Friday, September 23, 2016

Workshop Penulisan Buku Cerita untuk Pembaca Pemula (Day 1)

Haiii, Sobat Jejak. Assalamualaikum.

Beberapa waktu yang lalu, saya melihat pengumuman di fanspage Litara bahwa Room to Read bersama ProVisi Education kembali mengadakan audisi bagi para penulis dan ilustrator untuk mengikuti program pembuatan buku cerita anak. Deadline naskah bagi penulis adalah tanggal 23 Agustus 2016, sementara ilustrator tanggal 13 September 2016.

Oh, iya. Litara atau Literasi Anak Nusantara merupakan yayasan non provit yang mengakomodasi penulis dan ilustrator dalam hal mewujudkan peningkatan kualitas buku-buku anak di Indonesia.

Tahun lalu, saya sudah mencoba mengikuti audisi ini dengan memasukkan aplikasi beserta tiga naskah cerita anak. Sayang saya belum berhasil lolos. Kecewa, sih. Apalagi saya sedang tertarik-tertariknya dengan dunia penulisan buku anak. Namun, ketidak lolosan itu kemudian - dengan beberapa alasan -  menjadi sesuatu yang saya syukuri.

Tanggal 17 Agustus 2016, saya kembali mengirimkan aplikasi beserta 3 contoh naskah. Bismillah. Kali ini saya merasa lebih siap dan percaya diri. Entah diterima atau tidak nantinya, saya sudah memosisikan diri sebagai peserta yang siap disuruh datang ke workshop kapan saja. Ck, ck, ck, pedenya saya. Tapi begitulah. Sekadar menuruti nasihat suami. Teruslah berprasangka baik, katanya. Kalau ingin lolos, jangan pernah berpikiran tidak lolos. Hmm... Baiklaaah... ^___^

Tanggal 30 Agustus 2016, kabar yang dinanti akhirnya datang juga. Mbak Rina dari ProVisi Education memberitahukan bahwa salah satu naskah yang saya kirimkan lolos audisi dan otomatis saya menjadi salah satu di antara 30 peserta yang berhak mengikuti workshop Room to Read di Lembang, Bandung, tanggal 17 - 20 September 2016. Alhamdulillah...

Tentang Room to Read

Room to Read merupakan sebuah organisasi nirlaba internasional yang memokuskan diri pada literasi dan kesetaraan gender dalam hal pendidikan. Dengan keyakinan bahwa "World change starts with educated children", maka Room to Read bekerjasama dengan organisasi mitra, komunitas lokal, dan juga pemerintah, untuk mengembangkan ketrampilan literasi dan kebiasaan membaca bagi anak-anak di tingkat sekolah dasar.

Untuk mengembangkan, menerbitkan, dan mendistribusikan buku-buku cerita anak berkualitas ke berbagai sekolah di Indonesia, Room to Read bekerjasama dengan ProVisi Education, sebuah perusahaan konsultan pendidikan di Indonesia, serta beberapa penerbit mitra, untuk mengadakan sebuah proyek "Scaling Quality Learning for Children Developing A Habbit of Reading With Partners in Indonesia" 

Nah, untuk mewujudkan tujuan proyek ini, Room to Read kemudian menjaring para penulis lokal dari seluruh Indonesia ke dalam sebuah Workshop Penulisan Buku Cerita untuk Pembaca Pemula. Workshop yang diselengggarakan di Green Forest Resort Lembang - Bandung selama 4 hari ini bertujuan untuk mendukung para penulis mengembangkan ketrampilan mereka dalam menulis buku cerita anak, terutama bagi pembaca pemula.

Wilujeng Sumping!

Jumat, tanggal 16 September 2016. Tepat pukul 12.55 WIB, langkah kaki saya menjejak di Bandara International Husein Sastranegara, Bandung. Para peserta workshop memang diminta check in tanggal 16, agar tidak terlambat mengikuti workshop di tanggal 17.

Tiba di Bandara International Husein Sastranegara, Bandung (foto kolpri)

Jujur saja, ini adalah pengalaman pertama saya bepergian jauh sendiri. Nervous, tentu saja. Tapi saya berusaha untuk tidak terlihat seperti alien yang tersesat di jagad dunia.

"Mau ke mana, Neng? Hayo atuh, Bapak anter..." Sapa seorang Bapak, dengan logat khas Sunda.

Saya tersenyum ramah padanya.

"Nuhun, Pak. Sudah ada yang jemput," ujar saya.

Saya memang sudah janjian dengan Om Jib, adik kakak ipar yang sedang melanjutkan kuliah S3 di UPI. Sehari sebelumnya, suami memang mengabari Om Jib bahwa saya akan ke Bandung dan Om Jib menawari untuk menjemput di Bandara. Alhamdulillah.

Rupanya, Om Jib sudah ada di Bandara. Hanya saja karena belum pernah bertemu, kami tidak saling mengenali. Setelah bertukar ciri via Watsapp, saya akhirnya bisa mengenali Om Jib dan memanggil beliau. Singkat cerita, kami pun sudah dalam perjalanan menuju Lembang. Saya banyak bertanya sepanjang perjalanan. Untung Om Jib sangat supel dan dengan sabar menjawab semua pertanyaan saya walau harus berkonsentrasi melalui jalanan yang macet. Maklum, menjelang weekend.

Tak lama kemudian, saya dan Om Jib tiba di Green Forest Resort. Om Jib menunggu sampai saya selesai check in. Karena tak sempat membeli oleh-oleh (sebenernya ngirit bagasi, sih), saya memberikan Komik 10 Pahlawan Islam karya saya sebagai tanda terimakasih pada Om Jib. Tak lupa, saya menitip salam untuk keluarga beliau di rumah.

"Sekali lagi, terimakasih banget ya, Oooom..." ^_^

Huah. Lega sekali saya begitu tiba di lokasi workshop. Bersyukur pada Allah yang membuat perjalanan begitu lancar dan mudah. Oh, iya. Di lobi hotel saya bertemu dengan Mbak Nurhayati Pujiastuti. Mbak Nur adalah guru menulis saya di kelas Penulis Tangguh. Begitu melihat Mbak Nur, refleks saya berlari dan memeluk beliau. Seneng banget akhirnya bisa bertemu.

Selain Mbak Nur, juga ada Fifa Dila. Fi, panggilan akrabnya, adalah penulis cerita anak yang tulisan-tulisannya sangat saya suka. Saya langsung merasa cocok dengan Fi. Orangnya ramah dan bersahabat. Fi tak sungkan mengajak saya berbahasa jawa walau ia tahu saya berasal dari Sumatera. Nice to meet you banget banget deh, Honey Fifa Dila :-*

Menuju kamar, saya berpisah dengan Mbak Nur dan Fifa Dila. Kamar mereka berdua berada di gedung yang sama, sementara saya berada di gedung yang lainnya. Cukup jauh, turun ke lantai dua. Seorang Bell Boy menawarkan diri membawakan koper saya. Bell Boy yang bernama Vito ini ternyata berasal dari Lampung juga, lho. Dia tinggal di Metro. Wah, senangnya.

"Kalau ada perlu apa-apa, hubungi saya, Mbak."
"Otre deh, Vito." ^__^

Tiba di kamar. Sepi. Kamar-kamar di sekitar saya sepertinya belum berpenghuni. Berdiri di balkon kamar, tampak pepohonan terhampar menutupi aliran sungai yang gemericiknya jelas terdengar. Setelah membongkar isi koper dan beristirahat sebentar, saya memutuskan untuk berjalan-jalan ke luar. Lebih tepatnya, ke kamar Mbak Nur.

Bersama Mbak Nur, Fifa Dila, dan Mbak Maharani Aulia (roomate Fi), saya kemudian sowan ke kamar Mbak Yuniar dan Mbak Saptorini. Saya juga bertemu Widya Rosanti, yang sosoknya ternyata jauh dari yang saya bayangkan. Kirain jutek dan sombong, taunya lembut, imut, dan menggemaskan, hehe... So, don't judge the book by it's cover ya, Sobat ;)

Menjelang maghrib, roomate saya, Mbak Bening, datang. Mbak Bening dari Cilacap. Orangnya baik dan kami pun cepat akrab. Tak hanya itu, kami juga kompak dalam beberapa hal yang sebelumnya tidak kami perkirakan. Nanti deh, saya ceritakan :D

Malamnya, saya yang mengambil posisi tempat tidur di dekat jendela tidak kunjung bisa memejamkan mata. Heran, Lembang kok dinginnya luar biasa. Sudah berselimut, berjaket, berkaos kaki, saya masih kedinginan juga. Aaaarghh, ini kamar apa kulkas, ya? Pikir saya. Angin dingin semriwing. Embusannya bikin saya merinding. Keesokan paginya, barulah ketahuan penyebabnya apa. Ternyata, saya lupa menutup jendela. Hiks, pantas saja, rasanya seperti tidur di teras terbuka.

Dua jendela besar di bagian atas itu, tidak ditutup semalaman -_- (foto kolpri)

Workshop Penulisan Buku Cerita untuk Pembaca Pemula Day 1

Saya yang kedinginan dan tidak tidur semalaman, sungguh enggan mengguyurkan air ke badan. Brrr, nanti saja deh, mandinya. Habis sarapan.

Saat sarapan, saya lihat peserta lainnya sudah rapi jali syantik-syantik dan ganteng-ganteng. Ya iyalah, mereka sudah mandi. Memangnya saya, yang masih ileran :p

Usai sarapan, saya dan Mbak Bening tergesa-gesa kembali ke kamar. Mandi, dandan, dan... Hei! Ternyata warna baju dan jilbab kami sama! Setelah takjub-takjuban sebentar dengan kekompakan dalam hal pakaian, saya dan Mbak Bening lalu setengah berlari menuju ruang workshop.

Gedung Workshop Day 1 dan 2 (foto kolpri)

Ternyata, kami terlambat beberapa menit. Berpasang-pasang mata menatap membuat saya tak sanggup mendongakkan kepala. Lalu, seorang berwajah seram mengacungkan telunjuk ke arah saya dan berkata dengan suara lantangnya, "You are late! Go back to your city! You may not join in this workshop!"

Oh, tidaaaaaaks!

Eh, nggak, ding... Itu cuma imajinasi saya, hahaha... (Btw bener nggak itu bahasa Inggrisnya, ya? Hihihi, nggak piawai Bahasa Inggris, soalnya :D)

Saya duduk sekelompok dengan Mbak Bening dan Fifa Dila. Juga Mbak Dewi dari Bali, Mbak Endah dari Depok, Mbak Mardiana dari Jambi, dan Isma dari Bogor. Namun, Mbak Bening kemudian dipindah ke kelompok lainnya.

Workshop hari pertama diawali dengan games dari Bunda Eva Nukman. Para peserta workshop diminta untuk membuat lingkaran di lapangan. Entah apalah itu nama gamesnya, saya lupa (jitak). Yang pasti sangat seru. Yang bisa mengikuti permainan Bunda Eva dipersilakan masuk ke ruangan workshop. Saya yang tak kunjung bisa mengikuti jadi heboh sendiri. Penyebabnya bukan karena saya kurang imajinatif lho, ya. Saya cuma kurang tidur aja (alasan). Menjelang sesi terakhir games, barulah saya mengerti dan bisa mengikuti permainan, sehingga boleh masuk ke ruang workshop. Horeee....

Selanjutnya, setiap kelompok diminta untuk mendiskusikan dan menuliskan jawaban atas dua pertanyaan yang diberikan, di selembar karton.

Pertanyaannya:
1. Apa yang ingin Anda peroleh dari workshop ini?
2. Apa yang ingin Anda bagikan untuk workshop ini?

Setelah itu, setiap perwakilan kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya.

Sesi pertama adalah pengenalan Room to Read oleh Olivia yang berasal dari United Stated. Masya Allah... Saya suka bangeeet sama cara bicara dan gesture Olivia. Sangat-sangat tertata. Enak dilihat, enak didengar.

Saya di Workshop Room to Read ^__^ (foto kolpri)

Selanjutnya pengenalan mitra-mitra Room to Read, oleh Kak Amanda. Dengan gaya tomboynya, Kak Amanda juga menceritakan pengalaman-pengalamannya saat menyaksikan bagaimana anak-anak di sekolah-sekolah pelosok begitu membutuhkan buku berkualitas untuk dibaca. Kak Amanda memperlihatkan perpustakaan yang tadinya kosong, kemudian terisi buku-buku proyek Room to Read. Dengan buku-buku itu, mereka yang tadinya tidak bisa membaca, menjadi lancar membaca. Mereka jatuh cinta pada buku dan haus membacanya. Subhanallah, saya terharu sekali melihatnya. Dalam hati saya berjanji akan selalu menulis yang terbaik untuk kemajuan anak-anak di negeri ini.

Sesi berikutnya adalah pengenalan buku cerita bergambar oleh Bu Riama. Bu Riama juga menceritakan sejarah lahirnya buku cerita bergambar. Menurut informasi dari Bu Riama, dulu di Eropa, buku cerita anak hanya terdiri dari teks. Sementara di Asia, buku cerita berupa gambar saja. Pada abad 18/19, lahirlah buku cerita bergambar sebagai perpaduan antara ke duanya. Saya tak bisa menahan senyum ketika Bu Riama memperlihatkan slide cover cerita bergambar bertajuk "Markodong". Pada slide, tampak seekor Ibu Kodok dengan berpakaian berupa kemben dan jarit, sedang mengajar murid-muridnya yang terdiri dari para kodok. Lucu dan khas banget ilustrasinya.

Selanjutnya, kami diberi materi mengenai leveling pembaca sasaran. Dalam workshop ini, fokus naskah yang akan dibuat adalah untuk level pembaca 1 - 4, atau yang usianya 6 - 10 tahun. Secara berkelompok, kami diminta untuk membuat list mengenai apa saja yang kami ketahui tentang karakter pembaca sasaran. Setelah selesai, masing-masing perwakilan kelompok diminta untuk mempresentasikan tugas kelompoknya.

The next sesion was presented by Mr. Alfredo Santoz (bener nggak sih, boso Enggresnyaaa?). Mr. Alfredo atau yang lebih akrab dengan panggilan Al ini berasal dari Prancis. Beliau memberi materi tentang Element of a Story. Jadi, kata Al, saat akan membuat buku cerita anak, terlebih dahulu penulis harus membuat element of a storynya. Element of a story terdiri dari plot structure yang meliputi beginning, middle, dan ending (MBE); character; conflict; dan theme or what the story about.

Writers Workshop, Bandung, 17 - 20 September 2016 (foto kolpri)

Oh iya, baik Olivia maupun Al menyampaikan materi dalam bahasa Inggris. Hanya sesekali saja Mbak Rina dari ProVisi Education mentranslate apa yang disampaikan Al dan Olivia. Ajaibnya, saya mengerti semua yang mereka ucapkan. Padahal, rumput yang bergoyang saja tahu, bahwa selama ini saya belepotan bahasa Inggrisnya. Tapi tetap deh, saya nggak berani kalo disuruh ngomong. Lha wong ngomong bahasa Indonesia aja saya deg-degan, apalagi bahasa Inggris :D

Al kemudian memberi writing exercise membuat tokoh berupa orang, hewan, atau sesuatu, beserta objective dan motivation tokohnya. Objective yang dimaksud adalah tujuan si tokoh melakukan sesuatu (i want to...), sementara motivation adalah penyebab si tokoh melakukan sesuatu (i want to because...). Kami kemudian diminta membacakan writing exercise yang sudah dibuat dari tempat duduk masing-masing

Hari pertama workshop ditutup dengan penugasan individu, yaitu membuat plot structure (MBE) dari tokoh beserta objective dan motivation yang telah dibuat, kemudian mengembangkannya menjadi sebuah cerita. Tugas ini nantinya akan dipresentasikan dan direvisi di hari ke dua.

Oh, iya. Workshop Room to Read ini, walau terkesan padat, sebenarnya santai dan fun sekali. Setiap hari kami break tiga kali: coffe break, lunch break, dan coffe break lagi. Nggak sempat laper deh, kayaknya. Sempat sih, spaning menyelesaikan tugas di hari ke dua dan ke empat, tapi tetap seru. Seru banget, banget, banget deh, pokoknya. Seperti apa keseruannya? Tunggu di postingan selanjutnya, ya! ;)

Wednesday, September 14, 2016

11 Hal yang Harus Disiapkan Jika Mengajak Anak Liburan di Pantai

Libur semester yang lalu, Syahid bolak-balik menanyakan kapan liburan ke pantai. Ketika itu, saya dan suami tidak serta merta mengabulkan. Mengingat kondisi kesehatan Syahid sedang tidak memungkinkan. Dia baru saja sembuh dari demam dan belum pulih benar.

Pada tanggal 15 Juli 2016, barulah rencana liburan ke pantai terlaksana. Kebetulan kakak saya yang tinggal di Lubuk Rukam, Baturaja, datang ke rumah beserta suami dan anak-anaknya.

"Yuk, kita ke Pantai Mutun!" Ajaknya.

Wah, Syahid senang sekali. Ditambah lagi ini pengalaman pertamanya liburan ke pantai bersama para sepupunya.

Pantai Mutun (kolpri)

Karena kakak membawa mobil sendiri, kami pun menyetujui. Lagi pula, Syahid juga sudah sehat seperti sedia kala. Walaupun begitu, saya tetap mengantisipasi kalau-kalau Syahid demam lagi.  Maklum, di pantai kan, biasanya sangat panas. Anginnnya kencang dan rentan membuat anak-anak masuk angin dan demam. Ditambah lagi, Syahid mudah sekali mabuk kendaraan. Oleh karena itu, sehari sebelum berangkat,  saya pun mendata apa saja yang akan dibawa.

Berikut 10 hal yang yang harus disiapkan jika mengajak anak liburan di pantai:
1. Minyak kayu putih
2. Topi
3. Kacamata hitam
4. Beberapa plastik ukuran sedang (kalau-kalau Syahid vomit di mobil)
5. Air mineral
6. Camilan
7. Baju ganti
8. Handuk
9. Life jacket atau pelampung (kami bawa ban daleman mobil ^_^)
10. Obat turun panas
11. Sandal

Besoknya, usai sarapan bersama, kami pun berangkat. Di jalan, plastik-plastik sedang yang saya bawa benar-benar terpakai. Sepupu-sepupu Syahid mengeluarkan isi perutnya bergantian. Saya memandang Syahid dengan cemas. Wajahnya terlihat pucat. Saya hawatir dia ikut vomit juga. Alhamdulillah, hingga tiba di mutun, semua aman terkendali.

Berenang pakai ban :D (kolpri)

Matahari sangat terik ketika mobil yang kami tumpangi memasuki area Pantai Mutun. Pantai Mutun adalah salah satu dari sekian banyak pantai yang terdapat di Kabupaten Pesawaran, Lampung Selatan. Dengan kendaraan pribadi, Pantai Mutun dapat dicapai dengan waktu tempuh kurang lebih 45 menit dari kota Bandarlampung.

Rupanya, kami tidak langsung turun di pantai, melainkan mampir dulu di rumah saudara yang letaknya tidak jauh dari situ. Setelah shalat dzuhur dan makan siang, barulah kami beramai-ramai berjalan kaki menuju pantai.

Begitu melihat pantai, Syahid dan sepupu-sepupunya sudah tidak sabar ingin berenang. Awalnya saya sempat ingin melarang Syahid berenang. Nanti saja, kalau mataharinya agak redup. Tapi melihat sepupu-sepupunya sudah jebur-jebur di laut dengan riangnya, tak tega saya melarang Syahid untuk bergabung bersama mereka.

Bermain pasir (kolpri)

Pekikan gembira, canda dan tawa, meningkahi keseruan Syahid bermain di pantai bersama para sepupunya. Sesekali mereka berlarian di pantai, merayap seperti berang-berang, membuat istana pasir, dan juga berenang-renang di atas ban. Seru sekali, melihatnya. Mereka seolah tampak tidak peduli walau sinar matahari begitu garang memancarkan sinarnya.

Sementara itu, saya memilih duduk menyaksikan polah mereka di salah satu saung kecil yang banyak berjajar di sepanjang bibir pantai. Saung-saung kecil ini disewakan bagi pengunjung pantai dengan harga mulai dari Rp.30.000,- - Rp. 50.000,- (tergantung hari). Sesekali saya mengabadikan kegiatan mereka dengan kamera ponsel. Sekadar untuk kenang-kenangan. Lama kelamaan, saya tak tahan untuk tidak ikut berenang. Jauh-jauh ke pantai kok tidak berenang, rugi dong, batin saya.

Tak terasa, hari semakin sore. Setelah membilas badan dan berganti pakaian di kamar mandi umum, kami pun menyewa sebuah perahu ketinting yang kemudian membawa kami berkeliling Pulau Tangkil. Perahu yang digerakkan dengan tenaga diesel ini kami sewa dengan harga Rp. 10.000,-/ orang.

Pulau Tangkil terletak tak jauh dari Pantai Mutun. Hanya butuh waktu sebentar saja bagi perahu untuk mengelilingi Pulau Tangkil hingga akhirnya merapat kembali  di Pantai Mutun. Gerimis menyapa bumi tepat ketika kami menjejakkan kaki di pantai.

Gerimis di Mutun (kolpri)

Hari sudah menjelang maghrib ketika kami sampai di rumah. Rasa lelah membayang di masing-masing wajah. Namun, rona keceriaan setelah seharian berlibur di pantai masih terlihat jelas. Selepas isya', semua memutuskan untuk bersiap beristirahat.

"Asyik ya, Nda, liburan ke pantai. Kapan-kapan kita ke pantai lagi, ya... " Bisik Syahid pada saya, menjelang tidur. Tak lama kemudian, ia pun terlelap. Sambil menyematkan bantal guling di pelukan Syahid, saya sempatkan meraba keningnya. Panas.

Paling sedih kalo liat anak demam T_T

Sedia TEMPRA untuk menurunkan panas tubuh anak ketika demam

Jika Syahid demam, biasanya saya dan suami memberinya paracetamol. Nah, Tempra sendiri merupakan obat penurun panas bagi anak berbentuk sirup, dengan kandungan paracetamol yang bekerja langsung di pusat panas. Kelebihan Tempra adalah tidak menyebabkan iritasi pada lampung serta tidak memengaruhi fungsi ginjal.

Tempra memiliki varian rasa buah yang pastinya disukai anak-anak, yaitu anggur untuk Tempra Drops dan Tempra Syrup, serta jeruk untuk Tempra Forte. Tempra Drops dan Tempra Syrup diperuntukkan bagi anak usia 2 tahun dan 2-5 tahun, sementara Tempra Forte diperuntukkan bagi anak usia 6 tahun ke atas. Karena usia Syahid sudah 7 tahunan, maka saya sedia Tempra Forte di rumah.

Sehat selalu ya, Nak :) (kolpri)

Perbedaan Tempra Drops, Syrup, dan Forte terletak pada kandungan paracetamolnya. Tempra Drops mengandung parasetamol 80 mg/0,8 ml, Tempra Syrup 160 mg/5 ml, sementara Tempra Forte mengandung parasetamol 250 mg/5 ml.

Tempra Syrup. Sumber: www.obatapasaja.com
Tempra Forte. Sumber: www.obatapasaja.com

Kotak kemasan Tempra sangat menarik. Gambarnya lucu, khas anak-anak. Sebagai penulis buku anak, saya bahkan keidean cerita melihat ilustrasi di kemasan Tempra. Habis, lucu, sih.

Oh, iya. Di dalamnya terdapat sendok takar, yang memudahkan kita mengukur dosis sirup yang akan diberikan kepada anak. Selain untuk demam, Tempra juga bisa digunakan untuk meredakan sakit kepala dan sakit gigi. Jika dalam 2 hari suhu tubuh anak belum juga turun atau nyeri tidak reda dalam 5 hari, sebaiknya anak segera dibawa berobat ke dokter.

Nah, Sobat Jejak. Agar liburan bersama anak tetap ceria, jangan lupa sediakan selalu Tempra, ya :)

"Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho."

Baca juga : 

Monday, September 12, 2016

5 Rahasia Agar Tulisan Dimuat di Media

Hai, Sobat Jejak. Assalamualaikum. Selamat hari raya Idul Adha, ya. Semoga kita semua bisa meneladani ketaatan dan ketakwaan Nabi Ibrahim as. beserta anaknya, Nabi Ismail as.

Sobat Jejak. Cukup lama saya tidak lagi fokus mengirimkan naskah ke media. Tepatnya sejak akhir tahun 2014. Ketika itu, beberapa judul naskah buku saya diACC penerbit. Saya akhirnya memutuskan untuk mencoba fokus saja pada penulisan buku. Walau kenyataannya, saya tetap harus lebih fokus pada amanah saya sebagai guru di sekolah dasar ketika itu.

Sobat. Tulisan dimuat di media, tentu memberikan kepuasan tersendiri bagi seorang penulis. Ia seolah menjadi sebentuk parameter keberhasilan bahwa tulisan yang dibuat telah diakui. Sudah lulus sensor editor, lho. Sudah dianggap layak untuk dikonsumsi oleh para pembaca.

Saya ingat sekali, euforia ketika pertama kali cerpen saya dimuat di media. Bolak balik saya menatap nama saya di koran, beserta tulisan berupa cerpen yang saya hasilkan. Hati luar biasa bungah, jantung pun terasa membuncah. Rasanya bagai mimpi di siang hari. Apalagi jika mengingat bahwa masa tunggu dimuatnya cerpen itu tak sampai satu minggu. Wah, rasa percaya diri saya langsung terbang ke angkasa, menembus cakrawala, turunnya nebeng NASA :p

Jika dihitung dari banyaknya berkarya,  sebetulnya saya tergolong sangat kurang produktif, Sobat. Bayangkan, dalam sebulan kadang saya hanya menghasilkan satu cerpen saja. Bahkan saat sedang futur berkarya, tak satupun cerpen yang saya buat dan kirimkan ke media. Akan tetapi, saya punya rahasia yang membuat sebagian besar cerpen saya diterima dan diterbitkan di media. Rahasia ini saya dapat dari hasil mengamati dan wewejang para guru di kelas menulis yang saya ikuti.

Nah, Sobat, berikut 5 rahasia agar tulisan dimuat di media:

Pertama, kirim tulisannya ke media
Hahaha... Jangan manyun gitu dong, Sobat Jejak. Walau kesannya bercanda, tapi rahasia ini betul, adanya. Karena sebagus apapun tulisan yang Sobat buat, jika tidak dikirimkan ke media, tentu tidak akan dimuat, bukan?

Ke dua, angkat tema yang membangun karakter anak
Misalnya, tentang menyayangi teman, pantang menyerah, peduli sesama, dan lain sebagainya.

Putri Jagung, dimuat di Radar Bojonegoro. Mengangkat tema pantang menyerah dan menyayangi teman.

Ke tiga, angkat tema tentang isu global
Go green, misalnya. Ada banyak ide cerita yang bisa digali dari isu go green, yang jika kita pandai mengemasnya, insya Allah sangat berpeluang untuk dimuat di media.

Tersenyumlah, Emon! Dimuat di Majalah SoCa. Tentang reboisasi hutan, terutama di daerah gunung.

Ke empat, manfaatkan moment penting
Ada banyak tanggal penting di kalender. Hari Pahlawan, Hari Kemerdekaan, Hari Ibu, Hari Kartini, Hari Raya. Jadikan tulisan. Tulis dan kirimkan jauh sebelum tanggal tersebut. Insya Allah, naskah kita lebih berpeluang untuk dilirik dan diterbitkan oleh media pada moment tanggal yang dimaksud.

Kambing Kurban Lutfan. Dimuat di Lampost Minggu. Ditulis untuk moment Idul Adha.

Ke lima, beri sesuatu yang unik pada naskah tulisan kita.
Misalnya ada sisipan humor, pengetahuan, atau bisa juga keunikan dalam pemilihan kata-kata. Dibuat berima, misalnya.

Nyanyian Api Naganini. Dumuat di Majalah Bobo. Setiap kalimatnya berakhiran huruf "i".

Itulah 5 rahasia tulisan dimuat di media yang selama ini saya amalkan, Sobat. Tentu saja, hal-hal lain seperti EYD, alur, dan konflik, juga menjadi bagian dari faktor diterbitkan tidaknya tulisan kita di media.

Ok. Sobat. Selamat menulis, ya! :)

Sunday, September 11, 2016

Melatih Kemampuan Menulis Cerita dengan Cara Menerjemahkan Cerita

Judul postingan yang panjang dengan satu kata berulang. Barangkali itu, kesan ketika membaca judul postingan ini. Tapi tak apa. Mudah-mudahan cukup bisa mewakili isinya.

Sobat Jejak, insya Allah dalam hitungan hari, saya akan berangkat ke Lembang, Bandung, untuk mengikuti workshop menulis buku anak bagi pembaca pemula, yang diselenggarakan oleh Room to Read. Tentang workshop ini insya Allah akan saya jelaskan lebih lengkap di postingan berikutnya saja, ya.

Sebagai penulis yang baru seumur kecambah berkecimpung di dunia penulisan buku anak, gemetar rasanya, mendapati nama saya lolos audisi dan menjadi salah satu dari 30 peserta yang berhak mengikuti workshop bergengsi tersebut. Apalagi ketika membaca deretan nama-nama peserta lainnya, yang rata-rata sudah malang melintang di dunia penulisan.

Namun, keinginan untuk maju dan berkembang di bidang penulisan, apalagi pada genre yang memang sesuai dengan passion, membuat saya  sekuat tenaga berusa melawan rasa tidak percaya diri yang "mengerupukkan" mental saya. Bismillah, saya pasti bisa, bisa, bisa! Begitulah saya menyemangati diri setiap hari. Walau saya akui, setiap kali mengingat workshop itu, telapak kaki saya tetap saja mendadak sedingin es, hahaha...

Ada pun persiapan yang saya lakukan sebelum workshop nanti di antaranya adalah banyak membaca buku anak, terutama yang level 1 dan 2. Wah, tak habis-habis rasa kagum saya pada para pengarang cerita itu. Dengan kalimat yang pendek, mereka bisa menyajikan cerita yang manis dan apik. Walau tidak dituliskan, tapi pesan moral yang disampaikan dalam cerita sangat mengena. Hmm... Bisa tidak ya, saya membuat cerita seindah mereka?

Oh, iya, saya juga rajin menstalking akun medsos salah satu teman saya, Mbak Maharani Aulia. Beliau ini penulis dan penerjemah buku anak. Teka-teki Rocky Si Koboi, adalah salah satu buku terjemahan beliau yang sangat saya sukai. Beliau juga lulus audisi workshop menulis Room to Read. Hurray! Nggak nyangka deh, saya bisa bertemu orang sehebat beliau ^_^

Beberapa hari ini, Mbak Lia, panggilannya, sering menshare link-link tentang teknik penulisan dan contoh-contoh buku anak untuk pembaca pemula. Link-link yang beliau share sangat bermanfaat, terutama bagi penulis yang masih harus banyak belajar teknik penulisan, seperti saya. Apalagi, membuat buku anak untuk pembaca pemula memang tidak mudah, Sobat. Harus banyak berlatih untuk bisa membuatnya.

Nah, kemarin, Mbak Lia menshare salah satu link cerita yang sudah beliau terjemahkan di situs storyweaver.org.in. Saya lalu membuka situs tersebut dan langsung jatuh cinta dengan content di dalamnya. Ada banyak cerita-cerita untuk pembaca pemula yang bisa dibaca gratis di sana. Rata-rata masih berbahasa negara aslinya.

Serunya lagi, Sobat, kita juga bisa menerjemahkan cerita-cerita yang di situs itu, lho. Jadi, selain bisa membaca cerita gratisan (point penting), kita juga  bisa melatih kemampuan menulis cerita dengan cara menerjemahkan cerita di situs tersebut. Penasaran ingin mencoba, saya pun menerjemahkan salah satu cerita yang saya suka, berjudul "Anual Hair Cut Day" karya Rohini Nilekani menjadi "Hari Potong Rambut".

Anual Hair Cut Day bercerita tentang lelaki India bernama Sringeri Srinivas. Ia memiliki rambut yang sangat panjang. Suatu hari, Sringeri Srinivas berniat memotong rambut panjangnya. Sayangnya, di hari potong rambut itu, semua orang terlalu sibuk untuk membantunya. Tahukah Sobat, siapa yang kemudian "membantu" Sringeri Srinivas?

Hari Potong Rambut

Saya sempat gagal waktu pertama kali menerjemahkan. Karena kesalahan memahami instruksi, cerita yang belum selesai diterjemahkan sudah keburu terpublish. Akibatnya, cerita yang belum selesai itu muncul di laman situs. Hiks, malu deh, kalau ada yang baca T_T

Pagi ini saya mencoba lagi menerjemahkan. Alhamdulillah berhasil. Jika Sobat ingin membaca cerita lengkap Anual Hair Cut Day hasil terjemahan saya, silakan berkunjung langsung ke situsnya. Selamat membaca, semoga suka. Ceritanya lucu, begitu pula ilustrasinya ^___^

Friday, September 9, 2016

6 Tempat Wisata Khas Yogyakarta yang Wajib Dikunjungi

Hai, Sobat Jejak. Assalamualaikum.

Bisa menjejakkan kaki di Yogyakarta adalah keinginan saya sejak lama. Bagi saya, selain menyuguhkan keindahan alam yang memanjakan mata, Yogyakarta juga kaya dengan keunikan tradisi dan budaya, serta wisata kulinernya yang terkenal murah meriah namun tetap sedap di lidah. Selain itu, akomodasi di Yogyakarta konon juga sangat ramah di kantong. Tak heran, jika Yogyakarta kemudian menjadi salah satu tempat favorit untuk dikunjungi oleh para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Di Yogyakarta, aneka rumah makan tersedia mulai dari yang lesehan hingga restoran besar. Begitu pula dengan penginapan. Tak perlu bingung ketika ingin menentukan tempat menginap. Sebab ada banyak pilihan penginapan di Yogyakarta. Mulai dari losmen sampai hotel berbintang lima.

Salah satu pilihan hotel yang bisa dijadikan tempat menginap ketika berada di Yogyakarta adalah Hotel Grand Aston Yogyakarta. Hotel yang terletak di jalan Urip Sumharjo ini terbilang cukup strategis. Jaraknya hanya 5.56 km dari Bandara Adi Sutjipto. Ada beberapa lokasi menarik di dekat hotel yang bisa dikunjungi, di antaranya adalah Saphir Square, yang hanya berjarak 0,99 km, dan Universitas Gadjah Mada yang hanya berjarak 1,15 km saja. Wah, berarti bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki saja ya, Sobat. Lumayan, sekalian membakar timbunan lemak :D

Asyiknya, meski belum berada di Yogyakarta, pemesanan kamar di hotel semisal Grand Aston Yogyakarta sudah bisa dilakukan jauh-jauh hari. Caranya pun sangat mudah. Kita hanya tinggal melakukan booking melalui traveloka.com .  

Sumber: www.aston-international.com

Sudah jauh-jauh datang ke Yogyakarta, menginap di hotel pula, tentu ingin juga dong, mengunjungi tempat-tempat wisatanya. Masak iya, hanya mau tiduran atau leyeh-leyeh baca buku di kamar hotel saja. Rugi!

Untuk itu, tidak ada salahnya, jika kita mulai me-list tempat-tempat wisata khas Yogyakarta dari sekarang, Sobat. Agar nanti tidak bingung lagi menentukan tempat wisata khas Yogyakarta yang akan dikunjungi.

Nah, berikut ini 6 Tempat Wisata Khas Yogyakarta yang Wajib Dikunjungi, terutama yang letaknya dekat dengan Hotel Grand Aston Yogyakarta:

1. Wisata Sentra Kerajinan Kulit

Tas Kulit Manding. Sumber: kulitmanding.com

Wisata Sentra Kerajinan Kulit terletak di Desa Manding, yang berjarak sekitar 0.5 km dari hotel. Wisata ini merupakan pusat kerajinan tas, sepatu, sandal, dompet, jaket, dan aneka aksesoris dari bahan utama kulit. Desa Manding dikenal sebagai tempat bermukim para pengerajin home industri yang memproduksi aneka macam kerajinan dari kulit dengan harga yang jauh lebih murah. Di sana, kita bisa belanja sekaligus melihat para pengerajin membuat benda-benda dari kulit.

2. Mirota Batik atau Hamzah Batik

Sumber: Mirotabatikjogja.wordpress.com

Jika di Desa Manding kita dimanjakan dengan aneka kerajinan serba kulit khas Yogyakarya, maka di Mirota Batik yang kini berganti nama Hamzah Batik dan hanya berjarak 2.5 km dari hotel ini, kita akan belanja sekaligus melihat langsung pembuatan batik tulis.

Mirota Batik mempunyai konsep unik dengan citarasa yang khas Yogyakarta. Memasuki ruangannya, kita akan disambut dengan pemandangan berupa ruangan yang penuh dengan barang antik. Alunan musik gamelan Jawa disuguhkan khusus bagi para pengunjung. Tak perlu khawatir soal harga. Di Mirota Batik, pengunjung bisa membeli batik berkualitas dengan harga yang lebih murah.

3. Jalan Malioboro

Jalan Malioboro. Sumber: id.wikipedia.org

Jangan ngaku pernah ke Yogyakarta kalau belum foto di Jalan Malioboro. Hehe, saya lupa pernah mendengar kalimat itu di sana. Tapi yang pasti, setiap teman yang berkunjung ke Yogyakarta, pasti tak lupa berfoto ria di tiang papan nama yang bertuliskan JL. MALIOBORO ini.

selain merupan sentralnya Yogyakarta, jalan Malioboro juga dekat dengan Monumen Yogyakarta dan Stasiun Tugu. Di jalan ini, terdapat banyak kios maupun pedagang kaki lima yang menjual aneka macam benda khas Yogyakarta, seperti pakaian, tas, sandal, makanan, dan lain-lain, dengan harga yang tentu saja masih bisa ditawar. Di malam hari, sepanjang jalan ini akan berubah menjadi wisata kuliner lesehan. Hmm... Yummy... ^_^

4. Pasar Beringharjo


Pasar Beringharjo. Sumber: tripjogja.co.id

Letaknya tidak jauh dari jalan Malioboro. Sisi menarik dari Pasar Beringharjo adalah nuansa tradisionalnya yang masih sangat kental. Di sini kita dapat melihat kehidupan para kuli angkut barang di pasar yang terdiri dari para wanita tua atau pun nenek-nenek.

Pasar Beringharjo menjual aneka macam oleh-oleh khas Yogyakarta mulai dari kain batik cetak, tulis, sampai makanan khas Yogyakarta. Soal harga bisa ditawar sesuai kesepakatan.

5. Kraton Yogykarta

Kraton Yogyakarta. Sumber: traveljogjakarta.com

Wisata Kraton Yogyakarta yang merupakan simbol utama Daerah Istimewa Yogyakarta, berjarak hanya 3.4 km dari Hotel Grand Aston Yogyakarta. Wisata ini wajib dikunjungi mengingat di sinilah kita bisa melihat sebagian kehidupan kerajaan Yogyakarta. Mulai dari sejarah kraton, silsilah kerajaan, kereta kerajaan, senjata, dan naskah kuno.

Kita juga bisa melihat para abdi dalem yang mengenakan busana khas Yogyakarta. Sopan santun dan  tatakrama terlihat jelas pada setiap perilaku abdi dalem Kraton Yogyakarta. Di kraton, juga kita dapat mendengarkan lantunan gending gamelan Jawa. Jika beruntung, kita juga bisa menyaksikan pertunjukan sendratari dari penari Kraton Yogyakarta.

6. Istana Air Taman Sari

Istana Air Taman Sari. Sumber: acc.co.ic

Wisata tempat pemandian para raja dan permaisuri ini hanya berjarak 4.0 km dari hotel. Istana ini berupa bangunan kuno yang berabad-abad usianya. Mengunjungi Istana Air Taman Sari, kita seolah kembali ke zaman kerajaan. Selain tempat pemandian, di sana juga masih terdapat kamar raja dan permaisuri. Lokasinya sangat indah untuk dijadikan tempat foto-foto. 

Bagaimana, Sobat? Keren-keren bukan, tempat wisatanya? :)

Thursday, September 8, 2016

Bincang Seru Aplikasi MyJNE di Hotel Horison Lampung

Halo, Sobat Jejak. Assalamualaikum.

Sebagai seorang penulis buku anak, saya juga aktif mempromosikan buku hasil karya saya. Entah itu kepada para tetangga dan wali murid di sekolah anak saya, atau pun teman-teman di sosial media yang tinggalnya di luar kota. Alhamdulillah, cukup banyak yang tertarik dan akhirnya membeli buku saya.

Untuk pembeli yang rumahnya dekat, saya tinggal janjian saja mau bertemunya kapan. Tapi bagi pembeli yang tinggalnya di luar kota, tentu saya membutuhkan jasa pengiriman untuk mengirimkan paket bukunya. Pilihan saya pun jatuh pada JNE. Alasannya selain karena kantor JNE paling dekat dengan rumah saya dibanding jasa pengiriman lainnya, juga karena suka dengan packing paketnya. Paket yang dikirim via JNE dipacking dengan plastik. Hal ini mengurangi risiko basah dan rusak akibat terpercik air ataupun kehujanan, pada paket semisal buku seperti yang saya kirim.

Buku-buku saya, siap di packing dan dikirim (foto kolpri)
Kantor cabang JNE di dekat rumah saya (foto kolpri)
Petugas JNE sedang menginput data pengiriman barang pelanggan, Si mbaknya grogi waktu saya foto :D (foto kolpri)

Alhamdulillah, tidak ada masalah sepanjang pengalaman saya menggunakan jasa JNE. Entah itu pengalaman mengirim barang, maupun menerima paket barang via online shop. Sempat was-was sih, saat suami membeli handphone secara online. Walau pun pengirimannya lewat JNE, tapi tetap saja khawatir, kalau-kalau HP tersebut retak atau bahkan pecah dalam proses pengiriman. Alhamdulillah, paket HPnya sampai dalam waktu cepat dengan keadaan baik, tanpa kurang suatu apapun. 

20 Blogger Lampung Diundang di Acara Kopdar My JNE

Suatu hari, seorang teman blogger mengabari bahwa JNE sedang mengadakan roadshow di beberapa kota, di antaranya Lampung. JNE mengundang para blogger Lampung untuk hadir dalam acara kopdar MyJNE yang rencananya akan diselenggarakan di Hotel Horison Lampung, tanggal 31 Agustus 2016. Berhubung hanya 20 blogger yang akan diundang, maka, dibukalah seleksi bagi para blogger Lampung, yang terhimpun dalam Komunitas Tapis Blogger. Tak mau ketinggalan acara seru ini, saya pun ikut mendaftar. Alhamdulillah, saya akhirnya menjadi salah satu dari 20 blogger yang diundang tersebut.

Jarum pendek jam sudah mendekati angka tiga ketika saya tiba di Hotel Horison Lampung. Bersama seorang teman blogger yang juga koordinator Komunitas Tapis Blogger, Naqiyyah Syam, saya bergegas naik ke lantai 2 hotel.

Menjejakkan kaki di lantai 2, hanya terlihat beberapa rekan JNE berseragam merah, serta pelayan hotel yang sedang sibuk menata peralatan makan di meja prasmanan. Para blogger undangan belum datang, karena acara Kopdar MyJNE memang baru akan dimulai pada pukul 16.00 WIB. Saya datang lebih awal dikarenakan menemani Bu koordinator yang hendak briefing dengan rekan-rekan dari pihak JNE.

Rekan-rekan JNE menyambut dengan ramah, seraya tak lupa mempersilakan kami mengisi lembar registrasi khusus blogger undangan terlebih dahulu. Selain blogger, JNE juga mengundang teman-teman dari media massa.

Resgistrasi di lembar registrasi khusus blogger (foto by Naqiyyah Syam)

Naqiyyah Syam mengobrol dengan Bp. Rian, sebelum Kopdar MyJNE dimulai (foto by Izzah Annisa)

Denting suara piring, sendok, dan garpu, mengiringi obrolan kami dengan Bp. Rian Joharianto, yang menjabat sebagai Digital Communication Unit Head JNE Pusat di Jakarta. Bapak Rian menjelaskan, bahwa obrolan di Kopdar MyJNE nanti berkonsep santai saja. Alhamdulillah... Tentram hati saya mendengarnya. Hilang sudah bayangan acara formal nan kaku dari kepala saya.

Adzan ashar berkumandang. Kami (saya, Mbak Naqi, dan Mbak Heni yang baru datang) pun pamit sebentar untuk menunaikan shalat. Ketika kami kembali ke lantai 2, teman-teman blogger lainnya ternyata sudah berdatangan. Tak lama kemudian, acara Kopdar My JNE pun dimulai.

Suasana di acara Kopdar MyJNE (foto by. Tapis Blogger)

Bincang Seru Aplikasi MyJNE di Hotel Horison Lampung

Setelah acara dibuka, MC mempersilakan Bapak Mayland Hendar Prasetyo, selaku Head Marketing Communication, untuk menyampaikan pemaparan beliau mengenai JNE. Sebelumnya, MC memberitahukan bahwa akan ada lomba live tweet selama acara berlangsung. Peserta yang mengikuti live tweet diwajibkan menyertakan hastag #KopdarMyJNE dan mention akun Twitter @JNE_ID.

Pak Mayland Hendar Prasetyo, Head Marketing Communication JNE (foto kolpri) 

Pak Mayland memulai pemaparannya dengan informasi awal didirikannya JNE. Ternyata, JNE merupakan hasil karya 8 anak negeri yang berasal dari Bangka Belitung, lho. Perusahaan yang didirikan pada tahun 1990 ini kini telah memiliki kurang lebih 16 ribu karyawan, serta 6000 titik layanan yang melayani 16 juta kiriman per bulan. Wow! Luar biasa sekali, ya.

JNE mulai dikenal secara luas terutama sejak maraknya bisnis jual beli online atau e commerce. JNE sudah menjalin kerjasama dengan beberapa e commerce besar seperti Lazada.com dan Blibli.com. Oleh karenanya, tak heran jika lebih dari 60% keuntungan yang diperoleh JNE berasal dari pelaku bisnis e commerce.

Masih menurut pemaparan Pak Mayland, UKM-UKM di Indonesia, khususnya di Lampung, masih terbilang lemah soal packaging, direct selling, dan marketing. Dalam hal ini, JNE hadir untuk meminimalisir kelemahan-kelemahan tersebut. Soal packaging, misalnya, kata Pak Mayland, serahkan saja pada ahlinya. Ya, siapa lagi ahlinya yang dimaksud Pak Mayland, kalau bukan JNE :)

Oh, iya, Sobat Jejak. Ada informasi menarik nan menggelitik yang saya tangkap dari Pak Mayland, bahwa JNE tidak hanya melayani distibusi barang dan logistik, tapi juga antar jemput ASI. Layanan ini diberi nama JESIKA yang merupakan kependekan dari JEmput ASI SeketiKA. Dengan adanya layanan JESIKA ini, diharapkan ibu-ibu bekerja bisa tetap memberikan ASI segar kepada buah hatinya. Wah, wah, benar-benar inovatif dan kekinian sekali ya, namanya. :)

JNE memang terus melakukan inovasi-inovasi yang bertujuan untuk mempermudah para pelanggannya. Di antaranya adalah dengan diluncurkannya aplikasi MyJNE bagi pengguna android. Aplikasi ini bisa Sobat download di Play Store.

Nah, selanjutnya pemaparan dari Bapak Fikri Al Haq Fachryana, yang merupakan Kepala Cabang Utama JNE Lampung.

Mendengarkan pemaparan Pak Fikri Al Haq Fachryana, Kepala Cabang Utama JNE Lampung (foto kolpri)

Menurut Pak Fikri, Lampung memiliki potensi yang besar dalam hal pariwisata, banyaknya UKM-UKM, serta infrastruktur dan moda transportasi yang semakin baik. Hal itu menjadi peluang bagi JNE untuk mengembangkan sayap bisnisnya di Lampung. Saat ini, tak kurang dari 70% kabupaten di Lampung sudah memiliki cabang JNE.

Sayangnya, kata Pak Fikri, masih banyak UKM di Lampung yang belum memasarkan produknya secara online. Hal ini tentu saja berakibat kepada kurang maksimalnya jangkauan pasar. Padahal, banyak lho, produk UKM Lampung yang kualitasnya tidak kalah dengan UKM-UKM lainnya di Indonesia. Contohnya pempek dan keripik Lampung, yang merupakan produk paling laris dikirim via JNE.

Oh, iya, menurut Pak Fikri, dua sebab besarnya nama JNE di antaranya karena JNE selalu melakukan inovasi-inovasi kreatif serta aktif terlibat dalam kegiatan sosial. Hmm... Saya jadi penasaran, program sosial seperti apa saja yang pernah dilakukan oleh JNE, ya?

Berdasarkan informasi yang saya dapat di web jne.co.id, ternyata memang benar, JNE sangat aktif melakukan kegiatan sosial dan bahkan memiliki program-program khusus terkait hal ini. Di antaranya ada JNE Hijau yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan; JNE Komunitas yang bertujuan untuk memberi dukungan dalam pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi desa, serta pelestarian budaya. Ada juga JNE Pendidikan yang memberikan dukungan terkait dunia pendidikan seperti kegiatan belajar mengajar, calistung, edukasi kesehatan, olahraga, bisnis, dan internet.

Waaaw... Beri applause, please...

Prok, prok, prok....

Terimakasih... ^___^

Setelah sesi pemaparan selesai, acara dilanjutkan ke sesi pertanyaan. Para blogger dan teman-teman dari media massa diberi kesempatan untuk bertanya kepada pihak JNE.

Pertanyaan pertama (yang menurut saya lebih tepat disebut harapan) dilontarkan oleh Yoga Pratama. Yoga berharap, JNE juga merangkul penulis dalam hal penjualan buku. Pertanyaan selanjutnya oleh Naqiyyah Syam, yang ingin memperoleh informasi lebih lanjut mengenai aplikasi My JNE. Sementara itu, penanya ke tiga, Adian Saputra yang merupakan blogger sekaligus pemred jejamo.com, bertanya terkait kesulitan penggunakan aplikasi bagi para user di daerah, akibat terkendala oleh koneksi internet. Dalam hal ini, pihak JNE menjelaskan bahwa JNE sudah menyiapkan data server yang lebih besar sebagai upaya memberi kenyaman bagi para user JNE. Penanya lainnya bertanya perihal ada tidaknya reward bagi pelanggan setia JNE.

Selain itu, ada juga peserta yang menyampaikan keluhan terkait paket makanannya yang basi saat diterima. Kerusakan seperti ini memang adakala terjadi. Penyebabnya bermacam-macam. Bisa jadi karena kelalaian kurir, atau juga karena penyimpanan makanan yang sudah cukup lama sebelum dikirim, sehingga basi saat diterima. Yang pasti untuk keluhan-keluhan semacam ini dari customer, JNE sangat terbuka dan berusaha menjadikannya sebagai masukan untuk perbaikan pelayanan ke depan.

Di akhir acara, MC mengumumkan 2 nama yang terpilih sebagai pemenang lomba live tweet di acara Kopdar MyJNE.

Heni Puspita, pemenang live tweet Kopdar MyJNE (foto by Naqiyyah Syam)
Rinda Gusvita, pemenang live tweet Kopdar MyJNE (foto by Naqiyyah Syam)

Acara kemudian ditutup dengan foto-foto dan makan bersama.

Walau lapar tetap antre, ya... Jangan rebutan... :) (foto by Tapis Blogger)
Orang lapar ketemu makanan jadi apa? Senaaang... ^_^ (foto by Tapis Blogger)

Yuk, Berkenalan dengan Aplikasi My JNE!

Di zaman sekarang ini, HP bukan lagi merupakan barang yang eksklusif dan hanya dimiliki segelintir orang. Hampir semua orang memiliki HP. Tak terkecuali HP android. Sudah banyak vendor HP yang mengeluarkan android dengan harga yang sangat terjangkau.

HP Android seolah menjadi barang wajib dimiliki, terutama bagi para pegiat bisnis e commerce. Hal ini rupanya dipahami betul oleh perusahaan yang bergerak di bidang logistik dan pengiriman, JNE. Oleh karenanya, dalam rangka memudahkan para pelanggan mengecek pengiriman barang via Android, JNE pun meluncurkan aplikasi yang diberi nama MyJNE.

Saya pribadi sangat senang dengan kehadiran aplikasi MyJNE. Maklum, selama ini saya sering merepotkan suami dalam hal mengecek ongkir dan trucking paket kiriman. Bukan apa-apa, agak repot bila melakukan pengecekan via HP. Lebih mudah via browser di komputer. Sementara saya tidak selalu di depan komputer. Berbeda dengan suami, yang pekerjaannya memang lebih banyak di depan komputer.

Aplikasi MyJNE ini bisa didownload dengan mudah di Play Store. Ukuran filenya lumayan bersahabat, sehingga tidak perlu khawatir HP akan kehabisan memori. Tampilan logo aplikasi MyJNE terbilang cukup menarik, yaitu berupa lingkaran merah dengan kepala JONI (maskot JNE) yang menggunakan topi bertuliskan JNE, sedang tersenyum lebar. Si Joni ini dimaksudkan untuk menggambarkan sosok ramah kurir JNE yang mengantarkan paket kiriman kepada para pelanggan.

Ada wajah si Joni di layar android saya :) (foto kolpri)

Lantas, apa saja fitur-fitur yang terdapat di dalam aplikasi My JNE?

Fitur Aplikasi MyJNE (foto by aplikasi MyJNE)

Pertama, CHECK TARIFF.
Fitur ini berfungsi untuk mengecek tarif kiriman JNE dari dan ke tempat tujuan. Untuk mengecek tarif, user tinggal memasukkan alamat asal, alamat tujuan, klik ceklist. Setelah itu user diminta untuk mengisi kolom panjang, berat, dan lebar barang, klik ceklis. Nanti akan keluar pilihan tarifnya.

Tampilan pilihan tarif JNE (foto by Aplikasi MyJNE) 

Ke dua, MY SHIPMENT
Fungsi fitur adalah untuk men-trucking status pengiriman barang. Untuk menggunakan fitur ini, user hanya tinggal memasukkan nomor resi atau menyecan barcode pada resi pengiriman.

Hasil trucking dengan menggunakan fitur My SHIPMENT (foto by Aplikasi MyJNE)

Ke tiga, JNE Nearby
Fitur JNE Nearby ini berguna untuk menunjukkan lokasi JNE terdekat dengan tempat tinggal pengirim.

Tampilan hasil pencarian lokasi JNE dengan Fitur Nearby (foto by Aplikasi MyJNE)

Ke empat, My COD
My COD merupakan singkatan dari My Cash on Digital. Fitur ini memungkinkan user untuk melakukan order via online serta melakukan pembayaran dengan media JNE. Untuk bisa menggunakan fitur My COD, user diminta untuk melakukan SIGN IN dengan cara memasukkan nomor HP dan password terlebih dahulu, atau SIGN UP jika belum terdaftar.

Ke lima, My COD Wallet
Fitur ini semacam rekening, di mana user bisa melakukan penambahan saldo, serta mengecek sisa saldo dan riwayat transaksi. Seperti halnya My COD, user diminta untuk melakukan SIGN IN  atau SIGN UP terlebih dahulu untuk bisa menggunakan fitur My COD Wallet

Tampilan Fitur My COD Wallet (foto by Aplikasi MyJNE)

Nah, Sobat Jejak, cukup jelas bukan, penjelasan saya mengenai Aplikasi MyJNE? Aplikasi ini menurut saya sangat bagus dan pastinya mempermudah pelangganggan JNE untuk melakukan pengecekan pengiriman barang maupun bertransaksi jual beli. Sayangnya, saya mengalami kegagalan menggunakan aplikasi ini. Saya perkirakan hal itu disebabkan karena adanya gangguan jaringan.

Cek tarif gagal (foto kolpri)
Sign up untuk mengakses fitur My COD dan My COD Wallet invalid (foto kolpri)

Trucking gagal (foto kolpri)
Lokasi JNE terdekat juga tidak terlihat ketika saya mencoba fitur JNE Nearby (foto kolpri)

Semoga, pihak pengembang Aplikasi My JNE semakin memperbaiki fitur-fitur yang ada di dalam aplikasi ini, sehingga semakin user friendly dan menjadikan transaksi pengiriman menjadi semudah dalam genggaman.

Belanja duluuu... Pakai voucher yang didapat dari Kopdar MyJNE ^___^