Wednesday, February 22, 2017

Tips Menyelesaikan Naskah Buku Anak Islami dengan Cepat

Hai, Sobat Jejak. Assalamualaikum. Mudah-mudahan Sobat semua dalam keadaan sehat, ya.

Sejak pertengahan 2016 lalu, saya memutuskan untuk menekuni dunia tulis menulis secara fulltime. Karena sekarang menulis sudah menjadi profesi saya, tentunya saya memiliki targetan yang harus dicapai. Misalnya, menyelesaikan satu naskah buku dalam sebulan.

Akan tetapi, tak jarang ada hal-hal yang mengharuskan untuk menyelesaikan naskah buku lebih cepat dari alokasi waktu yang disediakan. Misal nih, ketika saya punya target menyelesaikan satu naskah buku di bulan Maret, tiba-tiba, ada penerbit yang minta dibuatkan buku yang juga harus selesai di bulan Maret. Otomatis, saya harus membagi waktu antara menyelesaikan naskah  dari penerbit, dengan naskah targetan pribadi.

Untuk itulah, perlu adanya Tips Menyelesaikan Naskah Buku Anak Islami dengan Cepat, namun tidak kehilangan kualitas, baik secara bahasa maupun isinya. Berikut tips yang sudah saya coba:

Pertama, menyiapkan literatur  terkait buku yang akan ditulis. 
Siapkan atau kumpulkan literatur terkait buku yang akan ditulis selengkap mungkin. Jika belum ada, beli. Jangan pernah merasa rugi ketika harus mengeluarkan modal untuk menulis buku. Apalagi buku Islami. Sebab, literatur-literatur itu justru akan membuat kita super untung dengan bertambahnya ilmu dan wawasan keislaman.

Oh, iya, karena yang akan ditulis adalah naskah buku anak Islami, maka usahakan literaturnya berupa kitab-kitab shahih karangan para ulama terpercaya ya, Sobat. Mengapa? Karena ketika kita menulis buku anak Islami, maka, tujuan yang ingin kita capai bukan lagi semata menulis buku ataupun menyelesaikan pekerjaan, melainkan sebuah generasi yang akan meneruskan peradaban Islam ke depan. Kita tentu tidak ingin generasi yang terbentuk adalah generasi abal-abal lantaran mereka membaca buku Islami yang ditulis dengan literatur yang abal-abal, bukan?

Ke dua, membaca semua literatur sampai selesai.
Ketika semua literatur sudah didapat atau terkumpul, jangan menulis dulu. Tapi, bacalah dulu semua literatur itu sampai selesai. Hal ini bertujuan agar semua isi di dalam literatur itu dapat kita pahami secara menyeluruh. Bacalah literatur sebelum memulai proses penulisan. Misal, jika timeline penulisan dimulai tanggal 1 Maret, maka kumpulkan dan bacalah litertaur di bulan Februari.

Ke tiga, membuat timeline penulisan naskah
Gambarannya begini. Misal, saya akan menyelesaikan naskah Buku A dan Buku B di bulan Maret. Buku A 20 cerita, Buku B 20 cerita. Maka, timeline bayangan yang saya buat seperti ini:
Buku A ditulis mulai tanggal 1-15 Maret 2017 (15 hari) --> deadline 16 Maret
Buku B ditulis mulai tanggal 16-31 Maret 2017 (16 hari) --> deadline 31 Maret

Mengapa saya sebut timeline bayangan? Karena di kenyataannya, saya akan membuat timeline nyata penulisan, haha.. Bingung, kan? :v :v

Gini...
Kita ambil contoh Buku A untuk dijabarkan.

Untuk menyelesaikan Buku A yang isinya 20 cerita, saya mempunyai waktu 15 hari, yaitu dari tanggal 1-15 Maret 2017. Maka, timeline bayangannya penulisan dimulai dari tanggal 1-15 Maret. Namun dalam pengerjaannya, saya akan membuat timeline nyata (:D) seperti ini:

1-10 Maret : penulisan naskah (2 cerita/hari)
11-12 Maret : membayar kekurangan cerita jika ada
13-15 Maret: revisi, revisi, revisi, kirim.

Pembuatan timeline seperti di atas juga berlaku untuk naskah B, dengan tanggal yang berbeda.

Ke empat, FOKUS!
Mengapa harus fokus? Sebab jika tidak fokus, misal nonton film Korea seharian (pengalaman :p), somedan seharian, dll, maka, kemungkinan Tips Menyelesaikan Naskah Buku Anak Islami dengan Cepat ini tidak akan berjalan sesuai harapan.

Ke lima, Konsisten
Sebetulnya, kunci dari keberhasilan dalam menyelesaikan naskah buku dengan cepat adalah konsisten. Konsisten dengan jadwal dan targetan. Lima belas hari menyelesaikan satu naskah buku berisi 20 cerita, jika belum dicoba, kedengarannya horror dan sibuk banget, ya. Padahal, hanya dengan konsisten menulis 2 cerita perhari, maka kita akan menyelesaikan naskah buku berisi 20 cerita bahkan kurang dari 15 hari.

Habis dong, waktu cuma buat nulis? Saya kan, musti nyuci, ngurus anak, ngeblog, de el el.

Eits, siapa bilang?

Katakanlah untuk menulis 2 cerita perhari kita membutuhkan waktu 4 jam, misalnya. Maka, kita masih punya waktu 20 jam sehari yang bisa kita gunakan untuk banyak hal. Tidur, ke toko buku, main, selonjoran baca buku sambil minum coklat anget, nonton drama Korea (eaaa), dan lain-lain.

Intinya, semua itu bisa dicapai kalo kita KONSISTEN. Dan saya, jujur kacang ijo aja sih, masih haruuuuussss banyak berlatih untuk bisa KONSISTEN. Maklumlah, Hayati masih sering lelah dan tergoda hal lainnya, Sobat Jejak, hehehe... :D

Terakhir dan yang pastinya super super penting, jangan lupa menjaga kesehatan ya, Sobat. Sebab, segala sesuatu sangat mungkin dilakukan jika badan kita sehat. Sebaliknya, jika kita sakit, jangankan mau menyelesaikan naskah dengan cepat, lha wong mau makan tidur aja nggak enak kan, Sobat?

Semoga tips ini dapat membantu memudahkan Sobat dalam menyelesaikan naskah, ya... ^_^

Sunday, January 15, 2017

Resolusi di Tahun 2017: Merangkai Asa Mewujudkan Cita

Assalamualaikum, Sobat Jejak. Lama tak menyapa. Mudah-mudahan tidak kapok berkunjung ke blog saya :)

Tak terasa, sudah tanggal 15 Januari. Sebetulnya akhir tahun 2016 kemarin saya ingin sekali menuliskan resolusi di blog ini. Resolusi ini sendiri sudah saya tulis di dalam notes pribadi saya. Namun karena suatu dan lain hal, baru hari ini saya memostingnya di blog.

Oh, iya, saya juga pernah memosting resolusi saya di tahun 2016. Tidak banyak. Hanya lima. Alhamdulillah, tiga di antaranya tercapai. Dalam hal ini, saya melihat betapa saya sebagai manusia hanya bisa berencana. Soal pencapaiannya, sungguh Allah jua yang menjadi penentunya. Walau ada dua resolusi yang tidak terealisasi, namun tidak ada sedikitpun rasa kecewa di hati. Sebab, ada banyak sekali kenikmatan dari Allah yang kemudian menjadi pelipur hati. Saya berdoa semoga Allah memberi saya kesempatan untuk bisa mencapai resolusi yang tertunda itu di suatu hari nanti.

Adapun resolusi di tahun 2017 ini, saya beri tema merangkai asa mewujudkan cita. Yah, saya memang sedang merangkai harapan-harapan, dengan melakukan sebaik mungkin ikhtiar. Berupaya untuk mewujudkan apa yang saya cita-citakan.

Apa alasan saya membuat resolusi? Jawabannya simpel saja. Karena Allah telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman di dalam firman-Nya, untuk merencanakan hari esok. Baik dunia, terlebih lagi akhirat.

"Hai, orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Hasyr: 18)

Berikut Resolusi di Tahun 2017: Merangkai Asa Mewujudkan Cita saya:


1. Sehat

Di tahun 2017, saya ingin menjadi sosok dengan fisik yang lebih sehat dari tahun-tahun sebelumnya. Saya sadar, bahwa ini menjadi salah satu modal utama untuk bisa mewujudkan cita-cita saya. Karena akan sulit sekali melakukan aktivitas jika badan tidak sehat.

2. Makin dekat dengan Allah

Tak ada sesuatupun di muka bumi terjadi tanpa izin dari-Nya. Karenanya, saya ingin mengiringi rangkaian asa dengan kedekatan yang lebih pada-Nya.

3. Makin banyak sedekah

Sedekah menunggu lebih, terkadang demikian yang saya lakukan. Semoga di tahun 2017 dan seterusnya tidak begitu lagi. Insya Allah dengan sedekah tak akan pernah rugi. Karena janji Allah, sedekah yang kita keluarkan akan diganti dengan yang lebih baik lagi.

4. Bisa bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris

Nah, kalau yang ini ada kaitannya dengan resolusi saya yang tidak tercapai di tahun 2016. Resolusi saya waktu itu adalah ingin melanjutkan kuliah. Ternyata Allah belum mengizinkan. Resolusi itu ditangguhkan. Insya Allah masih sangat bersemangat untuk mencapainya. Namun untuk tahun ini, saya fokus saja dulu dengan persiapan-persiapan mencapainya, di antaranya memperbaiki kemampuan berbahasa Inggris saya.

5. Membeli minimal 10 kitab Islam

Sebagai penulis buku anak khususnya Islami, penting bagi saya memiliki kitab-kitab shahih yang menjadi rujukan. Sebab buku yang ditulis dengan sumber yang tidak shahih, dikhawatirkan akan mengandung informasi yang salah. Alih-alih memberikan pemahaman yang benar tentang keislaman, ternyata malah menyesatkan.

6. ACC 20 naskah buku

Hehehe, mungkin terlalu muluk bagi saya yang penulis pemula ini. Tapi tidak ada salahnya kan, saya bercita-cita? Syukur alhamdulillah bila dengan izin Allah saya bisa mewujudkannya. Bantu doakan saya ya, Sobat Jejak :)

7. Jalan-jalan ke Bandung dan Yogyakarta

Ikhtiar mewujudkan resolusi, tentu membuat saya butuh piknik dong, yaaa... Dalam hal ini, saya ingiiin sekali bisa jalan-jalan ke Bandung atau Yogyakarta. Alhamdulillah banget kalau bisa keduanya. Lebih alhamdulillah lagi kalau bisa ke sana gratisan. Ada yang mau jadi sponsor? Hehehe, maunya... Oh iya, sebetulnya di bulan September 2016 yang lalu alhamdulillah saya berkesempatan mengunjungi Bandung, tepatnya Lembang, secara gratis. Hal ini dikarenakan saya menjadi salah satu peserta terpilih dalam worskhop project penulisan buku anak bersama Room to Read. Sayangnya, padatnya jadwal workshop membuat saya tidak sempat mengeskplorasi Bandung kala itu.

Nah, Sobat Jejak. Itulah tadi Resolusi di Tahun 2017: Merangkai Asa Mewujudkan cita saya. Sobat Jejak sudah membuat resolusi juga? Share, yuk! ^_^

Sunday, December 18, 2016

Daftar Penerbit yang Menerima Naskah Buku Anak Islami

Hai, Sobat Jejak. Sudah menjelang akhir tahun Masehi 2016, nih. Sudah beli kalender baru?

Oh, iya. Berbicara tentang tahun baru, tentunya kurang afdhol kalau tidak menyusun perencanaan baru juga. Ya, semacam resolusi, mungkin. Perencanaannya bisa berupa menyusun ulang schedule pencapaian target yang belum tercapai di tahun 2016. Atau bisa juga menyusun schedule penulisan naskah baru di tahun 2017. 

Nah, bagi Sobat Jejak yang berencana menulis buku anak, Sobat bisa mencoba mengirimkan naskah tersebut ke penerbit-penerbit berikut:

Daftar Penerbit yang Menerima Naskah Buku Anak Islami


1. Pustaka Al-Kautsar

Pustaka Al-Kautsar merupakan penerbit buku islami dengan misi utamanya yaitu bekerja, beribadah dan berdakwah secara konsisten dengan memadukan ketegasan dan keluwesan. Penerbit yang memiliki motto "Penerbit Buku Islam Utama" ini menerbitkan naskah buku anak Islami lewat imprint perusahaannya yaitu Al-Kautsar Kids. Adapun tema naskah yang diterbitkan sangat beragam. Mulai dari tafsir, hadits, akhlak, sejarah Islam, sirah Nabi, biografi sahabat dan para ulama, kisah-kisah Islami, dan sebagainya. Penerbit ini juga menerima naskah dongeng, selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, semisal fabel persahabatan, dan lain-lain.

Logo Penerbit Pustaka Al-Kautsar

Berdasarkan pengalaman saya, Penerbit Pustaka Al Kautsar sangat amanah dan tepat waktu dalam hal pembayaran royalti kepada penulis. Para editornya juga sangat ramah, lho. Sehingga penulis tidak perlu merasa segan jika ingin berdiskusi terkait naskah. Yang mau curhat juga diladeni, kok, selama masih seputar penulisan naskah, heuheu... 

Buku-buku saya yang sudah terbit di Penerbit Pustaka Al-Kautsar yaitu:
1. Komik 10 Pahlawan Islam
2. Raja-raka Dalam Al-Quran

Doakan buku-buku berikutnya segera menyusul, yaaa... ^_^


Komik 10 Pahlawan Islam dan Raja-raja Dalam Alquran


2. Penerbit Gema Insani

Penerbit Gema Insani menerima naskah buku anak Islami dengan beragam tema. Naskah dongeng juga diterima selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Penerbit yang beralamat kantor di Jl. Ir. H. Juanda Depok ini menawarkan dua sistem pembayaran kepada penulis yaitu royalti dan jual putus. 

Logo Penerbit Gema Insani


Hal yang menyenangkan dari Penerbit gema Insani selain editornya yang ramah dan baik hati (uhuk!), adalah masa tunggu sejak naskah diacc hingga terbit yang bisa dibilang cukup cepat, yaitu kurang lebih enam bulan. Ilustrasinya juga sangat cantik dan menarik, lho. 

Oh, iya. Penerbit Gema Insani juga sangat aktif dalam memperomosikan buku-buku terbitannya via akun media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram, sehingga membantu menaikan daya jual buku.

Buku-buku saya yang sudah terbit di Penerbit Gema Insani yaitu:
1. Belajar Adab Islami Bersama Pangeran Karim dan Putri Karimah
2. 25 Kisah Sebab Turunnya Ayat Al-Quran

Doakan lagi semoga buku-buku berikutnya segera menyusul, yaaa... ^_^


Pangeran Karim dan Putri Karimah


25 Kisah Sebab Turunnya Ayat Alquran

3. Penerbit Tiga Serangkai

Setahun belakangan, saya sangat antusias mengirim naskah ke penerbit ini. Mengapa? Karena saya sangat senang dengan kinerja redaksi dan orang-orang di dalamnya. Editornya ramah dan ligat bangeeet... SPP cepat diterima penulis begitu naskah acc. Begitu pula bukti terbit yang dikirim langsung ke penulis tak lama setelah buku terbit. 

Saya mengenal nama Penerbit tiga Serangkai sejak zaman duduk di bangku sekolah dan sangat suka dengan buku-buku paket terbitannya. Penerbit yang namanya mengingatkan saya pada tiga serangkai pendiri Indische Partij yaitu Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Kihajar Dewantara ini beralamat di Jl. Dr. Supomo No. 23 Solo 57141 Surakarta Jawa Tengah Indonesia.

Penerbit Tiga serangkai menerima dan menerbitkan naskah buku anak Islami lewat imprint perusahaannya yaitu Tiga Ananda. Penerbit yang juga menerbitkan buku-buku umum ini juga sangat aktif mempromosikan buku-buku terbitannya di sosial media.

Buku-buku saya yang telah terbit di Penerbit Tiga Serangkai yaitu Serial Indahnya Kejujuran yang terdiri dari 6 judul buku:
1. Apel Kejujuran
2. Petualangan Dinar
3. Susu Campuran
4. Penggembala Kecil
5. Saudagar Permata
6. Mengakui Kesalahan

Serial Indahnya Kejujuran

Baca juga 

4. Bestari

Secara pribadi, saya belum pernah mengirimkan naskah buku anak ke Penerbit Bestari. Akan tetapi, insya Allah ada buku saya yang akan terbit di sini sebagai hasil dari kerjasama dalam sebuah workshop penulisan yang pernah saya ikuti. Editornya sangat ramah dan baik, serta ringan tangan banget dalam membantu penulisnya merevisi naskah.

Jika dilihat dari websitenya, buku-buku anak islami di Penerbit Bestari terbilang bagus dan temanya pun beragam. 

5. Penerbit Adibintang

Penerbit ini beralamat di jakarta. Memiliki visi sebagai penerbit buku anak dan keluarga best seller yang disukai banyak pembaca. Sepengamatan saya, penerbit ini cukup aktif dan kreatif dalam mempromosikan buku-buku terbitannya. Editornya juga friendly banget. Contoh buku terbitan Penerbit Adibintang di antaranya Cantiknya Akhlak Khadijah dan Ibu Sayang Kamu karya teman Facebook saya Mbak Irma Irawati dan Kak Wik Wylvera W.


Cantiknya Akhlak Khadijah

Ibu Sayang Kamu. Btw ada endorse saya nyempil di buku ini (numpang eksis) :D


Oke, Sobat Jejak. Sampai di sini dulu postingan tentang Daftar Penerbit yang Menerima Naskah Buku Anak Islami. Sebetulnya masih banyak penerbit lain yang juga menerbitkan naskah islami. Namun dalam hal ini, saya mengutamakan penerbit yang sudah dan insya Allah sedang dalam proses menerbitkan karya saya (aamiin..) untuk di posting di blog ini. Semoga, berikutnya saya bisa lebih poduktif menulis dan bisa mengirimkan karya ke penerbit-penerbit lainnya, serta bisa menambahkan daftar penerbit dalam update-an postingan ini, aamiin... Semoga bermanfaat :)

Wednesday, December 7, 2016

Puteri Salju Sakit Kepala

Jadi ceritanya, Facebook mengingatkan kenangan berupa postingan-postingan lama. Kebetulan, hari ini kenangannya berupa dongeng yang saya buat saat mengikuti kuis promo #philipsdisney yang diadakan Philips.

Berhubung dongengnya lumayan, jadi saya posting saja di sini. Ada unsur iklan, sih. Tapi nggak masalah. Toh di rumah saya dan keluarga memang langganan pakai lampu Philips. Cahayanya terang, putih, dan nyaman di mata.

Nah, karena yang diiklankan adalah lampu Philips Disney, jadi tokohnya saya ambil dari salah satu Puteri Disney, yaitu Puteri Salju. Sebagaimana diketahui bahwa Puteri Salju adalah karakter fiksi dalam cerita dongeng dari berbagai negara di Eropa. Yang paling terkenal adalah cerita versi Grimm Bersaudara. Selamat membaca.

Baca juga:

7 Kiat Menulis Cerita Anak yang Menarik


Sumber gambar: disney.wikia.com


Puteri Salju Sakit Kepala

Di sebuah kerajaan, hiduplah seorang puteri yang sangat cantik. Puteri Salju, namanya. Selain cantik, Puteri Salju juga terkenal pandai, karena ia sangat suka membaca. Koleksi bukunya banyaaak sekali.

Suatu ketika, Puteri Salju menderita sakit kepala berkepanjangan. Berbagai obat diberikan. Tapi sakit sang Puteri tak kunjung bisa disembuhkan.

Karena prihatin melihat keadaan puterinya, Raja pun mengadakan sayembara.

"Barangsiapa yang bisa menyembuhkan penyakit puteriku, akan kujadikan menantu!"

Peserta sayembara berdatangan. Berbagai upaya mereka lakukan. Mulai dari mengoleskan minyak sisik naga, hingga pijat refleksi menggunakan keris sakti mandraguna. Tapi semua itu sia-sia. Puteri Salju tetap merasakan sakit di kepalanya.

Saat Raja hampir putus asa, datanglah seorang pemuda ke hadapannya.

"Aku datang untuk mengobati Puteri, Baginda Raja."

"Oh, ya? Obat apa yang kau bawa?"

Pemuda itu membuka bungkusan yang dibawanya.

"Lampu?" Raja mengerutkan keningnya.

Pemuda itu tersenyum.

"Ini bukan lampu biasa, Baginda. Ini lampu Philips Disney. Terangnya maksimal, nyaman di mata, hemat listrik pula."

"Sebentar. Kau ini seorang tabib apa sales?" Selidik Raja.

Pemuda itu tertawa.
"Ah, Baginda Raja bisa saja," ujarnya. "Aku hanya pemuda desa biasa."

Raja mengusap dagunya.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan dengan lampu itu?"

"Baginda. Kudengar Tuan Puteri sangat suka membaca. Mungkin saat membaca di malam hari, lampu yang digunakan kurang terang. Akibatnya, mata puteri jadi lelah, dan menyebabkannya sakit kepala."

Pemuda itu lalu mengulurkan lampu Philips kepada Raja.

"Gunakan lampu ini untuk mengganti lampu di kamar Tuan Puteri."

Raja mengangguk-angguk. Ia lalu memerintahkan seorang pelayan istana untuk memasang lampu itu di kamar puterinya.

Seminggu kemudian, Raja mengumumkan bahwa penyakit Puteri Salju telah sembuh. Semua berkat lampu Philips yang dibawa pemuda peserta sayembara.

Sebagai imbalan, Raja lalu menikahkan pemuda itu dengan Puteri Salju. Mereka pun hidup bahagia untuk selama-lamanya. #PhilipsDisney

Baca juga:

Monday, December 5, 2016

Switchable Me Story: Menjadikan Hobi Menulis Sebagai Profesi

Lima tahun saya menjadi guru di sebuah sekolah swasta. Sekolah tempat saya mengajar ini jamnya cukup padat. Jam belajar dimulai dari pukul 07.15 hingga 14.30 WIB. Sebagai guru kelas, saya harus selalu standby, walaupun tidak ada jam pelajaran. Sebab jika terjadi sesuatu pada siswa, tentu penanggungjawab utama yang akan ditanya adalah guru kelasnya.

Intensitas pekerjaan di sekolah, membuat saya tidak mempunyai banyak waktu untuk keluarga di rumah. Paling sedih kalau ada anggota keluarga sakit. Entah itu anak, suami, atau ibu saya di kampung. Mau izin tidak masuk, kok ya ada rasa bersalah meninggalkan kewajiban. Sebaliknya kalau tetap masuk, pikiran menjadi tidak tenang. Melihat wajah murid-murid yang ceria, membuat terbayang wajah sakit orang-orang tersayang. Duh, dilema.


Switchable Me Story: Menjadikan Hobi Sebagai Profesi


Keinginan kuat untuk selalu berada di dekat keluarga, memiliki lebih banyak waktu bersama mereka, serta ditambah kondisi fisik yang mudah capek dan sakit, membuat saya akhirnya bulat mengambil keputusan resign. Ya, saya resign dari pekerjaan yang sudah lima tahun saya jalani, di pertengahan tahun 2016 kemarin.

Menjadikan Hobi Menulis Sebagai Profesi


Berhenti bekerja, artinya stop pemasukan dari tempat saya bekerja. Pemasukan yang selama ini rutin saya peroleh setiap bulan, kini otomatis tak ada lagi. Beruntung, beberapa tahun belakangan ini saya menekuni hobi menulis. Ketika masih bekerja, hobi ini saya lakukan di malam hari, atau di sela-sela kesibukan mengajar. Maka setelah resign, saya pun memantapkan diri untuk menjadikan hobi menulis ini sebagai profesi.


Karya terbaru saya. Buku 25 Kisah Sebab Turunnya Ayat Al-Qur'an.


Alhamdulillah, menjadikan hobi sebagai profesi ternyata sangat mengasyikkan. Rasanya seperti tak ada beban. Bekerja menjadi begitu menyenangkan, karena apa yang saya lakukan adalah hal yang saya suka. Tidak adanya keterikatan jam kerja juga membuat saya lebih fleksible mengatur waktu, sehingga bisa dengan mudah switchable dari aktivitas satu ke aktivitas lainnya. Ya nulis, mengurus rumah, bermain bersama anak, ikut workshop menulis, ambil kursus Bahasa Inggris, kumpul dengan teman-teman blogger, ke toko buku, serta seabrek aktivitas lainnya.

Selain menulis buku, saya juga mulai menekuni dunia blogging. Blogging yang tadinya juga hanya sekadar hobi ini, sekarang telah saya jadikan pula sebagai profesi. Tak begitu sulit bagi saya untuk menjalani dua profesi sekaligus - penulis dan blogger - karena keduanya sama-sama berhubungan dengan hobi saya, yaitu menulis. Bahkan jadi terasa seperti semacam rekreasi. Jenuh menulis buku, saya switch menulis di blog. Belum dapat ide postingan blog, saya switch lagi melanjutkan naskah buku. Bahkan tak jarang, saya mendapatkan ide menulis buku ketika sedang ngeblog, begitupun sebaliknya.


Menjadi salah satu pemenang lomba blog Pulau Pahawang, Lampung


Ada banyak perubahan positif yang saya rasakan ketika menjadikan hobi sebagai profesi, di antaranya:

Pertama, saya menjadi lebih enjoy. 

Saya menjalani profesi saya dengan perasaan senang dan bahagia. Saya lebih bersemangat bekerja, serta selalu tertantang untuk menerapkan ide-ide baru dalam pekerjaan saya.

Ke dua, saya memiliki waktu yang sangat fleksibel. 

Saya memiliki waktu yang sangat fleksibel. Saya bebas menentukan kapan saya mulai bekerja dan tidak terikat dengannya. Saya bisa melakukan pekerjaan dengan gaya saya. Membalas email editor ketika sedang memasak, merevisi draf postingan di blog sambil membereskan rumah, melanjutkan naskah sembari bersantai. Wah, nikmat sekali. Saya bahkan masih bisa melakukan pekerjaan ketika sedang selonjoran syantik di tempat tidur.

Ke tiga, saya belajar memanagemen waktu.

Menjadikan hobi sebagai profesi, memiliki banyak waktu yang fleksibel di rumah, terkadang kalau tidak pandai memanagenya ternyata bisa membuat lengah juga. Jika dibiarkan, tentunya akan berpengaruh tidak baik bagi pekerjaan saya. Oleh karenanya, saya dituntut untuk belajar memanagemen waktu. Meski waktunya fleksibel, setidaknya saya harus mempunyai jam kerja. Ada waktu kapan saya harus menyelesaikan targetan naskah buku, membuat postingan blog, membalas komentar di blog, blog walking, aktif di sosial media, dan lain sebagainya.

Notebook Modal Utama untuk Jalankan Hobi Sekaligus Profesi Saya


Satu hal yang tidak berubah baik ketika saya masih menjadi guru maupun penulis dan blogger seperti sekarang, yaitu kebutuhan akan notebook. Jika dulu notebook adalah senjata utama untuk mengerjakan media pembelajaran semisal RPP dan LK, maka sekarang notebook menjadi modal utama saya untuk mengerjakan naskah buku dan membuat postingan di blog. Notebook menjadi teman yang setia menemani hari-hari saya dalam menjalani hobi dan profesi.

Emak rempong dikejar deadline :D


Notebook andalan yang saya pakai selama ini adalah Acer Aspire One . Sayangnya, sekarang ia sudah terlalu lelah dan seringkali tidak cukup untuk mengakomodir kebutuhan saya. Maklum saja, usianya kurang lebih sudah tujuh tahunan. Meski daya survive notebook ini luar biasa, namun saya harus tahu diri dengan kondisinya yang sudah tidak seprima dulu lagi. Di antaranya dengan tidak membuka terlalu banyak tab pada jendela browsernya. Sebab jika itu dilakukan, langsung deh, notebook saya ngambek bunyi gerung-gerung membuyarkan konsentrasi. Jika terus dipaksakan, ujung-ujungnya ia protes dengan cara menghentikan pergerakan di layarnya. Hang.

Selain itu, bagian bawah notebook saya ini panasnya kadang sudah mirip setrikaan. Padahal, ketika punggung saya pegal akibat kebanyakan duduk menulis, saya sukanya selonjoran di kasur, sambil bersandar memangku notebook. Sebagai solusi agar panasnya notebook tidak melincinkan paha saya, kadang saya alasi bantal. Akan tetapi, hal ini ternyata justru menimbulkan masalah yang lain lagi. Notebook saya jadi overheating, yang ditandai dengan keluarnya suara dengungan yang cukup keras. Mungkin itu disebabkan ventilasi di bawahnya tertutup. Jika diteruskan, tak jarang  notebook saya mendadak restart tanpa berpamitan. Kalau sudah begitu, terkadang Hayati merasa lelah, Bang.

Belakangan, batre notebook saya juga cepat habis walau sudah dicas sampai penuh. Hal ini membuat saya tidak bisa lagi yang namanya jauh-jauh dari colokan, apalagi sampai charger ketinggalan. Layarnya yang hanya 10 inchi juga terlalu kecil dan membuat mata saya yang sudah minus empat ini siwer melihatnya. Yah, mungkin ini pertanda bahwa notebook Acer Aspire One saya ini sudah menjelang pensiun. Andai bisa bicara, mungkin ia akan segera merekomendasikan Acer Switch Alpha 12, Notebook dengan Performa Tinggi Tanpa Kipas untuk menggantikan tugasnya dan mengatasi keluhan saya.

Switch Alpha 12, Notebook Hybrid Intel Core Pertama Tanpa Kipas


Saya mencoba mencari tahu keunggulan Switch Alpha 12, notebook hybrid intel core pertama tanpa kipas. Saya nggak mau dong, beli kucing dalam karung. Jadi kalau nanti akhirnya saya memutuskan membeli notebook ini, pastilah karena saya sudah yakin dengan kelebihan yang dimilikinya, terutama dalam hal mendukung hobi sekaligus profesi saya.

Ternyata, salah satu keunggulan utama Switch Alpha 12 ini adalah adanya sistem pendingin tanpa kipas. Teknologi Acer LiquidLoop™nya mengandalkan pipa berisikan cairan pendingin yang dapat menstabilkan suhu prosesor Intel Core i Series di dalamnya secara optimal. Hal ini dapat mencegah penurunan performa notebook akibat overheating. Dampaknya, notebook tidak akan mengeluarkan suara berisik ngang ngung ngang ngung yang bisa mengganggu konsentrasi saya dalam menulis. Oke, deh, noted..


Lalu, apa lagi keunggulan notebook Acer 2 in 1 ini?


Nah, ini yang penting buat saya. Notebook ini baik-baik saja dan tidak menimbulkan rasa tidak nyaman ketika dipangku. Hal ini dikarenakan notebook Switch Alpha 12 tidak memiliki ventilasi udara. Jadi, dia nggak akan protes kepanasan dan mengeluarkan bunyi berdengung baik saat diletakkan di atas bantal atau kasur. Jadi nggak masalah dong, kalo saya ngetik sambil tengkurap ala puteri duyung terdampar di kasur. Selain itu, sistem fanless sangat membantu menghemat daya baterai pada Switch Alpha 12, yang memang sudah tahan lama hingga 8 jam, karena sudah dibekali dengan baterai berkapasitas 4.870 mAh.  Hal ini membantu saya agar tetap bisa menulis dalam jangka waktu yang lama tanpa harus nempel kayak perangko dengan colokan listrik. Saya bisa switch ngetik di dapur, di sumur, dan di kasur... *lah! balik ke kasur lagi...*




Notebook Switch Alpha 12 ini sangat tipis dan ringan, sehingga memudahkan penggunanya untuk membawanya ke mana saja. Asyiknya lagi, notebook ini juga dapat berubah sesuai kebutuhan, yaitu dari bentuk notebook menjadi tablet, atau sebaliknya. Jika ingin menggunakannya sebagai tablet, saya tinggal melepasnya saja dari keyboard docking yang dilengkapi magnet. Nggak pake ribet, langsung jadi deh, ketak ketik di notebook rasa tablet :)




Keyboard docking Acer Switch Alpha ternyata juga berfungsi sebagai screen protection, serta dilengkapi dengan lampu backlit sehingga pengguna tetap bisa mengetik meski sedang berada di ruangan minim cahaya.  Selain itu, layarnya yang berukuran 12 inci juga terasa lebih lega dibanding notebook 10 inci saya. Ditambah lagi dengan resolusi QHD (2160 x 1440 pixel) yang telah dilengkapi teknologi IPS, membuat gambar dan warna yang dihasilkan notebook ini sangat baik dilihat dari berbagai sudut.

Selama ini, mata minus empat saya ini suka kriyep-kriyep cepat lelah dan kering jika berlama-lama menatap layar notebook. Apalagi saat ada deadline, dimana kadang saya berjam-jam nonstop di depan notebook. Beneran deh, lelah maksimal mata adek, Bang. Nah, dengan notebook Switch Alpha 12 ini, keluhan seperti yang saya rasakan itu kemungkinan tak ada lagi. Sebab, Teknologi BlueLight Shield pada notebook ini dapat mengurangi emisi cahaya biru penyebab mata cepat lelah dan kering, pada layar.




Oh, iya. Ketika membuat postingan blog, terkadang saya suka menambahkan ilustrasi untuk melengkapi tulisan. Tentu agak repot dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memotret, mentransfer foto, lalu mengeditnya, sebelum diupload di postingan. Nah, Switch Alpha 12 ini ternyata dilengkapi dengan pena digital Active Pen, yang bisa membantu penggunanya melakukan kreativitas tak terbatas pada layar. Jadi, saya bisa langsung urek-urek membuat gambar ilustrasi dengan menggunakan Active Pen ini.

Nah, itulah beberapa keunggulan Switch Alpha 12 yang bisa mempermudah dalam menjalankan hobi sekaligus profesi saya sebagai seorang penulis dan blogger. Mudah-mudahan, suatu hari saya bisa memiliki notebook ini. Bantu aaminkan, yaaa... ^___^




Wednesday, November 23, 2016

Rahasia Dian Tetap Menarik di Usia Cantik

“Saya tak tahu, berapa waktu yang tersisa untuk saya. Satu jam, satu hari, satu tahun, sepuluh, lima puluh tahun lagi? Bisakah waktu yang semakin sedikit itu saya manfaatkan untuk memberi arti keberadaan saya sebagai hamba Allah di muka bumi ini? Bisakah cinta, kebajikan, maaf dan syukur selalu tumbuh dari dalam diri, saat saya menghirup udara dari Yang Maha?” 

― Helvy Tiana Rosa, Risalah Cinta ―



Dian Onasis


Lahir di Palembang, wanita suku Minang bernama lengkap Dian Istiaty ini kini menetap di Pamulang. Berkumpul bersama keluarga dengan bahagia tak berbilang. Menuai karunia terbesar dari-Nya, atas kesabaran dalam melalui penantian yang panjang.


Tak kunjung memperoleh keturunan di sembilan tahun usia pernikahan, bukanlah hal yang mudah dijalani Dian. Rasa cemas tentu ada. Mengingat usianya yang tak lagi muda. Belum lagi tekanan dan komentar dari orang-orang sekitar. Namun, alih-alih meratapi keadaan, wanita yang menjadi PNS dosen Hukum Unsri sejak tahun 1997 sampai 2014 ini lebih memilih menyibukkan diri dengan pikiran positif, seraya tak henti berusaha dan berdoa, semoga Allah berkenan memberinya anak di suatu ketika. 



"Di ufuk empat puluh aku mulai mengumpulkan 
berkas kelemahaanku yang bertaburan
dalam hutan remajaku aku mulai memikul
bakul yang berat di belakangku
sarat oleh pengalaman
sarat oleh penemuan."

(di ufuk empat puluh, T. Alias Taib, Seberkas Kunci)


Tak ada yang bisa menduga takdir. Begitupun Dian. Cumlaude S2 Unsri ini tak pernah menyangka, bahwa Allah akan menjawab doanya ketika ia sedang berproses menyelesaikan studi doktornya di Unibraw. Di menjelang #UsiaCantik, Dian akhirnya mengandung anak kembar di dalam rahimnya. Namun, ujian lain ternyata masih harus dijalani. Salah satu janin yang berjenis kelamin laki-laki, meninggal di dalam kandungan. Tak ingin kehilangan janin satunya lagi, Dian pun memutuskan untuk tidak melanjutkan studi, agar bisa fokus menjaga kandungannya. Sebuah keputusan yang berat, tapi Dian tak pernah menyesalinya. Ia yakin, bahwa ada kebaikan dalam setiap takdir yang Allah tentukan untuknya.


Mengandung satu janin yang sudah menjadi mayat, serta mempertahankan janin lain yang masih hidup, merupakan perjuangan yang sangat berat bagi Dian. Sebuah fase yang mau tak mau harus ia lalui walau dengan iringan derai air mata. Ibu mana yang tak lara bila kehilangan puteranya? Hanya dengan izin dan pertolongan Allah semata, istri dari Onasis Dasmal Muskita ini akhirnya mampu mengatasi rasa kehilangan dan perlahan mengikhlaskan kepergian Miftahurrahman Onasis, buah hatinya. Hingga pada akhirnya, luka itu terobati dengan kelahiran seorang bayi perempuan cantik yang sehat, Salsabila Onasis, di usia Dian yang ke-34 tahun.



Merayakan usia cantik dengan menjadi ibu rumah tangga dan penulis


Keputusan besar diambil Dian di #UsiaCantik. Sejak dikaruniai anak, cita-cita Dian yang semula ingin menjadi seorang profesor di usia 40 tahun, berubah. Kini, keluarga telah menjadi prioritas utama dalam hidupnya. Keinginan untuk senantiasa dekat dengan suami dan mendampingi tumbuh kembang anak, membuat wanita yang akrab disapa dengan Uni Dian ini, memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai dosen dan menjadi ibu rumah tangga. Walau mengaku sempat menyesal dengan keputusan resign, apalagi ketika melihat adik-adik tingkatnya kuliah S3, namun, salah satu SDM terbaik di mata Dekan fakultasnya ini tetap bahagia dengan keputusannya. Apalagi setelah bertambahnya karunia Allah yang lahir dari rahimnya. Seorang bayi laki-laki bernama Muhammad Ammar Al Mumtaz Onasis, yang membuat Dian merasa hidupnya menjadi sempurna.



Dian dan suami, saat menunaikan rukun Islam yang ke-5 (sumber gambar: FB Dian Onasis)


Dian bersama dua buah hatinya, Billa dan Aam (sumber gambar: FB Bunda Billa Aam)


Di samping aktivitas utamanya sebagai ibu rumah tangga, di usia cantiknya, Dian mulai menekuni dunia penulisan buku. Mimpi Dian adalah bisa terus menulis, dengan harapan apa yang ditulis menjadi jalan turunnya berkah dan kebaikan, baik bagi dirinya pribadi, maupun orang lain yang membaca tulisannya. Wanita pemilik senyum lebar ini pun serius menjalani profesi sebagai penulis pada tahun 2010 hingga 2012. Di rentang tahun itu, setidaknya 5 buku anak solo dan puluhan buku antologi telah ia hasilkan. 



Karya-karya Dian (sumber gambar: FB Dian Onasis)


Untuk meningkatkan kemampuan menulisnya, Dian banyak mengikuti kelas online menulis, baik yang gratis maupun berbayar. Ia pun sering mengikuti workshop menulis, banyak membaca buku, serta berkomitmen untuk menulis setiap hari. Wanita ramah ini juga berusaha membangun networking yang baik dengan semua orang, terutama yang terkait dengan dunia penulisan. Ia berharap suatu hari bisa membuat buku dengan unsur pengetahuan yang bermanfaat bagi anak-anak.



Dian bersama teman-teman penulis (sumber gambar: FB Dian Onasis)


Wanita pemilik blog www.oenidian.com ini juga aktif membagikan ilmu menulisnya, baik offline maupun online. Dian pernah diminta oleh sebuah komunitas penulisan untuk mengisi acara sharing cara menulis cerita anak bagi siswa siswi SMPIT Rahmaniah di Depok. Selain itu, Dian juga mendirikan Kelas Permen, yaitu kelas menulis novel anak yang dilakukan secara gratis via Facebook. Kelas Permen ini sudah berlangsung sebanyak 4 kali, dengan jumlah anggota 5-6 orang per kelas. Dengan membagikan ilmunya, Dian berharap ilmu yang ia peroleh tidak cepat hilang dan bisa memberikan manfaat bagi orang lain.



Dian sharing cara menulis buku anak di SMPIT Rahmaniah, Depok (sumber gambar: FB Dian Onasis)


Rahasia Dian Tetap Menarik di Usia Cantik

Jelang usia 43 tahun, wajah Dian masih terlihat cerah dan menarik. Dian mengaku mengikuti anjuran sang ibu untuk merawat wajahnya sejak usia pubertas. Setiap pulang sekolah, Dian selalu menyempatkan diri untuk mencuci wajah. Hal ini untuk menghindari tertutupnya pori-pori wajah akibat kuman dan debu yang menempel. Sebab jika dibiarkan, tentu hal itu bisa berakibat tidak baik bagi kulit wajah Dian.

Salah satu produk yang bisa digunakan untuk membersihkan wajah yang kotor adalah Revitalift Milky Cleansing Foam dari L'Oreal Paris. Kandungan BHA + Glycerin di dalamnya membantu mengangkat sisa make up, kotoran dan debu, serta sel kulit mati, sehingga menjadikan wajah tampak lebih cerah dan muda. 



L'Oreal Paris Revitalift Milky Cleansing Foam (sumber gambar: www.lorealparisindonesia.com) 


Ditanya mengenai definisi cantik, menurut Dian, cantik adalah ketika orang lain merasa nyaman melihatnya. Bisa karena cara berpakaiannya yang rapi dan serasi, cara bicaranya yang menyenangkan, make up yang proporsional dan sedap dipandang, atau karena tingkah lakunya yang sopan. Dian sendiri berusaha membuat dirinya menarik dengan lebih banyak tersenyum. Sebab dengan senyum di wajah, orang bisa berkali lipat terlihat lebih menarik dan cantik. Di usia cantik, Dian juga merasakan perubahan positif dalam dirinya. Ia semakin matang dalam berpikir, sabar, dan ramah pada anak-anak.


Kendati tak begitu ambil pusing dengan tanda-tanda penuaan di usia cantik semisal mulai tumbuhnya uban dan munculnya kerut di wajah, namun Dian tetap merawat wajahnya dengan menggunakan krim malam dan krim anti sinar matahari. Sebab bagi Dian, wajah juga merupakan karunia Allah yang harus senantiasa dirawat dan dijaga dari hal-hal yang bisa merusak keindahannya.


Adapun formula yang bisa digunakan untuk melindungi wajah dari sinar UVA dan UVB matahari adalah Revitalift Dermalift Day dari L'Oreal Paris.  Kandungan Pro Retinol A di dalamnya mampu memberikan perlindungan terhadap UVA & UVB, merawat kekencangan kulit, serta mencegah penuaan dini. Sementara untuk krim malam, perawatan wajah usia cantik bisa dipercayakan pada Refitalift Night. Formula ini mengandung Pro-Retinol A yang berguna untuk megoptimalkan regenerasi kulit, serta Centella asiatica yang ampuh untuk mencegah timbulnya kerutan baik dari dalam maupun luar.



L'Oreal Paris Revitalift Day (sumber gambar: www.lorealparisindonesia.com)


Satu-satunya hal yang sempat membuat Dian khawatir di usia cantik adalah efek samping menopause, di antaranya diabetes, mengingat ia pernah 2 kali menjadi pasien Suspect PCO. Dian khawatir jika itu terjadi, ia tidak bisa selalu membersamai anak-anaknya. Akan tetapi, penulis yang memiliki nama pena Dian Onasis ini kemudian menganggap bahwa pikiran seperti itu hanya membuang-buang waktu dan menguras energi. Ia pun akhirnya memutuskan untuk fokus menjalani proses menulisnya, serta menikmati hari-hari bahagianya bersama suami dan anak-anak. 




Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L'Oreal Revitalift Dermalift

Sunday, November 20, 2016

Pesona Pulau Pahawang, The Most Popular Hidden Paradise

Berawal dari celotehan penat para guru di tempat saya mengajar, dua tahun yang lalu, ide untuk jalan-jalan pun terlontar. Lalu, seorang teman mengusulkan untuk menjadikan Pulau Pahawang sebagai destinasi wisata pilihan.

Menurut teman saya itu, Pulau Pahawang memiliki pesona bawah laut yang menawan serta panorama alam yang indah sejauh mata memandang. Penasaran, kami yang belum pernah ke sana akhirnya sepakat untuk pergi ke Pulau Pahawang.

Perjalanan Menuju Pulau Pahawang

Untuk menuju Pulau Pahawang, dari Bandarlampung, kami menyewa angkot seharga Rp. 250.000,-. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 1,5 jam, melewati beberapa pantai seperti Pantai Puri Gading, Pantai Duta Wisata, Lempasing, Pantai Queen Artha, Pantai Mutun, dan Pantai Sari Ringgung. Walau jarak dan waktu tempuh menuju Pulau Pahawang cukup jauh dan lama, namun kami tidak merasakan bosan, dikarenakan suguhan menawan berupa hutan dan bebukitan hijau di sepanjang perjalanan.

Dermaga Ketapang (kolpri)


Angin berembus membawa aroma laut ketika kami menjejakkan kaki di Dermaga Ketapang. Kami lalu menyewa perahu atau jukung seharga Rp. 250.000,- . Perahu inilah yang akan membawa kami menuju Pulau Pahawang. Saya sempat heran, mengapa harga sewa perahunya sangat murah. Sebab dari beberapa informasi yang saya baca di internet, harga sewa perahu ini berkisar antara Rp. 350.000,-  hingga Rp. 500.000,-. Saya pun mengangguk paham, ketika dijelaskan bahwa harga itu didapat karena guide kami sudah kenal baik dengan yang punya kapal. Guide kami adalah seorang mahasiswi yang sering bolak-balik ke Pulau Pahawang. Saat itu, Pulau Pahawang merupakan desa binaan organisasinya di kampus.

Lansekap dalam perjalanan menuju Pulau Pahawang (kolpri)


Tak menunggu lama, suara gemuruh mesin diesel mulai terdengar. Perahu pun melaju membelah lautan menuju Pulau Pahawang. Perpaduan air laut yang biru, langit cerah, dan bukit-bukit hijau tampak begitu menyegarkan pandangan. Sesekali saya menjulurkan tangan ke laut, menikmati kecipak air seraya membayangkan seolah sedang bersalaman dengan ikan-ikan.  Tak terasa, waktu sekitar 45 menit pun berlalu. Di hadapan kami, dermaga Pulau Pahawang telah menanti. Menurut informasi dari guide kami, pulau yang tak lama lagi akan kami sambangi ini dikenal dengan nama Pulau Pahawang Besar.

Foto-foto dulu begitu sampai di Pahawang Besar (kolpri)


Terdampar di Pulau Pahawang Besar

Kehadiran kami disambut ramah oleh penduduk pulau yang terletak di Kabupaten Pesawaran, tepatnya di kecamatan Punduh Pidada ini. Kebetulan saat itu sedang digelar pengajian, sehingga kami sempat dikira rombongan majelis taklim dari Bandarlampung. Tak ayal, ucapan selamat datang untuk kami terdengar dari pengeras suara. Terimakasih kami ucapkan kepada para Bapak dan Ibu yang menyambut kami, seraya menjelaskan bahwa kedatangan kami ke Pulau Pahawang adalah untuk berwisata. Sungguh mengesankan, keramahan tak lekang walau penduduk akhirnya tahu bahwa kami bukanlah rombongan tamu pengajian. Mereka tetap menyapa kami dengan penuh senyuman, begitupula anak-anak pulau yang tanpa ragu bercanda tawa di dekat kami. Ah, sepertinya penduduk Pulau Pahawang tahu benar bagaimana memperlakukan para wisatawan.

Datang sebagai tamu
Tak lupa mengetuk pintu
Menyapa dengan ramah
Disambut dengan senyum merekah

Penduduk di Pulau Pahawang (kolpri)

Anak-anak di Pulau Pahawang (kolpri)


Pulau Pahawang terbagi menjadi dua, yaitu Pahawang Besar dan Pahawang Kecil. Berbeda dengan Pahawang Kecil, Pahawang Besar dihuni oleh sekitar 400an kepala keluarga. Terdapat beberapa cukuh atau desa di Pahawang, Yaitu Cukuh Suak Buah, Cukuh Kalangan, Cukuh Penggetahan, Cukuh Jeralangan, dan Cukuh Nyai.

Ada miskomunikasi ketika kami melakukan wisata ke Pulau Pahawang ini. Sepertinya guide memberitahu kemudi perahu, bahwa kami akan berenang-renang saja di sekitaran pantai Pulau Pahawang Besar. Padahal, inginnya mendatangi spot-spot snorkeling yang menjadi wisata andalan di Pulau Pahawang. Alhasil, perahu pun meninggalkan kami yang telat menyadari akibat keburu keasyikan bercengkrama dan berfoto-foto selfie. Alhamdulillah, Tuhan menakdirkan kami untuk terdampar di pulau ini.

Rumah penduduk di Pulau Pahawang (kolpri)


Tak ada rotan akar pun jadi. Melipir dari lokasi yang dihuni oleh para penduduk, kami berjalan menyusuri jalan berupa susunan paving blok. Mencari tempat sepi untuk berenang-renang cantik ala puteri duyung adalah tujuan kami.

Menyusuri jalan paving blok (kolpri)


Dalam perjalanan, di sisi kiri jalan saya melihat panel surya. Rupanya, panel surya yang memanfaatkan energi cahaya matahari inilah yang menjadi sumber listrik utama bagi penduduk di Pulau Pahawang. Selain panel surya, beberapa penduduk juga menyediakan genset sebagai energi alternatif untuk menghidupkan listrik, pengganti PLN.

Panel surya di Pulau Pahawang (kolpri)

Cukup lama berjalan, tibalah kami di sebuah tempat berpantai landai yang sepi tak berpenghuni. Pepohonan hijau yang rindang tumbuh di sepanjang bibir pantai. Air lautnya begitu tenang, hanya sesekali angin meriakkan ombak kecil menuju pantai, dengan hamparan pasir putih yang teksturnya mengingatkan saya pada butiran lembut tepung maizena.

Keindahan pantai di Pulau Pahawang (kolpri)


Saya memutuskan untuk menikmati pemandangan ketika teman-teman saya sudah mencebur ke laut dan berenang. Seru sekali melihat mereka snorkeling di air dangkal, lalu berteriak histeris saat berhasil melihat ikan.

Ikan!
Ikan!
Hore!
Saya berhasil melihat ikan!

Mengedarkan pandangan, di sisi kanan pulau, saya melihat hamparan lebat hutan mangrove. Menurut informasi dari nelayan yang sedang memperbaiki kapal, masyarakat Pulau Pahawang sudah memiliki kesadaran untuk melestarikan mangrove. Hal itu tentu tidak terlepas dari upaya penyuluhan yang dilakukan oleh pemerintah setempat beserta LSM yang aktif bergerak di bidang pelestarian lingkungan.  Saya tersenyum, membayangkan betapa bungahnya para hewan laut yang menjadikan mangrove sebagai habitatnya. Selain menjadi habitat bagi beragam hewan laut, keberadaan mangrove juga membantu menghindari terganggunya keseimbangan alam daerah pantai akibat abrasi atau pengikisan yang disebabkan oleh gelombang air laut.

Selain itu, mangrove juga menjadi sumber penghasilan penduduk Pulau Pahawang. Oleh penduduk, mangrove diolah menjadi penganan khas yang lezat seperti dodol mangrove, sirup mangrove, dan keripik mangrove, yang bisa dijadikan oleh-oleh bagi para wisatawan yang berkunjung ke sana.

Dodol Mangrove (sumber foto: IG @kelilinglampung)

Keripik Mangrove (sumber foto: Twitter @kelilinglampung)

Alhamdulillah. Keindahan alam di pantai Pulau Pahawang Besar membuat saya bersyukur telah terdampar di sana. Sungguh sebuah anugerah saya bisa menyaksikan keberadaan surga tersembunyi di Provinsi Lampung ini.

The Most Popular Hidden Paradise

Oleh para wisatawan, Pulau Pahawang sangat populer dengan keindahan bawah lautnya. Para penyuka snorkeling dan diving dimanjakan oleh keindahan berbagai spesies ikan dan terumbu karang yang bisa dengan mudah ditemui di bawah laut Pahawang. Lokasi wisata bawah laut favorit yang biasa dikunjungi wisatawan di antaranya Pahawang Kecil, Kelagian, Tanjung Putus, dan Taman Nemo.

Selain itu, Pulau Pahawang juga terkenal dengan pemandangan alamnya yang eksotis. Jajaran hutan mangrove, bukit-bukit hijau, serta air lautnya yang berwarna biru toska, menjadi sebuah panorama yang menyejukkan mata. Oleh karena itu, tak heran jika Pulau Pahawang masuk dalam nominasi pada ajang Anugerah Pesona Indonesia 2016 yang digelar oleh Kementerian Pariwisata, yaitu pada kategori Surga Tersembunyi Terpopuler atau Most Popular Hidden Paradise.

Pulau Pahawang Kecil, Tanjung Putus, dan Kelagian

Pulau Pahawang Kecil tidak berpenghuni. Hanya ada sebuah cottage yang konon milik seorang berkebangsaan Perancis bernama Mr. Joe. Terdapat juga dermaga milik pribadi. Milik siapa lagi kalau bukan Mr. Joe. Cottage Mr. Joe juga ada di Pahawang Besar. Lengkap dengan dermaga kayunya yang menawan. Letaknya tidak jauh dari tempat saya dan teman-teman berenang.

Aneka bentuk dan warna terumbu karang terlihat jelas dari permukaan air (sumber foto: IG @kelilinglampung)

Di Pahawang Kecil ini, pemandangan alamnya begitu indah menawan. Suasananya yang sepi membuat pulau ini terasa milik sendiri. Yah, sekali-sekali. Kalau bukan di Pahawang Kecil, di mana lagi bisa merasakan sensasi memiliki pulau pribadi? Menyelam di kedalaman sekitar 2 meter, maka akan ditemui sebuah plang bertuliskan I love Pahawang. Jangan sampai melewatkan spot ini. Yah, setidaknya sebagai bukti ke anak cucu nanti, bahwa kita pernah berada di sini. Di Pulau Pahawang.

Lansekap di pantai Pahawang Kecil (sumber foto: www.yopiefranz.com)

Tak jauh dari Pahawang kecil, terdapat jembatan alami berupa pasir yang dikenal dengan sebutan Tanjung Putus. Tanjung Putus ini hanya terlihat ketika air laut surut. Jika air pasang, maka jembatan pasirnya akan terendam. Di Tanjung Putus, ikan-ikan tak segan berenang di dekat perahu dan para wisatawan yang sedang menyelam. Serunya. Menyatu dengan alam dan seolah menjadi bagian dari ikan-ikan di Pulau Pahawang.

Perlakukan ikan-ikan itu sebagai sahabat
Maka ikan-ikan pun akan memperlakukanmu layaknya sahabat


Lansekap di sekitar Tanjung Putus (sumber foto: IG @kelilinglampung)


Di Pulau Kelagian, pasir putih yang begitu lembut akan menyapa langkah kaki para wisatawan yang datang. Menyelam ke bawah laut Kelagian, maka akan dijumpai ratusan ikan dan beraneka bentuk terumbu karang. Keindahan pemandangan alam dan wisata bawah laut di Kelagian akan membuat wisatawan ingin datang ke sana lagi dan lagi.

Berenang bersama ikan di Kelagian (sumber foto: www.yopiefranz.com)

Taman Nemo

Tak perlu finding Nemo di Taman Nemo Pulau Pahawang. Sebab di sini, ikan-ikan nemo atau clownfish dapat dengan mudah ditemui. Hanya dengan menyelam di kedalaman yang tidak seberapa, sekumpulan ikan nemo berenang dengan riang seolah menyambut kedatangan para wisatawan. Mereka berenang ke sana ke mari di antara aneka bentuk terumbu karang, serta warna warni anemon laut yang melambai-lambai seakan-akan mengajak para penyelam untuk menari bersama mereka.

Ikan nemo (sumber foto: IG @pahawanglampung)

Ikan nemo (sumber foto: IG @pahawanglampung)

Kenalkan Pulau Pahwang Lewat Festival Teluk Ratai

Salah satu bentuk perhatian terhadap potensi wisata alam dan bawah laut Pulau Pahawang, pemerintah Kabupaten Pesawaran akan mengadakan Festival Teluk Ratai. Festival yang baru pertama kali dilakukan ini akan dihelat pada tanggal 25-27 Nopember 2016. Festival ini bertujuan untuk menyadarkan masyarakat, mengenai keberadaan nominator most popular hidden paradise, yaitu Pulau Pahawang.

Catat tanggalnya, ya, dan pastikan kamu yang membaca postingan ini datang dalam Festival Teluk ratai Pulau Pahawang.

Kembali ke Dermaga Ketapang (kolpri)
Hari beranjak petang. Tak terasa, sudah waktunya saya dan teman-teman pulang, meninggalkan Pulau Pahawang. Tentu tak cukup menyukuri potensi wisata alam dan bawah laut Pulau Pahawang ini hanya dengan mengagumi keindahannya semata. Lebih dari itu, menjadi kewajiban kita untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan melestarikannya. Dengan demikian, kelak anak cucu keturunan kita dapat pula menikmati Keindahan Pulau Pahawang.

Setidaknya ingat 3 hal ini ketika berwisata ke Pulau Pahawang:

1. Jangan buang sampah sembarangan
2. Jangan menginjak terumbu karang
3. Sapa dengan ramah penduduk yang dijumpai

Baca juga:

Pantai Klara, Destinasi Wisata yang Ramah Keluarga



Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Pahawang The Hidden Paradise