Thursday, August 25, 2016

Jelajah Pasar Seni di Pembukaan Lampung Krakatau Festival 2016

Assalamualaikum, Sobat Jejak. Alhamdulillah. Kemarin siang saya dan beberapa teman blogger berkesempatan hadir di acara pembukaan Lampung Krakatau Festival 2016. Lampung Krakatau Festival merupakan event tahunan yang menjadi ajang promosi potensi pariwisata yang ada di Lampung, baik dari segi seni budaya, maupun alam. Adapun tema yang diusung pada Festival Krakatau tahun 2016 ini adalah "Lampung The Treasure of Sumatera".


Rangkain Lampung Krakatau Festival di antaranya adalah Jelajah Pasar Seni, yang bertempat di pelataran lantai 3 Mal Bumi Kedaton.

Jarum pendek jam sudah merayap menuju angka 2 ketika saya dan teman saya, Ummi Naqi, tiba di Mal Bumi Kedaton. Di lokasi acara, saya melihat para undangan sudah banyak yang berdatangan. Di sekeliling sisi ruang utama juga sudah dipadati oleh para fotografer yang siap mengabadikan jalannya acara, yang kiranya akan dihadiri langsung oleh Ketua Penggerak PKK Lampung, Ibu Apriliani Yustin Ficardo.

Suasana Pembukaan Rangkaian Acara Lampung Krakatau Festival

Sesampainya di lantai tiga Mall Bumi Kedaton, saya dan Ummi Naqi disambut oleh barisan muli meghanai (sebutan bagi para gadis dan bujang Lampung) yang tinggi badannya membuat kami seketika merasa terintimidasi. Haduuh....

Tak cukup percaya diri melewati mereka, kami  melipir dari sisi kiri meja penerima tamu dan langsung menuju ke deretan kursi yang sudah disediakan di depan panggung. Penuh dengan rasa nyaman, kami pun duduk di salah satu kursi tersebut. Tapi....

"Mi, ini beneran kita nggak papa duduk di sini? Ini kayaknya kursi undangan, deh," bisik saya, pada Ummi Naqi.

"Udah, nggak papa, duduk aja..." Kata beliau dengan santai.

Saya berusaha duduk dengan santai. Tapi entah kenapa, hati tetap terasa waswas. Apalagi ketika melihat bahwa orang-orang yang duduk di kursi rata-rata mengenakan seragam.

"Pindah aja yuk, Mi..." Bujuk saya.

Bukannya pindah, Ummi Naqi malah menyodorkan HP pada saya. Minta difotoin! Gubrak... Salut banget saya sama emak satu ini. Percaya dirinya itu, lho...

Tak lama kemudian, seorang Bapak berseragam datang menghampiri. Sambil memasang mimik wajah ala debt collector, si Bapak berkata, "Maaf, Mbak, saya mau duduk di situ. Saya undangan."

Beuuu....

Sambil menggamit Ummi Naqi, disertai senyum yang dibuat semanis mungkin, saya manggut-manggut seraya mempersilakan si Bapak duduk.

"Iya, Pak. Ho oh, ini kursi undangan. Silakan, Pak..."

*****

Sehari sebelumnya, saya dan beberapa teman blogger lain janjian ketemuan di acara ini. Alhamdulillah, kami akhirnya benar-benar bertemu di sini. Seru sekali. Teman-teman blogger sangat ramah dan menyenangkan. Termasuk dua blogger yang baru saya kenal, yaitu Bang Yopie dan Mbak Heni.

Blogger Lampung. Dari kiri ke kanan: Bang Yopie, Mbak Fitri, Ummi Naqi, saya, Mbak Heni, Eyang (jurnalis Tribun Lampung)

Tak lama setelah kedatangan Ibu Yustin Ficardo beserta rombongan, pembukaan acara Lampung Festival Krakatau pun dimulai. Ibu Yustin memukul Gamolan, alat musik khas Lampung berbentuk menyerupai gamelan yang terbuat dari bambu, sebagai tanda bahwa Festival telah resmi dibuka.

Pemukulan Gamolan oleh ibu Yustin menandai dibukanya Lampung Krakatau Festival (foto diambil dari instagram Bu Yustin)

Beragam kesenian Lampung ditampilkan untuk memeriahkan acara Jelajah Pasar Seni ini. Mulai dari pembacaan puisi bertajuk Ketika Kata Menjadi Warna yang menggambarkan kekayaan alam Lampung, tarian kontemporer, fashion show busana tapis, seni lukis, serta workshop di akhir acara. Tak ketinggalan, para pengusaha kerajinan khas Lampung pun turut menggelar aneka produk mereka di stand-stand pameran.

Saya sempat merinding dan terdiam ketika puisi Ketika Kata Menjadi Warna dibacakan. Sejenak ingatan saya melayang ke masa kecil di kampung halaman. Masa ketika saya begitu senang diajak ibu ke kebun di musim panen. Menyesap aroma bunga kopi yang wangi, memetik lada dan merasa gembira ketika melihat bercak merah kulitnya menodai telapak tangan. Ah, indah sekali.

Pembacaan Puisi Ketika Kata Menjadi Warna

Keindahan tapis Lampung disuguhkan melalui peragaan busana. Para model Lampung berlenggak lenggok di panggung utama, lalu turun menuju stage-stage yang telah disiapkan panitia. Haduh, ya. Jujur saja. Sungguh sesi ini membuat saya terpana sekaligus kembali merasa terintimidasi. Itu model kenapa bisa sangat sangat langsing dan tinggi begituuuu, hu huhu...

"Aaaah, itu mah sepatunya yang bikin tinggi," komentar salah seorang teman, yang lumayan membuat saya lega, hehehe...

Para model yang memeragakan aneka kreasi busana Lampung.

Selama acara berlangsung, sekali-sekali (berkali-kali sih, sebenarnya) saya berkeliling untuk menjelajah stand-stand pameran kesenian Lampung. Seraya mengagumi aneka kerajinan tapis yang dipajang, mulai dari yang masih asli berbentuk kain, tempat tisu, wadah air mineral, juga clutch bag, diam-diam saya meratapi kondisi kantong yang sunyi sepi tanpa penghuni. Ah, sayang sekali. Tak satu pun dari benda-benda itu mampu saya beli, hiiiksss....

"Waaah, keren-keren banget ya, Bu, kerajinan tapisnya."
"Iya, Dek..."
"Tas kecil ini berapaan, Bu?"
"Tiga ratus lima puluh ribu, Dek..."
"Ooo... Mantap-mantap..."
"Kalo kain tapis ini, Bu?"
"Yang itu, satu juta dua ratus, Dek..."
"Ummm... *manggut2* Cakep banget ya, Buu..."
"Iya, Dek..."
"Tingkatan harga tapis ditentukan oleh apa, Bu?"
"Itu, Dek, benang masnya. Makin rapet dan rumit, makin mahal..."
"Oooo... Dulu waktu SMP saya ada pelajaran njahit tapis lho, Bu." *nggak tanya, batin si ibu. buktinya beliau cuma senyum -_-*
"Ini sulam usus ya, Bu?"
"Iya, Dek..."
"Keliatan rumit ya, Bu."
"Iya, rumit, Dek."
"Wah, kalo saya yang nyulam mungkin ususnya nggak bakal jadi baju, Bu."
"Terus jadi apa, Dek?"
"Jadi usus buntu."

Krik, krik, krik...

Stand Tapis dan Batik Lampung
Dan saya hanya bisa nahan iler melihat tapis-tapis syantik ini T_T
Baju Sulam Usus
Tas tapisnya syantik syantiiiik...
"Mbak, Mbak, beli dong. Jangan cuma liat-liat..."

*****

Ada satu bentuk kesenian yang cukup menyita perhatian saya di acara ini, yaitu seni lukis. Seni lukis ini diparadekan oleh para seniman lukis Lampung yang terhimpun dalam Dewan Kesenian Lampung (DKL). Lukisan dibuat berdasarkan imajinasi mereka dari puisi bertajuk Ketika Kata Menjadi Warna, yang telah dibacakan di awal acara.

Huaaah... Seandainya dulu hobi melukis saya tekuni, mungkin saya sudah menjadi pelukis hebat seperti mereka ini, batin saya.

Eleh... Gimana mau bisa nyamain mereka. Lha wong lukisanmu objeknya melulu gunung dua, matahari di tengah, sama bentangan sawah, jawab sebuah suara misterius yang entah dari mana datangnya.

Hhhh... Lupakan soal saya yang dulunya hobi melukis. Mari kita kembali saja ke para pelukis yang sedang unjuk kebolehan mereka di acara ini.

Perhatian saya tertuju pada seorang Bapak pelukis, yang menurut saya berbeda dari para pelukis lainnya. Apa saja yang membuatnya berbeda?

Pertama, saat para pelukis lain sudah mulai urek-urek kanvas, si Bapak masih semedi cari inspirasi. Saya jadi gupek sendiri dibuatnya. Oh, common, Pak, melukislah! Nanti lukisan Bapak nggak selesai, lho...

Si Bapak di ujung masih semedi...
Masih semedi...

Alhamdulillah... Akhirnya si Bapak ngelukis juga :D
Ke dua, jika pelukis lain rata-rata memakai topi painter kupluk di kepala, si Bapak pakai blangkon kayu yang dicat merah.

Ke tiga, jika pelukis lain duduknya di kursi yang disediakan panitia, si Bapak membawa sendiri kursinya yang berbentuk khas berkaki tiga, dengan dudukan terbuat dari kulit. Belum lagi wadah peralatan lukisnya yang berupa anyaman barunang dari bambu.

Ke tiga, lukisannya. Jika pelukis lain melukis pemandandangan alam dengan warna relatif sama, sawah hijau kekuningan, gunung, langit biru, si Bapak malah membubuhkan warna dominan merah. Tadinya saya juga sempat bertanya-tanya, itu bulatan mataharinya kok ada tiga? Apakah si Bapak mau menggambarkan betapa Lampung memiliki potensi besar untuk bercahaya di kancah kepariwisataan Indonesia? Atau... 
Saya baru tahu jawabannya ketika si Bapak sibuk mengambil semacam tempurung kelapa dari barunangnya. Tempurung itu kemudian digantung menggunakan paku, di sisi atas bulatan besar. 

Lihat! Si Bapak menggambar sebentuk wajah mirip Cepot di tempurung tersebut :)

Lukisan ini juga cakep :)

Daaan.... Akhirnya selesailah acara pembukaan Lampung Festival Krakatau. Di akhir acara, saya dan teman-teman blogger sempat berfoto bersama Ibu Yustin Ficardo yang syantiknya kebangetan ngalah-ngalahin Inces Syahrini. Sayang fotonya belum dirilis sama Bang Yopie. Jadi saya nggak bisa ngopy, hiks hiks...

Masih banyak rangkaian kegiatan Lampung Festival Krakatau yang pastinya seru untuk dilewatkan. Jelajah Pasar Seni ini sendiri dijadwalkan buka mulai tanggal 24 kemarin hingga 28 Agustus 2016. Nah, hari ini, insya Allah akan dimulai juga rangkaian kegiatan lainnya, yaitu Jelajah Layang-layang, yang akan dilaksanakan di PKOR Way Halim. Yuk, datang dan saksikan kemeriahannya! :) [Izzah Annisa]

Tuesday, August 23, 2016

Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Sayur Pare

Yeay! Alhamdulillah, pare yang saya dan suami tanam di halaman rumah mulai berbuah. Tidak banyak, sih. Baru dua. Tapi senangnya nggak kira-kira. Saya sampai lonjak-lonjak dan buru-buru menelpon ibu di kampung.

Saya: "Mah, parenya berbuah!"
Ibu: "Alhamdulillah... Nanti setor ke cingkau (pengepul), ya.... *sambil tertawa*.
Saya: "Iya, hahaha...

Krik, krik, krik....

Putik Buah Pare

Saya memang anak petani dan pekebun. Orangtua saya, menanam aneka tanaman di kebun. Ada kebun kopi, lada, rambutan, coklat, jeruk, salak, kelapa, nangka, cempedak, durian, melinjo, cengkeh, etc. Juga cabe, labu, terong, timun, rampai, dan lain-lain. Tapiiii.... Saya yang anak petani dan pekebun ini, tidak pernah menanam apapun! Yup. Satu-satunya yang - kata ibu saya - pernah saya tanam, adalah satu batang pohon durian hasil toker-toker tanah di kebun kopi. Itu pun pohonnya entah masih atau tidak sekarang. Jadiii, wajar lah ya, kalau saya agak lebay-lebay gimanaa gitu, saat berhasil menanam sesuatu dan menghasilkan buah. Ternyata saya beneran anak petani, bo... Bukan hoax... *bangga*


Tanaman pare itu saya semai kurang lebih hampir dua bulan yang lalu. Kurang lebih sepekan sebelum saya pulkam mengurus ibu yang sedang dirawat di rumah sakit. Bijinya saya dapet dari pare yang saya sayur. Sebelum ditanam, bijinya saya jemur terlebih dahulu. Kata ibu saya, sih, fungsinya agar kulit luar lebih rapuh sehingga biji lebih cepat tumbuh.

Biji pare itu kemudian saya semai di dalam satu pot. Saat mau pulang kampung, parenya sudah tumbuh dan siap dipindah ke tanah. Tapi berhubung buru-buru pulkam, saya pun tidak sempat memindahkannya. Hikss, sabar ya, Pare....

Sekembalinya saya dari rumah sakit, tadaaa.... Ada kejutan. Ternyata, parenya sudah dipindah ke tanah oleh si Bapak. Waaaah...., maacih ya, Paaaak.... Sungguh engkau telah mem-parekan hatiku... *uhuk!*

Tanaman Pare Tumbuh Subur

Kebetulan sedang musim hujan. Guyuran air alami langsung dari Allah itu, sukses membuat tanaman pare tumbuh dengan cepat. Sulurnya mulai berkelana ke sana ke mari mencari sesuatu untuk dibelit. Akhirnya, suami pun berinisiatif mencari lanjaran untuk si pare yang super aktif ini. Lanjarannya berupa pohon singkong. Lumayan, sehelai dua helai daun singkong yang maksain tumbuh bisa dipetik untuk menambah kadar zat besi di dalam darah :D

Tak lama kemudian, si pare pun berbunga. Huaaaah, senang sekali, rasanya. Bunganya sangat indah. Warnanya kuning cerah. Syantiiiik banget kayak Incess :D


Bunga Pare

Pare ini sendiri menjadi salah satu sayur favorit saya dan suami. Hehehe... Nggak nyangka juga sih, suami bakal suka makan pare. Bisa nambah makannya, kalo saya masak pare. Padahal, dulu waktu awal-awal saya masak pare, boro-boro dimakan, yang ada parenya dilepeh-lepeh. Eh, nggak, ding. Emangnya bayi ngelepeh bubur :p Maksudnya, suami nggak suka makan sayur pare. Alasannya apa lagi kalau bukan karena rasanya yang saaaangat pahit...

Memang. Pare terkenal dengan rasanya yang pahit. Pahitnya terasa lengket di lidah. Jadi tidak heran, ketika saya mengupload gambar pare di medsos, seorang teman berkomentar, "Pait ihhhhh... Lebih pait dari hidup akuuu...."  :D

Padahal, meskipun pahit, sayur pare ini ternyata banyak manfaatnya, lho. Terutama untuk kesehatan. Di antaranya pare bisa menurunkan kadar gula dalam darah. Jangan khawatir, kadar kemanisan di wajah nggak akan ikutan berkurang kok, dengan makan pare. Sebaliknya, wajah jadi malah semakin segar. Karena buah pare juga disinyalir mengandung banyak vitamin C. Rasa pahit pada pare itu sendiri juga sebetulnya sangat bermanfaat sebagai pembersih darah alami. Jadi, nggak papa lah pahit, yang penting khasiatnya, hehe...

Tapi... Orang manis kayak aku kan nggak suka yang pahit-pahit... Gimana, dong?

Gampang... Dengan sedikit perlakuan, rasa pahit pada pare bisa diminimalisir dengan mudah. Saya memperoleh tips mengurangi rasa pahit pada sayur pare ini dari ibu saya. Beliau memang ahli di bidang persayuran, termasuk sayur pare.

Jadi, apa saja langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengurangi rasa pahit pada sayur pare?

Pertama, pare yang sudah diiris-iris tipis di letakkan di penyaringan besar. Di baskom atau mangkok besar juga bisa.

Ke dua, beri satu sampai 2 sendok garam pada pare. Remas-remas pare yang sudah bercampur garam sampai lemas. Ingat, ya. Remas kuat-kuat. Jangan pakai kelembutan. Bila perlu sambil membayangkan sedang meremas masa lalu yang suram biar lebih mantap.

Ke tiga, setelah pare lemas dan getahnya dipastikan ke luar, bilas dengan air mengalir.

Ke empat, sebetulnya pada tahap ini rasa pahit pada pare sudah sangat berkurang. Tapi, bila kamu ingin rasa pahitnya semakin tidak terasa, maka pare bisa digoreng terlebih dahulu hingga layu dan warnanya agak kecoklatan. Setelah itu, pare pun siap dimasak. Lebih lezat lagi kalau ditumis pedas dengan udang atau teri Medan.

Bagaimana? Sangat mudah, bukan? Selamat mencoba, ya :)

Pemandangan berupa tanaman pare. Terlihat dari ruang kerja saya :)

Monday, August 22, 2016

Lampung - The Treasure of Sumatera

Belum lengkap menjelajah Sumatera tanpa mampir dulu ke Lampung. Mengapa? Karena Lampung kaya dengan beragam potensi pariwisata yang tentunya sayang untuk dilewatkan.

Waktu kecil, tempat wisata di Lampung yang saya kenal hanyalah Pantai Pasir Putih, Pulau Pasir, Pantai Marina, dan Bendungan Wonomerto di daerah Prokimal, Kotabumi, tak jauh dari tempat tinggal saya. Meski baru tahu beberapa, itu pun sudah luar biasa sekali buat saya. Mengunjungi tempat-tempat itu membuat masa kecil saya terasa semakin menyenangkan.

Saya ingat dulu, ketika berdarmawisata bersama teman-teman SD ke pasir putih, rasanya begitu seru dan menyenangkan. Saya bisa melihat laut yang indah, bermain ombak, berenang menggunakan ban sewa, mencoba aneka permainan, membeli makanan, juga aneka cinderamata bernuansa laut yang banyak dijual. Tirai dari kerang, bunga karang, bingkai foto kerang, dan sebagainya. Seru sekali.

Syukur alhamdulillah, semasa kuliah dan tinggal di kota Bandarlampung, pengetahuan saya akan kekayaan pariwisata Lampung mulai terbuka. Saya jadi tahu bahwa di Lampung ada yang namanya Putih Doh. Putih Doh adalah nama desa atau pekon, yang terletak di kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus. Saya dan teman-teman kuliah berkemah di pantai Putih Doh, dalam rangka menjalani Praktik Kuliah Lapangan (PKL). Kami berkemah di antara deretan pohon kelapa yang tumbuh di sepanjang bibir pantai. 

Pantai Putih Doh sangat indah dan masih terbilang alami. Kami bahkan sempat menyaksikan seorang ibu menangkap seekor gurita hanya dengan tangan. Bintang laut dan timun laut juga sangat mudah ditemui di sana. Peganglah segenggam tepung maizena, jika ingin membayangkan kelembutan pasir pantai Putih Doh. Keindahan Pantai Putih Doh membuat siapapun yang pernah ke sana pasti rindu ingin berkunjung lagi ke sana.

Jika Putih Doh terasa sangat jauh untuk dikunjungi, Lampung juga masih memiliki banyak pantai dengan akses yang lebih mudah dilalui. Dari Bandarlampung, melipirlah ke arah kabupaten Pesawaran. Dengan jarak tempuh mulai dari 45 menit hingga 1,5 jam, kita sudah bisa menikmati keindahan pantai yang memanjakan mata. Rata-rata pantai di daerah pesawaran sangat cocok untuk wisata keluarga. Mulai dari pantai Sari Ringgung, Pantai Mutun, Pantai Pulau Tangkil, dan Pantai Kelapa Rapat atau yang lebih dikenal dengan Pantai Klara.


Pantai Mutun (Foto kolpri)
Bermain pasir di Pantai Mutun (Foto kolpri)
Pantai Sari Ringgung. Air lautnya jernih, ya :) (Foto kolpri)

Pantai Sari Ringgung (Foto kolpri) 

Pantai Klara (Foto kolpri)

Bagi penyuka pantai dengan nuansa yang masih alami, masih di Kabupaten Pesawaran, terdapat Pulau Pahawang. Pulau Pahawang bisa dicapai dengan menyeberang menggunakan perahu ketinting, melalui dermaga Ketapang. Pulau Pahawang terkenal dengan pemandangan bawah lautnya yang indah. Sangat cocok bagi para penyuka snorkeling. Sayang, saat berkunjung ke Pulau Pahawang saya dan teman-teman  tidak sempat merasakan snorkeling. Snorkeling biasa dilakukan di Pulau Pahawang Kecil, sementara kami pakai acara nyasar-nyasar dulu di Pahawang Besar. Daaaan... Time is over! :p

Pulau Pahawang Besar (Foto kolpri)

Dermaga kecil di Pulau Pahawang Besar (Foto kolpri)

Itu adalah sebagian pantai di Lampung yang pernah saya kunjungi. Tak terhitung pantai-pantai lainnya di Lampung, yang bahkan jauh lebih indah dan memesona. Seperti Teluk Kiluan yang terkenal dengan atraksi alami para lumba-lumba berhidung botol, Pantai Labuhan Jukung yang ombaknya asyik untuk berselancar, Pantai Karang Gigi Hiu yang lanskapnya menjadi favorit para fotografer, dan sebagainya.

Selain wisata pantai, Lampung masih memiliki banyaaaaak jenis pariwisata lainnya. Seperti Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Bukit Barisan, musium, Taman Purbakala, kebun binatang, dan lain-lain. Lampung juga kaya dengan seni budayanya yang hingga hari ini masih terjaga. Hal ini tentu saja menjadi daya tarik tersendiri bagi Provinsi Lampung, sekaligus menjadi sumber pemasukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Lampung. Itulah sebabnya, tak berlebihan jika lampung disebut dengan The Treasure of Sumatera.

Semakin dikenalnya seni budaya dan alam wisata Lampung oleh masyarakat luas, tak lepas dari upaya pemerintah dalam memperkenalkan potensi pariwisata tersebut. Di antaranya melalui Lampung Krakatu Festival yang digelar setiap tahun sejak  1991. Festival ini bertujuan untuk mempromosikan Lampung sebagai tujuan Pariwisata Insonesia, baik di bidang seni, budaya, maupun alam.

Banner Lampung Krakatau Festival 2016

Di tahun 2016, Lampung Krakatau Festival akan diselenggarakan pada tanggal 22 - 28 Agustus. Festival kali ini mengusung tema "Lampung The Treasure of Sumatera".

Berbagai kegiatan menarik yang akan digelar pada Festival Krakatau ini di antaranya adalah Jelajah Layang-layang, Jelajah Rasa (Festival Kuliner), Pasar Seni, Jelajah Krakatau, Jelajah Semarak Budaya Lampung, dan Investor Summit. 

Rangkaian Kegiatan Lampung Krakatau Festival 2016

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, datang ke Lampung dan saksikan pesona kemeriahan Lampung Krakatau Festival 2016!

Hal Utama dalam Memilih Baju Batik Wanita

Beberapa waktu yang lalu, di beranda Facebook saya lewat seliweran gambar-gamis batik yang diposting sebuah olshop. Duuuh... Bener-bener, ya. Yang namanya godaan memang nggak kenal tempat nggak kenal waktu. Tahu aja kalo saya suka lemah iman ngeliat baju-baju cakep. Apalagi yang harganya kantong friendly *uhuk! (tetep :D)

“Pak, bagusan yang coklat atau yang pink?” Tanya saya pada suami, sambil menunjukkan dua gambar gamis batik di HP.
“Bagus yang coklat. Kalem,” jawab suami.
“Tapi yang pink juga cakep. Bikin yang make kelihatan muda,” pancing saya.
“Ya udah, beli aja dua-duanya.”
“Asyiiiik...” Sorak saya.
“Tapi entar, ya. Kalo udah ada duitnya.”

GUBRAK...

Hiks, hikss.... Sabar... Sabar....

Gamis batik yang ini juga syantiiik, yaaa.... Nemu gambarnya di bukalapak ^__^

Sobat Jejak. Seperti yang Kita tahu, saat ini berbagai macam pilihan desain dan model baju batik wanita semakin beragam. Model-model baju batik terbaru untuk wanita sudah dikombinasikan dengan unsur yang modern sehingga tampilannya sangat menarik perhatian. Itulah sebabnya, pemakaian baju batik semakin universal dan bukan hanya dipakai untuk kepentingan formal semata mengingat banyaknya model dan desain yang terus bermunculan.

Oh, iya.. Dalam memilih baju batik yang tepat, khususnya untuk para wanita, nih, ternyata ada beberapa hal penting yang perlu diutamakan, lho, Sobat. Yaitu:

  1. Model dan desainnya.
Memperhatikan model dan desain baju batik yang akan kita pilih harus dipertimbangkan dengan baik berdasarkan kebutuhan. Model dan desain baju batik yang dipilih sebaiknya jangan hanya menarik atau trendi saja, tetapi juga harus tepat dan efektif untuk menunjang penampilan. Potongan, bentuk dan detail pada baju batik yang kita pilih harus mampu memberi kesan tampilan yang lebih baik dan proporsional. Jika salah pilih model dan desain pakaian, maka efek yang ditimbulkan membuat penampilan tidak enak dilihat. Jangan sampai deh, Sobat. Niatnya pingin tampil cantik, tapi karena nggak memerhatikan kecocokan model, kita malah tampak seperti ondel-ondel. Hiiiyyy...

  1. Bahan yang digunakan.
Bahan kain yang dipakai dalam membuat baju batik harus memenuhi standar, Sobat. Kualitas bahan kain yang digunakan sangat mempengaruhi kenyamanan pemakaian baju batik yang dijadikan pilihan. Maka dari itu, pastikanlah bahan baju batik yang dipilih terasa nyaman, lembut dan tahan lama. Dengan memerhatikan bahan baju batik dengan cermat, maka baju batik yang dipilih dapat dipakai sesuai kebutuhan dan tidak mudah rusak meskipun sering digunakan.

  1. Warna dan motifnya.
Ada banyak pilihan baju batik wanita yang tersedia dalam berbagai pilihan motif yang berbeda-beda, Sobat. Aneka macam motif batik dapat kita pilih sesuai selera. Bahkan masing-masing motif batik juga ditawarkan dengan warna yang beraneka macam. Ada yang terdiri dari satu warna, dua warna dan beberapa warna yang dikombinasikan dalam satu jenis pakaian. Variasi warna dan motif baju batik dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan gaya busana yang ingin dihasilkan.

  1. Ukuran yang diperlukan.
Dalam memilih pakaian, kita harus selalu mencari ukuran yang tepat dan sesuai kebutuhan. Pilihlah baju batik dengan ukuran yang pas, jangan terlalu besar, juga jangan terlalu kecil sehingga membuat kita sesak napas memakainya. Tidak ada salahnya mencoba mengenakan baju batik terlebih, agar kita tahu bahwa ukurannya benar-benar tepat. Selain itu, dengan mencoba mengenakan baju tersebut terlebih dahulu, kita bisa menilai tingkat kecocokan pakaian tersebut ketika dikenakan.

  1. Harga yang ditawarkan.
Selain model, desain, bahan, motif, warna dan ukuran, memilih baju batik dengan mempertimbangkan harga juga perlu dilakukan dengan tepat. Pastikanlah harga baju batik yang akan kita pilih sesuai dengan kualitas yang ditawarkan. Bila perlu, kita bisa membandingkan baju batik sejenis dari beberapa toko yang berbeda untuk mendapatkan penawaran harga yang sesuai. Selain itu, jangan lupa untuk menyesuaikan harga baju batik yang ditawarkan dengan budget belanja kebutuhan baju batik yang telah disiapkan. Jadi, baju batik yang paling tepat bisa segera kita miliki sesuai keinginan.

Nah. Itulah hal-hal utama yang perlu diperhatikan bila kita ingin membeli baju batik wanita. Dengan mengutamakan beberapa hal di atas, otomatis baju batik yang kita pilih adalah baju yang pas untuk menunjang penampilan. Selain itu, baju yang kita pilih juga akan terasa nyaman dikenakan dan kualitasnya bisa diandalkan karena awet dan tahan lama.


Oke, Sobat. Selamat berbelanja baju batik, ya. Ingat saya kalo melihat gambar gamis batik di atas, ya *kode* ;)

Friday, August 5, 2016

Sepatu Rusak

Cerita ini terjadi di pekan pertama Syahid sekolah. Kemarin saya tulis di media sosial. Tapi saya pikir-pikir, mungkin lebih baik cerita tentang sepatu rusak ini saya tuliskan di blog ini.

Saat itu, di hari ke empat sekolah, pada jam pulang, saya menunggu di pelataran masjid, tepat di depan kelas Syahid.

Tak berapa lama, bel berbunyi. Satu persatu, teman Syahid ke luar kelas. Lalu sosok yang ditunggu itu pun muncul. Tersenyum lebar, melambaikan tangan ke arah saya yang dadah-dadah lebay.

Syahid mengambil sepatu di rak khusus kelasnya. Saya belum beranjak. Sengaja menunggu hingga ia selesai memakai sepatunya.

Tapi...

Ada yang aneh. Saya lihat wajah Syahid tiba-tiba murung. Sedetik kemudian, ia melambaikan tangan ke arah saya.

"Bunda... Sini sebentar..." Panggilnya.

Saya pun segera menghampiri.

"Kenapa, Sayang?"

Sesaat Syahid diam. Mengamati sepatunya.

"Nda... Kok sepatu Ayik cepat rusak, ya... Padahal Ayik udah hati-hati makenya..."

Duh, saya terenyuh sekali mendengar suara dan kalimat yang diucapkannya. Sendu sekali.
Saya duduk berlutut di depan Syahid. Memandang sepatunya. Sepatu sebelah kanan terlihat menganga di bagian ujungnya.

"Ya Allah... Sabar ya, Sayang. Nanti kita betulin sepatunya," hibur saya.

Syahid mengangguk.

"Iya, Nda. Nanti lem yang kuat ya, Nda!"

"Iya, Sayang."

Ketika Syahid hendak memakai sepatu itu, tiba-tiba saya tersadar.

"Lho, Sayang, ini kan bukan sepatu Ayik."

Syahid terpaku. Memandangi sepatu itu. Lalu tertawa. Tersadar seperti halnya saya, bahwa itu bukan sepatunya.

Sepatu rusak itu memang mirip milik Syahid. Baik warna, maupun bentuknya. Hanya saja, sepatu Syahid ada hiasan talinya. Sementara sepatu itu tidak ada. Sepatu Syahid memang baru dibeli. Kalau tidak salah sehari sebelum masuk sekolah. Jadi maklumlah, Syahid dan Bundanya ini masih keliru mengenali, hehe...

"Rupanya bukan sepatu Ayik yang rusak, Nda. Rupanya Ayik salah ambil sepatu," ujarnya ceria, seraya mengembalikan sepatu itu, lalu mengambil sepatu miliknya.

"Alhamdulillah ya, Sayang. Berarti sepatu Ayik nggak jadi rusak."

"Iya, Nda. Tapi kasian juga ya, Nda, kawan Ayik yang sepatunya rusak itu. Pasti dia sedih."

Ah... Sejuk sekali hati saya mendengar kalimat yang diucapkan Syahid. Meski senang mendapati bahwa sepatunya tidak rusak, ia ternyata tidak kehilangan empati pada temannya. Alhamdulillah. Semoga Allah sematkan selalu rasa empati itu di hatimu, Sayang.

Sunday, July 31, 2016

Tumis Pedas Jantung Pisang

Assalamualaikum, Sobat Jejak. Konon, jantung pisang memiliki kandungan serat yang tinggi. Karena itu, ia sangat bermanfaat untuk menyehatkan perut, terutama dalam hal melancarkan pencernaan. Nah, berhubung beberapa hari lalu pencernaan saya sedikit bermasalah, maka sepertinya, menumis jantung pisang seperti yang saya lakukan kemarin adalah pilihan yang tepat. Terbukti, pagi ini pencernaan saya lancar kembali. Alhamdulillah :)

Oh, iya, selain berbagai manfaat lain seperti: mencegah kolesterol, melancarkan siklus darah, dan anti kanker, jantung pisang ternyata juga bisa memperbaiki mood, lho. Wah, pantesan, saya yang kemarin males ngerjain naskah komik, pagi ini jadi begitu bersemangat melanjutkannya. Termasuk membuat postingan di blog ini, hehe....  Dan pastinya, satu hal yang tidak bisa dipungkiri, tumis pedas jantung pisang  terbukti sangat ampuh memperbaiki mood makan. *uhuk!*

Tumis Pedas Jantung Pisang.
Maklum amatir. Kelupaan naruh kuahnya yang nyemek2 waktu moto. Tumisnya terlihat kering, deh :D
Nah, buat Sobat Jejak yang juga ingin merasakan manfaat jantung pisang, mungkin tidak ada salahnya mencoba resep ini.

Tumis Pedas Jantung Pisang

Bahan:
1. 1 jantung pisang
2. 10 buah cabe rawit
3. 5 buah cabe hijau
4. 7 buah bawang merah
5. 3 buah bawang putih
6. 10 ekor udang (ngirit :p)
7. 1 gelas air bening
8. Garam halus secukupnya
9. Kecap Bango
10. Minyak makan untuk menumis

Cara membuat:
1. Buang bagian merah jantung pisang, cacah bagian putihnya.
2. Cuci dan rebus cacahan jantung pisang hingga lunak, tiriskan.
3. Iris, bawang merah, bawang putih, cabe rawit, dan cabe hijau.
4. Tumis bawang sampai harum
5. Masukkan udang, tumis hingga kemerahan
6. Masukkan cacahan jantung pisang
7. Beri air, garam, dan kecap bango
8. Masak hingga kuahnya nyemek-nyemek (tinggal sedikit dan kental :D)
9. Angkat dan hidangkan.

Bagaimana? Mudah bukan, membuatnya? 

Oh, iya. Saya selalu menambahkan Kecap Bango setiap kali memasak tumisan atau sambal oseng. Kecap Bango membuat rasa masakan menjadi lebih berani, kental, dan... enak deh, pokoknya :)

Ok. Selamat mencoba ya, Sobat Jejak ^__^

Baca juga: Resep Pancake Pisang Super Gampang

Monday, July 25, 2016

HP Andromax E2 Gratis dari Smartfren

Apa hal yang paling menguji kesabaran di era digital seperti sekarang ini? Internet lambat. Yak, betul! Internet yang loadingnya menyerupai bekicot ngesot (eh, emang ada bekicot lari?), memang sangat menyebalkan dan nggak jarang membuat orang paling sabar sekalipun bisa mengerut-kerut macam jeruk purut kisut, keningnya.

Kalau sudah begini, sasaran ngomel paling asyik adalah suami, hihihi...

"Bapaaaak... Internetnya lambat!"

"Ditiup, Sayang..."

Krik... Krik.... -_-'

Nah, alasan itulah yang menjadi salah satu pertimbangan saya memakai HP Smartfren sejak tahun 2010. Walau sudah beberapa kali ganti HP, merknya tetap sama, Smartfren. Mulai dari yang modelnya mencet keypad, hingga yang layarnya bisa dicolek-colek (layar sentuh). Yah, namanya juga sudah kadung cinta, jadi agak susah move on ke yang lain. *eaaa...

Selain internetnya yang lumayan cepat, HP Smartfren juga bisa dijadikan modem dan pastinya user friendly. Nggak ribet dipakai sms, nelpon, dan sebagainya.

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan akan internet yang cepat semakin besar. Saya yang saat ini bekerja full time sebagai penulis, tak bisa lepas dari yang namanya internet. Mulai dari mengirim dan download attachment email, mencari literatur, download e book, sampai melihat dan mengunduh video-video yang saya perlukan untuk bahan tulisan. Imbasnya, kecepatan internet 3G pada HP Smartfren saya mulai terasa kurang memadai. Ditambah lagi kondisi HP saya yang memang sudah cukup menyedihkan karena keseringan jatuh. 

"Bunda pingin punya HP Smarfren yang 4G, Pak..." ujar saya pada suami. 

Alhamdulillah, Allah mendengar doa saya. Tak lama dari saya mengucapkan keinginan itu, tepatnya kurang dari satu pekan setelah lebaran, rezeki berupa HP dengan koneksi internet 4G pun saya dapatkan. GRATIS!

Hah, kok bisa?

Iya.

Ceritanya, beberapa hari sebelum lebaran Idul Fitri kemarin, saya pulang kampung. Menunggui ibu yang sedang dirawat di klinik. Rupanya, saat itu saya mendapat sms dari 4G Smartfren yang memberitahukan bahwa saya mendapatkan hadiah promo HP Andromax E2 dari Smartfren. Dikarenakan di klinik  sinyal Smartfren kurang baik dan bahkan terkadang hilang sama sekali, sms itu baru terbaca saat dalam perjalanan pulang.  

Sayangnya, tiba di rumah, sms itu terlupa dan bahkan tidak sengaja terhapus ketika saya membersihkan sms berkala, dikarenakan penuhnya memori HP saya. Ketika dengan heboh saya menceritakan hal tersebut pada suami, beliau hanya berkata, "Mungkin belum rezeki, Nda."

Ya, sudah, pikir saya. Saya pun tak lagi mengingat-ngingat kejadian tersebut.

Namun, dua hari kemudian saya mendadak dibuat takjub. Sungguh, rezeki Allah itu sudah ada pos-posnya. Kalau Allah berkendak rezeki  itu untuk kita, insya Allah tak akan kemana. Begitu pun soal HP ini tadi.

Hari Jumat sore, tanggal 8 Juli 2016, saya kembali menerima SMS dari 4G, yang isinya mengingatkan bahwa HP Andromax untuk saya tinggal diambil saja di galeri terdekat. Huaaah... senangnyaaaa....

HP Andromax E2 yang udah dilengkapi dengan teknologi 4G tinggal ngambil di galeri ^_^

"Ya udah, Nda, besok pagi-pagi Bunda ke galeri Smartfren. Ngambil HP barunya..." Kata suami, yang saya tanggapi dengan senyum dan hati berbunga-bunga. Yuhuu, HP baruuu... ^_^

Tapi... Tiba-tiba saya menjadi ragu. Ini beneran nggak, nih? Apa iya semudah ini? Jangan-jangan tipu-tipu?

"Tapi yang ngirim 4G ya, Pak..." Gumam saya di depan suami, berusaha meyakinkan diri.

"Coba Bunda cek langsung ke Smartfren," usul suami.

Bener juga! Tanpa menunggu lama, saya pun mengunjungi FP resmi Smartfren buat tanya-tanya soal ini.

SMS dari 4G saya capture dan kirimkan via inbox ke FP Smarfren
Dibales, suruh ngecek dengan cara ketik LTE dan kirim ke 6046 ;)
Sesuai arahan dari admin, saya pun mengirimkan sms ke 6046. Daaaan, alhamdulillah ternyata beneran dapet! ^_^

Sabtu pagi, dengan semangat 2016, saya berangkat menuju galeri Smartfren. Tapi sesampainya di sana, Pak Satpam bilang HPnya belum bisa diambil karena sistemnya belum siap (mungkin karena masih suasana lebaran).

"Ke sini lagi hari Senin ya, Mbak," kata Pak Satpam.

"Lho, Pak, tapi katanya paling lambat tanggal 10 Juli?"

"Iya, Mbak, nggak papa, kok. Masih bisa hari Senin."

Hmm... Ok, deeeh, kalo gitu....

Agak kesel juga, sih, belum bisa langsung dapet dan pegang HP baru, hehe... Tapi nggak papa, deh. Gratis ini. Lagian galerinya dekat toko buku. Lumayan, setidaknya masih bisa terdampar dengan nyaman di pulau penuh buku :D

Senin pagi, tanggal 11 Juli 2016, dengan semangat yang nggak mau kalah dengan kecepatan internet 4G, saya kembali mengunjungi galeri Smartfren. HP baru, I'm comiiiinggg....

Widiiih, walaupun masih pagi, ruang galeri Smartfren yang tidak terlalu besar itu ternyata sudah penuuuh dengan antrean pelanggan.

Penuh
Ngantre
Beruntung, saya masih kebagian tempat duduk. Sambil mengantre cantik, saya buka HP dan internetan. Lumayan, bikin waktu ngantre jadi tidak begitu terasa ;)

Akhirnya, tibalah giliran saya. Seorang Mbak cantik menyambut saya dengan ramah.

"Ada yang bisa saya bantu?" Sapanya.

"Iya, Mbak. Saya mendapatkan sms promo dari 4G yang memberitahukan bahwa saya mendapatkan HP Andromax E2. Saya datang untuk mengklaim hadiah tersebut."

Tak lupa, saya tunjukkan sms dari 6046 yang saya cek kembali saat mengantre.
SMS konfirmasi
Si Mbak kemudian meminta foto copy KTP yang memang sudah saya siapkan sebelum berangkat.

"Baik, Mbak, tunggu sebentar, ya. Saya ambilkan dulu HPnya."

Yeeey! Saya langsung sorak-sorak dalam hati. Tapi tetap dong, berusaha cool :D

Tak lama, si mbak kembali dengan membawa kotak HP Andromax E2 yang masih disegel di tangannya. Setelah dikeluarkan, HPnya ternyata berwarna putih. Cantik.

"Kita tukar nomor lamanya ke nomor 4G ya, Mbak," si Mbak meminta izin meminjam HP saya untuk ditukar nomornya. 

Setelah dikonversi ke 4G, si Mbak lalu memasukkan nomor baru tersebut ke HP Andromax. Paket data di nomor yang lama juga sudah dialihkan ke nomor yang baru.

"Baik, Mbak. Ini HP barunya. Garansinya 1 tahun," kata si Mbak seraya menyerahkan HP Andromax E2 kepada saya, beserta plastik berisi kotak kemasan yang di dalamnya terdapat charger dan earphone.

Andromax E2 4G LTE

"Terimakasih, Mbak," ujar saya, mengulurkan tangan untuk menerima HP sambil melempar senyum paling manis ;)

Alhamdulillah. Seneng banget. Akhirnya saya punya HP baru berkecepatan internet 4G. Gratis, lagi. Hihihi... Terimakasih ya, Smartfren. Aku padamu deh, pokoknya ^__^

Saturday, July 23, 2016

Pekan Pertama Sekolah

Senin, 18 Juli 2016, adalah hari pertama Syahid masuk sekolah dasar. Sehari sebelumnya, kesibukan sebagai emak-emak yang punya anak sekolah dimulai. Mulai dari melipat dan menjahit bagian bawah celana Syahid supaya nggak isbal. Melabeli semua perlengkapan sekolahnya, bersama-sama menyampul buku-buku, serta memasukkan semua perlengkapan sekolah ke dalam tas.

Sementara itu, si Bapak kebagian tugas mengajari Syahid cara buang air dengan celana yang super rapat. Berkancing, berisleting, dan berikat pinggang. Intinya, semaksimal mungkin mempersiapkan Syahid agar tak terlalu merepotkan gurunya.

Hari pertama sekolah hanya berlangsung sampai pukul 10.00 WIB. Sementara hari Selasa - Jumat, kegiatan sekolah berlangsung hingga pukul 13.00 WIB.  Alhamdulillah, dalam sepekan ini Syahid sangat semangat sekolah. Ia juga tidak mengalami kesulitan dalam bersosialisasi, baik dengan teman-teman, maupun para guru.

"Ternyata, SD itu enak, ya!" Katanya, di hari pertama.
"Ayik pikir baru jam 10. Ternyata udah jam 1!" Komentarnya, di hari ke dua.

Alhamdulillah. Syahid enjoy, berarti. Sampai nggak terasa kalo sudah jam pulang. Padahal di rumah, saya sempat membatin, "Syahid bosen nggak, ya, di sekolah?"

Ada yang mengharukan ketika saya dan suami menjemput Syahid di hari ke dua sekolah. Saat itu, saya duduk di teras masjid di depan kelas Syahid. Saya lihat Syahid mengintip ke luar dari jendela. Begitu melihat saya, Syahid langsung dadah dadah.

"Tadi Ayik pikir Bunda nggak njemput. Rupanya pas Ayik intip dari jendela, Bunda udah ada," ujar Syahid, begitu kami tiba di rumah.
"Iya, Sayang..." Jawab Saya.
"Memangnya Bunda nggak sibuk?"
"Nggak. Bunda kan, udah nggak sekolah."
"Ngapain aja Bundanya kalo nggak sekolah?"
"Ngurusin anaknya."
"Ooo... Enak juga, ya, anak kayak Ayik. Punya Bunda kayak Bunda."

Hikss, jadi terharu...

Bismillah, semoga Syahid terus semangat sekolah :)