belum sempat angan menjadi kenyataan, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar. 

Tok...
Tok...
Tok...

Ketika pintu dibuka, suasana mendadak berubah suram, lampu di lorong hotel meredup, dan lolongan serigala di kejauhan terdengar sayup-sayup....

Auuuuuuuuu....

Hihihi, nggak, diiiing... :D

Begitu pintu dibuka, sahabat lama saya, Keni, langsung mengeluarkan omelan khasnya yang entah kenapa tak kunjung lekang dimakan usia.

"Assalamualaikum.... Eluuuu nih, yaaaaa.... Lama amat bukain pintunyaaaa!"

Saya hanya bisa terkekeh mendengar omelannya.

"Hehehe... Walaikumussalam... Masuk, Ken!"

Oh, iya. Keni ini sahabat saya sejak SMA-kuliah. Anaknya rame bangeeet.... Dulu zaman kuliah, kami sering saling mengunjungi dan menginap di kostan masing-masing.

Kadang saya yang menginap di kostan Keni....

"Ken, gua nginep tempat Lu, ya?"
"Iya."
"Jangan lupa, ya!"
"Apaan?"
"Sediain makan."

Kadang Keni yang menginap di kostan saya...

"Ijah, gua nginep di kostan Lu, ya?"
"Okeeey... Btw jangan lupa mampir di warung ya, Ken."
"Ngapain?"
"Beli nasi bungkus buat kita bedua."
"Elu tuh, yaaaaaa!"

Wkwkwk....

Kini, Keni menetap di Bekasi bersama suaminya. Ketika saya beritahu bahwa saya ada workshop di Bekasi, dia dan suaminya datang jauh-jauh (jarak kurang lebih 1 jam) menemui saya di hotel. Waaah, makasih ya, Ken. Sebagai tanda mata, saya memberikan dua buku karya saya yang berjudul 25 Kisah Sebab Turunnya Ayat Alquran dan 30 Kisah Teladan Rasulullah kepada Keni. Mudah-mudahan suka bukunya ya, Ken. ^_^


Saya dan Keni

Oh, iya, info aja. Harga buku saya tersebut masing-masing Rp. 69.000,- dan Rp. 41.000,-. Yaaa, siapa tau aja Sobat Jejak pingin beli, hehehe... :D

Selang beberapa waktu kemudian, pesan masuk via WA di HP saya. Dari Mbak Nurhayati Pujiastuti, founder sekaligus guru menulis saya, di Kelas Penulis Tangguh.

"Aku udah di lobi, ya."

Maka, saya, Keni, dan Mbak Fitri, turun ke lobi. Ternyata, di sana juga sudah ada Uni Novia dan Uni Eci. Saya dan Uni  Novia adalah murid menulis Mbak Nur di Kelas Penulis Tangguh, sementara Uni Eci murid beliau di Kelas Merah Jambu.

Mbak Nur tinggal di Bekasi. Karenanya, sebelum berangkat, saya mengabari Mbak Nur bahwa saya akan ke Bekasi. Saya yang tadinya belum ngeh kalau perjalanan dari Bandara ke Bekasi memakan waktu berjam-jam, berjanji akan menyambangi Mbak Nur di rumah sebelum workshop. Namun, karena waktunya ternyata tidak memungkinkan, saya terpaksa memberitahu Mbak Nur bahwa saya tidak jadi main ke rumah. Tidak disangka, ternyata Mbak Nur lah yang menyempatkan diri ke hotel, menemui murid-muridnya di Kelas Penulis Tangguh dan juga Kelas Merah Jambu. Hiksss, jadi terharu...

"Ini, aku bawain kue buatanku," kata Mbak Nur, yang mendadak membuat saya ingin bikin pantun.

Jalan-jalan ke Kalimantan
Pulau Derawan wajib dikunjungi
Orang kelaparan disodori makanan
Apa gerangan yang akan terjadi?

"Huaaaah, Mbak Nuuuuur... Bikin terharu, niiiiih...." Kata saya, seraya mencomot satu kue dan memakannya dengan lahap. Nyam, nyam, nyam... Enyaaaak.... :D :D

Maghrib menjelang. Belum puas mengobrol dan foto-foto, grab pesanan Mbak Nur  datang. Setelah cipika cipiki, Mbak Nur pun pamit pulang. Saya mengantar Mbak Nur sampai di depan teras hotel. Daaah, Mbak Nur. Sampai ketemu lagi, yaaaa.... ^__^


Bersama Mbak Nurhayati Pujiastuti

Tepat ketika saya akan masuk kembali ke lobi hotel, tampak sebuah taksi berhenti dan sesosok ibu cantik yang sangat familiar ke luar dari dalamnya.

"Bunda Sofie!" Pekik saya, seraya berlari menyambut beliau.

Bunda Sofie adalah mentor saya selama workshop Room to Read di Lembang dulu. Beruntung saya bisa bertemu dan menimba ilmu kembali dari beliau, yang di kesempatan kali ini merupakan pengisi materi pertama pada pembekalan Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi.

Sementara Bunda Sofie check ini ditemani Mbak Ranny dan Bu Retno (salah satu pemateri juga), saya dan teman-teman lain kembali ke kamar masing-masing, untuk shalat dan bersiap-siap makan malam.

Materi 1: Menulis Cerita Anak Berlatar Budaya 

Usai makan malam, kami langsung memasuki ruang pembekalan/workshop, yang letaknya bersebelahan dengan restoran hotel. Setelah pembukaan, materi pertama yang diisi oleh Bunda Sofie Dewayanie pun dimulai.

Materi diawali dengan peran cerita anak. Bunda Sofie menampilkan slide berupa gambar jendela, cermin, dan pintu. Peserta lalu diminta untuk menarasikan peran cerita anak berdasarkan gambar jendela, cermin, dan pintu tersebut. Dari sini didapat kesimpulan, bahwa peran cerita anak adalah sebagai jendela bagi anak untuk melihat dunia luar, cermin yang menggambarkan tentang dirinya sehingga membuatnya merasa, "Ini gue banget!", serta pintu tempat ia ke luar dengan imajinasinya, menjelajah apa-apa yang dilihatnya di dalam buku.


Mendengarkan materi sambil ngemil :D

Di dalam materinya, Bunda Sofie juga menyampaikan tentang penjenjangan buku anak, elemen cerita seperti tema, tokoh cerita, struktur cerita (tentang ini bisa dibaca di postingan saya selama mengikuti workshop Room to Read), alur emosi, dan Deus Ex Machina atau faktor kebetulan yang harus dihindari dalam membuat cerita.

Mengenai Deus Ex Machina, Bunda Sofie menyontohkan seperti ini:

Ada anak, ingin beli sesuatu, tapi nggak punya duit. Saat berjalan, dia nemu dompet. Ada KTP, ada alamat. Dompet dikembalikan, si anak dapat imbalan uang, bisa beli apa yang diinginkan. TAMAT. Dan ia pun hidup bahagia untuk selama-lamanya... :D

Kira-kira seperti itu.

Bunda Sofie juga menjelaskan tentang bagaimana membuat tokoh yang menarik, membuat karakter tiga dimensi, membuat alur cerita yang baik, membuat set up yang efektif, dan masiiih banyak lagi. Penasaran? Sebagian besar materi ini juga ada di postingan saya tentang workshop Room to Read ;)

Terakhir, Bunda Sofie meminta kami untuk mempresentasikan konsep buku seri budaya yang sudah kami buat. Beliau tak sungkan memberi masukan untuk konsep-konsep kami.


Peserta Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi berpose bersama Bunda Sofie(foto: Fitri Restiana)

Begitu serunya materi pertama ini, sampai-sampai waktu yang tadinya dijadwalkan selesai pukul 21.30 jadi molor sampai hampir pukul 23.00 WIB! Sebagai peserta, tentu saja kami tidak keberatan dan justru memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Jarang-jarang kan, bisa mencecap ilmu langsung dari seorang pakar di bidang buku anak?

Nah, Sobat. Itulah tadi cerita saya mengenai Serunya Mengikuti Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi di Hotel Amaroossa Grande Bekasi Bag. 1. Bagaimana cerita seru selanjutnya? Tunggu di postingan saya berikutnya, ya! ^_^


Baca juga

Wednesday, February 22, 2017

Tips Menyelesaikan Naskah Buku Anak Islami dengan Cepat

Hai, Sobat Jejak. Assalamualaikum. Mudah-mudahan Sobat semua dalam keadaan sehat, ya.

Sejak pertengahan 2016 lalu, saya memutuskan untuk menekuni dunia tulis menulis secara fulltime. Karena sekarang menulis sudah menjadi profesi saya, tentunya saya memiliki targetan yang harus dicapai. Misalnya, menyelesaikan satu naskah buku dalam sebulan.

Akan tetapi, tak jarang ada hal-hal yang mengharuskan untuk menyelesaikan naskah buku lebih cepat dari alokasi waktu yang disediakan. Misal nih, ketika saya punya target menyelesaikan satu naskah buku di bulan Maret, tiba-tiba, ada penerbit yang minta dibuatkan buku yang juga harus selesai di bulan Maret. Otomatis, saya harus membagi waktu antara menyelesaikan naskah  dari penerbit, dengan naskah targetan pribadi.

Untuk itulah, perlu adanya Tips Menyelesaikan Naskah Buku Anak Islami dengan Cepat, namun tidak kehilangan kualitas, baik secara bahasa maupun isinya. Berikut tips yang sudah saya coba:

Pertama, menyiapkan literatur  terkait buku yang akan ditulis. 
Siapkan atau kumpulkan literatur terkait buku yang akan ditulis selengkap mungkin. Jika belum ada, beli. Jangan pernah merasa rugi ketika harus mengeluarkan modal untuk menulis buku. Apalagi buku Islami. Sebab, literatur-literatur itu justru akan membuat kita super untung dengan bertambahnya ilmu dan wawasan keislaman.

Oh, iya, karena yang akan ditulis adalah naskah buku anak Islami, maka usahakan literaturnya berupa kitab-kitab shahih karangan para ulama terpercaya ya, Sobat. Mengapa? Karena ketika kita menulis buku anak Islami, maka, tujuan yang ingin kita capai bukan lagi semata menulis buku ataupun menyelesaikan pekerjaan, melainkan sebuah generasi yang akan meneruskan peradaban Islam ke depan. Kita tentu tidak ingin generasi yang terbentuk adalah generasi abal-abal lantaran mereka membaca buku Islami yang ditulis dengan literatur yang abal-abal, bukan?

Ke dua, membaca semua literatur sampai selesai.
Ketika semua literatur sudah didapat atau terkumpul, jangan menulis dulu. Tapi, bacalah dulu semua literatur itu sampai selesai. Hal ini bertujuan agar semua isi di dalam literatur itu dapat kita pahami secara menyeluruh. Bacalah literatur sebelum memulai proses penulisan. Misal, jika timeline penulisan dimulai tanggal 1 Maret, maka kumpulkan dan bacalah litertaur di bulan Februari.

Ke tiga, membuat timeline penulisan naskah
Gambarannya begini. Misal, saya akan menyelesaikan naskah Buku A dan Buku B di bulan Maret. Buku A 20 cerita, Buku B 20 cerita. Maka, timeline bayangan yang saya buat seperti ini:
Buku A ditulis mulai tanggal 1-15 Maret 2017 (15 hari) --> deadline 16 Maret
Buku B ditulis mulai tanggal 16-31 Maret 2017 (16 hari) --> deadline 31 Maret

Mengapa saya sebut timeline bayangan? Karena di kenyataannya, saya akan membuat timeline nyata penulisan, haha.. Bingung, kan? :v :v

Gini...
Kita ambil contoh Buku A untuk dijabarkan.

Untuk menyelesaikan Buku A yang isinya 20 cerita, saya mempunyai waktu 15 hari, yaitu dari tanggal 1-15 Maret 2017. Maka, timeline bayangannya penulisan dimulai dari tanggal 1-15 Maret. Namun dalam pengerjaannya, saya akan membuat timeline nyata (:D) seperti ini:

1-10 Maret : penulisan naskah (2 cerita/hari)
11-12 Maret : membayar kekurangan cerita jika ada
13-15 Maret: revisi, revisi, revisi, kirim.

Pembuatan timeline seperti di atas juga berlaku untuk naskah B, dengan tanggal yang berbeda.

Ke empat, FOKUS!
Mengapa harus fokus? Sebab jika tidak fokus, misal nonton film Korea seharian (pengalaman :p), somedan seharian, dll, maka, kemungkinan Tips Menyelesaikan Naskah Buku Anak Islami dengan Cepat ini tidak akan berjalan sesuai harapan.

Ke lima, Konsisten
Sebetulnya, kunci dari keberhasilan dalam menyelesaikan naskah buku dengan cepat adalah konsisten. Konsisten dengan jadwal dan targetan. Lima belas hari menyelesaikan satu naskah buku berisi 20 cerita, jika belum dicoba, kedengarannya horror dan sibuk banget, ya. Padahal, hanya dengan konsisten menulis 2 cerita perhari, maka kita akan menyelesaikan naskah buku berisi 20 cerita bahkan kurang dari 15 hari.

Habis dong, waktu cuma buat nulis? Saya kan, musti nyuci, ngurus anak, ngeblog, de el el.

Eits, siapa bilang?

Katakanlah untuk menulis 2 cerita perhari kita membutuhkan waktu 4 jam, misalnya. Maka, kita masih punya waktu 20 jam sehari yang bisa kita gunakan untuk banyak hal. Tidur, ke toko buku, main, selonjoran baca buku sambil minum coklat anget, nonton drama Korea (eaaa), dan lain-lain.

Intinya, semua itu bisa dicapai kalo kita KONSISTEN. Dan saya, jujur kacang ijo aja sih, masih haruuuuussss banyak berlatih untuk bisa KONSISTEN. Maklumlah, Hayati masih sering lelah dan tergoda hal lainnya, Sobat Jejak, hehehe... :D

Terakhir dan yang pastinya super super penting, jangan lupa menjaga kesehatan ya, Sobat. Sebab, segala sesuatu sangat mungkin dilakukan jika badan kita sehat. Sebaliknya, jika kita sakit, jangankan mau menyelesaikan naskah dengan cepat, lha wong mau makan tidur aja nggak enak kan, Sobat?

Semoga tips ini dapat membantu memudahkan Sobat dalam menyelesaikan naskah, ya... ^_^

Sunday, January 15, 2017

Resolusi di Tahun 2017: Merangkai Asa Mewujudkan Cita

Assalamualaikum, Sobat Jejak. Lama tak menyapa. Mudah-mudahan tidak kapok berkunjung ke blog saya :)

Tak terasa, sudah tanggal 15 Januari. Sebetulnya akhir tahun 2016 kemarin saya ingin sekali menuliskan resolusi di blog ini. Resolusi ini sendiri sudah saya tulis di dalam notes pribadi saya. Namun karena suatu dan lain hal, baru hari ini saya memostingnya di blog.

Oh, iya, saya juga pernah memosting resolusi saya di tahun 2016. Tidak banyak. Hanya lima. Alhamdulillah, tiga di antaranya tercapai. Dalam hal ini, saya melihat betapa saya sebagai manusia hanya bisa berencana. Soal pencapaiannya, sungguh Allah jua yang menjadi penentunya. Walau ada dua resolusi yang tidak terealisasi, namun tidak ada sedikitpun rasa kecewa di hati. Sebab, ada banyak sekali kenikmatan dari Allah yang kemudian menjadi pelipur hati. Saya berdoa semoga Allah memberi saya kesempatan untuk bisa mencapai resolusi yang tertunda itu di suatu hari nanti.

Adapun resolusi di tahun 2017 ini, saya beri tema merangkai asa mewujudkan cita. Yah, saya memang sedang merangkai harapan-harapan, dengan melakukan sebaik mungkin ikhtiar. Berupaya untuk mewujudkan apa yang saya cita-citakan.

Apa alasan saya membuat resolusi? Jawabannya simpel saja. Karena Allah telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman di dalam firman-Nya, untuk merencanakan hari esok. Baik dunia, terlebih lagi akhirat.

"Hai, orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Hasyr: 18)

Berikut Resolusi di Tahun 2017: Merangkai Asa Mewujudkan Cita saya:


1. Sehat

Di tahun 2017, saya ingin menjadi sosok dengan fisik yang lebih sehat dari tahun-tahun sebelumnya. Saya sadar, bahwa ini menjadi salah satu modal utama untuk bisa mewujudkan cita-cita saya. Karena akan sulit sekali melakukan aktivitas jika badan tidak sehat.

2. Makin dekat dengan Allah

Tak ada sesuatupun di muka bumi terjadi tanpa izin dari-Nya. Karenanya, saya ingin mengiringi rangkaian asa dengan kedekatan yang lebih pada-Nya.

3. Makin banyak sedekah

Sedekah menunggu lebih, terkadang demikian yang saya lakukan. Semoga di tahun 2017 dan seterusnya tidak begitu lagi. Insya Allah dengan sedekah tak akan pernah rugi. Karena janji Allah, sedekah yang kita keluarkan akan diganti dengan yang lebih baik lagi.

4. Bisa bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris

Nah, kalau yang ini ada kaitannya dengan resolusi saya yang tidak tercapai di tahun 2016. Resolusi saya waktu itu adalah ingin melanjutkan kuliah. Ternyata Allah belum mengizinkan. Resolusi itu ditangguhkan. Insya Allah masih sangat bersemangat untuk mencapainya. Namun untuk tahun ini, saya fokus saja dulu dengan persiapan-persiapan mencapainya, di antaranya memperbaiki kemampuan berbahasa Inggris saya.

5. Membeli minimal 10 kitab Islam

Sebagai penulis buku anak khususnya Islami, penting bagi saya memiliki kitab-kitab shahih yang menjadi rujukan. Sebab buku yang ditulis dengan sumber yang tidak shahih, dikhawatirkan akan mengandung informasi yang salah. Alih-alih memberikan pemahaman yang benar tentang keislaman, ternyata malah menyesatkan.

6. ACC 20 naskah buku

Hehehe, mungkin terlalu muluk bagi saya yang penulis pemula ini. Tapi tidak ada salahnya kan, saya bercita-cita? Syukur alhamdulillah bila dengan izin Allah saya bisa mewujudkannya. Bantu doakan saya ya, Sobat Jejak :)

7. Jalan-jalan ke Bandung dan Yogyakarta

Ikhtiar mewujudkan resolusi, tentu membuat saya butuh piknik dong, yaaa... Dalam hal ini, saya ingiiin sekali bisa jalan-jalan ke Bandung atau Yogyakarta. Alhamdulillah banget kalau bisa keduanya. Lebih alhamdulillah lagi kalau bisa ke sana gratisan. Ada yang mau jadi sponsor? Hehehe, maunya... Oh iya, sebetulnya di bulan September 2016 yang lalu alhamdulillah saya berkesempatan mengunjungi Bandung, tepatnya Lembang, secara gratis. Hal ini dikarenakan saya menjadi salah satu peserta terpilih dalam worskhop project penulisan buku anak bersama Room to Read. Sayangnya, padatnya jadwal workshop membuat saya tidak sempat mengeskplorasi Bandung kala itu.

Nah, Sobat Jejak. Itulah tadi Resolusi di Tahun 2017: Merangkai Asa Mewujudkan cita saya. Sobat Jejak sudah membuat resolusi juga? Share, yuk! ^_^

Sunday, December 18, 2016

Daftar Penerbit yang Menerima Naskah Buku Anak Islami

Hai, Sobat Jejak. Sudah menjelang akhir tahun Masehi 2016, nih. Sudah beli kalender baru?

Oh, iya. Berbicara tentang tahun baru, tentunya kurang afdhol kalau tidak menyusun perencanaan baru juga. Ya, semacam resolusi, mungkin. Perencanaannya bisa berupa menyusun ulang schedule pencapaian target yang belum tercapai di tahun 2016. Atau bisa juga menyusun schedule penulisan naskah baru di tahun 2017. 

Nah, bagi Sobat Jejak yang berencana menulis buku anak, Sobat bisa mencoba mengirimkan naskah tersebut ke penerbit-penerbit berikut:

Daftar Penerbit yang Menerima Naskah Buku Anak Islami


1. Pustaka Al-Kautsar

Pustaka Al-Kautsar merupakan penerbit buku islami dengan misi utamanya yaitu bekerja, beribadah dan berdakwah secara konsisten dengan memadukan ketegasan dan keluwesan. Penerbit yang memiliki motto "Penerbit Buku Islam Utama" ini menerbitkan naskah buku anak Islami lewat imprint perusahaannya yaitu Al-Kautsar Kids. Adapun tema naskah yang diterbitkan sangat beragam. Mulai dari tafsir, hadits, akhlak, sejarah Islam, sirah Nabi, biografi sahabat dan para ulama, kisah-kisah Islami, dan sebagainya. Penerbit ini juga menerima naskah dongeng, selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, semisal fabel persahabatan, dan lain-lain.

Logo Penerbit Pustaka Al-Kautsar

Berdasarkan pengalaman saya, Penerbit Pustaka Al Kautsar sangat amanah dan tepat waktu dalam hal pembayaran royalti kepada penulis. Para editornya juga sangat ramah, lho. Sehingga penulis tidak perlu merasa segan jika ingin berdiskusi terkait naskah. Yang mau curhat juga diladeni, kok, selama masih seputar penulisan naskah, heuheu... 

Buku-buku saya yang sudah terbit di Penerbit Pustaka Al-Kautsar yaitu:
1. Komik 10 Pahlawan Islam
2. Raja-raka Dalam Al-Quran

Doakan buku-buku berikutnya segera menyusul, yaaa... ^_^


Komik 10 Pahlawan Islam dan Raja-raja Dalam Alquran


2. Penerbit Gema Insani

Penerbit Gema Insani menerima naskah buku anak Islami dengan beragam tema. Naskah dongeng juga diterima selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Penerbit yang beralamat kantor di Jl. Ir. H. Juanda Depok ini menawarkan dua sistem pembayaran kepada penulis yaitu royalti dan jual putus. 

Logo Penerbit Gema Insani


Hal yang menyenangkan dari Penerbit gema Insani selain editornya yang ramah dan baik hati (uhuk!), adalah masa tunggu sejak naskah diacc hingga terbit yang bisa dibilang cukup cepat, yaitu kurang lebih enam bulan. Ilustrasinya juga sangat cantik dan menarik, lho. 

Oh, iya. Penerbit Gema Insani juga sangat aktif dalam memperomosikan buku-buku terbitannya via akun media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram, sehingga membantu menaikan daya jual buku.

Buku-buku saya yang sudah terbit di Penerbit Gema Insani yaitu:
1. Belajar Adab Islami Bersama Pangeran Karim dan Putri Karimah
2. 25 Kisah Sebab Turunnya Ayat Al-Quran

Doakan lagi semoga buku-buku berikutnya segera menyusul, yaaa... ^_^


Pangeran Karim dan Putri Karimah


25 Kisah Sebab Turunnya Ayat Alquran

3. Penerbit Tiga Serangkai

Setahun belakangan, saya sangat antusias mengirim naskah ke penerbit ini. Mengapa? Karena saya sangat senang dengan kinerja redaksi dan orang-orang di dalamnya. Editornya ramah dan ligat bangeeet... SPP cepat diterima penulis begitu naskah acc. Begitu pula bukti terbit yang dikirim langsung ke penulis tak lama setelah buku terbit. 

Saya mengenal nama Penerbit tiga Serangkai sejak zaman duduk di bangku sekolah dan sangat suka dengan buku-buku paket terbitannya. Penerbit yang namanya mengingatkan saya pada tiga serangkai pendiri Indische Partij yaitu Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Kihajar Dewantara ini beralamat di Jl. Dr. Supomo No. 23 Solo 57141 Surakarta Jawa Tengah Indonesia.

Penerbit Tiga serangkai menerima dan menerbitkan naskah buku anak Islami lewat imprint perusahaannya yaitu Tiga Ananda. Penerbit yang juga menerbitkan buku-buku umum ini juga sangat aktif mempromosikan buku-buku terbitannya di sosial media.

Buku-buku saya yang telah terbit di Penerbit Tiga Serangkai yaitu Serial Indahnya Kejujuran yang terdiri dari 6 judul buku:
1. Apel Kejujuran
2. Petualangan Dinar
3. Susu Campuran
4. Penggembala Kecil
5. Saudagar Permata
6. Mengakui Kesalahan

Serial Indahnya Kejujuran

Baca juga 

4. Bestari

Secara pribadi, saya belum pernah mengirimkan naskah buku anak ke Penerbit Bestari. Akan tetapi, insya Allah ada buku saya yang akan terbit di sini sebagai hasil dari kerjasama dalam sebuah workshop penulisan yang pernah saya ikuti. Editornya sangat ramah dan baik, serta ringan tangan banget dalam membantu penulisnya merevisi naskah.

Jika dilihat dari websitenya, buku-buku anak islami di Penerbit Bestari terbilang bagus dan temanya pun beragam. 

5. Penerbit Adibintang

Penerbit ini beralamat di jakarta. Memiliki visi sebagai penerbit buku anak dan keluarga best seller yang disukai banyak pembaca. Sepengamatan saya, penerbit ini cukup aktif dan kreatif dalam mempromosikan buku-buku terbitannya. Editornya juga friendly banget. Contoh buku terbitan Penerbit Adibintang di antaranya Cantiknya Akhlak Khadijah dan Ibu Sayang Kamu karya teman Facebook saya Mbak Irma Irawati dan Kak Wik Wylvera W.


Cantiknya Akhlak Khadijah

Ibu Sayang Kamu. Btw ada endorse saya nyempil di buku ini (numpang eksis) :D


Oke, Sobat Jejak. Sampai di sini dulu postingan tentang Daftar Penerbit yang Menerima Naskah Buku Anak Islami. Sebetulnya masih banyak penerbit lain yang juga menerbitkan naskah islami. Namun dalam hal ini, saya mengutamakan penerbit yang sudah dan insya Allah sedang dalam proses menerbitkan karya saya (aamiin..) untuk di posting di blog ini. Semoga, berikutnya saya bisa lebih poduktif menulis dan bisa mengirimkan karya ke penerbit-penerbit lainnya, serta bisa menambahkan daftar penerbit dalam update-an postingan ini, aamiin... Semoga bermanfaat :)

Wednesday, December 7, 2016

Puteri Salju Sakit Kepala

Jadi ceritanya, Facebook mengingatkan kenangan berupa postingan-postingan lama. Kebetulan, hari ini kenangannya berupa dongeng yang saya buat saat mengikuti kuis promo #philipsdisney yang diadakan Philips.

Berhubung dongengnya lumayan, jadi saya posting saja di sini. Ada unsur iklan, sih. Tapi nggak masalah. Toh di rumah saya dan keluarga memang langganan pakai lampu Philips. Cahayanya terang, putih, dan nyaman di mata.

Nah, karena yang diiklankan adalah lampu Philips Disney, jadi tokohnya saya ambil dari salah satu Puteri Disney, yaitu Puteri Salju. Sebagaimana diketahui bahwa Puteri Salju adalah karakter fiksi dalam cerita dongeng dari berbagai negara di Eropa. Yang paling terkenal adalah cerita versi Grimm Bersaudara. Selamat membaca.

Baca juga:

7 Kiat Menulis Cerita Anak yang Menarik


Sumber gambar: disney.wikia.com


Puteri Salju Sakit Kepala

Di sebuah kerajaan, hiduplah seorang puteri yang sangat cantik. Puteri Salju, namanya. Selain cantik, Puteri Salju juga terkenal pandai, karena ia sangat suka membaca. Koleksi bukunya banyaaak sekali.

Suatu ketika, Puteri Salju menderita sakit kepala berkepanjangan. Berbagai obat diberikan. Tapi sakit sang Puteri tak kunjung bisa disembuhkan.

Karena prihatin melihat keadaan puterinya, Raja pun mengadakan sayembara.

"Barangsiapa yang bisa menyembuhkan penyakit puteriku, akan kujadikan menantu!"

Peserta sayembara berdatangan. Berbagai upaya mereka lakukan. Mulai dari mengoleskan minyak sisik naga, hingga pijat refleksi menggunakan keris sakti mandraguna. Tapi semua itu sia-sia. Puteri Salju tetap merasakan sakit di kepalanya.

Saat Raja hampir putus asa, datanglah seorang pemuda ke hadapannya.

"Aku datang untuk mengobati Puteri, Baginda Raja."

"Oh, ya? Obat apa yang kau bawa?"

Pemuda itu membuka bungkusan yang dibawanya.

"Lampu?" Raja mengerutkan keningnya.

Pemuda itu tersenyum.

"Ini bukan lampu biasa, Baginda. Ini lampu Philips Disney. Terangnya maksimal, nyaman di mata, hemat listrik pula."

"Sebentar. Kau ini seorang tabib apa sales?" Selidik Raja.

Pemuda itu tertawa.
"Ah, Baginda Raja bisa saja," ujarnya. "Aku hanya pemuda desa biasa."

Raja mengusap dagunya.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan dengan lampu itu?"

"Baginda. Kudengar Tuan Puteri sangat suka membaca. Mungkin saat membaca di malam hari, lampu yang digunakan kurang terang. Akibatnya, mata puteri jadi lelah, dan menyebabkannya sakit kepala."

Pemuda itu lalu mengulurkan lampu Philips kepada Raja.

"Gunakan lampu ini untuk mengganti lampu di kamar Tuan Puteri."

Raja mengangguk-angguk. Ia lalu memerintahkan seorang pelayan istana untuk memasang lampu itu di kamar puterinya.

Seminggu kemudian, Raja mengumumkan bahwa penyakit Puteri Salju telah sembuh. Semua berkat lampu Philips yang dibawa pemuda peserta sayembara.

Sebagai imbalan, Raja lalu menikahkan pemuda itu dengan Puteri Salju. Mereka pun hidup bahagia untuk selama-lamanya. #PhilipsDisney

Baca juga:

Monday, December 5, 2016

Switchable Me Story: Menjadikan Hobi Menulis Sebagai Profesi

Lima tahun saya menjadi guru di sebuah sekolah swasta. Sekolah tempat saya mengajar ini jamnya cukup padat. Jam belajar dimulai dari pukul 07.15 hingga 14.30 WIB. Sebagai guru kelas, saya harus selalu standby, walaupun tidak ada jam pelajaran. Sebab jika terjadi sesuatu pada siswa, tentu penanggungjawab utama yang akan ditanya adalah guru kelasnya.

Intensitas pekerjaan di sekolah, membuat saya tidak mempunyai banyak waktu untuk keluarga di rumah. Paling sedih kalau ada anggota keluarga sakit. Entah itu anak, suami, atau ibu saya di kampung. Mau izin tidak masuk, kok ya ada rasa bersalah meninggalkan kewajiban. Sebaliknya kalau tetap masuk, pikiran menjadi tidak tenang. Melihat wajah murid-murid yang ceria, membuat terbayang wajah sakit orang-orang tersayang. Duh, dilema.


Switchable Me Story: Menjadikan Hobi Sebagai Profesi


Keinginan kuat untuk selalu berada di dekat keluarga, memiliki lebih banyak waktu bersama mereka, serta ditambah kondisi fisik yang mudah capek dan sakit, membuat saya akhirnya bulat mengambil keputusan resign. Ya, saya resign dari pekerjaan yang sudah lima tahun saya jalani, di pertengahan tahun 2016 kemarin.

Menjadikan Hobi Menulis Sebagai Profesi


Berhenti bekerja, artinya stop pemasukan dari tempat saya bekerja. Pemasukan yang selama ini rutin saya peroleh setiap bulan, kini otomatis tak ada lagi. Beruntung, beberapa tahun belakangan ini saya menekuni hobi menulis. Ketika masih bekerja, hobi ini saya lakukan di malam hari, atau di sela-sela kesibukan mengajar. Maka setelah resign, saya pun memantapkan diri untuk menjadikan hobi menulis ini sebagai profesi.


Karya terbaru saya. Buku 25 Kisah Sebab Turunnya Ayat Al-Qur'an.


Alhamdulillah, menjadikan hobi sebagai profesi ternyata sangat mengasyikkan. Rasanya seperti tak ada beban. Bekerja menjadi begitu menyenangkan, karena apa yang saya lakukan adalah hal yang saya suka. Tidak adanya keterikatan jam kerja juga membuat saya lebih fleksible mengatur waktu, sehingga bisa dengan mudah switchable dari aktivitas satu ke aktivitas lainnya. Ya nulis, mengurus rumah, bermain bersama anak, ikut workshop menulis, ambil kursus Bahasa Inggris, kumpul dengan teman-teman blogger, ke toko buku, serta seabrek aktivitas lainnya.

Selain menulis buku, saya juga mulai menekuni dunia blogging. Blogging yang tadinya juga hanya sekadar hobi ini, sekarang telah saya jadikan pula sebagai profesi. Tak begitu sulit bagi saya untuk menjalani dua profesi sekaligus - penulis dan blogger - karena keduanya sama-sama berhubungan dengan hobi saya, yaitu menulis. Bahkan jadi terasa seperti semacam rekreasi. Jenuh menulis buku, saya switch menulis di blog. Belum dapat ide postingan blog, saya switch lagi melanjutkan naskah buku. Bahkan tak jarang, saya mendapatkan ide menulis buku ketika sedang ngeblog, begitupun sebaliknya.


Menjadi salah satu pemenang lomba blog Pulau Pahawang, Lampung


Ada banyak perubahan positif yang saya rasakan ketika menjadikan hobi sebagai profesi, di antaranya:

Pertama, saya menjadi lebih enjoy. 

Saya menjalani profesi saya dengan perasaan senang dan bahagia. Saya lebih bersemangat bekerja, serta selalu tertantang untuk menerapkan ide-ide baru dalam pekerjaan saya.

Ke dua, saya memiliki waktu yang sangat fleksibel. 

Saya memiliki waktu yang sangat fleksibel. Saya bebas menentukan kapan saya mulai bekerja dan tidak terikat dengannya. Saya bisa melakukan pekerjaan dengan gaya saya. Membalas email editor ketika sedang memasak, merevisi draf postingan di blog sambil membereskan rumah, melanjutkan naskah sembari bersantai. Wah, nikmat sekali. Saya bahkan masih bisa melakukan pekerjaan ketika sedang selonjoran syantik di tempat tidur.

Ke tiga, saya belajar memanagemen waktu.

Menjadikan hobi sebagai profesi, memiliki banyak waktu yang fleksibel di rumah, terkadang kalau tidak pandai memanagenya ternyata bisa membuat lengah juga. Jika dibiarkan, tentunya akan berpengaruh tidak baik bagi pekerjaan saya. Oleh karenanya, saya dituntut untuk belajar memanagemen waktu. Meski waktunya fleksibel, setidaknya saya harus mempunyai jam kerja. Ada waktu kapan saya harus menyelesaikan targetan naskah buku, membuat postingan blog, membalas komentar di blog, blog walking, aktif di sosial media, dan lain sebagainya.

Notebook Modal Utama untuk Jalankan Hobi Sekaligus Profesi Saya


Satu hal yang tidak berubah baik ketika saya masih menjadi guru maupun penulis dan blogger seperti sekarang, yaitu kebutuhan akan notebook. Jika dulu notebook adalah senjata utama untuk mengerjakan media pembelajaran semisal RPP dan LK, maka sekarang notebook menjadi modal utama saya untuk mengerjakan naskah buku dan membuat postingan di blog. Notebook menjadi teman yang setia menemani hari-hari saya dalam menjalani hobi dan profesi.

Emak rempong dikejar deadline :D


Notebook andalan yang saya pakai selama ini adalah Acer Aspire One . Sayangnya, sekarang ia sudah terlalu lelah dan seringkali tidak cukup untuk mengakomodir kebutuhan saya. Maklum saja, usianya kurang lebih sudah tujuh tahunan. Meski daya survive notebook ini luar biasa, namun saya harus tahu diri dengan kondisinya yang sudah tidak seprima dulu lagi. Di antaranya dengan tidak membuka terlalu banyak tab pada jendela browsernya. Sebab jika itu dilakukan, langsung deh, notebook saya ngambek bunyi gerung-gerung membuyarkan konsentrasi. Jika terus dipaksakan, ujung-ujungnya ia protes dengan cara menghentikan pergerakan di layarnya. Hang.

Selain itu, bagian bawah notebook saya ini panasnya kadang sudah mirip setrikaan. Padahal, ketika punggung saya pegal akibat kebanyakan duduk menulis, saya sukanya selonjoran di kasur, sambil bersandar memangku notebook. Sebagai solusi agar panasnya notebook tidak melincinkan paha saya, kadang saya alasi bantal. Akan tetapi, hal ini ternyata justru menimbulkan masalah yang lain lagi. Notebook saya jadi overheating, yang ditandai dengan keluarnya suara dengungan yang cukup keras. Mungkin itu disebabkan ventilasi di bawahnya tertutup. Jika diteruskan, tak jarang  notebook saya mendadak restart tanpa berpamitan. Kalau sudah begitu, terkadang Hayati merasa lelah, Bang.

Belakangan, batre notebook saya juga cepat habis walau sudah dicas sampai penuh. Hal ini membuat saya tidak bisa lagi yang namanya jauh-jauh dari colokan, apalagi sampai charger ketinggalan. Layarnya yang hanya 10 inchi juga terlalu kecil dan membuat mata saya yang sudah minus empat ini siwer melihatnya. Yah, mungkin ini pertanda bahwa notebook Acer Aspire One saya ini sudah menjelang pensiun. Andai bisa bicara, mungkin ia akan segera merekomendasikan Acer Switch Alpha 12, Notebook dengan Performa Tinggi Tanpa Kipas untuk menggantikan tugasnya dan mengatasi keluhan saya.

Switch Alpha 12, Notebook Hybrid Intel Core Pertama Tanpa Kipas


Saya mencoba mencari tahu keunggulan Switch Alpha 12, notebook hybrid intel core pertama tanpa kipas. Saya nggak mau dong, beli kucing dalam karung. Jadi kalau nanti akhirnya saya memutuskan membeli notebook ini, pastilah karena saya sudah yakin dengan kelebihan yang dimilikinya, terutama dalam hal mendukung hobi sekaligus profesi saya.

Ternyata, salah satu keunggulan utama Switch Alpha 12 ini adalah adanya sistem pendingin tanpa kipas. Teknologi Acer LiquidLoop™nya mengandalkan pipa berisikan cairan pendingin yang dapat menstabilkan suhu prosesor Intel Core i Series di dalamnya secara optimal. Hal ini dapat mencegah penurunan performa notebook akibat overheating. Dampaknya, notebook tidak akan mengeluarkan suara berisik ngang ngung ngang ngung yang bisa mengganggu konsentrasi saya dalam menulis. Oke, deh, noted..


Lalu, apa lagi keunggulan notebook Acer 2 in 1 ini?


Nah, ini yang penting buat saya. Notebook ini baik-baik saja dan tidak menimbulkan rasa tidak nyaman ketika dipangku. Hal ini dikarenakan notebook Switch Alpha 12 tidak memiliki ventilasi udara. Jadi, dia nggak akan protes kepanasan dan mengeluarkan bunyi berdengung baik saat diletakkan di atas bantal atau kasur. Jadi nggak masalah dong, kalo saya ngetik sambil tengkurap ala puteri duyung terdampar di kasur. Selain itu, sistem fanless sangat membantu menghemat daya baterai pada Switch Alpha 12, yang memang sudah tahan lama hingga 8 jam, karena sudah dibekali dengan baterai berkapasitas 4.870 mAh.  Hal ini membantu saya agar tetap bisa menulis dalam jangka waktu yang lama tanpa harus nempel kayak perangko dengan colokan listrik. Saya bisa switch ngetik di dapur, di sumur, dan di kasur... *lah! balik ke kasur lagi...*




Notebook Switch Alpha 12 ini sangat tipis dan ringan, sehingga memudahkan penggunanya untuk membawanya ke mana saja. Asyiknya lagi, notebook ini juga dapat berubah sesuai kebutuhan, yaitu dari bentuk notebook menjadi tablet, atau sebaliknya. Jika ingin menggunakannya sebagai tablet, saya tinggal melepasnya saja dari keyboard docking yang dilengkapi magnet. Nggak pake ribet, langsung jadi deh, ketak ketik di notebook rasa tablet :)




Keyboard docking Acer Switch Alpha ternyata juga berfungsi sebagai screen protection, serta dilengkapi dengan lampu backlit sehingga pengguna tetap bisa mengetik meski sedang berada di ruangan minim cahaya.  Selain itu, layarnya yang berukuran 12 inci juga terasa lebih lega dibanding notebook 10 inci saya. Ditambah lagi dengan resolusi QHD (2160 x 1440 pixel) yang telah dilengkapi teknologi IPS, membuat gambar dan warna yang dihasilkan notebook ini sangat baik dilihat dari berbagai sudut.

Selama ini, mata minus empat saya ini suka kriyep-kriyep cepat lelah dan kering jika berlama-lama menatap layar notebook. Apalagi saat ada deadline, dimana kadang saya berjam-jam nonstop di depan notebook. Beneran deh, lelah maksimal mata adek, Bang. Nah, dengan notebook Switch Alpha 12 ini, keluhan seperti yang saya rasakan itu kemungkinan tak ada lagi. Sebab, Teknologi BlueLight Shield pada notebook ini dapat mengurangi emisi cahaya biru penyebab mata cepat lelah dan kering, pada layar.




Oh, iya. Ketika membuat postingan blog, terkadang saya suka menambahkan ilustrasi untuk melengkapi tulisan. Tentu agak repot dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memotret, mentransfer foto, lalu mengeditnya, sebelum diupload di postingan. Nah, Switch Alpha 12 ini ternyata dilengkapi dengan pena digital Active Pen, yang bisa membantu penggunanya melakukan kreativitas tak terbatas pada layar. Jadi, saya bisa langsung urek-urek membuat gambar ilustrasi dengan menggunakan Active Pen ini.

Nah, itulah beberapa keunggulan Switch Alpha 12 yang bisa mempermudah dalam menjalankan hobi sekaligus profesi saya sebagai seorang penulis dan blogger. Mudah-mudahan, suatu hari saya bisa memiliki notebook ini. Bantu aaminkan, yaaa... ^___^




Wednesday, November 23, 2016

Rahasia Dian Tetap Menarik di Usia Cantik

“Saya tak tahu, berapa waktu yang tersisa untuk saya. Satu jam, satu hari, satu tahun, sepuluh, lima puluh tahun lagi? Bisakah waktu yang semakin sedikit itu saya manfaatkan untuk memberi arti keberadaan saya sebagai hamba Allah di muka bumi ini? Bisakah cinta, kebajikan, maaf dan syukur selalu tumbuh dari dalam diri, saat saya menghirup udara dari Yang Maha?” 

― Helvy Tiana Rosa, Risalah Cinta ―



Dian Onasis


Lahir di Palembang, wanita suku Minang bernama lengkap Dian Istiaty ini kini menetap di Pamulang. Berkumpul bersama keluarga dengan bahagia tak berbilang. Menuai karunia terbesar dari-Nya, atas kesabaran dalam melalui penantian yang panjang.


Tak kunjung memperoleh keturunan di sembilan tahun usia pernikahan, bukanlah hal yang mudah dijalani Dian. Rasa cemas tentu ada. Mengingat usianya yang tak lagi muda. Belum lagi tekanan dan komentar dari orang-orang sekitar. Namun, alih-alih meratapi keadaan, wanita yang menjadi PNS dosen Hukum Unsri sejak tahun 1997 sampai 2014 ini lebih memilih menyibukkan diri dengan pikiran positif, seraya tak henti berusaha dan berdoa, semoga Allah berkenan memberinya anak di suatu ketika. 



"Di ufuk empat puluh aku mulai mengumpulkan 
berkas kelemahaanku yang bertaburan
dalam hutan remajaku aku mulai memikul
bakul yang berat di belakangku
sarat oleh pengalaman
sarat oleh penemuan."

(di ufuk empat puluh, T. Alias Taib, Seberkas Kunci)


Tak ada yang bisa menduga takdir. Begitupun Dian. Cumlaude S2 Unsri ini tak pernah menyangka, bahwa Allah akan menjawab doanya ketika ia sedang berproses menyelesaikan studi doktornya di Unibraw. Di menjelang #UsiaCantik, Dian akhirnya mengandung anak kembar di dalam rahimnya. Namun, ujian lain ternyata masih harus dijalani. Salah satu janin yang berjenis kelamin laki-laki, meninggal di dalam kandungan. Tak ingin kehilangan janin satunya lagi, Dian pun memutuskan untuk tidak melanjutkan studi, agar bisa fokus menjaga kandungannya. Sebuah keputusan yang berat, tapi Dian tak pernah menyesalinya. Ia yakin, bahwa ada kebaikan dalam setiap takdir yang Allah tentukan untuknya.


Mengandung satu janin yang sudah menjadi mayat, serta mempertahankan janin lain yang masih hidup, merupakan perjuangan yang sangat berat bagi Dian. Sebuah fase yang mau tak mau harus ia lalui walau dengan iringan derai air mata. Ibu mana yang tak lara bila kehilangan puteranya? Hanya dengan izin dan pertolongan Allah semata, istri dari Onasis Dasmal Muskita ini akhirnya mampu mengatasi rasa kehilangan dan perlahan mengikhlaskan kepergian Miftahurrahman Onasis, buah hatinya. Hingga pada akhirnya, luka itu terobati dengan kelahiran seorang bayi perempuan cantik yang sehat, Salsabila Onasis, di usia Dian yang ke-34 tahun.



Merayakan usia cantik dengan menjadi ibu rumah tangga dan penulis


Keputusan besar diambil Dian di #UsiaCantik. Sejak dikaruniai anak, cita-cita Dian yang semula ingin menjadi seorang profesor di usia 40 tahun, berubah. Kini, keluarga telah menjadi prioritas utama dalam hidupnya. Keinginan untuk senantiasa dekat dengan suami dan mendampingi tumbuh kembang anak, membuat wanita yang akrab disapa dengan Uni Dian ini, memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai dosen dan menjadi ibu rumah tangga. Walau mengaku sempat menyesal dengan keputusan resign, apalagi ketika melihat adik-adik tingkatnya kuliah S3, namun, salah satu SDM terbaik di mata Dekan fakultasnya ini tetap bahagia dengan keputusannya. Apalagi setelah bertambahnya karunia Allah yang lahir dari rahimnya. Seorang bayi laki-laki bernama Muhammad Ammar Al Mumtaz Onasis, yang membuat Dian merasa hidupnya menjadi sempurna.



Dian dan suami, saat menunaikan rukun Islam yang ke-5 (sumber gambar: FB Dian Onasis)


Dian bersama dua buah hatinya, Billa dan Aam (sumber gambar: FB Bunda Billa Aam)


Di samping aktivitas utamanya sebagai ibu rumah tangga, di usia cantiknya, Dian mulai menekuni dunia penulisan buku. Mimpi Dian adalah bisa terus menulis, dengan harapan apa yang ditulis menjadi jalan turunnya berkah dan kebaikan, baik bagi dirinya pribadi, maupun orang lain yang membaca tulisannya. Wanita pemilik senyum lebar ini pun serius menjalani profesi sebagai penulis pada tahun 2010 hingga 2012. Di rentang tahun itu, setidaknya 5 buku anak solo dan puluhan buku antologi telah ia hasilkan. 



Karya-karya Dian (sumber gambar: FB Dian Onasis)


Untuk meningkatkan kemampuan menulisnya, Dian banyak mengikuti kelas online menulis, baik yang gratis maupun berbayar. Ia pun sering mengikuti workshop menulis, banyak membaca buku, serta berkomitmen untuk menulis setiap hari. Wanita ramah ini juga berusaha membangun networking yang baik dengan semua orang, terutama yang terkait dengan dunia penulisan. Ia berharap suatu hari bisa membuat buku dengan unsur pengetahuan yang bermanfaat bagi anak-anak.



Dian bersama teman-teman penulis (sumber gambar: FB Dian Onasis)


Wanita pemilik blog www.oenidian.com ini juga aktif membagikan ilmu menulisnya, baik offline maupun online. Dian pernah diminta oleh sebuah komunitas penulisan untuk mengisi acara sharing cara menulis cerita anak bagi siswa siswi SMPIT Rahmaniah di Depok. Selain itu, Dian juga mendirikan Kelas Permen, yaitu kelas menulis novel anak yang dilakukan secara gratis via Facebook. Kelas Permen ini sudah berlangsung sebanyak 4 kali, dengan jumlah anggota 5-6 orang per kelas. Dengan membagikan ilmunya, Dian berharap ilmu yang ia peroleh tidak cepat hilang dan bisa memberikan manfaat bagi orang lain.



Dian sharing cara menulis buku anak di SMPIT Rahmaniah, Depok (sumber gambar: FB Dian Onasis)


Rahasia Dian Tetap Menarik di Usia Cantik

Jelang usia 43 tahun, wajah Dian masih terlihat cerah dan menarik. Dian mengaku mengikuti anjuran sang ibu untuk merawat wajahnya sejak usia pubertas. Setiap pulang sekolah, Dian selalu menyempatkan diri untuk mencuci wajah. Hal ini untuk menghindari tertutupnya pori-pori wajah akibat kuman dan debu yang menempel. Sebab jika dibiarkan, tentu hal itu bisa berakibat tidak baik bagi kulit wajah Dian.

Salah satu produk yang bisa digunakan untuk membersihkan wajah yang kotor adalah Revitalift Milky Cleansing Foam dari L'Oreal Paris. Kandungan BHA + Glycerin di dalamnya membantu mengangkat sisa make up, kotoran dan debu, serta sel kulit mati, sehingga menjadikan wajah tampak lebih cerah dan muda. 



L'Oreal Paris Revitalift Milky Cleansing Foam (sumber gambar: www.lorealparisindonesia.com) 


Ditanya mengenai definisi cantik, menurut Dian, cantik adalah ketika orang lain merasa nyaman melihatnya. Bisa karena cara berpakaiannya yang rapi dan serasi, cara bicaranya yang menyenangkan, make up yang proporsional dan sedap dipandang, atau karena tingkah lakunya yang sopan. Dian sendiri berusaha membuat dirinya menarik dengan lebih banyak tersenyum. Sebab dengan senyum di wajah, orang bisa berkali lipat terlihat lebih menarik dan cantik. Di usia cantik, Dian juga merasakan perubahan positif dalam dirinya. Ia semakin matang dalam berpikir, sabar, dan ramah pada anak-anak.


Kendati tak begitu ambil pusing dengan tanda-tanda penuaan di usia cantik semisal mulai tumbuhnya uban dan munculnya kerut di wajah, namun Dian tetap merawat wajahnya dengan menggunakan krim malam dan krim anti sinar matahari. Sebab bagi Dian, wajah juga merupakan karunia Allah yang harus senantiasa dirawat dan dijaga dari hal-hal yang bisa merusak keindahannya.


Adapun formula yang bisa digunakan untuk melindungi wajah dari sinar UVA dan UVB matahari adalah Revitalift Dermalift Day dari L'Oreal Paris.  Kandungan Pro Retinol A di dalamnya mampu memberikan perlindungan terhadap UVA & UVB, merawat kekencangan kulit, serta mencegah penuaan dini. Sementara untuk krim malam, perawatan wajah usia cantik bisa dipercayakan pada Refitalift Night. Formula ini mengandung Pro-Retinol A yang berguna untuk megoptimalkan regenerasi kulit, serta Centella asiatica yang ampuh untuk mencegah timbulnya kerutan baik dari dalam maupun luar.



L'Oreal Paris Revitalift Day (sumber gambar: www.lorealparisindonesia.com)


Satu-satunya hal yang sempat membuat Dian khawatir di usia cantik adalah efek samping menopause, di antaranya diabetes, mengingat ia pernah 2 kali menjadi pasien Suspect PCO. Dian khawatir jika itu terjadi, ia tidak bisa selalu membersamai anak-anaknya. Akan tetapi, penulis yang memiliki nama pena Dian Onasis ini kemudian menganggap bahwa pikiran seperti itu hanya membuang-buang waktu dan menguras energi. Ia pun akhirnya memutuskan untuk fokus menjalani proses menulisnya, serta menikmati hari-hari bahagianya bersama suami dan anak-anak. 




Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L'Oreal Revitalift Dermalift