Monday, May 22, 2017

Kriteria Kolam Renang yang Direkomendasikan dan Tips Ketika Mengajak Si Kecil Berenang

Haiii, Sobat Jejak. Apa kabar?

Sobat, berenang adalah salah satu kegiatan yang sangat menyenangkan, tak terkecuali bagi si kecil. Saya inget dulu waktu Syahid masih bayi, kalau sudah ketemu air, pasti seneng banget. Maunya berlama-lama berendam di kolam renang imutnya.

Selain menyenangkan, ternyata berenang juga bermanfaat untuk si kecil lho, Sobat. Menurut penelitian, bayi yang diajari berenang mempunyai keseimbangan tubuh serta daya memegang yang baik. Meskipun demikian, ada beberapa tips bayi terutama dalam menentukan kriteria kolam renang yang tetap harus diperhatikan, Sobat.



Nah, berikut beberapa kriteria kolam renang yang direkomendasikan dan tips ketika mengajak si kecil berenang:

Pertama, hindari menggunakan kolam renang umum. 
Sobat, sebaiknya kita menghindai mengajak si kecil terutama bayi, berenang di kolam renang umum. Hal ini dikarenakan kolam renang umum penuh dengan orang yang memiliki kondisi kesehatan beragam. Kita pasti tidak mengetahui apakah mereka buang air di kolam atau sedang memiliki penyakit tertentu, Sobat. Sementara, bayi yang masih kecil belum dapat mengontrol kepalanya secara maksimal. Hal ini memungkinkan ia menelan banyak kuman dan air. Oleh sebab itu, usahakan kita memilih kolam renang yang sepi dan bersih.

Ke dua, pastikan si kecil tidak memiliki alergi terhadap klorin
Sobat, air di kolam renang biasanya memiliki kandungan klorin. Bila si kecil mempunyai eksim atau kulit kering, sangat disarankan berhati-hati dengan menanyakannya ke dokter apakah klorin memiliki dampak negatif padanya.

Ke tiga, pastikan dengan baik ketinggian kolam renang
Usahakan kolam renang hanya mencapai pundak si kecil. Hal ini untuk menjaga tubuh tetap hangat dan memudahkan ia bergerak dalam air. Selain, kemungkinan si kecil tertelan air kolam juga kecil.

Ke empat, bilas tubuh si kecil setelah berenang
Sobat, bila kita mengajak bayi berenang saat berusia di bawah 6 bulan, maka sebaiknya kita memperkenalkan kegiatan ini menggunakan media kolam renang plastik. Sebelum melakukan pengisian air, pastikan kembali bagian dalam kolam renang bebas dari kotoran dan bilas seluruh tubuhnya hingga bersih setelah berenang di kolam renang. Hal ini dilakukan agar tubuhnya tidak bercampur dengan kuman.

Ke empat, pastikan si kecil dalam keadaan sehat
Sobat, jika si kecil berenang dalam keadaan sakit seperti flu atau diare, maka hal itu akan membuatnya tidak nyaman berenang. Keceriaan yang kita harapkan saat ia bermain air pun tidak akan tercapai. Oleh karenanya, tunggu hingga kondisi si kecil benar-benar membaik sebelum mengajaknya berenang. Selain itu, jangan lupa pergunakan popok khusus untuk berenang.

Ke lima, pastikan kita berada di dekat si kecil saat berenang
Sobat, ketika mengajak si kecil berenenang, pastikan kita selalu berada di dekatnya. Selalu fokuskan pandangan kita pada si kecil, agar jangan sampai ia mengalami hal-hal berbahaya seperti tersedak atau tenggelam. Jangan membiarkannya terlalu lama di dalam air, apalagi saat kunjungan ke kolam renang yang pertama kali, karena bisa membuatnya kedinginan dan masuk angin. Waktu ideal bagi si kecil di dalam air adalah10 hingga 15 menit.

Oke, Sobat. Itulah tadi beberapa kriteria kolam renang yang direkomendasikan dan tips ketika mengajak si kecil berenang. Semoga bermanfaat. :)

Saturday, May 20, 2017

Racikan Rindu dalam Jamu Buatan Ibu

Ada banyak hal yang membuat saya teringat akan sosok ibu. Satu di antaranya adalah jamu.

Sejujurnya, sejak kecil saya adalah sosok aktif yang gampang sakit. Main hujan-hujanan, flu. Main air di kolam, gatal-gatal. Makan rujak mangga bersama teman-teman, sakit perut. Kecapekan, kena tyvus. Telat makan, magh kumat. Haduh, dipikir-pikir kasihan ibu saya, yang jadi repot dikarenakan harus mengurus saya yang bolak balik sakit.

Untuk menjaga kesehatan tubuh saya, ibu rajin membuatkan jamu-jamu tradisional semisal beras kencur, kunyit asam, sari temulawak, rebusan jahe gula merah, dan telur ayam kampung campur madu. Ibu terkadang juga meminumkan minuman yang pahitnya super duper sampai terbawa mimpi, yaitu brotowali. Bahan-bahan untuk membuat minuman itu sendiri semuanya ditanam ibu di kebun atau pun pekarangan rumah. Ibu sangat tahu, bahan mana yang dibutuhkan untuk mengobati saya, ataupun  anggota keluarga lainnya.

Pernah suatu ketika, perut saya kembung luar biasa. Ulu hati sakit. Mual dan saya vomit berkali-kali tanpa bisa ditahan. Diberi minum, vomit lagi, minum, vomit lagi. Begitu seterusnya.

Melihat kondisi saya, bergegas ibu ke pekarangan samping rumah, mengambil daun pohon kayu putih serta menggali rimpang temulawak. Kemudian, dengan cekatan, ibu membalurkan daun kayu putih yang sudah diremas ke perut saya. Rasa hangat daun kayu putih pun terasa, memberi rasa nyaman di perut saya. Selanjutnya, ibu mencuci, mengupas, dan memarut temulawak yang baru diunduhnya, menyiramnya dengan air panas dan memerasnya. Setelah menambahkan sesendok madu, ibu kemudian meminumkan air perasan itu kepada saya. Alhamdulillah, mual dan nyeri di ulu hati berkurang dan vomit pun berhenti.

Setiap kali teringat racikan jamu ibu, hati saya selalu dipenuhi oleh perasaan rindu sekaligus haru. Haru pada ingatan akan betapa seorang ibu mau bersusah payah melakukan sesuatu untuk anaknya. Sayangnya, ketelatenan ibu dalam hal itu tidak menurun kepada saya. Tentu saja, ribet dan tidak praktis adalah alasan utamanya. Karenanya, saya lebih suka membeli jamu yang sudah jadi. Baik jamu gendong, maupun jamu sachet yang saya beli di toko atau mall.

Kini, setelah menjadi ibu rumah tangga dan berprofesi sebagai penulis, yang namanya penyakit kembung dan magh masih sering menghampiri. Apalagi kalau sedang ada deadline menulis. Begadang, telat makan, lupa minum, mengetik berjam-jam, langsung membuat tubuh saya ngedrop bagai HP yang berjam-jam dipakai tapi lupa dicas. Karenanya, saya selalu mengusahakan untuk stok obat-obatan atau jamu, di antaranya Herbadrink Sari Temulawak.

Herbadrink Sari Temulawak

Jamu yang diproduksi oleh PT. Konimex Pharmaceutical Laboratories ini biasanya saya beli di swalayan dalam bentuk kemasan kotak berisi 5 sachet. Rasanya persis air perasan temulawak yang dibuat ibu saya. Bahkan cenderung lebih segar sehingga terkadang saya jadikan minuman pengganti teh atau kopi, untuk menemani saya menulis. Banyak khasiat yang saya rasakan dari mengonsumsi jamu Sari Temulawak ini, termasuk ketika tubuh saya ngedrop sepulang dari survey penulisan buku cerita anak selama empat hari di Lampung Timur.

Waktu itu, saya pulang dari Lampung Timur dalam keadaan sakit dan lelah. Kepala pusing, perut kembung, dan badan tersa ngilu semua. Namun, belum sempat istirahat banyak, aktivitas masih harus berlanjut dengan ujian kursus Bahasa Inggris. Lalu saat pulang ujian, saya mendapat email dari editor. Berisi permintaan untuk segera mengirimkan data buku yang akan diikutsertakan dalam seleksi pameran buku di Beijing dan Frankfurt. Widiiih, langsung deh, berjuta rasanya. Antara senang bercampur jadi satu dengan mual dan keliyengan.

Malamnya, saya mengerjakan data yang diminta editor dengan ditemani jamu Herbadrink Sari Temulawak panas yang dibuatkan oleh suami. Alhamdulillah, rasa pusing dan mual perlahan hilang. Ngilu pada sendi-sendi pun mulai berkurang. Senang sekali akhirnya bisa menyelesaikan data buku dan mengirimkannya ke email editor pada waktu sesuai yang saya janjikan. Yah, sudah semestinya saya berterimakasih pada suami, atas seduhan jamu Sari Temulawak yang jelas sehat karena dibuat bebas gula.

Nikmat diminum panas maupun dingin

Kalau bicara soal khasiat, temulawak memang sudah tidak lagi diragukan. Temulawak mengandung katagoga yang terbukti dapat menjaga kesehatan fungsi hati. Selain itu, temulawak juga dapat meredakan sakit magh, mengurangi radang pada sendi, menurunkan kadar kolesterol, menyehatkan pencernaan, dan lain sebagainya. Karenanya, tak heran, jika temulawak jamak dijual baik dalam kemasan botolan maupun sachet seperti Herbadrink Sari Temulawak. Selain berkhasiat, temulawak juga nikmat diminum baik dengan campuran air panas maupun dingin.

video


Soal rasa, anak saya, Syahid, cukup mampu beradaptasi dengan rasa Herbadrink Sari Temulawak. Buktinya, ia yang tidak doyan minum jamu, ternyata mau minum Herbadrink.

"Enak juga ya, Nda, minum sari temulawak. Nggak terasa kayak jamu," komentar Syahid, anak saya, saat saya memberikan segelas Herbadrink Sari Temulawak padanya.

Alhamdulillah, semoga dapat menjadi satu bentuk ikhtiar untuk menjaga kesehatan saya dan keluarga, sehingga senantiasa dapat beraktivitas sebagaimana mestinya.

Herbadrink Blog Compeition: Life Style Story with Sari Temulawak

Friday, April 28, 2017

5 Posisi Menulis Bagi Penderita Syaraf Kejepit

Rasanya seperti mimpi buruk ketika saya mendapat vonis dari dokter bahwa saya menderita syaraf kejepit pada tulang lumbal 2. Sebelumnya, saya memang sudah berkali-kali browsing di internet, mencocokkan keluhan yang saya derita, dengan gejala yang biasa dialami oleh para penderita syaraf kejepit, atau yang familiar disebut dengan Hernia Nucleus Pulposus (HNP). Ternyata hasilnya... positif.

JEGER!

Saya sempat down. Patah arang. Sedih. Kesal. Bagaimana tidak, penyakit syaraf kejepit ini sama sekali tidak terlihat dari luar, tapi sungguh menyakitkan di dalam. Orang-orang melihat saya segar bugar, maju mundur syantik, tapi dalamnya ringkih seperti ranting kering yang terinjak sedikit langsung patah.

KRAK!

Alhasil, jika orang tidak tahu dengan kondisi saya, akan merasa heran. Melihat saya yang kadang tidak banyak melakukan aktivitas, tapi sering sakit-sakitan.

Masak baru begitu saja sudah capek? 
Cuma duduk-duduk kok pegel? 
Cuma berdiri nggak ngapa-ngapain kok, ngilu? 

Oh, sedihnya... Rasanya seperti tak berguna. Ingin energik seperti dulu, aktif seperti orang-orang, apalah daya kondisi tak mengijinkan. Jikalau pun dipaksakan, maka sudah bisa dipastikan hanya ada dua pilihan: guling-guling tak bisa tidur sepanjang malam dengan air mata bercucuran, atau meminum obat pereda nyeri yang efeknya membuat lambung perih kelebihan asam.

Selain itu, penyakit syaraf kejepit juga merupakan musuh utama bagi seorang penulis seperti saya. Sepuluh menit saja saya duduk di depan komputer, maka saya harus mengucapkan selamat datang kepada ngilu di punggung yang menjalar hingga panggul, hingga paha, hingga betis, hingga telapak kaki. Hal ini tentu menjadi hambatan sekaligus tantangan bagi saya untuk mencari cara agar bisa tetap penulis. Terutama soal bagaimana posisi menulis yang aman bagi penyakit saya.

Nah, berikut 5 Posisi Menulis Bagi Penderita Syaraf Kejepit yang sudah saya praktikkan dan dilakukan secara bergantian:

1. Duduk tegak di kursi dengan punggung diganjal bantal
Ketika duduk di kursi menulis, sulit sekali bagi saya untuk duduk tegak dalam waktu yang lama. Pungung dan panggul terasa nyeri dan pinginnya nggelosor terus. Kalo bahasa suami saya kelosotan apa gitu, ya? Hehe... Intinya bersandar dengan punggung membungkuk gitu, deh... Padahal, posisi itu dapat membuat nyeri di punggung semakin parah. Untuk mengatasi hal tersebut, biasanya bagian punggung saya ganjal bantal, atau bisa juga diberi bantal guling dengan posisi melintang. Akan lebih baik lagi jika di bawah lutut juga diberi bantal guling. Jadi, seolah duduk di kursi yang ada lubang pada dudukannya. Seperti kursinya Opa Roald Dahl, hehehe...

2. Duduk dengan posisi seperti tasyahud awal shalat (bedanya jari kaki tidak ditekuk)
Posisi ini biasanya saya lakukan jika menulis di meja pendek/lesehan. Intinya saya berusaha membuat tulang punggung tegak. Posisi ini, jika istikomah, biasanya bisa membuat saya bertahan menulis kurang lebih satu jam. Itu pun saya selingi dengan sekali-kali tidur lurus telentang di lantai, sambil menekuk kaki hingga lutut menyentuh dada beberapa kali. Setelah itu, baru lanjut lagi. Sayangnya, agak sulit untuk istikomah dengan posisi ini. Karena efeknya biasanya kesemutan pada kaki. Nggak tahan, bo... Hehehe...

3. Duduk bersandar di tempat tidur, dengan kaki selonjor
Jika menulis dengan posisi ini, biasanya saya juga menambahkan bantal di punggung. Yah, sampai terasa nyaman deh, pastinya. Setelah itu, laptop dipangku dengan dialasi buku tebal, atau diletakkan di meja kecil. Seperti pasien rumah sakit kalau sedang makan, hehehe...

4. Tengkurap/telengkup
Menulis dengan posisi ini, biasanya saya meletakkan bantal tidur atau bantal guling di bawah dada dan ketiak. Posisi ini nyaman untuk tulang belakang. Akan tetapi, ia juga dapat menyebabkan rasa pegal pada leher dan pundak.

5. Tidur telentang
Posisi menulis dengan tidur telentang memang sedikit aneh. Tapi ini menjadi salah satu solusi bagi saya agar bisa terus menulis. Cara melakukan posisi ini adalah tidur telentang dengan bantal di bawah kepala, kaki ditekuk (lutut menghadap ke atas), kaki kanan disilangkan ke kaki kiri, laptop ditaruh di atas perut yang sudah dialasi buku tebal, kemudian disandarkan ke paha dengan posisi miring.

Itulah tadi 5 Posisi Menulis Bagi Penderita Syaraf Kejepit yang saya lakukan. Mudah-mudahan dapat membantu teman-teman dengan penyakit yang sama seperti saya. Semoga kita semua diberi kekuatan dan kesembuhan serta selalu semangat berkarya.

SEMANGAT! ^___^

Tuesday, April 25, 2017

[Cerita Hikmah] Pelajaran dari Tukang Sol Sepatu

Siang itu, saya bersiap-siap keluar rumah untuk berangkat ke tempat kursus. Melangkah ke teras, sesaat saya memandangi sepatu yang sedang saya pakai.

"Bapak, apa bunda beli sepatu baru, ya? Sepatu bunda udah lama, nih. Udah minta diganti," ujar saya pada suami.

Suami melirik sepatu saya.

"Iya, Sayang. Belilah," jawabnya.

Meski tak serius dengan keinginan membeli sepatu, saya merasa senang dengan jawaban suami. Dengan senyum terkembang, saya pun berpamitan.


Sumber: kaskus.co.id


Matahari bersinar garang ketika saya melangkahkan kaki menyusuri gang perumahan, menuju jalan utama kompleks. Saya pun berjalan tergesa, seraya menundukkan kepala, menghindari sengatan cahaya matahari yang panas membara.

Saat sejenak mengangkat wajah, tampak sosok seorang bapak tua yang berprofesi sebagai tukang sol sepatu, berjalan tak jauh di depan saya. Ia terseok terseok, terbungkuk-bungkuk, memikul kotak kayu tempat menyimpan alat sol di pundaknya.  Setiap kali melangkah, ia meninggalkan jejak suara yang cukup jelas terdengar.

SREK...
SREK...
SREK...

Spontan tatapan saya beralih ke sepatu bapak tersebut. Sepatu kanvas yang mestinya berwarna hitam, namun lusuh berbalut debu sehingga membuatnya terlihat berwarna keabuan. Bagian tumitnya sudah sangat menipis dan bisa jadi bawahnya sudah berlubang. 

Kasihannya...

Saya melambatkan kaki. Bapak tukang sol di depan saya berhenti. Terengah-engah, ia menepi. Panas dan lelah membuatnya memutuskan untuk berteduh. Dilepasnya topi hitam yang bertengger di kepalanya, menyeka keringat di dahi, lalu mengipas-ngipaskan topi itu ke wajahnya. Mungkin hidungnya tak sanggup lagi menyuplai udara ke rongga dada, bapak itu bernapas pula dengan mulutnya.

Eeeeh pfuuuh...
Eeeeh pfuuuh...

"Mari, Pak..." Saya tersenyum menyapanya, seraya menganggukkan kepala.
"Mari, Neng, mari..." Jawabnya.

Saya kembali melanjutkan perjalanan, dengan kepala tertunduk. Menekuri sepasang sepatu di kaki yang sempat saya mintakan izin pada suami untuk diganti yang baru. Tak disangka, pertemuan saya dengan bapak tukang sol sepatu itu membuat perubahan di dalam diri saya. Saya yang tadinya sempat mengeluh dengan kondisi sepatu saya, akhirnya malah bersyukur dan lapang menerima. Betapa saya masih jauh lebih beruntung dibanding bapak tukang sol sepatu itu. Saya memiliki sepatu yang mengilap dan masih terlihat baru. Ia juga nyaman dipakai dan tentu saja tumitnya tidak berlubang. Alhamdulillah.

Mengenal Karakter Pria Berdasarkan Tas yang Dipakai

Sobat Jejak, tas merupakan salah satu barang yang tidak pernah lepas dari kehidupan sehari-hari di masyarakat. Tak hanya wanita, kaum pria pun banyak yang menggunakan tas sebagai alat utama ketika bepergian. Selain digunakan sebagai alat untuk membawa barang,  konon, tas juga bisa mencerminkan kepribadian seseorang.

Wah, kok bisa, ya?

Entah, saya juga heran. Kok bisa, ya? :D

Nah, daripada penasaran, seperti apa karakter dan kepribadian pria berdasarkan tas yang mereka miliki atau gunakan, yuk, kita simak bareng-bareng informasi mengenai Mengenal Karakter Pria Berdasarkan Tas yang Dipakai


Sumber: pixabay.com


Backpack

Sesuai dengan desain backpack yang biasanya simple dan tidak ribet, para pria yang senang menggunakan tas ransel ini konon memiliki karakter dan kepribadian yang tidak ingin susah atau ribet, Sobat. Mereka senang melakukan segala hal dengan simple dan praktis. Adapun pria yang memakai backpack di depan, biasanya memiliki sifat yang cenderung tertutup dan tidak mudah percaya pada orang lain. Mereka sangat protektif dengan dirinya dan hal-hal yang dimiliki.

Messenger Bag

Para pria dengen messenger bag atau tas selempang konon cenderung kurang bijak dalam menjalani hidupnya. Bila menghadapi situasi yang objektif mereka cenderung tidak adil dan suka memihak. Hal ini karena mereka menggunakan tas yang beratnya tidak terdistribusi dengan baik, bisa menjadi berat ke kanan atau ke kiri. Kondisi tas yang berat sebelah ini  lama kelamaan memengaruhi kepribadian mereka.

Konon katanya begitu.... Entah bener apa nggak, mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang.... :D

Tas Pinggang

Konon lagi, para pria pengguna tas pinggang ini merupakan pria dengan karakter yang hemat dan efisien. Biasanya mereka cenderung disiplin dan tidak boros baik waktu maupun materi. Ia akan selalu menepati janji yang ia buat.

Wah, wah... Sepertinya banyak yang bakal beralih memakai tas pinggang nih, setelah membaca artikel ini, hihihi.... :D

Briefcase

Tas briefcase memiliki bentuk kaku dan biasanya hanya dibawa untuk berpergian ke kantor. Meskipun desainnya menampilkan kesan yang kuat, serius dan mapan, namun pria yang menggunakan tas ini konon cenderung insecure terkait dirinya. Mereka takut dianggap remeh oleh orang lain. Hal inilah yang menyebabkan mereka bersembunyi di balik penampilannya. Simbol ini sebenarnya ditujukan untuk menjaga image dan apa yang sebenarnya ada di dalam hati mereka.

Nah, Sobat, itulah beberapa jenis tas dengan karakter dan kepribadian yang mencerminkan sifat (konon) para penggunanyaYah, terlepas dari benar atau tidaknya model tas bisa mencerminkan kepribadian seseorang, yang terpenting adalah bagaimana meminimalisir sifat minus sehingga tidak menjadi penghalang untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Tuesday, April 18, 2017

Serunya Mengikuti Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi di Hotel Amaroossa Grande Bekasi Bag. 2

Hi, Sobat Jejak, assalamualaikum. Alhamdulillah. Akhirnya saya bisa melanjutkan kembali cerita seru ketika mengikuti workshop atau pembekalan teknis seri pengenalan budaya kepercayaan dan tradisi di Hotel Amaroossa Grande Bekasi, yang diselenggarakan oleh Kemdikbud.

Bagaimana ceritanya? Langsung saja, ya ;)

Malam telah larut ketika materi workshop hari pertama berakhir. Rasa senang, lelah, dan mengantuk, jadi satu saat saya dan roomate kembali ke kamar. Langkah kami gegas memasuki ruang lift, yang beberapa saat kemudian mulai bergerak naik.

"Huaah, ternyata udah jam sebelas lewat!" Pekik saya, sembari menghempaskan badan di tempat tidur.

Ingiiin rasanya saya segera memejamkan mata, ketika tubuh mendarat di kasur Amaroossa yang hangat dan empuk. Namun, rasanya tidak nyaman jika harus tidur tanpa terlebih dahulu mencuci tangan, kaki, dan membersihkan wajah. Karenanya, walau sedikit enggan, saya pun bangun dan berjalan gontai menuju kamar mandi. Bersih-bersih dan berwudhu. Lalu, tanpa harus menunggu lama, kasur empuk dan selimut hangat Hotel Amaroossa Grande Bekasi sukses membenamkan saya ke alam mimpi. ZzzzZzzzz....

Sudut kamar di Hotel Amaroossa Grande Bekasi

Misteri Dinding Bersiul

Keesokan paginya, saya bangun dengan tubuh segar dan hati riang penuh semangat. Memasuki kamar mandi hotel yang cukup luas, sesaat pandangan saya menyisir interiornya. Sebuah wastafel besar berada tepat di depan pintu, dengan cerminnya yang juga besar. Sepaket toiletries yang sayangnya entah kenapa tidak disiapkan untuk dua orang tamu (kecuali shampo dan handuk) diletakkan di sisi kanan wash basin.  Lalu ada closed di sebelah kanan, dan shower yang dibatasi dinding kaca di sebelah kiri.

Pandangan saya kemudian menyusuri dinding kamar mandi (jelalatan banget yah, di kamar mandi :D) yang dilapisi marmer berwarna hitam. Warna yang bagi saya cukup "menyeramkan" untuk sebuah dinding, karena memberi nuansa gelap dan suram. Memang sih, kalau saya perhatikan, Hotel Amaroossa Grande Bekasi ini konsepnya romantis, dengan pencahayaan yang dibuat syahdu remang-remang. Yah, romantis bagi pasangan yang hendak berbulan madu, tentunya. Namun, bagi saya yang penyuka ruangan terang benderang, suasana seperti ini malah memberi terkesan...seram.... *backsound lolongan srigala*

Saya baru akan memulai ritual mandi ketika dari arah dinding tiba-tiba terdengar suara siulan.

Hah! Siulan?

Iya. Siulan!

Siulan yang sangat jelas terdengar, membentuk semacam nada atau nyanyian.

Berbagai macam pertanyaan seketika bermunculan di kepala saya. Tentu saja ditambah dengan drama kuduk meremang dan tengkuk  yang siwer-siwer bagai terkena hempasan hawa dingin dari dalam kulkas yang baru dibuka.

Si-siapa itu ya, yang bersiul?
Dari mana asalnya?
Apakah dari dalam dinding?
Atau dari sebelah dinding?
Mengapa sampai terdengar dari kamar mandi?

Sesaat kemudian, suara siulan itu lenyap. Saya mencoba berpikir positif. Mungkin saja itu hanya suara siulan penghuni kamar sebelah. Mungkin kamar mandi ini dindingnya tidak kedap sehingga suara siulan itu terdengar.

"Mbak, tadi saya denger suara siulan lho, dari kamar mandi," ujar saya pada Mbak Fitri, roomate saya, usai shalat subuh dan dandan syantik.

"Oh, ya?" Sahut Mbak Fitri tanpa menoleh. Beliau sedang asyik ketak ketik di keypad HP.

Tak ingin mengganggu keasyikan Mbak Fitri, saya pun mencari kesibukan. Mengeluarkan kertas-kertas berisi materi workshop dan membacanya. Namun, tubuh saya mendadak menegang dan bulu kuduk pun meremang. Suara siulan misterius itu kembali terdengar. Bahkan, kali ini suara itu terdengar sangat jelas.... dan sangat dekat!

"Hah!? Jadi titu tadi suara siulan Mbak?"

"He em."

Aaaaaarghhhh.... >_<


Materi Sesi 2: 


Menyesap pagi di Hotel Amaroossa Grande Bekasi

Usai sarapan, para peserta pun masuk ke ruang workshop. Di kursi depan, tiga orang pemateri sudah bersiap-siap memberikan materi. Kali ini materinya adalah tentang:
1. Perilaku Membaca pada Anak-anak dari Sudut Pandang Psikologis
2. Teknik Penulisan Cerita Anak
3. Penulisan Buku Cerita Anak Terkait dengan Kurikulum dan Perbukuan

Weew, agak ngeri-ngeri sedap ya, membaca judul-judul materinya. Hehehe... Tapi tenang saja, materinya asyik-asyik. Apalagi disampaikan oleh para pemateri yang mumpuni dan berpengalaman di bidangnya.

Materi sesi 2 yang pertama, yaitu Perilaku Membaca pada Anak-anak dari Sudut Pandang Psikologis, disampaikan oleh Bu Dwi Retno Aryanti, S.Psi., yang syantik dan fashionable rapi jali-jali.

Gaya Bu Retno yang anggun, bahasa yang sangat tertata, intonasi suara yang enak didengar, serta penguasaan materi yang tidak diragukan, membuat saya merasa betah mendengarkan pemaparan beliau.

Kata Bu Retno, tantangan bagi penulis buku anak di antaranya adalah bagaimana membuat anak tertarik membaca buku yang ditulis. Secara bo, jaman sekarang penulis kudu saingan dengan yang namanya gadget, time zone, TV, dan lain-lain. Karenanya, penting bagi penulis untuk bisa menimbulkan semacam setrum atau kejutan di dalam tulisannya, sehingga dapat membuat anak-anak tertarik membaca.

Akan tetapi, tentu tidak semua anak enggan membaca buku. Karena, tak sedikit anak-anak yang sangat gemar bahkan gila membaca. Ironisnya, tak sedikit pula anak-anak yang gemar membaca namun sulit mendapatkan fasilitas buku untuk baca. Misalnya, anak-anak yang tinggal di pedesaan atau daerah-daerah terpencil. Hiks, saya jadi terharu melihat slide bergambar tiga anak yang membawa poster bertuliskan, "Please, save my/our library" dengan background rak buku yang kosong melompong.

Tunggu buku-buku hasil karya penulis Serial Budaya Kepercayaan dan Tradisi Kemdikbud ya, Dek adek... T_T

Selanjutnya, Bu Retno juga memaparkan tentang perilaku pembaca anak berdasarkan rentang usianya. Perilaku ini harus dipahami oleh penulis, agar dapat menentukan kesesuaian tulisan yang dibuat dengan target pembaca.

Peserta dan sebagian pemateri Workshop Kemdikbud

Selanjutnya kita ke materi sesi 2 yang ke dua, yaitu Teknik Penulisan Cerita Anak. Materi ini disampaikan oleh Mbak Tethy Permanasari, atau yang dalam penulisan buku anak lebih dikenal dengan nama Tethy Ezokanzo.

Di dalam materinya, Mbak Tethy menjelaskan mengenai bagaimana menulis buku anak yang bagus dan tepat sasaran.

Sebelum menulis buku anak, terlebih dahulu penulis harus menentukan beberapa poin penting agar buku tersebut tepat sasaran. Mulai dari menentukan siapa pembacanya, usia berapa, untuk kalangan apa, tujuan buku dibuat apa, hingga perkiraan harga buku di pasaran. Mbak Tethy juga memaparkan tentang perlunya menyesuaikan buku dengan usia pembaca. Misal wordless picture book untuk usia 0-3 tahun, pictbook untuk usia 4-6 tahun, dan seterusnya.

Nah, berikut beberapa tips untuk menulis buku anak yang bagus dari Mbak Tethy:
1. Buat wajah buku menarik, mulai dari kaver, tata letak, ilustrasi, serta blurb-nya.
2. Sajikan adegan atau kalimat menghentak dan enak dibaca.
3. Gunakan pemilihan kata yang menarik namun mudah dipahami, alur yang sistematis, serta menghindari adanya pengulangan yang dapat membuat pembaca bosan.
4. Beri efek, "Aha!" untuk memberikan kesan mendalam, sehingga pembaca merasa senang, antusias, dan puas membaca bukunya.

Pada materi ini, kami juga diberitahu tentang bagaimana membuat outline, story map, pentingnya ide/gagasan, cara mencari ide cerita, penokohan, membuat detail karakter, serta membuat setting cerita. Seru deh, pokoknya. ;)

Sampai sini, materi break dulu untuk memberi kesempatan kepada peserta menikmati camilan dan minuman yang telah disediakan oleh kakak-kakak pramusaji Hotel Amaroossa yang baik hati. Makacih eaaa, Kakaak... ^_^

Selanjutnya, materi sesi 2 yang ke tiga, yaitu Penulisan Buku Cerita Anak Terkait dengan Kurikulum dan Perbukuan. Materi ini disampaikan oleh Bp. Supriyatno, S.Pd., MA dari Puskurbuk.

(Sebentar, ya. Mau peregangan otot dulu...)

Oke, kita lajut.

Materi kali ini dibuka dengan Undang-undang No. 20 Tahun 2003, tentang pengertian kurikulum. Kemudian dilanjutkan dengan Permendikbud No. 8 Tahun 2016, tentang buku yang digunakan oleh satuan pendidikan, pengertian buku teks pelajaran, dan pengertian buku non teks pelajaran. *pijet kening*

Di dalam pemaparannya, Pak Supriyatno menjelaskan mengenai kriteria buku, baik dari segi konten atau isi, penyajian, bahasa, dan kegrafikaan. Beliau juga menjelaskan tentang grafik komposisi isi buku yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, di setiap jenjang pendidikan.

Meski materi kali ini sedikit bernuansa "penataran", huehehe, namun tetap asyik untuk diikuti. Apalagi ditambah dengan derasnya arus camilan, yang entah kenapa sebagian besarnya bermuara di meja saya. Alhamdulillah... :D Selain itu, di materi ini kami juga jadi tahu tentang kriteria buku-buku yang lolos dan tidak lolos seleksi puskurbuk. Materi yang disampaikan juga diselingi dengan diskusi atau pembahasan mengenai isu-isu kekinian, semisal buku-buku kurang layak baca namun bebas beredar di pasaran, sehingga membuat peserta tidak merasa bosan.

Terakhir... Masing-masing peserta diminta untuk mempresentasikan konsep buku seri pengenalan budaya kepercayaan dan tradisi yang sudah dibuat. Again...

Tak terasa, waktu shalat dzuhur dan makan siang pun tiba. Para peserta kembali ke kamar masing-masing untuk melaksanakan shalat, istirahat sebentar, lalu turun kembali untuk makan siang bersama.

Nyobain makan salad biar kayak orang-orang. :D

Materi Sesi 2:
Setelah menuntaskan hajat ruhaniyah dan jasadiyah, para peserta workshop kembali bersiap-siap mencecap nutrisi penuh gizi bagi fikriyah. Kali ini, materinya adalah tentang:
1. Metode Pengumpulan Data dalam Penulisan Upacara Adat dan Cerita Rakyat.
2. Rangkaian Proses Penerbitan Buku Cerita Anak.
3. Teknik Pengemasan Cerita dan Penyusunan Ilustrasi.

Sobat Jejak sudah siap menyimak materi sesi ini? Kalau sudah siap, markijut, mari kita lanjut. ;)

Materi sesi 3 yang pertama, yaitu Metode Pengumpulan Data dalam Penulisan Upacara Adat dan Cerita Rakyat, disampaikan oleh Bp. Dr. Semiarto Aji Purwanto. Beliau adalah dosen di Universitas Indonesia.

Jujur kacang ijo, awalnya saya agak mengkeret begitu membaca judul materi kali ini. Bagaimana tidak, kata "metode" itu entah kenapa mendadak saja mengingatkan saya pada mata kuliah metodologi penelitian yang amit-amit semasa kuliah, wkwkwk...

Tapiiii... Ternyata saya salah, sodara-sodara. Karena kenyataannya, materi kali ini pun tidak kalah menyenangkan. Meskipun mata agak kriyep-kriyep ya maklumlah malamnya saya kurang tidur, plus hari sudah siang, plus perut dalam kondisi kenyang. Tapi beneran, materi kali ini tetap saya perhatikan dan dengarkan dengan segenap kemampuan mata dan telinga. :D

Di awal kuliahnya, eh, materinya, Pak Semi meminta peserta untuk membedakan antara upacara sakral dan upacara profan. Apa itu upacara sakral dan upacara profan? Upacara sakral adalah upacara yang berkaitan dengan simbol dan perilaku keagamaan serta sistem kepercayaan semisal keyakinan mengenai adanya kekuatan supranatural, ajaran, dan lain sebagainya. Sementara upacara profan adalah upacara yang merupakan bagian dari keseharian, atau ikatan perilaku yang harus ditampilkan individu.

Ketika melakukan survei sebuah upacara, kata Pak Semi, ada beberapa hal penting yang sebaiknya dilist untuk digali secara mendalam oleh penyurvei, yaitu unsur-unsur upacara yang meliputi: gerakan dan kata-kata khusus, peafalan teks khusus, musik, lagu, tarian, prosesi atau arak-arakan, manipulasi obyek tertentu, pakaian khusus, makanan, minuman, dan lain-lain yang sifatnya khusus, atau hanya ada di upacara tersebut.

Adapun untuk mendapatkan informasi mengenai upacara tersebut, ada tiga informan yang sebaiknya diwawancarai oleh penyurvei, yaitu pemimpin upacaranya, peserta, serta penonton. Metode penelitian sendiri bisa dilakukan dengan cara wawancara mendalam, pengamatan, dan pengamatan terlibat, dimana penyurvei ikut serta di dalam jalannya upacara.

Dalam hal menganalisis simbol, Pak Semi mengatakan bahwa hal yang sebaiknya dilakukan adalah: pahami idiom, bahasa, dan konsep lokal; gunakan sudut pandang setempat untuk menerjemahkan simbol (emic), tanyakan arti atau makna upacara tersebut bagi mereka (informan), bukan makna dari sudut pandang penyurvei. Terakhir, tejemahkan simbol dengan temuan lain dan konteks lokal (etic) --> repeat please...

Ukeeyy... Selesai. Kita lanjut materi sesi 3 yang ke dua, yaitu Rangkaian Proses Penerbitan Buku Cerita Anak., yang disampaikan oleh editor penerbit yang akan menerbitkan buku seri pengenalan budaya kepercayaan dan tradisi, Mbak Pradikha Bestari yang lincah dan unyu-unyuuuu... Asli deh, tadinya saya kira emak-emak berumur, nggak taunya masih muda bangeeet... (entah kalo Mbak Dikha emang awet muda tapi, ya...)

Di materi ini, Mbak Dika menjelaskan tentang perjalanan sebuah naskah hingga ia menjadi buku, mulai dari penentuan tema, survei atau turun lapangan, penulisan, pemberian panduan ilustrasi, editing awal, lalu evaluasi, layout, cek akhir, lalu editing lagi jika ada yang perlu diedit, sampai akhirnyaaa, setelah si naskah mendaki gunung lewati lembah, jadilah ia Ninja Hatori, eh, buku yang layak terbit dan dibaca oleh anak-anak di seluruh nusantara.

Mbak Dikha juga menjelaskan mengenai karakteristik tokoh dan buku yang akan kami buat nanti, yang dalam hal ini tokoh utamanya adalah Panca, sementara bukunya adalah jenis faksi atau campuran fakta dan fiksi. Diharapkan buku ini nantinya akan menjadi bacaan bermutu yang menarik dan sesuai target, serta harmonis, enak dibaca, dan menghibur mata dengan visualisasinya yang indah surendah.

Ngomong-ngomong soal visualisasi naskah, panitia workshop mendatangkan seorang kakak ilustrator yang cetar membahana badai, yang karya-karyanya sudah banyaaak menghiasi buku-buku para penulis di Indonesia, siapa lagi kalau bukan Kak Dwi Prihartono dari Inner Child. Di sesi ini, Kak Dwi akan menyampaikan materi tentang Teknik Pengemasan Cerita dan Penyusunan Ilustrasi.

Di dalam materinya, Kak Dwi menjelaskan tentang apa itu istilah single dan spread, apa yang dimaksud dengan blok dan brush, juga perbedaan antara detail dan tekstur. Kak Dwi juga menyampaikan tentang hal yang perlu dihindari dalam menciptakan harmonisasi antara teks dan ilustrasi, di mana teks sebaiknya tidak menabrak ilustrasi. Intinya tentang ilustrasi buku gitu, deh... Hehehe... :D

Tak terasa, sudah waktunya shalat ashar dan materi workshop pun sudah selesai. Para peserta kemudian bubar jalan untuk shalat, istirahat, mandi, dan bersiap-siap makan malam. Agenda setelah makan malam adalah penutupan dan penandatanganan surat kontrak penulisan seri pengenalan budaya kepercayaan dan tradisi Kemdikbud.

Cukup ditandatangani ya, Dek Izzah. Nggak perlu digambar-gambar. :D

Oh, iya. Ada cerita lucu ketika saya, Mbak Fitri, Uni Novia, dan Uni Eci akan turun bersama ke ground floor untuk makan malam. Ketika itu, kami menunggu lift buka. Sambil menunggu, saya duduk di sofa yang disediakan di depan lift. Ngantuk sekali, rasanya. Sementara itu, Mbak Fitri iseng melihat-lihat ke arah ruangan sebelah kami, yang pintunya terbuka. Pintu ruangan itu letaknya di sisi kiri sofa yang saya duduki. Tanpa diduga, wajah Mbak Fitri mendadak terlihat syok seolah baru melihat sesuatu yang menyeramkan.

"Kenapa, Mbak Fit?" Tanya saya dengan jantung yang seperti kodok berlompatan.

Mbak Fitri tidak menjawab. Hanya menunjuk ke arah yang tadi dilihatnya, seraya berjalan ke arah sisi kanan saya.

Saya mulai tegang. Otak sudah mulai membayangkan yang tidak-tidak. Lalu ketika sedang tegang-tegangnya, tiba-tiba muncul sesosok yang sangat mengerikan!

"Aaaaaaaa.....!"

Saya spontan berteriak kencang seraya menaikkan kaki ke sofa. Ya Allah, hancur sudah reputasi saya sebagai wanita anggun tertata, uhuk!

Lalu, dengan santainya, sosok mengerikan yang ternyata seorang bell boy berjalan melewati saya dan berkata, "Gue kenapa ya, kok ini pada teriak-teriak?"

Dan, semua terpingkal-pingkal, terduduk-duduk, menertawakan saya.

OH, MY GOD! >_< Tolong terangin lampunyaaaah.... T_T

Keesokan harinya, para peserta sarapan bersama sebelum check out dan masing-masing melakukan perjalanan menuju bandara Soekarno Hatta, utnuk kemudian tebang menuju provinsi asalnya. Hikss, sedih, deh... Sampai ketemu lagi, yaaa.... Semoga dimudahkan proses survei dan penulisan naskahnya.

Akhirnya, terimakasih tak terhingga saya haturkan kepada Forum Penulis Bacaan Anak yang telah memilih kami sebagai kandidat peserta di seleksi awal; Kemdikbud yang telah memilih kami semua sebagai peserta, Mbak Ranny, Pak Gurito, para pemateri, dan teman-teman peserta workshop: Mbak Beby, Omacan Syamsiah, Bang Azhari, Uni Novia, Uni Eci, Uni Maya, Mbak Agnes, Mbak Yulita, Kak Citra, Kak Ruziana, Kak Sri Murni, Kak Desri, Kak Viska, Bang Elvi, Kak Suhendra, Mbak Fitri, Kak Suwanda; para pemateri atas ilmunya yang sangat bermanfaat, Hotel Amaroossa Bekasi atas servisnya yang menyenangkan, dan semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Beneran. Saya bahagia banget bisa ikut workshop seru ini. Dan syukur pada Allah yang telah membuat kebahagiaan saya semakin sempurna, dengan kabar gembira yang saya peroleh dari editor tepat disaat check in di Bandara Soekarno Hatta. Kabar gembira itu berupa...

Naik cetaknya buku saya berjudul Komik 10 Sahabat Dijamin Masuk Surga yang alhamdulillah sekarang sudah terbit. Nggak nyuruh beli, sih... Tapi kalau ada yang berminat, ya monggo banget ... Harganya Rp. 90.000,- bonus happy saat membacanya ^___^

Komik 10 Sahabat yang Dijamin Masuk Surga

Baca juga: 

Monday, April 17, 2017

5 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Membeli Sepatu Anak Perempuan

Sobat Jejak, seorang ibu akan lebih selektif dalam memilihkan sepatu anak perempuan kesayangannya, sebab menentukan penampilan dan kenyamanan tubuh buah hati. Memilih sepatu untuk buah hati sejak bayi sampai mereka tumbuh menjadi remaja memang harus selektif. Jika anak perempuan sudah tumbuh dewasa maka mereka memiliki cara tersendiri dalam menentukan sepatunya. Sebagai orangtua tentu menghendaki yang terbaik maka memilih sepatu yang nyaman dan memberikan perlindungan 100% kepada kaki mungilnya.


Sepatu Anak Perempuan (foto: bukalapak.com)


Apa saja yang perlu diperhatikan sebelum membeli sepatu anak perempuan? 

Pada saat memilihkan sepatu untuk anak perempuan, sudah tentu ibu memiliki kriteria tersendiri, terutama dalam hal model. Akan tetapi, perlu diingat bahwa sepatu yang bagus tidak hanya ditentukan oleh model atau tampilan fisiknya saja, melainkan dari segi bahan dan desain sepatu tersebut. Desain sepatu akan menentukan seberapa nyaman sepatu tersebut membungkus kaki. Ajari anak untuk mencoba sepatunya sambil berjalan dan tanyakan apakah sudah merasa nyaman dengan sepatu tersebut. Anak-anak akan lebih tepat dalam menentukan sepatu paling nyaman karena merekalah yang memakainya.

Tatkala sudah berniat membelikan sepatu anak perempuan, maka kunjungi toko yang tepat kemudian tentukan pilihan secara cerdas. Setidaknya, ini 5 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Membeli Sepatu Anak Perempuan:

1. Ukurannya sesuai atau pas
Jika memilihkan sepatu untuk anak, pastikan ukurannya pas dengan kaki anak sehingga ia nyaman memakainya. Jangan sampai ukuran sepatu kebesaran atau kekecilan, sehingga menyulitkan anak dalam berjalan.

2. Pilih sepatu yang terkesan feminin
Anak perempuan sejak bayi baiknya diajari untuk menyukai hal-hal berbau feminin supaya terhindar dari keinginan menjadi laki-laki. Selain itu baik untuk perkembangannya, termasuk dalam memilihkan sepatu baiknya memilih model yang terlihat feminin. Kenali perbedaan antara sepatu untuk anak perempuan dengan anak laki-laki supaya tidak salah pilih.

3. Hindari dahulu sepatu dengan tumit tinggi 
Anak-anak yang masih di bawah umur apalagi di usia batita, balita, ataupun di usia anak SD baiknya dihindarkan dulu dari sepatu bertumit tinggi. Jika orang dewasa saja oleh praktisi kesehatan dianjurkan membatasi pemakaian sepatu bertumit tinggi, maka apalagi pada anak-anak? Demi pertumbuhan tulang anak yang maksimal maka dianjurkan untuk memilih sepatu yang solnya datar. Sepatu bertumit akan membuat anak susah berjalan dan mengganggu kelancaran peredaran darahnya.

4. Bahannya ringan dan elastis
Bahan sepatu memang wajib sekali dijadikan acuan dalam memilihkan sepatu untuk buah hati, bahkan sejak anak di usia bayi. Anak-anak cenderung aktif bergerak tidak peduli dimanapun ia berada. Jika di dalam rumah tentu aman saja karena dipastikan bertelanjang kaki. Namun jika diluar rumah dan berlarian otomatis memerlukan sepatu yang bahannya ringan sekaligus elastis agar melindungi kaki mereka secara maksimal.

5. Modelnya nyaman dan anti ribet
Menentukan model baiknya tidak hanya yang terlihat feminin saja namun juga nyaman karena simpel dan tidak ribet saat dipakai maupun dilepas. Baiknya sebagai orangtua Anda memilihkan sepatu anak perempuan dengan model simpel, supaya mereka mudah memakainya dengan benar.

Friday, March 24, 2017

Cara Menjaga Kesehatan Tubuh Anak Menjelang Ujian Sekolah

Akhir-akhir ini, kondisi cuaca sedang tidak menentu. Kadang pagi cerah, eh, siangnya hujan. Siangnya terik, sorenya mendung, malam cerah, paginya hujan. Keadaan ini tak jarang mengakibatkan daya tahan tubuh menjadi menurun dan akhirnya jatuh sakit.

Di daerah tempat tinggal saya, virus penyakit yang sedang mewabah adalah flu. Hal ini membuat saya harus pandai mengantisipasi, agar jangan sampai keluarga saya jatuh sakit karena flu. Terutama Syahid, anak saya. Karena, tak lama lagi ia akan menjalani ujian sekolah.

Saya ingat saat Syahid ujian sekolah semester lalu. Dua hari terakhir ujian, Syahid sakit. Saya menawarkan padanya untuk tidak usah masuk sekolah. Toh, bisa ujian susulan. Tapi, Syahid tidak mau. Ia memaksakan dirinya untuk berangkat dan menjalani ujian sekolah. Duh, sedih banget. Di rumah, saya tidak tenang menunggunya pulang.

Secara akademik, Syahid bisa dibilang menonjol di kelasnya. Ia dapat menangkap pelajaran dengan cepat dan mudah. Walau tidak ditekankan untuk belajar di rumah, alhamdulillah, nilai-nilainya selalu memuaskan. Namun,  kondisi badan yang sakit tentu membuat potensi yang dimilikinya menjadi tidak maksimal. Karenanya, saya mencoba menerapkan Cara Menjaga Kesehatan Tubuh Anak Menjelang Ujian Sekolah. Syahid gak boleh sakit supaya bisa menjalani ujian sekolahnya dengan penuh keceriaan. Syukur alhamdulillah kalau nisa #sehat365hari alias sepanjang tahun 2017 dan tahun-tahun setelahnya, aamiin....

Nah, berikut Cara Menjaga Kesehatan Tubuh Anak Menjelang Ujian Sekolah yang coba saya terapkan:

1. Banyak minum air putih
Sebetulnya Syahid suka protes setiap kali saya bilang minum air putih. “Bukan air putih, Nda, tapi air bening,” begitu, katanya. Huehe, bener juga, sih.... :D

Syahid sangat suka minum susu. Tiap haus, pinginnya minum susu. Jarang minum air putih. Padahal, air putih memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Di samping penting dalam keseimbangan cairan di dalam tubuh, air putih juga bermanfaat untuk menjaga fungsi ginjal, mengeluarkan racun, memberi energi, melancarkan saluran pencernaan, dan meningkatkan kesegaran tubuh.

Karenanya, saya pun mencari cara agar Syahid senang minum air putih. Mulai dengan memberi penjelasan mengenai manfaat air putih, mengingatkannya untuk minum air putih, sampai menyiapkan teko air putih khusus untuknya. Saya juga memberi syarat padanya untuk minum air putih dulu sebelum minum susu. Alhamdulillah, Syahid mulai terbiasa minum air putih dan itu membuat tubuhnya lebih sehat dan bugar.

2. Menjaga pola tidur
Cukup sulit bagi saya untuk membuat Syahid tidur siang. Padahal saya yakin, aktivitas setengah harian di sekolah, tentu membuat tubuhnya lelah dan butuh istirahat. Tapi, yah, namanya anak-anak. Mumpung siang, kenapa nggak diisi dengan berbagai aktivitas menyenangkan. Begitu pun saya dulu, waktu kecil. Pulang sekolah bukannya istirahat, malah ngebolang manjat pohon, mandi sungai, dan sebagainya, hehehe...

Namun, menjaga pola tidur malam Syahid tetap saya lakukan. Intinya, Syahid harus tetap tidur cukup. Jadi, setelah isya, semua aktivitas stop. Waktunya Syahid tidur dan bangun kembali menjelang subuh. Dengan tidur cukup, saya berharap Syahid lebih sehat dan siap menjalani aktivitas keesokan harinya.

3. Menjaga pola makan
Nah, ini nih, yang menjadi tantangan besar buat saya. Syahid itu susaaaaah sekali yang namanya makan sayur. Padahal, vitamin dalam sayur serta protein ikan bagus untuk kesehatannya. Karenanya, saya coba mengakalinya dengan menyembunyikan rupa sayur dalam menunya. Misal, membuat bakwan sayur, dadar telur sayur, dan sebagainya. Alhamdulillah, walaupun sedikit-sedikit asupan sayur Syahid mulai terpenuhi. Untuk buah utuh, Syahid mulai suka pepaya dan pisang. Jadi, saya berusaha untuk selalu stok dua jenis  buah itu. Untuk jenis buah lainnya, Syahid maunya kalau sudah dijus.

4. Menjaga Kebersihan badan dan lingkungan
Hal yang perlu diperhatikan agar kesehatan tubuh anak tetap terjaga adalah dengan menjaga kebersihannya. Selain mandi dua kali sehari, saya juga membiasakan Syahid untuk selalu mencuci tangan dan kaki setelah beraktivitas di luar rumah, untuk menghilangkan berbagai macam kuman penyebab penyakit. Saya juga membiasakannya untuk memotong kuku setiap pekan, yaitu setiap hari Kamis atau Jumat.

5. Olahraga teratur
Olahraga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Dengan olahraga, tubuh jadi lebih segar dan tidak gampang sakit. Karenanya, di pagi hari setelah subuh, saya dan keluarga membiasakan untuk olahraga bersama. Olahraga yang kami lakukan sih, ringan-ringan saja. Terkadang cukup hanya dengan lari di tempat, sit up, back up, atau lari bolak-balik jalan di depan rumah. Kadang bersama-sama mempraktikkan gerakan karate yang Syahid pelajari Syahid di ekskul. Syahid di daulat menjadi senpai, yang mengajar orangtuanya melakukan gerakan bela diri. Hal ini membuat Syahid menjadi olahraga.

6. Mengonsumsi Stimuno

Produk-produk Stimuno (foto kolpri)

Selain lima tips di atas, saya juga memberikan Stimuno kepada Syahid. Menurut informasi yang saya dapat di di http://www.serbaherba.com/daya-tahan, Stimuno  sudah teruji klinis dapat bekerja langsung memperkuat sistem imun dengan cara memperbanyak antibodi di dalam tubuh sehingga dapat berfungsi sebagai imuno modulator atau benteng pertahanan bagi tubuh.  Imuno modulator ini didapat dari ekstrak tanaman meniran  yang terkandung di dalam Stimuno.

Produk Stimuno terdiri dari Stimuno Forte dan Stimuno Syrup. Stimuno syrup memiliki dua varian rasa yang disukai anak-anak, yaitu strawberry dan anggur. Untuk Syahid, saya memberikan Stimuno Syrup rasa anggur dengan dosis 1 sendok takar (5 ml) sebanyak 3x sehari.

Stimuno Syrup (foto kolpri)

Semoga, tips atau cara menjaga kesehatan tubuh anak menjelang ujian sekolah termasuk minum Stimuno setiap hari yang saya terapkan, dapat membuat  imunitas tubuh Syahid meningkat, sehingga tidak gampang sakit meski kondisi cuaca yang tidak menentu. Dengan demikian, saya tidak perlu khawatir lagi Syahid sakit saat ujian sekolah, seperti yang terjadi di semester lalu.

Sunday, March 19, 2017

Serunya Mengikuti Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi di Hotel Amaroossa Grande Bekasi Bag. 1

Hai, Sobat Jejak. Assalamualaikum. 

Sobat, kali ini, saya mau menceritakan pengalaman saya mengikuti workshop menulis dari Kemdikbud selama tiga hari di Bekasi. Nama workshopnya, Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi. Hihi, iya, sih, dari judulnya kesannya kayak penataran gitu, yak. Tapi asli seru dan menyenangkan lho, workshopnya. Penasaran? Begini, ceritanya. 

Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya dan Tradisi

"Alhamdulillah, makasih infonya, Mbak Ranny!" Pekik saya gembira, ketika Mbak Ranny, panitia seleksi dan pelaksanaan Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi menelpon dan memberitahu bahwa saya lolos seleksi.

Info dan seleksi awal peserta pembekalan ini mulanya diadakan di Forum Penulis Bacaan Anak atau yang oleh anggotanya akrab disebut dengan Paberland. Paberland yang pertama kali digawangi oleh Kang Ali Muakhir ini kini telah beranggotakan lebih dari 20.000 orang. Di Paberland, terpilihlah nama-nama nominator pesertanya, yang di tahap selanjutnya ditugaskan untuk membuat konsep buku cerita anak berlatar budaya dan mengirimkannya ke panitia Kemdikbud. Nah, di tahap lanjut ini peserta pembekalan terpilih ditentukan langsung oleh pihak Kemdikbud.

Saya merasa sangat beruntung, Sobat. Karena saya menjadi salah satu dari 18 penulis yang berhak untuk mengikuti Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi, yang diselenggarakan oleh Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan yang Maha Esa dan Tradisi Kemdikbud, dari tanggal 6 - 8 Maret 2017, di Hotel Amaroossa Grande Bekasi, yang beralamat di Jl. Jend. Ahmad Yani No. 88 Bekasi Barat.


Hotel Amaroossa Grande Bekasi (foto: www.pegipegi.com)

Adapun 18 penulis yang terpilih semuanya berasal dari Sumatera, karena memang fokus penulisan Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi tahun 2017 ini adalah mengenai budaya di beberapa provinsi di Sumatera, seperti Aceh, Bangka Belitung, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, dan Lampung. Ada Mbak Beby, Omacan Syamsiah, Bang Azhari, Uni Novia, Uni Eci, Uni Maya, Mbak Agnes, Mbak Yulita, Kak Citra, Kak Ruziana, Kak Sri Murni, Kak Desri, Kak Viska, Bang Elvi, Kak Suhendra, Mbak Fitri, Kak Suwanda, dan saya sendiri.

Nah, penulisan Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi sendiri dimaksudkan untuk memberikan bahan bacaan kepada siswa siswi kelas 4 - 6 SD mengenai keragaman budaya bangsa Indonesia, Sobat. Hal ini bertujuan untuk memperkenalkan dan meningkatkan pemahaman tentang keragaman budaya bangsa Indonesia kepada generasi muda, melestarikan warisan budaya bangsa dan memperkukuh kebudayaan Indonesia, menumbuhkan budi pekerti luhur melalui kecintaan terhadap budaya bangsa dan nilai-nilai moral yang diwariskan dalam keragaman tradisi bangsa, serta meningkatkan minat membaca siswa melalui bahan bacaan yang berkwalitas baik.

Tentunya, menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami, para penulis terpilih, yang mendapat kepercayaan dari kemdikbud untuk mengangkat kebudayaan daerah kami masing-masing ke dalam buku Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi ini. Akan tetapi, ini juga merupakan tantangan sekaligus amanah besar yang tidak boleh dilakukan sembarangan. Mengingat budaya adalah sesuatu yang harus dihormati dan informasi tentangnya harus dibuat seotentik mungkin. Karenanya, kami akan melewati serangkaian tahap pengumpulan data, di antaranya survey langsung ke lapangan, sebelum melakukan penulisan seri buku ini nanti. Huaaah... Doakan kami ya, Sobat. Semoga proses penulisan buku ini lancar, sehingga ia dapat segera menemui pembaca kecilnya di sekolah dasar, aamiin...

Perjalanan menuju Hotel Amaroossa Grande Bekasi

Jarum jam menunjukkan pukul 11.45 WIB, ketika pesawat yang membawa saya dan dua rekan penulis dari Lampung, mendarat mulus di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Setelah beberapa kali berpose dengan berbagai gaya di depan kamera handphone, kami pun berjalan menuju halte bus bandara. Di sana, kami bertemu dengan tiga peserta dari Padang, yaitu Uni Maya, Uni Novia, dan Uni Eci. Onde mandeeee, senangnya! Bisa kopdar dengan cerpenis dan novelis yang kece bana-bana. ^_^


Berpose dulu sesaat setelah tiba di Terminal 3 Bandara Soeta

Cukup lama kami menunggu, namun bus tujuan Bekasi Barat tak kunjung lewat. Sempat sih, lewat sekali, tapi busnya sudah penuh. Hanya bisa memuat dua penumpang. Karena kami berjumlah enam orang dan terlalu setia sehingga tidak mau meninggalkan satu sama lain (cieee),  kami pun memutuskan untuk menunggu bus berikutnya saja.

Ketika rasa bosan mulai menghinggapi dan perut mulai berkeruyukan minta diisi, seorang petugas bandara datang menghampiri kami. Mungkin ia merasa iba melihat wajah-wajah lelah dan kelaparan kami. Atau jangan-jangan, ia bisa mendengar kata hati kami yang seolah menyuarakan kalimat, "OM, TELOLET OM!" :P

"Ada bus ke Bekasi Barat setelah ini. Tapi tarifnya lebih mahal, yaitu Rp. 60 ribu," kata pak petugas.

Saya menjawil seorang teman.

"Emang, biasanya berapa?"

"Kata bapak itu 45 ribu," jawabnya.

Ah, hanya beda sedikit, ternyata. Karenanya, tak perlu berunding lama, kami pun sepakat naik bus yang direkomendasikan oleh petugas tersebut. Sesaat kemudian, punggung lelah kami telah bersandar di kursi bus Royal Class yang empuk dan nyaman. Alhamdulillah....

Mulanya, saya berencana untuk tidur di dalam bus. Tidur selama perjalanan yang konon menghabiskan waktu kurang lebih tiga jam dari bandara menuju Bekasi, tentu lumayan untuk menabung energi, agar fresh saat mengikuti materi yang dimulai malam nanti. Namun, pemandangan di sepanjang perjalanan, ditambah nuansa sendu-sendu romantis (uhuk!) lantaran langit yang mendung disertai gerimis, rasanya terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Sambil menatap gedung-gedung pencakar langit, iseng saya mengirim pesan di grup penulis Kemdikbud.

"Di Jakarta banyak gedung tingginya!" #AnakSingkong 

Kurang lebih pukul 15.00 WIB, bus yang kami naiki tiba di terminal Bekasi Barat. Sebelumnya, kami sempat heboh saat bus terus melaju dan berbelok ke sebelah kiri, sementara gedung Hotel Amaroossa berada di belokan sebelah kanan.

"Kok busnya nggak berenti?!"
"Lho, nanti kita nyasar gimana?"
"Hotelnya tambah jauh!"
"Waduuuh, gimana ini?!"

Untunglah, terminalnya ternyata tidak jauh. Kami pun bernapas lega.

Fyuuuh....

Dari terminal, kami melanjutkan perjalanan menuju hotel menaiki taksi, dengan tarif Rp. 10.000,-/orang. Alhamdulillah, perjalanan menuju hotel bisa dibilang cukup lancar, tidak macet. Tepat pukul 15.15 WIB, kami tiba di Hotel Amaroossa Grande Bekasi. Lagi-lagi alhamdulillah....


Lobi Hotel Amaroossa Grande Bekasi (foto: www.amaroossa.com)

Dua orang doorman menyambut ramah kedatangan kami di hotel. Kami pun dipersilakan memasuki lobi hotel yang terlihat luas dan nyaman. Mbak-mbak resepsionis yang cantik mengatakan bahwa kami harus menunggu beberapa saat, karena kamar sedang disiapkan. Sementara itu, fasilitas makan siang terpaksa kami lewatkan, karena sesi makan siang di hotel sudah clossing sejak pukul 15.00 WIB. Ah, sayang sekali.

Setelah menunggu cukup lama dengan kondisi lelah dan kelaparan, kami akhirnya diberitahu bahwa kamar sudah siap. Bergegas, saya dan Mbak Fitri, roomate saya, naik ke lantai 11, tempat di mana kamar kami berada. Alhamdulillah, akhirnya bisa mandi dan istirahat.

Bertemu sahabat lama dan guru menulis

Suasana kamar yang temaram serta kasur hotel yang empuk dan nyaman, membuat saya tak sabar ingin merebahkan badan. Namun, belum sempat angan menjadi kenyataan, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar. 

Tok...
Tok...
Tok...

Ketika pintu dibuka, suasana mendadak berubah suram, lampu di lorong hotel meredup, dan lolongan serigala di kejauhan terdengar sayup-sayup....

Auuuuuuuuu....

Hihihi, nggak, diiiing... :D

Begitu pintu dibuka, sahabat lama saya, Keni, langsung mengeluarkan omelan khasnya yang entah kenapa tak kunjung lekang dimakan usia.

"Assalamualaikum.... Eluuuu nih, yaaaaa.... Lama amat bukain pintunyaaaa!"

Saya hanya bisa terkekeh mendengar omelannya.

"Hehehe... Walaikumussalam... Masuk, Ken!"

Oh, iya. Keni ini sahabat saya sejak SMA-kuliah. Anaknya rame bangeeet.... Dulu zaman kuliah, kami sering saling mengunjungi dan menginap di kostan masing-masing.

Kadang saya yang menginap di kostan Keni....

"Ken, gua nginep tempat Lu, ya?"
"Iya."
"Jangan lupa, ya!"
"Apaan?"
"Sediain makan."

Kadang Keni yang menginap di kostan saya...

"Ijah, gua nginep di kostan Lu, ya?"
"Okeeey... Btw jangan lupa mampir di warung ya, Ken."
"Ngapain?"
"Beli nasi bungkus buat kita bedua."
"Elu tuh, yaaaaaa!"

Wkwkwk....

Kini, Keni menetap di Bekasi bersama suaminya. Ketika saya beritahu bahwa saya ada workshop di Bekasi, dia dan suaminya datang jauh-jauh (jarak kurang lebih 1 jam) menemui saya di hotel. Waaah, makasih ya, Ken. Sebagai tanda mata, saya memberikan dua buku karya saya yang berjudul 25 Kisah Sebab Turunnya Ayat Alquran dan 30 Kisah Teladan Rasulullah kepada Keni. Mudah-mudahan suka bukunya ya, Ken. ^_^


Saya dan Keni

Oh, iya, info aja. Harga buku saya tersebut masing-masing Rp. 69.000,- dan Rp. 41.000,-. Yaaa, siapa tau aja Sobat Jejak pingin beli, hehehe... :D

Selang beberapa waktu kemudian, pesan masuk via WA di HP saya. Dari Mbak Nurhayati Pujiastuti, founder sekaligus guru menulis saya, di Kelas Penulis Tangguh.

"Aku udah di lobi, ya."

Maka, saya, Keni, dan Mbak Fitri, turun ke lobi. Ternyata, di sana juga sudah ada Uni Novia dan Uni Eci. Saya dan Uni  Novia adalah murid menulis Mbak Nur di Kelas Penulis Tangguh, sementara Uni Eci murid beliau di Kelas Merah Jambu.

Mbak Nur tinggal di Bekasi. Karenanya, sebelum berangkat, saya mengabari Mbak Nur bahwa saya akan ke Bekasi. Saya yang tadinya belum ngeh kalau perjalanan dari Bandara ke Bekasi memakan waktu berjam-jam, berjanji akan menyambangi Mbak Nur di rumah sebelum workshop. Namun, karena waktunya ternyata tidak memungkinkan, saya terpaksa memberitahu Mbak Nur bahwa saya tidak jadi main ke rumah. Tidak disangka, ternyata Mbak Nur lah yang menyempatkan diri ke hotel, menemui murid-muridnya di Kelas Penulis Tangguh dan juga Kelas Merah Jambu. Hiksss, jadi terharu...

"Ini, aku bawain kue buatanku," kata Mbak Nur, yang mendadak membuat saya ingin bikin pantun.

Jalan-jalan ke Kalimantan
Pulau Derawan wajib dikunjungi
Orang kelaparan disodori makanan
Apa gerangan yang akan terjadi?

"Huaaaah, Mbak Nuuuuur... Bikin terharu, niiiiih...." Kata saya, seraya mencomot satu kue dan memakannya dengan lahap. Nyam, nyam, nyam... Enyaaaak.... :D :D

Maghrib menjelang. Belum puas mengobrol dan foto-foto, grab pesanan Mbak Nur  datang. Setelah cipika cipiki, Mbak Nur pun pamit pulang. Saya mengantar Mbak Nur sampai di depan teras hotel. Daaah, Mbak Nur. Sampai ketemu lagi, yaaaa.... ^__^


Bersama Mbak Nurhayati Pujiastuti

Tepat ketika saya akan masuk kembali ke lobi hotel, tampak sebuah taksi berhenti dan sesosok ibu cantik yang sangat familiar ke luar dari dalamnya.

"Bunda Sofie!" Pekik saya, seraya berlari menyambut beliau.

Bunda Sofie adalah mentor saya selama workshop Room to Read di Lembang dulu. Beruntung saya bisa bertemu dan menimba ilmu kembali dari beliau, yang di kesempatan kali ini merupakan pengisi materi pertama pada pembekalan Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi.

Sementara Bunda Sofie check ini ditemani Mbak Ranny dan Bu Retno (salah satu pemateri juga), saya dan teman-teman lain kembali ke kamar masing-masing, untuk shalat dan bersiap-siap makan malam.

Materi 1: Menulis Cerita Anak Berlatar Budaya 

Usai makan malam, kami langsung memasuki ruang pembekalan/workshop, yang letaknya bersebelahan dengan restoran hotel. Setelah pembukaan, materi pertama yang diisi oleh Bunda Sofie Dewayanie pun dimulai.

Materi diawali dengan peran cerita anak. Bunda Sofie menampilkan slide berupa gambar jendela, cermin, dan pintu. Peserta lalu diminta untuk menarasikan peran cerita anak berdasarkan gambar jendela, cermin, dan pintu tersebut. Dari sini didapat kesimpulan, bahwa peran cerita anak adalah sebagai jendela bagi anak untuk melihat dunia luar, cermin yang menggambarkan tentang dirinya sehingga membuatnya merasa, "Ini gue banget!", serta pintu tempat ia ke luar dengan imajinasinya, menjelajah apa-apa yang dilihatnya di dalam buku.


Mendengarkan materi sambil ngemil :D

Di dalam materinya, Bunda Sofie juga menyampaikan tentang penjenjangan buku anak, elemen cerita seperti tema, tokoh cerita, struktur cerita (tentang ini bisa dibaca di postingan saya selama mengikuti workshop Room to Read), alur emosi, dan Deus Ex Machina atau faktor kebetulan yang harus dihindari dalam membuat cerita.

Mengenai Deus Ex Machina, Bunda Sofie menyontohkan seperti ini:

Ada anak, ingin beli sesuatu, tapi nggak punya duit. Saat berjalan, dia nemu dompet. Ada KTP, ada alamat. Dompet dikembalikan, si anak dapat imbalan uang, bisa beli apa yang diinginkan. TAMAT. Dan ia pun hidup bahagia untuk selama-lamanya... :D

Kira-kira seperti itu.

Bunda Sofie juga menjelaskan tentang bagaimana membuat tokoh yang menarik, membuat karakter tiga dimensi, membuat alur cerita yang baik, membuat set up yang efektif, dan masiiih banyak lagi. Penasaran? Sebagian besar materi ini juga ada di postingan saya tentang workshop Room to Read ;)

Terakhir, Bunda Sofie meminta kami untuk mempresentasikan konsep buku seri budaya yang sudah kami buat. Beliau tak sungkan memberi masukan untuk konsep-konsep kami.


Peserta Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi berpose bersama Bunda Sofie(foto: Fitri Restiana)

Begitu serunya materi pertama ini, sampai-sampai waktu yang tadinya dijadwalkan selesai pukul 21.30 jadi molor sampai hampir pukul 23.00 WIB! Sebagai peserta, tentu saja kami tidak keberatan dan justru memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Jarang-jarang kan, bisa mencecap ilmu langsung dari seorang pakar di bidang buku anak?

Nah, Sobat. Itulah tadi cerita saya mengenai Serunya Mengikuti Pembekalan Teknis Seri Pengenalan Budaya Kepercayaan dan Tradisi di Hotel Amaroossa Grande Bekasi Bag. 1. Bagaimana cerita seru selanjutnya? Tunggu di postingan saya berikutnya, ya! ^_^


Baca juga

Wednesday, February 22, 2017

Tips Menyelesaikan Naskah Buku Anak Islami dengan Cepat

Hai, Sobat Jejak. Assalamualaikum. Mudah-mudahan Sobat semua dalam keadaan sehat, ya.

Sejak pertengahan 2016 lalu, saya memutuskan untuk menekuni dunia tulis menulis secara fulltime. Karena sekarang menulis sudah menjadi profesi saya, tentunya saya memiliki targetan yang harus dicapai. Misalnya, menyelesaikan satu naskah buku dalam sebulan.

Akan tetapi, tak jarang ada hal-hal yang mengharuskan untuk menyelesaikan naskah buku lebih cepat dari alokasi waktu yang disediakan. Misal nih, ketika saya punya target menyelesaikan satu naskah buku di bulan Maret, tiba-tiba, ada penerbit yang minta dibuatkan buku yang juga harus selesai di bulan Maret. Otomatis, saya harus membagi waktu antara menyelesaikan naskah  dari penerbit, dengan naskah targetan pribadi.

Untuk itulah, perlu adanya Tips Menyelesaikan Naskah Buku Anak Islami dengan Cepat, namun tidak kehilangan kualitas, baik secara bahasa maupun isinya. Berikut tips yang sudah saya coba:

Pertama, menyiapkan literatur  terkait buku yang akan ditulis. 
Siapkan atau kumpulkan literatur terkait buku yang akan ditulis selengkap mungkin. Jika belum ada, beli. Jangan pernah merasa rugi ketika harus mengeluarkan modal untuk menulis buku. Apalagi buku Islami. Sebab, literatur-literatur itu justru akan membuat kita super untung dengan bertambahnya ilmu dan wawasan keislaman.

Oh, iya, karena yang akan ditulis adalah naskah buku anak Islami, maka usahakan literaturnya berupa kitab-kitab shahih karangan para ulama terpercaya ya, Sobat. Mengapa? Karena ketika kita menulis buku anak Islami, maka, tujuan yang ingin kita capai bukan lagi semata menulis buku ataupun menyelesaikan pekerjaan, melainkan sebuah generasi yang akan meneruskan peradaban Islam ke depan. Kita tentu tidak ingin generasi yang terbentuk adalah generasi abal-abal lantaran mereka membaca buku Islami yang ditulis dengan literatur yang abal-abal, bukan?

Ke dua, membaca semua literatur sampai selesai.
Ketika semua literatur sudah didapat atau terkumpul, jangan menulis dulu. Tapi, bacalah dulu semua literatur itu sampai selesai. Hal ini bertujuan agar semua isi di dalam literatur itu dapat kita pahami secara menyeluruh. Bacalah literatur sebelum memulai proses penulisan. Misal, jika timeline penulisan dimulai tanggal 1 Maret, maka kumpulkan dan bacalah litertaur di bulan Februari.

Ke tiga, membuat timeline penulisan naskah
Gambarannya begini. Misal, saya akan menyelesaikan naskah Buku A dan Buku B di bulan Maret. Buku A 20 cerita, Buku B 20 cerita. Maka, timeline bayangan yang saya buat seperti ini:
Buku A ditulis mulai tanggal 1-15 Maret 2017 (15 hari) --> deadline 16 Maret
Buku B ditulis mulai tanggal 16-31 Maret 2017 (16 hari) --> deadline 31 Maret

Mengapa saya sebut timeline bayangan? Karena di kenyataannya, saya akan membuat timeline nyata penulisan, haha.. Bingung, kan? :v :v

Gini...
Kita ambil contoh Buku A untuk dijabarkan.

Untuk menyelesaikan Buku A yang isinya 20 cerita, saya mempunyai waktu 15 hari, yaitu dari tanggal 1-15 Maret 2017. Maka, timeline bayangannya penulisan dimulai dari tanggal 1-15 Maret. Namun dalam pengerjaannya, saya akan membuat timeline nyata (:D) seperti ini:

1-10 Maret : penulisan naskah (2 cerita/hari)
11-12 Maret : membayar kekurangan cerita jika ada
13-15 Maret: revisi, revisi, revisi, kirim.

Pembuatan timeline seperti di atas juga berlaku untuk naskah B, dengan tanggal yang berbeda.

Ke empat, FOKUS!
Mengapa harus fokus? Sebab jika tidak fokus, misal nonton film Korea seharian (pengalaman :p), somedan seharian, dll, maka, kemungkinan Tips Menyelesaikan Naskah Buku Anak Islami dengan Cepat ini tidak akan berjalan sesuai harapan.

Ke lima, Konsisten
Sebetulnya, kunci dari keberhasilan dalam menyelesaikan naskah buku dengan cepat adalah konsisten. Konsisten dengan jadwal dan targetan. Lima belas hari menyelesaikan satu naskah buku berisi 20 cerita, jika belum dicoba, kedengarannya horror dan sibuk banget, ya. Padahal, hanya dengan konsisten menulis 2 cerita perhari, maka kita akan menyelesaikan naskah buku berisi 20 cerita bahkan kurang dari 15 hari.

Habis dong, waktu cuma buat nulis? Saya kan, musti nyuci, ngurus anak, ngeblog, de el el.

Eits, siapa bilang?

Katakanlah untuk menulis 2 cerita perhari kita membutuhkan waktu 4 jam, misalnya. Maka, kita masih punya waktu 20 jam sehari yang bisa kita gunakan untuk banyak hal. Tidur, ke toko buku, main, selonjoran baca buku sambil minum coklat anget, nonton drama Korea (eaaa), dan lain-lain.

Intinya, semua itu bisa dicapai kalo kita KONSISTEN. Dan saya, jujur kacang ijo aja sih, masih haruuuuussss banyak berlatih untuk bisa KONSISTEN. Maklumlah, Hayati masih sering lelah dan tergoda hal lainnya, Sobat Jejak, hehehe... :D

Terakhir dan yang pastinya super super penting, jangan lupa menjaga kesehatan ya, Sobat. Sebab, segala sesuatu sangat mungkin dilakukan jika badan kita sehat. Sebaliknya, jika kita sakit, jangankan mau menyelesaikan naskah dengan cepat, lha wong mau makan tidur aja nggak enak kan, Sobat?

Semoga tips ini dapat membantu memudahkan Sobat dalam menyelesaikan naskah, ya... ^_^